
IG: @alsaeida0808
Kelopak mataku membuka perlahan dan pandanganku langsung menangkap warna krem di langit-langit. Sembari memegang kepala yang masih terasa pusing, aku berusaha membangunkan tubuhku dan menyadarkan di bantalan sofa. Mataku melirik ke kiri ke kanan, ternyata aku berada di ruangan Mas Yudi.
Terdengar suara pintu yang terbuka. Aku refleks menoleh dan mendapati Mas Yudi yang berjalan mendekat.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa perlu kita ke rumah sakit?”
Aku memberikan gelengan pelan. “Kondisiku sudah lumayan baik, Mas.”
“Tapi kamu masih terlihat pucat.”
“Aku sudah cukup baik kok Mas.” Aku menoleh ke kiri dan ke kanan lagi, kini mencari-cari jam. Aku merasa waktu berlalu sudah cukup lama. Bahkan dari ventilasi jendela, aku bisa melihat lampu yang sudah menyala. “Sudah jam berapa sekarang, Mas?”
Mas Yudi melirik pergelangannya. “Jam delapan malam. Kamu pingsan cukup lama.”
“Maafkan aku ya Mas, aku—”
“Ini bukan salahmu, karena sepertinya kondisimu memang sedang tidak baik. Kamu perlu cukup istirahat, sebaiknya kamu mengajukan cuti saja.”
Cuti? Ah, benar. Aku memang harus mengajukan cuti atau Tante Ria akan memaki-makiku. “Baik Mas, sebenarnya aku memang berniat mengajukan cuti selama sehari besok.”
“Cukup sehari? Tapi sebaiknya kamu mengajukan cuti selama tiga hari saja, karena selama kamu bekerja di sini, kamu memang sangat jarang mengambil jatah cuti.”
“Nggak Mas, cukup sehari saja,” tolakku. Lebih baik bekerja daripada cuti, karena bila tak beraktivitas, pikiranku pasti akan menghantuiku, memburu dengan rongrongan kejadian-kejadian beberapa tahun lalu, merusak otakku dan mungkin aku benar-benar akan menjadi gila.
“Biar aku antar kamu pulang sekarang Keiy.”
“Aku masih punya shift Mas.”
“Tak apa-apa, karena kondisimu juga sedang tidak baik.”
__ADS_1
“Tapi aku bisa pulang sendiri,” lagi-lagi aku mencoba menolak. Ini juga bukan pertama kalinya dia berniat mengantarku, hanya saja aku selalu punya alasan untuk menghindar. Aku tidak ini terlihat berdua dengannya. Aku tidak ingin menciptakan rumor yang tidak mengenakan, mengingat dia sudah punya istri dan seorang anak laki-laki.
Beberapa kali aku juga pernah bertemu dengan Mbak Mutia—nama istri Mas Yudi—saat mengunjugi Aji Mart ini. Dia terlihat sangat cantik, dengan wajah khas orang Jawa. Mbak Mutia juga sangat ramah. Dia sering membagikan hasil masakannya dan rasanya sangat enak.
“Ambil dulu tasmu di loker dan aku mau sedikit beres-beres sebentar. Nanti kita bertemu di depan.”
Aku mengangguk pelan dan segera beranjak berdiri. Aku tidak langsung menuju loker, tetapi berbelok menuju kamar mandi. Aku butuh membasuh wajahku, berharap bisa menghilang sisa-sisa ketakutan dari bayang-bayangan hari itu. Bahkan aku masih merasa telapak besar itu menggerayangi tubuhku.
0_<
“Kita singgah sebentar dulu ya, tadi Mutia dan anakku nitip,” ujar Mas Yudi sembari membelokkan mobilnya memasuki area parkir. Tempat itu terlihat ramai dipenuhi pengunjung. Mayoritas dipenuhi oleh sekelompok muda-mudi dan keluarga. Bahkan kami cukup kesulitan mencari tempat parkir yang kosong, yang sebagian hampir dipenuhi oleh mobil-mobil.
“Aku tunggu di mobil saja ya Mas,” pintaku.
“Kamu belum makan, kan? Sekalian kita makan saja.”
“Nanti aku beli di warteg saja Mas.”
“Mumpung sudah terlanjur di sini, kamu makan di sini saja.”
Aku hanya membalas dengan senyum kecil. Meskipun Mas Yudi tak memberitahu, aku juga tahu kalau tempat makan bernama RM Intan ini memang terkenal enak. Karena beberapa kali, aku sering diajak Lala ke sini. Selain harganya juga terjangkau untuk orang-orang seperti kami, tempatnya juga nyaman dan luas. Bahkan mayoritas pengunjung pun kebanyakan orang-orang yang mengendarai mobil.
“Kamu mau pesan apa?” Mas Yudi menyodorkan buku menu ke arahku.
“Ayam geprek sambal ijo saja Mas,” jawabku, hanya melihat sekilas saja. Aku lapar tapi aku tidak nyaman bila makan berdua saja, apalagi dengan suami orang. Walaupun kami tidak memiliki hubungan apa-apa selain karyawan dan pemilik, tapi orang-orang belum tentu berpikiran seperti itu. Pikiran seseorang tidak ada yang tahu. Dan pikiran seseorang pun belum tentu selalu positif.
“Minum?”
“Putih saja,” jawabku sesingkat mungkin, tanpa embel-embel panggilan Mas, ingin menunjukkan kalau aku benar-benar tidak nyaman berada di sini.
Sembari menunggu, Mas Yudi terus mengajakku berbicara dan aku hanya membalas dengan anggukan atau gelengan, atau hanya menjawab singkat. Hingga ucapan Mas Yudi diinterupsi saat seorang wanita berwajah oriental menyapanya. Dan pupil mataku seketika membesar ketika melihat sosok yang berdiri di belakangnya. Apakah Tuhan sekarang sedang menghukumku? Apakah aku telah membuat kesalahannya beberapa hari ini? Kenapa kami bertemu lagi?
__ADS_1
“Gabung saja, kayaknya tidak ada tempat duduk lagi,” ajak Mas Yudi sambil memandang ke sekeliling yang terlihat hiruk-pikuk.
“Tapi kami nggak ganggu, kan?”
Mas Yudi menggeleng. “Nggak kok.”
Wanita itu mengambil tempat duduk di samping Mas Yudi, sementara laki-laki beralis tebal itu duduk di sampingku. Dadaku bergemuruh kencang. Butir-butir keringat terasa muncul di kulit-kulit, membasahi dahi dan tubuhku. Tanganku juga mulai bergetar dan aku merasa perutku bergejolak, ingin mengeluarkan sesuatu. Bola mataku juga mulai tak fokus.
“Istrimu?” tanya si wanita.
“Tidak. Karyawan di tempatku.” Mas Yudi memandangku sambil sedikit mengernyit. “Kamu baik-baik saja, Keiy? Wajahmu terlihat sedikit pucat.”
“A-aku baik-baik sa-saja Mas,” jawabku sedikit terbata-bata, aku merasa napasku tidak bersirkulasi dengan baik.
“Ini Clara, Keiy. Teman di kampus dulu,” ujar Mas Yudi memperkenalkan.
Wanita bernama Clara itu mengulurkan tangan. “Clara.”
Aku berusaha menyambut uluran tangan dengan tenang, berusaha tidak menunjukkan kalau sedang gelisah. “Keiysa.”
“Kalau dia Devian, kembaranku Yud.”
Devian mengulurkan tangannya dan Mas Yudi menyambut ramah. Dia juga mengulurkan tangan ke arahku. Tapi aku tak berkutik. Aku sungguh ketakutan melihat telapak tangannya. Kejadian di hari itu kembali menggerogoti otakku.
“Devian,” dia menyebutkan lagi namanya.
“Kei-Keiysa,” jawabku dengan cepat membalas uluran itu dan langsung mengelapnya dengan rokku. Devian melihat dengan tatapan aneh, tapi dia tidak berkomentar apa-apa. Sedangkan dua orang di depanku tampak sibuk berbincang dengan cerita mereka.
Aku tidak tahan lagi. Lambungku seperti ingin meledak. Leherku juga terasa tercekik, seolah oksigen sudah tidak ada lagi di sini. Aku langsung berdiri dari kursi. “A-Aku mau ke-ke kamar mandi.”
Aku berjalan tergesa-gesa dan untunglah kamar mandi sedang kosong. Aku langsung muntah di kloset, mengeluarkan cairan-cairan keruh. Air mataku mengenang di pelupuk. Kerongkonganku terasa menyakitkan. Setelahnya aku bersandar di dinding, membenam kepalaku di kedua lutut. Aku menangis tersedu-sedu. Mengapa aku harus mengalami semua ini?
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Semoga selalu sabar untuk menanti 🤭 Jangan lupa like dan comment. Follow juga instagramku untuk mengetahui info-info karyaku.
Mohon kritik dan sarannya untuk karya ini, terutama menemukan typo atau kesalahan logika ceritanya 🙏😁