
“N-nggak mungkin!” sangkal Titania. “KAMU PASTI BOHONG!” teriaknya.
Gebri melihat sekeliling, beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka. Dipalingkan wajahnya ke kursi kemudi dan dahinya seketika mengerut, heran karena mimik muka Rion terlihat sangat senang. Ditatapnya lagi Titania yang semakin memberikan tatapan sinis. “Mas Rion memang suamiku. Kami sudah menikah waktu libur semester kemarin,” tuturnya.
Melihat Titania yang masih tidak percaya, Rion menimpali, “Gebri memang istriku." Dia memberikan tatapan tajam sebelum melanjutkan, "Dan memangnya kenapa kalau dia istriku?”
“Ehm, aku-aku…,” ujar Titania tergagap-gagap, dia merasa sedikit tidak nyaman dengan reaksi yang diberikan laki-laki itu. “Sepertinya buku catatanku tertinggal di kelas, aku harus mengambilnya. Kalian duluan saja.” Titania buru-buru membalikkan badan tanpa menunggu respon lagi dari dua sejoli tersebut.
“Titania, tunggu!” seru Gebri, tapi Titania terus berjalan, tak menggubris panggilannya. Padahal dia berencana untuk mengantarnya ke fakultas kedokteran.
Sesungguhnya dia sedikit terheran-heran, kok Titania bisa berada di Fakultasnya? Jarak Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi cukup jauh. Letak Fakultas Kedokteran persis setelah gerbang masuk kampus, sedangkan fakultasnya berada di area belakang, sekitar lima menitan jika menggunakan kendaraan. Jadi dengan menggunakan apa cewek itu datang ke sini? Bukankah katanya mobilnya mogok, dan karena itu dia nebeng?
Melihat punggung Titania yang sudah menjauh, Gebri lantas masuk ke dalam mobil. Dahinya semakin mengerut, ekspresi Rion masih sama dengan senyum sumringah. “Mas kenapa senyum-senyum? Memangnya ada yang lucu?”
Rion sedikit tertawa kecil sebelum berujar, “Mas hanya terlalu bahagia.”
“Bahagia? Bahagia kenapa?”
“Karena kamu cemburu.”
“Cemburu?”
Kepala Rion terangguk. “Sikapmu tadi menunjukkan kalau kamu sedang cemburu, kan?” Raut yang tadi berbinar, tiba-tiba menjadi muram. “Tadi pagi Mas merasa sangat kesal sama kamu, kamu membiarkan Titania untuk duduk di depan, padahal di situ, kan, tempat dudukmu. Tidak pernah ada seorang perempuan pun yang pernah duduk di sana sejak kita menikah, kecuali Mama.”
__ADS_1
“Jadi Mas mendiamkanku karena itu, kukira karena aku menolak melayani Mas tadi pagi?” tanya Gebri dengan pupil sedikit membesar, terkejut dengan pernyataan dilontarkan Rion. Dia sungguh nggak menduganya.
“Kamu, kan, nggak menolak melayani Mas, hanya menunda saja,” tukas Rion membenarkan. Kemudian dia menatap manik Gebri dengan lekat. “Sebenarnya selama ini Mas merasa kalau hanya Mas saja yang sangat menyukaimu. Kamu nggak pernah menunjukkan ke orang-orang seperti yang sering Mas lakukan. Bahkan teman-teman Mas mengatakan kalau Mas ini Bucin alias budak cinta.” Dia mengembus napas pelan. “Dan karena sikapmu pagi tadi, yang membiarkan Titania duduk di samping Mas, Mas merasakan kalau pikiran Mas itu benar.”
Gebri mengulurkan telapak tangannya ke pipi Rion, mengusapnya dengan penuh kelembutan. “Mas nggak usah khawatir. Mas itu cinta pertamaku dan juga cinta terakhirku. Aku jarang menunjukkan skinship kita bukan karena aku nggak menyukai Mas, aku hanya merasa malu.” Semburat merah muncul di kedua pipinya.
Rion lantas mendekatkan wajah mereka, saling menyatukan bibir mereka. Kemudian dia segera melepasnya, sambil mengeram. Dia masih sadar kalau ini lingkungan kampus. Bila melakukan yang lebih dari ini, bisa saja ada yang melihatnya meskipun kaca mobil cukup gelap. Dan dia tidak segila itu untuk membuat Gebri dalam masalah, karena sudah berbuat tak senonoh. Yah, walaupun mereka sudah sah-sah saja.
Gebri terkekeh melihat reaksi Rion yang sedang menahan diri. “Sabar... setelah sampai rumah, kita bisa melanjutkannya.”
“Di sini ada hotel terdekat, apa kita ke sana saja? Rumah kita masih jauh,” usul Rion.
“Di rumah aja ya?!” bujuk Gebri.
“Tapi jangan tinggalkan jejak di leherku lagi ya?!” peringat Gebri.
“Ya,” sahut Rion dengan diikutkan suara decakan tak suka. Sampai sekarang dia masih menyesal kenapa dia menawarkan tawaran itu dan juga menyetujui negosiasi Gebri. Padahal meninggalkan kissmark di seluruh tubuh sang istri adalah kesenangannya, bukti dari kepemilikannya.
>_<
“Akhirnya tugas kita selesai,” ucap Koning bersemangat dengan setengah berteriak.
“Saatnya kita nonton Korea,” imbuh Lutfi yang sudah membuka folder-folder dari drama Korea yang sudah diunduhnya.
__ADS_1
“Tapi aku nggak ikut ya, aku harus balik, takut Mas Rion mencari-cari,” ujar Gebri sambil melirik jam di pergelangannya. Meskipun dia sudah meminta izin, tapi dia sudah cukup lama meninggalkan laki-laki itu sendirian di rumah.
“Yuk aku antar ke depan Geb!” kata Yeyen yang ikut berdiri.
Hari ini mereka kembali berkumpul di rumah Yeyen, mengerjakan tugas kelompok yang harus di presentasi hari Senin. Dan setiap bertandang ke rumah ini, Gebri selalu teringat awal mula pikirannya berubah untuk menerima Rion lagi, di mana dia melihat rumah Rion pertama kali dari atap balkon rumah ini hingga dia menemukan foto USG yang di simpan Rion. Dulu sebelum menemukan foto-foto itu, dia tak menduga kalau Rion juga menderita, sama seperti dirinya. Ternyata mereka sama- sama belum bisa melupakan kejadian terbentuknya Gebian.
“Makasih ya Yen, aku pulang dulu,” pamit Gebri sebelum beranjak menjauh dari pintu.
Tepat saat Gebri menginjak kakinya di halaman rumahnya dan Rion, pintu di rumah bernomor 2C itu terbuka, menampakkan wujud Titania yang terlihat cantik dengan gaun berwarna merah muda dan rambut yang dibiarkan terurai. Setelah kejadian di parkiran fakultas itu, Titania memang sedikit menjaga jarak. Ternyata perempuan itu masih memiliki urat malu untuk tidak mengganggu rumah tangan orang lain. Kalau nggak, mungkin dia sudah mengecap Titania sebagai pelakor. Karena seperti perkataan Koning, pelakor itu nggak punya urat malu yang memiliki banyak muslihat untuk mendapatkan lelaki milik orang lain.
“Mau pergi?” tanya Gebri berbasa-basi.
Titania kontan menoleh, yang semula berfokus ke pintu mobil. “Iya, mau hangout bareng teman-teman,” jawabnya.
“Oh, kalau gitu hati-hati and have fun,” sahut Gebri.
“Thanks,” balas Titania sebelum masuk ke dalam mobil.
Gebri melangkah kakinya lagi mendekati pintu. Saat dia meninggalkan Rion tadi, laki-laki tampak asyik bermain playstation di ruang tengah. Tapi kini ruangan itu sudah kosong. Kemudian Gebri beranjak menaikan undakan tangga. Rion pasti ada di dalam kamar, mungkin sedang tidur. Tapi lagi-lagi tidak ada. Lantas Gebri kembali ke lantai satu, berniat mencari Bik Sumi di daput. Mungkin wanita paruh baya itu tahu keberadaan sang suami.
“Mau ke mana?” tanya Rion saat Gebri baru saja masuk dapur, Rion baru saja meletakkan gelas yang sudah kosong.
“Nggak ke mana-mana,” jawab Gebri sambil memperhatikan Rion. Laki-laki itu terlihat berkeringat, baju dan wajahnya terdapat noda berwarna kehitaman. Rambutnya juga tampak acak-acakan. “Kamu habis ngapain Mas?”
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Mohon kritik dan sarannya. Dan please vote, comment, like, and rate nya. Nantikan terus kelanjutannya. #SedangsemangatmenulisSepertiBekasPaku