SENTUHAN DAWAI CINTA

SENTUHAN DAWAI CINTA
30. RENCANA


__ADS_3

Tuan Robert begitu murka ketika melihat sahamnya anjlok di pasar saham. Belum lagi banyak penarikan dana yang tidak terdeksi siapa pelakunya hingga saldonya tinggal lima puluh persen.


Keuangannya di Bank dunia Swiss juga mengalami nasib yang sama. Tuan Robert sudah mencurigai permainan siapa di balik kejatuhannya.


"Bre*"sek kamu Roby, rupanya semua sandi yang kuberikan padamu, kamu berikan pada orang lain." Ucap Tuan Robert dengan menyingkirkan semua benda-benda yang berada diatas meja kerjanya.


Prankkkkk...


Tok..tok!


"Masuk!" Bentakan keras tuan Robert menyuruh anak buahnya masuk.


"Ada apa?" Tanyanya dengan wajah nyalang.


"Maaf bos, sistem keamanan perangkat lunak kita dikirim virus oleh haters.


"Apa?" Mengapa bisa seperti itu? apakah kalian tidak bisa bekerja hingga sistem keamanan kita kecolongan?" Tuan Robert menampar dan menendang anak buahnya membuat lelaki itu beberapa kali harus mengusap tulang keringnya dengan menahan sakit yang teramat sangat pada kakinya.


"Sekarang cari tahu bagaimana caranya bisa menangkap Roby dan istrinya dan bila perlu culik putrinya, jika kamu gagal, nyawa keluargamu yang akan aku habisi." Titah Tuan Robert pada anak buahnya.


"Baik Tuan, saya akan melakukan dengan segala cara untuk bisa menangkap mereka, tapi masalahnya personil mereka sekarang lebih banyak dan mereka juga tidak memperlihatkan wajah istri Roby yang asli, hanya wajah satu wanita yang sering bersama Roby tapi itu bukan nona Rhihana yang pernah bos berikan fotonya pada kami" Ujar Jack dengan wajah meringis kesakitan.


"Aku tidak ingin mendengar alasanmu, tapi aku ingin hasilnya. Keluar!" Teriak Tuan Robert membuat Jack langsung membuka pintu itu buru-buru.


Anak buah Tuan Robert kembali ke tempatnya, sementara tuan Robert menghubungi Calvin yang berada di Amerika menanyakan perkembangan penyidikannya pada Roby.


"Apakah kamu tahu sesuatu dengan istrinya Roby yang bernama Rhihana?" Tanya Tuan Robert.


"Menurut informasi yang saya dapat, Roby sudah mengingat siapa dirinya. Dia tidak lagi mengalami gangguan pada ingatannya. Istrinya bernama Rhihana sudah menceritakan kepada Roby tentang pembunuhan orangtuanya. Sekarang Roby sudah mengetahui bahwa anda lah pembunuh kedua mertuanya." Calvin menjelaskan keadaan sebenarnya kepada Tuan Robert.


Sejujurnya Calvin tidak ingin memberi tahu bahwa Lydia adalah Rhihana. Jika identitas baru Rhihana terungkap, Roby tidak akan memaafkannya, bagaimana pun juga ia dan Roby Tumbuh bersama ketika berada di bawah pengawasan Tuan Robert ketika mereka masih remaja.


Roby hanya salah satu orang yang beruntung yang diangkat Tuan Robert menjadi putranya, sedangkan dirinya sendiri tidak lebih dari anak buah bagi Tuan Robert. Walaupun begitu Roby sangat sayang pada Calvin. Setiap kali Calvin hendak disiksa oleh Tuan Robert, Roby mati-matian membela Calvin. Itulah sebabnya Calvin berutang nyawa pada Roby.


Roby lah yang membawa Calvin ke Amerika agar terhindar dari kemurkaan tuan Robert yang suka kalap jika keinginannya tidak tercapai. Ia tidak segan menyiksa Roby.


"Tuan Robert, aku mungkin membantumu kali ini, namun tidak sepenuhnya memberikan informasi tentang Keluarga Roby karena aku juga ingin kamu jatuh merangkak dan mengemis padaku agar nyawamu tidak melayang di tanganku." Calvin meremas foto tuan Robert dan melemparkan ke dalam tong sampah.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Rhihana dan Roby sepakat membuat ruang kerja mereka menjadi satu karena keadaan mereka yang makin terancam. Roby sudah meminta istrinya untuk mengungsi sementara waktu ke villa pribadi bersama nenek Yati namun di tolak mentah-mentah oleh Rhihana.


"Sayang lebih baik, untuk sementara waktu kamu dan putri kita sembunyi di villa hingga keadaan aman, biar saya dan anak buah kita yang akan melawan anak buah Tuan Robert." Roby memohon pada istrinya dengan penuh harap.


"Aku bukan pengecut sayang, aku tidak ingin terus berlari menghindari musuh. Aku akan menghadapinya dan ingin membunuh manusia laknat itu dengan tanganku sendiri." Ujar Rhihana tegas.


"Bagaimana dengan putri kita, jika kita tewas dua-duanya sayang?" Tanya Roby yang begitu kuatir dengan kemauan keras istrinya yang pantang menyerah.


"Aku juga sudah terlatih sayang. Tenang saja, jangan terlalu cemas seperti itu Roby." Ujar Rhihana dengan tetap bersikap tenang.


"Bagaimana mungkin aku tenang kalau sesuatu terjadi diluar dari prediksi kita. Aku sangat hafal dengan anak buah Tuan Robert yang sangat sadis ketika membunuh musuh. Mereka nekat melakukan itu karena keluarga mereka juga di bawah ancaman Tuan Robert, jika mereka tidak berhasil membunuh musuh." Roby menceritakan sepak terjangnya Tuan Robert pada istrinya.


"Aku tahu itu karena aku menyaksikannya sendiri bagaimana dia membunuh kedua orangtuaku." Timpal Rhihana.


"Jika kamu sudah tahu seperti apa dia mengapa kamu nekat bertahan sayang?" Tanya Roby dengan menangkup pipi istrinya, menatapnya dengan tatapan mengiba.


"Tuhan tidak akan memberikan kesempatan padanya jika dia ingin membunuh kita, justru dia yang akan terbunuh." Sahut Rhihana dengan menarik satu bibirnya.


"Baiklah kalau itu pilihanmu, aku tidak bisa memaksamu lagi. Tapi kita harus tetap waspada karena Tuan Robert bisa muncul kapan saja." Sambung Roby.


"Sebaiknya kita pulang sayang, karena Tania sudah menunggu." Rhihana meraih tasnya dan menggandeng lengan Roby menuju lift.


Rompi anti peluru sudah terpasang rapi pada tubuh keduanya. Dengan cepat keduanya masuk ke mobil.


Mobil itu berjalan beriringan seperti biasanya. Tapi keamanan itu tidak berlangsung lama, mobil paling depan mendapat tembakan beruntun dari mobil box sebelah kanan mereka yang di kira pengawal Rhihana hanya mobil barang pengiriman paket.


Lima mobil belakang berhenti mendadak dengan posisi arah yang tak beraturan untuk menghindari tabrakan beruntun.


Roby seketika panik, mengambil pistolnya dengan tetap siaga di dalam mobil.


"Apa yang harus saya lakukan bos?" Tanya sopir pribadi Rhihana.


"Perintahkan mobil belakang untuk mundur!" Kamu bergerak pelan untuk mengecoh mereka, setelah mereka mengejar mobil belakang, kamu baru bergerak." Ucap Roby pada anak buahnya.


Sesuai permintaan Roby, mobil paling belakang putar balik sehingga penjahat mengira bahwa itu mobil Roby dan Rhihana. Mobil box langsung mengejar mobil paling belakang dan menembak mobil lainnya termasuk mobil Rhihana.


Karena kaca mobil itu anti peluru, jadi tidak terjadi apa-apa pada pasangan itu. Ketika merasa aman, mobil Rhihana bergerak maju meninggalkan tempat tersebut.


Warna mobil dengan model yang sama membuat penjahat kalang kabut menebak mana mobil Rhihana yang perlu mereka kejar dan menghancurkan mobil itu dengan granat yang mereka bawa.

__ADS_1


"Kamu tidak apa sayang?" Tanya Roby yang sudah mendekap tubuh istrinya sangat erat.


"Tidak apa sayang, tapi tolong telepon orang rumah!" Pinta Rhihana.


Belum juga Roby menghubungi nenek Yati, ternyata nenek Yati yang terlebih dahulu menghubungi mereka.


"Rhihana sayang, dengarkan nenek! arahkan mobilmu lewat pintu belakang mansion tapi tidak menggunakan mobilmu, karena Sarah sudah menunggu kalian di pintu belakang mansion. Kalian berhenti di tempat yang cukup ramai dan naik taksi biasa." Titah nenek Yati.


"Apakah Tania aman nenek?" Tanya Rhihana dengan suara gemetar.


"Putrimu sudah diamankan sama nenek sayang." Jawab nenek Yati dengan tetap bersikap tenang dan fokus.


"Cepat pulang sayang sebelum anak buah Tuan Robert menghadang kalian sebelum bertemu dengan Sarah!" Titah nenek Yati.


"Ia nenek, kami juga sedang mencari jalan yang aman agar terhindar dari kejaran musuh." Jawab Rhihana.


"Tetap hati-hati sayang, hindari mobil-mobil kontainer karena mereka bersembunyi dalam mobil itu dan mobil mereka berada di dalamnya." Ujar nenek Yati yang sudah mengetahui permainan kotor Tuan Robert.


"Iya nenek kami akan tetap waspada sampai bisa menemui Sarah." Ucap Rhihana.


Roby meminta sopir pribadinya untuk memilih jalan yang cukup padat kendaraannya, agar penjahat tidak berani memasuki jalur umum dengan kepadatan kendaraan cukup memacetkan jalanan ibukota.


Polisi yang berjaga sepanjang jalan tampak terlihat sedang melakukan pemeriksaan surat ijin kendala dan perlengkapan standar berkendaraan.


"Sayang, apa perlu kita laporkan polisi?" Tanya Roby ketika melihat kawanan polisi yang berseragam lengkap menghentikan sejumlah kendaraan yang melanggar lalu lintas.


"Jika kita melaporkan kejadian tadi pada mereka, justru pertanyaan yang diajukan mereka lebih banyak ketimbang diusut permasalahannya. Sudahlah lebih baik kita ikuti saran nenek Yati agar cepat pulang dan bertemu dengan Sarah sesuai arahan nenek Yati. Dia bisa mengamuk jika tahu kita melanggar perintahnya." Ujar Rhihana sambil terus menghubungi nenek Yati.


"Aku hanya ingin kita melibatkan aparat keamanan saja sayang karena posisi kita saat ini sedang berada di jalan raya. Jika orang lain ikut terluka, gara-gara salah tembak dari peluru nyasar milik penjahat itu akan berakibat fatal dan aku tidak mau warga sipil ikut tewas dari kekacauan yang ditimbulkan oleh para anak buahnya Tuan Robert." Ucap Roby yang tak enak hati pada pengguna jalan itu.


"Aku mengerti akan kegundahan hatimu sayang, tapi urusan kita saat ini adalah segera kembali ke mansion bertemu dengan putri kita Tania. Aku tidak mau putriku menjadi yatim piatu disaat usianya masih terlalu kecil. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua yang harus tewas karena ulah para penjahat itu." Ucap Rhihana sedih.


Roby akhirnya mengalah dan mengerti kesedihan istrinya. Ia juga tidak ingin putri cantiknya harus hidup menderita karena mereka harus tewas di tangan penjahat.


"Maafkan aku sayang, aku tidak berpikir kita telah memiliki Tania. Baiklah kita ikuti aturan dari nenek Yati untuk bertemu dengan Sarah." Ujar Roby lalu mengecup pipi istrinya.


"Ya Allah, kapan ini akan berakhir, aku sangat lelah ya Allah, hidup dibawah bayang-bayang, para mafia yang ingin sekali melenyapkan kami berdua. Tolong lindungi kami ya Allah, agar kami selamat sampai tujuan." Gumam Rhihana yang terus berdoa sepanjang jalan.


Roby juga melakukan hal yang sama seperti suaminya, ia terus berdoa untuk keselamatan keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Bos apakah nenek Yati sudah mengirim lokasi pertemuan kita dengan Sarah?" Tanya sopir pribadi Rhihana.


__ADS_2