SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
31. IDENTITAS ROBY


__ADS_3

Nenek Yati mengirim lokasi yang harus diikuti Rhihana dan Roby untuk bertemu dengan Sarah.


Sepasang suami-istri ini menuruti saran nenek Yati agar berhenti di salah satu tempat yang cukup ramai dan menumpang taksi.


Rhihana meminta sopirnya untuk berhenti. Mereka melihat mobil taksi yang sedang mangkal di depan pom bensin.


"Cepat sayang!" Pinta Roby menggandeng tangan istrinya dikawal oleh dua orang pengawalnya.


Keduanya menyebutkan alamat yang sudah dikirim nenek Yati.


Taksi itu kembali bergerak menuju salah satu pemukiman rumah susun. Di sana Sarah sudah siap dengan mobilnya menjemput pasangan ini.


"Sarah, apakah Tania aman?" Tanya Rhihana yang mengkuatirkan putrinya.


"Sudah nona, sebaiknya kita cepat pergi dari sini!" Sarah mempercepat kecepatan mobilnya menuju pintu belakang mansion.


Ternyata nenek Yati sangat pintar, ia mengirim drone yang sudah terpasang kamera ke segala sisi, untuk tetap mengawasi mobil Sarah yang membawa Rhihana dan Roby menuju pintu belakang mansion.


Mobil itu berhenti di sebuah restoran mewah milik Rhihana.


"Mengapa kita turun di restoranku Sarah?" Tanya Rhihana masih belum mengerti.


"Ikuti saja nona!" Ucap Sarah singkat dengan tetap waspada.


Mereka jalan melewati dapur restoran. Pintu gerbang belakang restoran terbuka. Tapi yang mereka temui hanya kebun sayur dengan berbagai jenisnya. Tidak lama seorang yang membawa buggy car meminta keduanya naik. Keduanya langsung di bawa ke taman belakang mansion yang tersambung langsung dengan terowongan kecil.


"Aku bahkan belum tahu jalan ini menuju mansion," Ucap Rhihana yang baru mengetahui orangtuanya memiliki jalur rahasia tersendiri.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah berada di taman mansion. Nenek Yati menyambut kedatangan keduanya dengan pelukan.


"Tania mana nenek?" Rhihana langsung berlari ke dalam kamar putrinya.


"Tania masih tidur Rhihana. Lebih baik kalian istirahat, nanti makan malam akan di antarkan ke kamar kalian." Titah nenek Yati.


"Roby, nenek ingin bicara denganmu," ucap nenek Yati yang menghentikan langkah Roby ketika pria tampan ini menaiki tangga menuju kamarnya.


"Ada apa nenek?" Tanya Roby lalu duduk di salah satu sofa putih yang berada di ruang keluarga itu.


"Roby, dengar apa yang nenek katakan ini tentang identitasmu sesungguhnya." Ucap nenek Yati serius.


"Ibu kandungmu masih hidup dan dia sedang mencari tahu keberadaanmu. Nyonya Arimbi adalah ibu kandungmu yang melahirkanmu di tengah prahara rumah tangganya sedang tergoncang.


Ayah kandungmu yang saat itu dijebak oleh Tuan Robert tidur dengan seorang wanita panggilan. Melihat video tak senonoh ayahmu, Nyonya Arimbi meminta cerai dari ayahmu.


Ayahmu yang sudah berusaha menepis semua tuduhan ibumu, untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Namun ibumu sudah keburu kabur.


Tujuan dari tuan Robert saat itu ingin menikahi ibumu. Tapi ketika ia mengetahui ibumu hamil dirimu, yang merupakan anak dari sahabatnya itu, membuat ia sangat murka. Ia meminta ibumu mengugurkanmu, namun ibumu memilih mempertahankanmu. Ia kembali kabur ke Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya.


Di sinilah ia melahirkanmu, demi melindungimumu ia menitipkanmu di panti asuhan, agar suatu saat nanti ia bisa mengambilmu lagi.


Ketika mengetahui niat busuk tuan Robert, ayah dan ibumu kembali rujuk sepuluh tahun kemudian. Di saat mereka sudah kembali bersama, mereka mencarimu di panti asuhan, tapi kamu sudah tidak ada di sana. Dan yang lebih menyakitkan hati mereka, pengasuh panti asuhan itu menyatakan kamu telah diadopsi orang lain dan tidak tahu keberadaanmu.


Mereka memberikan sejumlah uang pada pengasuhmu agar mencarimu, tapi dia malah kabur entah ke mana. Itulah mengapa kamu jadi gelandangan." Nenek Yati menceritakan kisah kedua orangtua Roby.


"Di mana orang tuaku sekarang nenek?" Tanya Roby setelah mengetahui kedua orangtuanya masih hidup.


"Mereka ada di Spanyol, kamu adalah keturunan bangsawan sayang, karena kakekmu adalah salah satu raja. Hanya saja ia tidak setuju ayahmu menikahi ibumu yang merupakan gadis keturunan Asia walaupun ibumu sendiri adalah bangsawan.


"Bagaimana nenek bisa tahu semua itu?" Tanya Roby heran.


"Nenek sudah limapuluh tahun berkecimpung di dunia mafia. Ketika nenek mengetahui bahwa ibumu sedang mencari putranya yang ia titipkan di salah satu panti asuhan yang berada di daerah Jakarta Selatan, nenek iseng-iseng mencari tahu dirimu. Dan nenek sudah melakukan tes DNA kamu dan nyonya Arimbi dan ternyata tepat bahwa kalian berdua adalah ibu dan anak.


"Bagaimana bisa nenek mengambil sampel milik ibuku?" Tanya Roby lagi.


"Itu sangat mudah sayang, ibumu sering berkunjung ke klinik kecantikan yang sudah lengkap dengan salon di dalamnya. Salah satu kenalan nenek bekerja di sana jadi, kami bisa mengambil rambut ibumu." Ujar nenek Yati.

__ADS_1


"Nenek Yati hebat, Roby sayang sama nenek." Roby memeluk nenek Yati erat.


"Sekarang temani Rhihana, dia lebih membutuhkanmu saat ini!" Titah nenek Yati.


"Terimakasih banyak nenek." Roby masuk dulu." Roby berlari ke atas menuju kamarnya untuk menemui dua bidadarinya.


Ketika Roby masuk, Rhihana sedang membuka email-nya. Ia melihat pergerakan musuhnya saat ini, yang sudah menyebar di Jakarta dan sekitarnya.


"Roby, kita akan diserang oleh mereka." Ucap Rhihana dengan memperlihatkan isi email dari laporan beberapa anak buahnya di lapangan.


"Jika kamu sangat takut, sebaiknya kamu mengungsi ke villa sayang, bawa putri kita." Ucap Roby yang memaksa lagi istrinya untuk meninggalkannya di mansion bersama anak buahnya yang lain.


Rhihana menatap wajah suaminya lalu mengecup bibir itu lembut.


"Sekali aku bilang tidak ya tidak, apakah aku harus mengulangi lagi sayang penolakanku?" Ujar Rhihana.


"Tapi kamu tidak menolak yang inikan sayang?" Tanya Roby seraya meraih tangan Rhihana memegang miliknya.


Rhihana tersenyum lalu mengangguk. Keduanya melucuti pakaian mereka dan melakukan percintaan panas. Rhihana langsung menggenggam milik suaminya dan memainkan lidahnya di sana.


Jilatan dan hisapannya pada benda pusaka suaminya sudah berada di dalam rongga mulutnya.


Roby mende**h merasakan kenikmatan dari permainan lidah istrinya. Rambut panjang istrinya dibelai lembut dan Rhihana makin melancarkan permainannya hingga tubuh Roby bergetar hebat saat lahar panas miliknya menyembur.


Keduanya melakukan secara bergantian, memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada milik masing-masing, hingga akhirnya keduanya melakukan penyatuan tubuh mereka. Melakukan lebih gila lagi daripada pemanasan awal.


Kata-kata cinta dan pujian terlontar indah mengalun merdu bersama erangan dan lenguhan erotis yang menyenangkan raga mereka.


Desis lembut dari bibir Rhihana makin memacu tubuh suaminya untuk menghentakkan lebih cepat pada miliknya.


"Akkkkhh!" Roby sayang." Teriak Rhihana kala keduanya sama-sama melakukan pelepasan.


"Kamu sangat hebat sayang." Roby mengagumi permainan istrinya.


"Hanya ini yang bisa kita lakukan sayang, agar kita tidak terlalu setress memikirkan penyerangan musuh yang setiap saat bisa mengancam jiwa kita." Ucap Roby sambil memeluk istrinya.


Kedua langsung ke kamar mandi membersihkan diri mereka. Tidak lama kemudian, Baby Tania sudah bangun memanggil nama ayahnya.


"Ayah Oby!" Hiks...hiks


Roby menggendong putrinya lalu membawanya ke tempat tidurnya. Wajah bantal Tania dengan air mata yang mengambang di kelompok mata indahnya.


"Apakah putri ayah mimpi buruk sayang?" Tanya Roby sambil menghapus air mata putrinya.


"Tania takut, ayah di tembak jatuh dan berdarah." ujar Tania dengan lidah cadelnya.


Rhihana dan Roby seketika tercengang mendengar penuturan putrinya yang sedang mengalami mimpi buruk.


"Kan ayah masih hidup sekarang, bisa temani Tania ngobrol. Tuh pegang pipi ayah. Ayah masih hidupkan sayang?" Ucap Roby seraya mengambil tangan putrinya untuk memegang wajahnya.


"Oh iya, ayah masih hidup...hi...hi.." Ujar Tania tertawa cekikikan.


"Berarti Tania tadi lagi mimpi buruk, jadi jangan nangis lagi. Tania mau makan?" Tanya Rhihana yang sudah bergabung dengan suami dan anaknya.


Tania mengangguk lalu mengangkat kedua tangannya ingin di gendong bundanya.


Roby melarang istrinya menggendong Tania karena saat ini Rhihana sedang kelelahan. Tubuh Tania sudah lebih besar dan tinggal dan tidak memungkinkan untuk Rhihana menggendong putrinya.


"Ayah yang gendong saja ya sayang, kasihan bunda lagi sakit." Ujar Roby lalu menggendong putrinya.


"Sebaiknya kita makan nasi goreng dulu sayang, nanti aku minta bibi Lala untuk membawakan nasi goreng untuk kita." Ucap Rhihana yang merasa tenaga hari ini terkuras habis usai bercinta.


"Tania mau nasi goreng juga?" Tanya Roby.


"Iya ayah, Tania mau makan juga." Ucap gadis kecil ini.

__ADS_1


Dalam dua puluh menit, nasi goreng seafood pesanan mereka sudah diantar oleh pelayan.


Tok..tok!"


Roby segera membuka pintu kamarnya dan membiarkan pelayan masuk mengantar makanan untuk mereka.


"Nona Ana!" Kebetulan bibi lagi buat wedang ronde kesukaan nona Ana." Ucap bibi Lala.


"Ya Allah, bibi Lala ingat saja kesukaan Ana, terimakasih ya bibi Lala." Rhihana menghampiri meja kecil yang ada di kamarnya dan mencoba wedang ronde buatan bibi Lala.


"Selamat makan nona, Tuan!"


"Terimakasih ya bibi!"


"Makan nasi dulu sayang, jangan makan wedang dulu, itu ketan nanti perutmu sakit." Ujar Roby pada Rhihana.


"Sudah cukup lama aku nggak makan ini sayang. Terakhir aku makan ini ketika sedang hamil Tania," ucap Rhihana sambil menyuapkan nasi goreng untuk Tania.


"Aku duluan makan nasi gorengnya ya sayang." Roby sudah menyendok nasi goreng seafoodnya.


"Habis makan ini Tania mau apa?" Tanya Rhihana pada putrinya.


"Tania mau main sama ayah, maksudnya mau nonton film kartun sama ayah." Ucap Tania.


"Berarti tidak mau nonton sama bunda?"


"Maksudnya sama bunda juga. Bunda cemburu ya sama Tania?" Tania ledek Rhihana yang pura-pura manyun.


"Bunda cemburu sama Tania karena Tania lebih cantik dan Tania sangat manis." Roby memuji putrinya.


"Tapi kasihan bunda, ayah!" Kita harus mengajaknya nonton." Tania masih memikirkan ibunya.


"Ok deh!" Habiskan makannya, nanti kita nonton bareng film kartun kesukaan Tania.


"Hore!" Muuuaaacchhh!" Tania mengecup pipi ayahnya.


Ketiganya menikmati kebersamaan mereka dengan nonton bersama film kartun lucu kesukaan Tania.


"Sayang!" Panggil Rhihana.


"Hmmm!" Ujar Roby singkat.


"Tadi kamu dan nenek sedang bicara apa?" Tanya Rhihana.


"Biasalah urusan Tuan Robert yang masih belum kelar."


"Tapi tadi sangat lama bicaranya, apakah ada masalah serius yang kalian bahas tanpa melibatkan aku?"


"Tidak ada yang penting sayang. Hanya saja nenek Yati ingin kita tetap waspada dari anak buahnya Tuan Robert." Roby masih berbohong tentang keberadaan kedua orangtuanya yang masih hidup.


"Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri kebenarannya." Rhihana balik mengancam suaminya.


"Apakah kamu tidak percaya dengan suamimu ini sayang?" Roby berusaha meyakinkan istrinya.


"Kamu kelihatan sangat misterius hari ini, itu yang membuat aku sangat curiga kepadamu." Rhihana makin kesal dengan Roby yang sedang merahasiakan sesuatu darinya.


"Nanti aku akan ceritakan, kalau sudah saatnya, untuk sementara, aku tangguhkan semuanya dulu sampai kebenaran ini terbukti." Ujar Roby tanpa menyinggung perihal ibu kandungnya.


"Terserah kamu sajalah!" Rhihana beralih mengambil ponselnya dan membuka aplikasi yang menarik perhatiannya saat ini.


"Masa begitu saja ngambek sayang!" Roby menghampiri istrinya dan mengecup bibir Rhihana yang sedang manyun kepada dirinya.


"Kamu makin gemas kalau cemberut seperti itu." Roby mengecup lagi bibir itu.


"Ayah sini, nonton sama Tania." Tania mulai merengek karena di tinggal mesra oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2