Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 11.1


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan di udara selama hampir satu jam, alhasil kaki Gebri dan Rion menginjak bandar udara international Soekarno-Hatta. Selama di dalam pesawat dan sekarang berada di drop off zone, Gebri lebih banyak diam, sebisa mungkin meminimalisir percakapan diantara mereka, hanya sekali-kali menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Rion.


Sebenarnya Gebri tak berniat kembali lagi ke area rumahnya dulu. Bukan karena takut dihujat oleh orang-orang yang mengenalnya, hanya tak ingin kembali menyelami rasa penyesalan yang akan menggerogoti hati dan otaknya. Tapi karena mengingat perkataan Rasti, mau tak mau Gebri mengabulkan permohonan laki-laki yang sedang duduk di sampingnya kini, untuk datang ke Jakarta dan mengunjungi makam anak mereka, dan terpaksa absen satu hari untuk tidak mengikuti dua mata kuliah.


Kemarin, saat dia dan Galang baru saja tiba di depan kos Wisma Bestari, mobil Rion sudah terparkir di depan pagar. Pemuda itu langsung turun dari mobil dan mendekat ketika Galang telah mematikan sepeda motornya.


“Hai, Geb!”


Rion tahu bukan kata-kata itu yang pantas diucapkan untuk situasi saat ini, tapi mendadak kosakata yang sudah dipersiapkannya beberapa hari lalu seakan lenyap tak bersisa.


“Mau apalagi dengan Mbakku?” ketus Galang dengan menunjukkan tatapan sinis.


Gebri sedikit menyenggol lengan Galang, sebagai bentuk peringatan atas sikapnya, tapi justru tak diindahkan remaja itu. Mata Galang masih memandang nyalang. Sangat tajam.


“Ada apa, Yon? Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Gebri, mencoba bersikap ramah.


“Bisakah kita berbicara—”


“Tidak. Kami sudah ada acara setelah ini,” celetuk Galang cepat sebelum Rion sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Lang, jangan seperti itu. Bersikaplah sopan, dia lebih tua darimu,” tutur Gebri yang langsung mendapatkan wajah cemberut Galang dan tatapan matanya yang semakin medelik tajam. “Maaf, kalau sekarang aku tak bisa. Tapi kalau malam nanti, aku mungkin bisa. Nanti aku akan menghubungimu lagi,” ucap Gebri lagi sambil menatap wajah Rion, kedua mata mereka saling menatap. Ini pertama kalinya dia berani memandangi wajah itu.


“O-Oke,” jawab Rion gelagapan, mendadak menjadi salah tingkah, biasanya dara cantik itu tidak pernah mau memandang wajahnya apalagi menjalin kontak mata dengannya.


Setelah percakapan singkat itu, Rion langsung beranjak mendekati mobilnya, kemudian mulai menjauh dari kos Wisma Bestari dengan senyum yang merekah. Hatinya begitu–bisa diibaratkan–berbunga-bunga. Mungkinkah ini awalnya? Mungkinkah ini awalnya? Kalimat singkat itu terus berdengung-dengung di telinganya, bak sirine mobil polisi yang berbunyi keras, dan malam harinya, sepasang manusia lawan jenis itu kembali bertemu. Tidak di kafe. Tidak pula di tempat Koning. Tapi Gebri lebih memilih mengajak bertemu di dalam mobil Rion yang terparkir di depan kosan Wisma Bestari. Dan Gebri pun tidak berniat untuk berlama-lama berada di dekat Rion, dia hanya akan mengatakan tentang seputar bayi mereka.


“Namanya Gebian. Gebian Ananda,” buka Gebri sambil menyodorkan selembar foto bayi yang sedang digendong.

__ADS_1


Mata Rion kontan berkaca-kaca, akhirnya dia bisa melihat wajah mungil yang sering diimajinasikannya. Wajah Gebian persis seperti wajahnya ketika bayi, dia seolah seperti berkaca ke masa lalu. Hanya bibirnya yang berbeda, tampak tipis sama seperti bibir Gebri.


“Kata dokter, dia meninggal karena tali pusatnya terjepit dengan dinding rahim dan juga karena aku terlalu muda untuk melahirkan,” jelas Gebri saat tidak ada tanda-tanda Rion akan mengeluarkan suaranya.


Mata yang berkaca-kaca itu akhirnya meleleh, berlinang membasahi kedua pipi Rion. Lirih-lirih kata maaf pun berulang-ulang terucap dari mulutnya. Bagai mantra. Memang sejak pertemuan dengan Gebri, laki-laki berhidung mancung itu mendadak sensitif, menjadi gampang menangis. Mendadak cengeng. Tapi bukan tanpa alasan. Dia hanya ingin menyalurkan rasa sedih dan penyesalan yang begitu mendalam yang sudah lama terpendam. Sementara Gebri hanya membiarkan laki-laki berumur dua puluh satu tahun itu mencucurkan air mata, sempat terkejut tetapi mencoba tak terlalu menunjukkan rautnya.


“Adakah yang ingin kamu ketahui tentang Gebian lagi?”


Rion masih mengeluarkan air mata, masih membasahi kedua pipinya, dan kata-kata penuh permohonan maaf masih terlafal bertalu-talu.


“Bila tidak ada, aku mau masuk ke kosan sekarang. Aku banyak tugas kuliah,” ujar Gebri lagi sambil mengambil foto Gebian dari pegangan Rion, dan kemudian membuka pintu mobil.


Tiba-tiba tangan Rion memegang pergelangan Gebri. “Di mana dia dimakamkan?”


“Pemakaman Kalisari yang dekat dengan rumahku dulu.”


“Maaf, tapi aku—”


“Aku mohon.”


Dan akhirnya di sinilah mereka berada sekarang, di dalam sebuah mobil berplat kuning yang akan mengantar mereka ke tempat pemakaman umum Kalisari. Setelah menempuh perjalan lebih kurang satu jam dengan beberapa kali mobil itu sempat berhenti karena macet, taksi yang ditumpangi Gebri dan Rion berhenti di depan pagar yang tidak terlalu menjulang. Ada dua gerobak penjual kelopak bunga yang terparkir di samping kiri dan kanan gerbang. Gebri memutuskan untuk membeli dua bungkus bunga sebelum melewati gerbang, kemudian menuju kuburan Gebian yang terletak sedikit di pojok.


“Hai sayang, maafkan Bunda yang jarang mengunjungimu,” lirih Gebri saat tubuhnya sudah melipat kedua lutut dan bertumpu pada telapak kaki, tangannya kemudian mengusap-usap nisan yang terbuat dari kayu dengan sekali-kali mencabut rumput-rumput liar. “Hari ini Bunda memperkenalkanmu dengan seseorang.” Gebri mengisyaratkan dengan matanya agar Rion ikut berjongkok. “Dia ayahmu dan maaf Bunda baru bisa memperkenalkan padamu sekarang,” sambung Gebri lagi, untuk sekian kali jemari tangannya kembali mengusap tonggak pendek tersebut dan menaburkan bunga-bunga.


Rion hanya memperhatikan saja. Entah kenapa suaranya mendadak menghilang, justru berputar di dalam kepalanya. Seperti hendak meledak. Coba dulu aku tidak bungkam. Coba dulu aku mengakuinya. Coba dulu.... Mata Rion lagi-lagi memerah dan sesaat kemudian air mata keluar lalu membasahi matanya. Rasa penyelasan ini sudah tidak ada gunanya. Dia tak akan bisa mengubah sejarah. Semua sudah berlalu.


“Jangan menangis! Gebian pasti tidak ingin melihat Ayahnya seperti ini.”

__ADS_1


“Maaf.”


Rion cepat-cepat mengusap matanya.


“Berbicaralah padanya.”


Sekali lagi Rion mengusap kedua matanya, memastikan tidak ada butir-butir bening yang menghiasi wajahnya.


“Hai Nak. Maaf karena tidak pernah mengunjungimu,” mulai Rion dan ikut menaburkan kelopak-kelopak bunga. “Apakah kamu bahagia di surga?” tanya Rion sambil mengusap kedua matanya, butir-butir itu kembali muncul. “Apakah kamu bertemu dengan kakekmu?” sekali lagi Rion bertanya.


Kening Gebri seketika mengernyit. Kakek? Ayahku atau Ayahnya?


“Kalau bertemu kakekmu, tolong sampaikan permintaan maaf Ayah kepadanya karena telah membuat Bundamu menderita selama ini.”


Ah, Gebri tahu. Kakek yang dimaksud laki-laki itu pasti ayahnya. Mengingat lagi memang tidak ada kabar duka yang menyebutkan nama Adrian Michael Fernandez. Kepala keluarga Fernandez itu memang cukup terkenal di Jakarta–mungkin juga di Indonesia–dan berita kematiannya pasti cukup menghebohkan kalangan bisnis Indonesia. Tapi darimana dia tahu tentang ayahnya yang sudah meninggal? Bukankah mereka sangat jarang membahas mengenai keluarga masing-masing, kebanyakan dulu mereka membahas tentang sekolah mereka?


“Sekali lagi maafkan Ayah yang tidak pernah ada di sisimu, Nak dan membuat Bundamu menderita.”


Rion masih berceloteh pada gundukan tanah dan nisan, sementara Gebri hanya menjadi pendengar, sekali-kali tangannya mencabut ilalang-ilalang liar. Namun perkataan Rion selanjutnya benar-benar membuat Gebri terpaku. Kerutan yang tercipta dari alisnya terlihat lebih jelas. Dia memang tidak terlalu mendengarkan secara pasti apa kata-kata yang keluar dari mulut Rion sebelum kata itu keluar, tapi tujuh huruf tersebut begitu tertangkap di telinganya. Menikah.


“Menikahlah denganku,” ulang Rion.


“A-apa mak-maksudmu?” ucap Gebri gelagapan saat menyakini kalau pendengarannya tidak mengalami masalah.


 


AYO DONG! BANTU VOTE, COMMENT, AND LIKE-NYA! PLEASE!!!

__ADS_1


__ADS_2