Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 16.1


__ADS_3

Makan malam hari ini tampak tak biasa. Hening. Hanya terdengar suara gesekan sendok stainless dengan piring kaca. Padahal biasanya, Rion dan Gebri selalu bercengkrama di sela-sela mereka menikmati hidangan. Biasanya ada banyak hal yang mereka perbincangkan, mulai dari kegiatan kampus sampai keluarga mereka.


Sekali-kali Gebri melirik ke sosok di depannya. Sejak kepulangan mereka hingga duduk di ruang makan ini, Rion masih memilih untuk diam seribu bahasa. Wajahnya terlihat muram, menunjukkan kalau suasana hatinya sedang tidak baik.


“Mau tambah?” tawar Gebri ketika melihat piring Rion hampir kosong.


Rion tak merespon, seolah tidak mendengarkannya.


Gebri mengembuskan napas panjang. Dia tahu kalau Rion sedang marah. Tapi semua ini bukanlah kesalahannya. Dia kira chat WhatsApp itu sudah terkirim.Dia juga sungguh lupa kalau kouta ponselnya habis hari ini. Alhasil, tadi Rion pasti kelimpungan mencarinya, yang tidak ada kabar sedikitpun. Diperparah dengan ponselnya dan ponsel Koning yang kehabisan baterai, yang semakin membuat Rion kebingungan ingin menghubungi siapa.


Setelah makan malam, Gebri duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV di depannya. Sedangkan Rion sudah keluar dari rumah beberapa menit lalu.


Ponsel di atas meja tiba-tiba berbunyi. Gebri kontan mengambilnya dan langsung menggeser tombol hijau setelah melihat nama Koning di layar.


“Ya, Kon?” ucapnya setelah ponsel tersebut tertempel di telinga.


“Tugas dari Pak Hakim udah selesai?” tanya Koning di seberang telepon.


“Sudah. Kenapa?”


“Aku nggak paham nomor lima. Besok aku lihat ya?!”


“Boleh,” sahut Gebri.


“Sip. Thanks Geb.”


“Kon,” panggil Gebri saat Koning ingin mengakhiri panggilan telepon mereka.


“Ya? Kenapa?” Ada nada keheranan dari suara Koning.


“Mas Rion...” Gebri menggantungkan kalimatnya.


Merasa Gebri belum mau melanjutkan kalimatnya, Koning lantas bertanya, “Bang Rion kenapa? Dia baik-baik saja, kan?”


“Mas Rion sepertinya marah besar denganku,” ungkap Gebri, memutuskan untuk bercerita. Saat ini dia sangat bingung bagaimana menghadapi sikap Rion. Ketika dia mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Rion justru memilih untuk menghindar dan menjauhi.


“HAH? Bang Rion marah karena apa?”


“Pesan WA-ku tidak terkirim. Jadi dia tidak tahu kalau aku pergi nonton ke bioskop. Padahal aku nggak ada niat sedikitpun untuk nggak memberitahunya,” jelas Gebri dengan nada sedih. “Sampai sekarang, dia terus mendiamiku. Bahkan dia tidak mengatakan apa-apa saat keluar rumah tadi,” timpalnya.


Sekonyong-konyong Koning tertawa keras. Dahi Gebri langsung mengerut tajam. Heran dan juga sedikit kesal. “Kok kamu ketawa sih, Kon?” sungut  Gebri.

__ADS_1


Masih dengan tertawa kecil, Koning berkata, “Aku kira ada apaan. Ternyata hanya itu.”


“Itu bukan hanya, Kon. Tapi ini masalah besar,” protes Gebri. “Ini menyangkut keberlangsungan rumah tanggaku.”


“Kamu mau tahu cara supaya Bang Rion nggak marah lagi?”


Kerutan di dahi Gebri semakin terlihat jelas.


“Kamu mau tahu nggak?” desak Koning saat Gebri tak menanggapi.


“Memang caranya gimana?”


“Caranya gampang kok,” jawab Koning dengan terkekeh kecil.


“Jadi apa?” desak Gebri yang mulai jengah dengan tawa Koning itu.


“Kamu ajak aja Bang Rion indehoy di kamar,” tukas Koning.


Telinga Gebri spontan memerah. “Kamu apaan-apaan sih? Nggak masuk akal.”


“Nggak masuk akal?” celetuk Koning tidak terima. “Apanya yang nggak masuk akal? Dari artikel-artikel yang aku baca, cara inilah yang paling ampuh dan paling masuk akal kalau pasangan suami istri sedang bertengkar. Berhubungan intim itu bisa mengatasi pertikaian dalam hubungan, sebab berhubungan intim bisa melepaskan emosi, pengingat saat masa-masa indah, membuat pasangan lupa akan perbedaan, membantu memecahkan masalah masalah setelah bertengkar, dan cara cepat untuk mengucapkan maaf,” papar Koning dengan penuh antusias.


“Dan setelah bercinta, kalian bisa melakukan pillow talk. Kamu bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi,” saran Koning masih dengan nada antusias.


“Sepertinya kamu berpengalaman banget, Kon. Jangan-jangan tanpa sepengetahuanku, kamu sudah menikah dengan Baim?” tuduh Gebri curiga. Dia yang sudah menikah saja, nggak kepikiran dengan cara tersebut. Tapi kok Koning bisa berpikiran seperti itu, ya?


“Hush, sembarangan kamu! Aku masih perawan ting-ting ya! Lagian aku belum berniat menikah dalam waktu dekat-dekat ini. Aku masih mau menyelesaikan kuliahku dulu,” bantah Koning tidak terima dengan ucapan Gebri.


“Terus kenapa kamu banyak tahu tentang hubungan suami istri?”


“Karena aku banyak baca,” sahut Koning. “Intinya kamu ikutin saja saranku. Aku jamin Bang Rion nggak akan marah lagi. Dia kan bucin akut, tidak mungkin dia marah lama-lama,” sambungnya.


“Tapi aku—“


“Udah dulu ya, kita sambung nanti. Aku kebelet PUP nih,” ucap Koning sebelum mengakhiri percakapan mereka.


Gebri menghela napas panjang. Dia sedikit ragu untuk mengikuti saran Koning. Selama mereka nikah yang sudah berjalan hampir tiga bulan lebih, tidak sekalipun dia berinisiatif untuk mengajak Rion berhubungan intim. Rionlah yang selalu memulainya. Rionlah yang selalu mendominasi dirinya. Sebagai istri yang baik, Gebri hanya menurut dan tidak pernah menolak.


TAP... TAP... TAP... Suara langkah kaki terdengar mendekat. Gebri langsung tersentak kaget. Dia yakin kalau suara itu suara langkah kaki Rion. Tiba-tiba wajahnya memerah saat membayangkan apa yang disarankan Koning tadi. Dia tidak ingin Rion marah lagi. Tapi dia juga cukup malu untuk memulainya.


^_^

__ADS_1


Rion meletakkan kantong plastik hitam di atas meja di depan Gebri. Tanpa mengucapkan apa-apa, dia beranjak menjauh menuju kamar. Setelah pintu kamar tertutup, Gebri lantas mengambil plastik tersebut. Saat melihat tusuk sate di celah-celah kotak sterofoam, bibir Gebri spontan tersungging lebar. Pagi tadi dia memang mengatakan ingin makan sate madura.


Yap. sekarang hati Gebri sudah mantap. Gebri nggak ingin Rion terus mendiami dirinya. Setelah meletakkan kantong plastik itu di atas meja makan, Gebri segera masuk ke dalam kamar, menyusul Rion.


Rion sempat mendongak dari ponselnya saat mendengar pintu terbuka.


“Makasih sudah membelikan sate untukku,” ucap Gebri sambil mendekati ranjang.


Rion tidak menjawab. Masih asyik dengan layar ponselnya.


“Kita makan bareng yuk!” ajak Gebri, berharap kali ini mendapat atensi laki-laki itu.


Melihat tidak ada gubrisan dari Rion, Gebri lantas naik ke atas ranjang, duduk di atas paha Rion, kemudian mengambil ponselnya dan melempar ke samping. Rion hendak protes, tapi bibir Gebri membungkam bibirnya. Matanya kontan terbelalak lebar, cukup terkejut. Ini pertama kalinya Gebri berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu.


Rion terbuai, bak ibarat kucing yang dikasih ikan asin. Rion membalas cumbuan bibir Gebri dengan menggebu-gebu. Sedangkan di sela-sela cumbuan mereka, Gebri sempat tersenyum kecil. Ternyata Rion menyambut baik cumbuannya, meskipun awalnya dia sempat malu-malu. Sepertinya saran Koning berhasil. Besok dia berjanji akan mentraktirnya.


^_^


“Aku nggak bermaksud membuatmu khawatir,” kata Gebri, mengakhiri penjelasannya. “Jadi kamu jangan mendiami aku lagi ya?”


Rion menarik tubuh Gebri agar semakin menempel dengan tubuhnya di balik selimut, kemudian dia mengecup pelan puncak kepala Gebri. “Iya. Aku juga minta maaf karena sikap kekanakanku ini. Seharusnya aku tidak mendiamimu. Seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu.”


Gebri melingkarkan tangannya di tubuh Rion, memeluknya dengan erat. “Janji ya, besok-besok kamu harus mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.”


“Iya, aku janji,” jawab Rion sambil mengecup lagi puncak kepala Gebri.


“Bangun yuk! Aku ingin makan sate tadi.”


Rion bangun dari tiduran. “Kita makan di kamar saja ya?!”


“Boleh deh. Lagian aku juga masih lelah,” sahut Gebri.


Rion terkekeh kecil. Dia tahu kalau penyebab lelahnya Gebri pasti karenanya. Tadi dia memang terlalu bersemangat. Mungkin karena ini pertama kalinya Gebri berinsitiatif untuk menggoda dirinya dan mengajaknya berhubungan intim.


“Tunggu bentar ya, aku ambilkan dulu,” ujar Rion. Dia menyempatkan sekali lagi mengecup kepala Gebri sebelum beranjak menjauh dari ranjang.


YEAYYY... UPDATE... TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA... NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA...



YUK GABUNG DI GRUP ALSAEIDA!!! LIHAT DI PROFIL YA... KAMU BISA MENGINGATKAN AKU SUPAYA UPDATE DI SANA... THANKS VERY MUCH...

__ADS_1


__ADS_2