
“Aku jurusan akuntansi, Tan.” Gebri terdiam sejenak sebelum menjawab. Dia tampak ragu-ragu. Takut wanita itu menunjukkan tatapan tajam yang lebih dari ini. “Aku dan Rion sudah pernah bertemu. Kami satu fakultas, Tan.”
Sunyi melanda lagi. Gebri segera menundukkan kepala, mendadak merasa terintimidasi. Tatapan wanita paruh baya itu semakin tajam. Raya tampak tak menyukainya. Seharusnya tadi dia sedikit berbohong. Mengatakan kalau mereka tidak pernah bertemu walaupun berada di dalam satu kampus, mengingat kampus yang berpusat di jalan Kaliurang Km 14,5 sangat besar.
KRETTT...
Gebri sedikit mendongakkan kepala, mendengarkan suara kursi yang ditarik, tampak Riyan telah berdiri.
“Aku haus, mau pesan minuman dulu. Mama ice lemon tea, kan?” tanya Riyan dan mendapatkan anggukan kepala singkat dari Raya. “Kamu mau apa, Geb?”
Gebri menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. “Tidak perlu, Kak.”
“Aku pesanin kamu orange juice saja, ya?”
Tanpa menunggu lontaran dari mulut Gebri, Riyan mendekat ke arah counter layanan. Suasana hening dan canggung di meja itu semakin menjadi. Gebri bingung harus mengucapkan apa, semua perkataan yang keluar dari mulutnya seolah salah. Dalam hati, dia selalu berharap akan ada seseorang yang akan menghampirinya yang bisa dijadikan alasan untuk pergi, seperti tindakan-tindakan Koning selama ini. Sementara perempuan di hadapannya ini masih dengan mata yang menatap tajam.
“Apakah....”
Kepala Gebri terpaksa terdongak, menunjukkan sikap sopan santunnya saat berbicara dengan orang lain, terutama dengan orang yang lebih tua.
“Apakah kamu melahirkannya?”
Pertanyaan inilah yang paling ditakuti Gebri saat bertemu dengan keluarga Rion. Tubuhnya seketika menegang, hampir menggeligis, dan butir-butir keringat mulai terbentuk di kening. Gigi bagian atas dan bawahnya saling beradu, dengan bola mata yang telah berkaca-kaca. Gebri selalu mendadak bertingkah berlebihan saat orang-orang menanyakan keadaan anak ini. Sensitif. Dia menjadi mudah terbangkit emosi.
“Siapakah namanya? Apakah kamu mencantumkan nama Fernandez?”
__ADS_1
Jemari Gebri saling menggenggam di bawah meja. Kepalanya kembali menunduk, menyembunyikan bening-bening air mata yang hendak jatuh.
“Apakah wajahnya mirip dengan Rion atau denganmu?”
Gebri terus menundukkan kepala. Tidak sanggup lagi mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut wanita bernama Raya itu.
“Atau kamu mengaborsinya?” Tidak mendapatkan jawaban satu pun, Raya melontarkan kemungkinan lain.
Akhirnya air mata itu terjatuh di kedua pipi Gebri, membuat wanita di hadapannya mendadak terpaku.
“Jadi kamu memang mengaborsinya?” tanya Raya lagi, mencoba memperjelaskan kebenarannya.
“Aku—”
Tiba-tiba suara The Chainsmokers dan Hasley yang menceritakan tentang sebuah kenangan masa lalu saat sepasang kekasih yang sudah empat tahun putus beralun indah. Gebri dan Raya sama-sama terkesiap. Kemudian Gebri segera meronggoh celana jeans, memandang layar ponselnya, dan mengusap kedua pipi sebelum menjawab.
^_^
“Maafkan Bunda, sayang! Maafkan Bunda!”
Dalam kurun waktu hampir mendekati satu jam, permohonan maaf yang dibalut lirih pilu dan uraian air mata itu terus terucap. Jemari tangan Gebri tak berhenti mengusap-usap lembut pada selembar foto yang menampilkan bayi mungil yang sedang digendong. Mata sosok kecil itu tertutup dengan wajah damai, wajah yang sebagian besar menyerupai struktur wajah Rion versi remaja. Hanya bibirnya yang mengkopi dari bibir Gebri yang kecil dan tipis.
“Maafkan Bunda, sayang! Seandainya Bunda bisa lebih hati-hati, pasti kita sudah bisa bergurau dan bermain bersama.”
Lirih itu kembali menjadi suara isakan. Aliran yang keluar dari kedua bola matanya semakin deras. Hingga membuat kelopak mata Gebri semakin membengkak dan sklera matanya kian memerah. Begitupula dengan hidung. Memerah seperti buah tomat dengan lendir yang menghiasi. Penampilan Gebri sungguh sangat berantakan sekarang. Tapi dia tak peduli. Dia hanya membutuhkan pelepasan rasa sakit yang membuncah dan terus dipendamnya selama ini. Walaupun rasa kehilangan itu tak pernah kabur dari hati dan otaknya.
__ADS_1
Tok tok tok... tok tok tok...
“Geb, kamu di dalam? Aku Koning.”
Gebri mulanya tidak mengindahkan, tapi suara gedoran itu kin keras, memaksa untuk mengusap kedua matanya, menghilangkan jejak-jejak air mata yang terus mengalir dan segera beranjak menuju pintu kamar.
“Kamu baik-baik saja, Geb?” Koning sedikit mengernyitkan alis saat menangkap sesuatu yang ganjil dengan mata Gebri.
Bukan memberikan jawaban, justru mata Gebri kembali berair dan suara isakan kembali keluar, membuat Koning terpaksa mengernyitkan alis lagi. Heran.
“Apa yang terjadi, Geb? Jangan membuatku khawatir!” ucap Koning seraya menuntun mereka masuk ke dalam kamar kosan dan duduk di atas tempat tidur. Tidak enak kalau tangisan yang terdengar pilu itu ditonton anak-anak kosan yang mulai penasaran. “Apakah....” Koning tanpa ragu mengutarakan, selama ini mereka memang tidak pernah membahas hal-hal yang bersifat personal. Hubungan pertemanan mereka belum cukup dekat untuk saling mengutarakan masalah-masalah penuh emosi seperti itu. “Apakah kamu menangis karena mereka, dua orang yang kamu jumpai di Dunkin’ Donuts tadi? Siapa mereka, Geb?”
Gebri masih tak menjawab, suara isakan itu masih terdengar meskipun tak sekeras beberapa detik yang lalu.
“Selama ini kita memang tidak pernah membahas hal-hal yang berbau sensitif seperti masalah keluarga atau yang lainnya. Aku tahu kita baru berteman beberapa bulan ini, tetapi melihat kondisimu saat ini....” Koning mengusap-usap punggung Gebri, berharap dapat memberikan kenyamanan kepada sosok yang terduduk di sampingnya dengan wajah tertunduk. “Kamu memang selalu tersenyum, bahkan saat teman-teman mencemooh dirimu, kamu masih tetap tersenyum. Tetapi matamu tidak dapat berbohong. Setiap aku melihat matamu, aku tahu kamu memiliki beban berat yang dipikul. Aku mencoba tidak bertanya meskipun aku sangat penasaran. Aku ingin membuat kamu merasa nyaman dengan pertemanan kita.” Sekali lagi Koning mengusap-usap punggung Gebri sebelum melanjutkan kalimatnya. “Melihat matamu bengkak dan memerah seperti ini, setidaknya aku harus tahu secara garis besar apa yang sedang terjadi. Meskipun mungkin aku tidak dapat membantu, tetapi mungkin dengan bercerita kamu bisa sedikit merasakan lega.”
Kepala Gebri tetap tertunduk, namun suara isakan sudah tidak terdengar lagi. Suasana hening mendadak datang. Koning dengan sabar menunggu reaksi dari dara di sampingnya. Lima menit berlalu, kepala yang tertunduk itu sedikit terangkat dan matanya menatap lurus ke depan, tepat di pintu. Gadis beralis tebal itu mencoba menerawang ke masa lalu, dimulai dari pertemuan singkat di Dunkin’ Donuts.
“Laki-laki dan perempuan itu adalah....” Gebri diam sejenak, sedikit mengembuskan napas kemudian melanjutkan kalimatnya. “keluarga Rion.”
Koning tidak menampakkan reaksi apa-apa, bukan saatnya dia membuka suara. Cukup menjadi pendengar yang baik.
“Kamu pasti sudah tahu kalau aku pernah hamil di luar nikah saat usiaku 15 tahun dan dikeluarkan dari sekolah tepat tiga hari sebelum Ujian Nasional dilaksanakan. Tapi tidak ada satupun yang tahu siapa laki-laki yang telah menghamiliku, bahkan teman-teman SMP-ku dulu. Kebanyakan mereka menduga kalau aku diperkosa, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kami melakukan suka sama suka. Dan laki-laki itu....” Mata Gebri kini tampak berkaca-kaca. Kenangan itu terlalu menyakitkan. “Laki-laki itu adalah Rion. Rion Michael Fernandez yang kita kenal sebagai mahasiswa Manajemen 2014 dan teman Kakak sepupumu.”
Air mata Gebri kembali jatuh, dan tanpa sungkan Koning mengusap jejak-jejak yang tertinggal itu.
__ADS_1
“Mengapa tidak ada seorang pun yang tahu?” Koning memutuskan untuk bertanya, bukan karena rasa penasaran yang tinggi, hanya berharap Gebri bisa mengeluarkan segala sesak yang melingkupi dadanya. Pasti sulit harus menyimpan semua kisah-kisah itu tanpa satu orangpun yang tahu. “Lalu bagaimana dengan anak itu? Apakah kamu melahirkannya?”
Jejak yang sempat hilang itu, kembali muncul dan lebih deras dari sebelumnya, membuat Koning merutuk diri atas ucapannya. Tapi gadis berwajah bulat itu hanya membiarkan saja, membiarkan Gebri menumpahkan semua kesakitan dengan air mata. Tak ada salahnya menangis bila memang dapat menghilangkan beban yang dipikul selama ini.