SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
37. IJIN


__ADS_3

Dengan menyediakan dua helikopter yang mengevaluasi keluarga Roby menuju bandara untuk bisa berangkat kembali ke Jakarta dengan pesawat jet pribadi milik Rhihana. Sedangkan pesawat jet milik Tuan David Fernandez digunakan oleh nenek Yati dan anak buahnya.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa terlepas dari incaran para musuh," Ucap Nyonya Arimbi yang sudah bisa bernafas normal karena ketegangan yang dirasakannya kemarin di Manado, membuat dirinya sulit untuk tidur karena dihantui perasaan takut kedatangan oleh para rombongan penjahat.


Sebenarnya Roby ingin sekali tertangkap oleh para penjahat itu karena diantara mereka merupakan anak buah yang dipimpin olehnya ketika masih menjadi ketua mafia di Perancis.


Mungkin dengan dirinya bisa tertangkap oleh anak buah Tuan Robert, dia bisa bernegosiasi dengan para penjahat itu dengan cara mengajak mereka menyerang balik Tuan Robert.


Tapi niatnya tidak bisa tersalurkan kalau tidak mendapatkan ijin dari istrinya Rhihana dan nenek Yati. Apa lagi orangtuanya juga masih berada di Jakarta akan lebih sulit lagi rencananya itu terwujud.


"Apa pun yang terjadi setidaknya aku harus mencoba berdiskusi dengan keluargaku dari pada hidup dibawah ketakutan oleh ancaman lelaki tua bangka itu." Roby lagi termenung di balkon kamarnya.


"Ko bengong sih, sayang!" Apakah ada yang kamu pikirkan?" Tanya Rhihana sambil memeluk punggung kekar suaminya.


"Aku hanya memikirkan cinta kita sayang, apakah hidupku selalu berada di bawah bayang-bayang Tuan Robert?" Roby berusaha memancing respon istrinya.


"Mengapa kamu bicara seperti itu sayang?" Apakah ada yang ingin kamu katakan padaku?" Rihanna merasa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku ingin mendapatkan kepercayaan darimu dulu sebelum aku mengatakan niatku sayang." Ucap Roby sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Apakah ini sangat mendesak untukmu sayang?"


"Jika ini hal yang biasa aku tidak perlu mendapatkan ijin darimu Ana."


Roby mengajak istrinya untuk duduk bersamanya, ia tidak ingin istrinya bisa syok jika mendengar apa yang ingin ia katakan nanti.


Roby memangku istrinya dengan posisi saling berhadapan walaupun saat ini perut Rhihana sudah makin membesar.


"Katakan sayang!" Rihanna sudah tidak sabar untuk mendengarkan niat suaminya."


"Aku ingin kamu mendengarkan aku dulu tanpa menyela perkataanku."


Rihanna mengangguk kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Silahkan suamiku!" Pinta Rhihana yang sudah siap memasang telinga dan matanya dengan mimik wajah serius.


"Ini mengenai Tuan Robert dan anak buahnya. Aku ingin membiarkan diriku ditangkap oleh anak buahnya agar aku bisa bertemu dengan Jack sebagai ketua dari penjahat itu.


Jack adalah anak buahku, aku ingin bernegosiasi dengannya untuk menyerang balik Tuan Robert, dengan begitu kekuargaku dan juga keluarganya akan terbebas dari manusia laknat itu. " Ujar Roby.


"Sayang, kalau kamu ketangkap sama mereka, kamu bisa melakukan rencanamu, tapi masalahnya jika mereka langsung menembak mati dirimu, apa jaminanmu untukku, hmm?" Meninggalkan aku lagi dalam keadaan hamil, membiarkan aku melahirkan sendiri dan membesarkan anak-anak kita, apakah itu baik untuk hidup kami?" Rhihana protes atas tindakan suaminya yang ingin nekat mempertaruhkan nyawanya demi mereka.


Roby memikirkan perkataan istrinya barusan, ia tidak berpikir sampai sejauh yang dipikirkan oleh Rhihana, apa lagi wanitanya sedang hamil yang tak mungkin ia tinggalkan lagi karena tidak bisa menjadi suami siaga untuk istrinya ketika menjelang melahirkan nanti dan putri kecilnya Tania akan kehilangan lagi dirinya.


"Aku mohon sayang buang jauh-jauh niat bodohmu itu dari kepalamu, kadang orang yang terdekat di hidup kita bisa berkhianat apa lagi mereka hanya anak buahmu yang saat ini di bawah kendali Tuan Robert. Lelaki tua itu tidak akan melepaskan anak buahnya begitu saja, pasti dia punya sesuatu yang bisa menjamin keselamatan anak buahnya jika mereka bisa membunuhmu atau aku." Ujar Rhihana.


"Baiklah, aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak mengijinkannya. Kita akan menunggu mereka dan akan menyerang balik Tuan Robert bersama dengan anak buahnya." Roby akhirnya mengalah dan membiarkan urusan Tuan Robert, biar nenek Yati dan ayahnya yang akan mengatasinya. Ia tidak tega kalau melihat wanitanya menangis lagi karena kepergiannya.


Pertemuan keluarga itu bersama dengan nenek Yati dan juga Sarah berlangsung seru. Pasalnya saat ini mereka mengerahkan anak buahnya masing-masing kubu, menyerang istana tuan Robert dengan cara memancing Roby sebagai umpan.


Jika markas dan istana Tuan Robert di hancurkannya, otomatis anak buahnya Tuan Robert yang berada di Indonesia bisa dilumpuhkan dengan mudah.


Sedangkan di Jakarta, tentunya nenek Yati dan para personilnya yang juga sudah terlatih mental dan fisik mereka serta mengusai ilmu bela diri dan juga menggunakan semua jenis senjata api untuk menghadapi musuh.


"Apakah semuanya sudah dipersiapkan Tuan Fernandez?" Tanya Nenek Yati yang ingin melakukan penyerangan secara serentak walaupun perbedaan waktu antara Paris Perancis yaitu kurang dari enam jam dengan Jakarta. Waktu Paris lebih lama dari pada Indonesia.


"Saya sudah mengkonfirmasikan anak buah saya agar mereka melakukan tanpa dicurigai oleh lawan, karena menurut Tuan Robert, hanya anak buahnya nenek Yati yang sibuk melindungi keluarga ini, hingga ia merasa dirinya aman di sana karena di kelilingi anak buahnya yang melakukan penjagaan berlapis-lapis di istana dan markasnya. Lagi pula putraku sudah menggambarkan titik lokasi yang bisa disusupi oleh anak buahku untuk menyergap mereka.


Setiap jebakan yang dipasang Roby saat masih menjadi bagian dari Tuan Robert, kini dengan alat canggih seperti komputer, bisa dengan mudah dikendalikan dari jarak jauh.


Roby menguasai lokasi penyerangan dengan bantuan teknologi sedangkan Rhihana menjatuhkan bisnis Tuan Robert dengan membuat sahamnya anjlok di pasar saham dunia.


Sepasang suami-isteri ini kompak menyerang Tuan Robert dari segala sisi. Dari kekuatan keamanan, bisnis, relasi dan juga pusat keuangan dari setiap perusahaan yang dimilikinya, namanya sudah raib dan tidak terdaftar lagi sebagai pemilik.


"Kita akan buat seperti gelandangan, hingga ia akan merasa menyesal pernah dilahirkan ibunya ke dunia ini." Ujar Tuan Fernandez.


"Apakah kita nggak dikatakan pencuri sayang?" Tanya Nyonya Arimbi.

__ADS_1


"Selama ini, ia melakukan hal yang sama dan juga dengan kekerasan hanya untuk mengusai bisnis orang-orang hebat seperti mendiang Tuan Gahral dan Nyonya Maya, besan kita sayang. Kita hanya mengambil apa yang pernah diambilnya, dengan begitu kita bisa mencari ahli warisnya untuk mengembalikan semua pada mereka tanpa mengambil keuntungan dari mereka tentunya, sayang." Lanjut Tuan David Fernandez.


"Syukurlah kalau itu memang niat kalian, yang penting kita tidak makan uang haramnya karena dia mengambilnya dari berbagai pengusaha yang sudah ia bunuh." Nyonya Arimbi merasa tenang walaupun sepenuhnya kalau Robert dan anak buahnya akan dibasmi oleh mereka." Ucap Nyonya Arimbi sangat bijaksana.


Tuan Robert yang tidak tahu permainan keluarga Roby yang akan menghancurkan hidupnya secara perlahan, saat ini hanya menyusun rencana untuk menghancurkan keluarga Roby yang ada di Jakarta.


Lelaki paruh baya ini berencana ingin melemparkan bom di rumah itu, jika tidak bisa membunuh keluarga itu yang hanya mengandalkan senjata api.


"Bos, apakah perbuatan kita tidak keterlaluan bos, jika kita sampai melemparkan bom ke mansion Tuan Gahral." Ujar Jack dari seberang telepon.


"Itu bukan urusanku jika satu pemukiman itu akan kena imbasnya dari penyerangan yang akan kalian lakukan pada keluarga itu." Ucap Tuan Robert.


Jack makin bingung mendengar perintah bosnya yang sudah makin gila saat ini.


"Lebih baik kami melemparkan bom itu pada kamu dari pada ke orang lain yang tidak berdosa." Gumam Jack membatin.


"Jack!" Apakah kamu masih mendengarkan aku?" Tuan Robert makin marah pada Jack yang hanya diam saja di seberang telepon.


"I-iya Tuan Robert, saya sedang mendengarkan perintah anda, saya akan berusaha untuk melumpuhkan lawan dengan cara yang anda barusan katakan." Ujar Jack terbata-bata.


"Bagus!" Aku tidak ingin dengar kata-kata kegagalan dalam penyerangan ini, aku mau semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita. Mereka yang mati atau kit yang mati, kamu dengar itu?" dan satu hal lagi jangan sampai kalian tertangkap hidup-hidup, jika tertangkap bunuh diri kalian atau keluarga kalian yang akan saya bunuh!" Tuan Robert selalu mengancam anak buahnya dengan menyendera keluarga anak buahnya yang berada di Paris Perancis.


"Baik Tuan Robert, kami siap menjalani perintah and Tuan!" Jack buru-buru mengakhiri pembicaraannya dengan lelaki kejam itu.


"Sial!" Kenapa dia yang menutup teleponnya, bukankah aku yang menjadi bosnya di sini?" Tuan Robert makin senewen dengan Jack yang menutup teleponnya secara sepihak.


Jack kembali ke anak buahnya, menyampaikan semua perintah Tuan Robert kepada mereka.


Anak buahnya makin kesal dengan Tuan Robert, yang bertindak sewenang-wenang kepada keluarga mereka jika misinya tidak berhasil untuk menghancurkan keluarga dari anak adopsinya yaitu Tuan Roby.


"Jack, bagaimanapun juga Tuan Roby sangat baik kepada kita, selama dia menjadi ketua mafia, dia tidak pernah meminta kita untuk melakukan kekerasan kecuali membela diri jika ada serangan dari musuh. Tapi Tuan Robert malah sebaliknya, meminta kita menghancurkan Roby dan keluarganya demi balas dendamnya. Jika kita bisa berbalik tujuan kita, mungkin aku mau jadi sekutunya Tuan Roby dari pada mengikuti perintah Tuan Robert. " Ucap Brian kepada Jack yang saat ini sedang termenung memikirkan nasib keluarganya jika ia gagal menjalani perintah bosnya.


"Teman-teman, lakukan sesuai perintah Tuan Robert atau keluarga kita yang akan dia bunuh." Ujar Jack lalu meninggalkan anak buahnya untuk menyendiri.

__ADS_1


__ADS_2