
Selama masa kehamilannya, Gebri selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri, baik dari memenuhi keinginan sang bayi hingga kegiatan seperti pergi ke dokter kandungan. Sebisa mungkin dia tidak ingin merepotkan bundanya, apalagi hubungan dengan Rasti pun semakin memburuk. Mereka sangat jarang berbicara kecuali memang diperlukan. Beberapa keluarga dari pihak almarhum ayah dan bundanya pun mulai tak respek lagi. Para tetangga juga mulai mencemooh dan memaki sekarang. Bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran, Rasti dan Galang pun ikut terimbas akibat perbuatan aibnya.
Hanya melewati pos jaga ini kemudian berbelok sedikit, Gebri akan menemukan seorang laki-laki berusia 50-an yang sedang menjajakan rujak buahnya. Pak Mamat–nama panggilannya–itu memang sering mangkal di area sana. Selain karena lokasinya merupakan arus pulang-pergi anak sekolahan, beliau mengatakan kalau rumahnya dekat dari tempat mangkalnya tersebut.
“Rujaknya satu porsi Pak.”
“Komplit Neng?”
Gebri melonggokkan kepalanya ke dalam gerobak, melihat tumpukan buah-buahan yang disusun rapi.” Jangan pakai nanas dan banyakkan buah mangganya, Pak. Cabe rawitnya dua saja.”
“Oke Neng,” angguk Pak Mamat, kemudian sedikit menggeserkan kursi kayu panjang ke arah Gebri. “Silakan duduk dulu, Neng. Kasihan berdiri terus apalagi kalau sedang hamil besar seperti itu.”
“Terima kasih, Pak,” ucap Gebri yang segera mengambil tempat duduk, tepat di samping Pak Mamat yang mulai memotong beberapa buah jambu.
Tidak membutuhkan waktu lama, pesanan Gebri sudah selesai sesuai dengan permintaannya. Dia sudah tak sabar ingin segera pulang, duduk di belakang rumah dan melahap rujak buah yang terlihat sangat menggiurkan itu. Setelah membayar dan berbasa-basi sedikit, Gebri sedikit tergesa-gesa melangkah. Tetapi frekuensi langkah kakinya sedikit melambat ketika melihat tiga gadis berseragam putih abu-abu melewatinya. Mereka tampak bercakap-cakap dengan antusias, membicarakan novel-novel terbaru atau film-film remaja sedang booming sekarang.
Seandainya... seandainya... Banyak kata-kata seandainya terus berputar di benak Gebri. Tapi semua kata seandainya sudah tidak berguna lagi. Penyesalan selalu datang belakangnya. Waktu tidak bisa diajak berkompromi untuk kembali ke masa lalu. Dan tentang Rion? Bagaimana kabar laki-laki itu? Sudah lama dia tidak mendengarkan kabarnya. Dari postingan-postingan di Facebook, Gebri mengetahui kalau laki-laki bermata setajam elang itu melanjutkan SMA-nya di Singapura. Kalau seandainya... ya, kalau seandainya Rion mau mempertanggungjawabkan akibat hari itu, apa kisah diantara mereka masih seperti ini? Gebri dengan cepat menggeleng kepala. Tidak. Tidak. Tidak perlu memikirkan laki-laki itu dengan kata-kata seandainya lagi. Mereka sudah memiliki jalan masing-masing dan peluang mereka untuk saling bertemu pun sangat kecil.
Gebri kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, ingin segera sampai ke rumah, dan setelahnya dia tidak mengingat apa-apa kecuali saat dia mencoba menepi karena ada sebuah motor yang melaju sangat cepat, tetapi tubuhnya mendadak tidak seimbang, tergelincir dan akhirnya terjatuh dengan suara dentuman yang mengakibatkan rasa sakit yang tak tertahankan, kemudian pandangannya mulai menggelap.
Saat dia membuka matanya kembali, Gebri sudah berada di sebuah ruangan berwarna putih dengan bau obat-obatan yang cukup menyengat. Bunda yang sedang duduk di samping tempat tidur memasang raut penuh khawatir, tersirat pula kelembutan yang sudah lama tidak terlihat. Gebri mencoba untuk bangkit dan Rasti langsung membantu, Rasti mengatur posisi tempat tidur dengan engkol putar yang dapat mengatur posisi naik-turun panel, sehingga Gebri bisa menyandar dengan nyaman. Kontan perbuatan Rasti membuat dada Gebri merasa menghangat, sudah lama dia tidak mendapatkan perhatian kecil seperti itu, mungkin sejak Rasti mengatakan agar menyembunyikan fakta tentang ayah anaknya.
“Bayiku?” Gebri baru menyadari kalau perutnya sudah tidak membuncit lagi layaknya wanita yang sedang hamil tujuh bulanan. “Kemana bayiku, Bun?”
“Bunda akan memanggil dokter.”
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Rasti sebelum beranjak keluar. Selang beberapa menit kemudian, dia sudah kembali dengan seorang wanita berjas putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya.
“Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?”
Gebri mengalihkan mata ke jas sebelah kiri, menampakkan nametag bertuliskan dr. Bayun Matsaany, Sp.OG sebelum menggelengkan kepala. “Tidak, Dok.”
“Bila kondisimu makin membaik, beberapa hari lagi kamu bisa segera pulang.”
__ADS_1
“Terima kasih, Dok,” balas Gebri yang kemudian melirik ke arah bundanya sebentar sebelum kembali memandang ke arah dokter Bayun. “Bagaimana dengan bayi saya, Dok? Apakah dia baik-baik saja, Dok?”
Dokter Bayun terdiam sejenak. “Kami turut berduka cita. Kami tidak bisa menyelamatkan bayimu. Kemungkinan kecelakaan itu menyebabkan kamu mengalami ketuban pecah dini dan saat dibawa ke rumah sakit, cairan ketubanmu telah hilang sehingga tali pusat terjepit diantara bayi dan dinding rahim yang mengakibatkan kematian pada bayi,” papar dokter Bayun seraya mengelus-ngelus pundak Gebri yang tubuhnya sudah menegang dengan mata berkaca-kaca. “Selain itu, usiamu yang terlalu muda untuk mengandung menjadi faktor lain penyebab kematian bayimu,” tambahnya dan sekarang Gebri sudah menangis terisak-isak dengan tubuh bergetar.
Hampir seminggu di rumah sakit, Gebri habiskan dengan menangis dan meratapi perbuatannya dengan memandang sebuah foto bayi laki-laki yang sempat diabadikan Galang. Kata-kata seandainya kembali bergulir, meskipun dia tahu kalau kata itu tak akan merubah apapun. Semua sudah terjadi dan tidak dapat diubah lagi. Nasi sudah menjadi bubur.
^_^
Koning tak mampu untuk menahan air matanya. Bulir bening itu mengalir tanpa diperintah. Kalau dia yang mengalami kondisi seperti yang dialami Gebri, mungkin dia sudah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Pantas saja mata itu tidak pernah berbinar, selalu memperlihatkan kepedihan yang mendalam. Ternyata Gebri menanggung beban yang begitu berat untuk gadis yang seharus menikmati masa mudanya. Kembali lengan Koning merangkul tubuh Gebri yang masih menangis terisak, sekali-kali tangannya mengusap-ngusap lembut pundak gadis berambut panjang tergerai itu.
“Ini semua salahku. Seharusnya aku....”
“Syuuut... syuuut... Semuanya bukanlah salahmu. Ini sudah takdir Tuhan,” ucap Koning yang kembali mengusap-usap pundak Gebri.
“Tapi kalau aku....”
“Ini sudah takdir. Tidak ada yang patut dipersalahkan.”
“Tapi kalau aku....”
Perlahan-lahan suara isakan mulai mereda. Lelehan di kedua mata Gebri tak sederas tadi. Perkataan Koning cukup memberikan kekuatan, merasa begitu didukung. Mungkin memang benar perkataan Koning sebelumnya, bercerita dengan seseorang dapat melegakan hati dan pikiran. Apalagi sejak peristiwa itu, dia tidak memiliki teman dekat. Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah. Tak ada yang bisa memberikan kata-kata penenang.
“Geb, apakah....“ Koning tampak ragu-ragu untuk melanjutkannya. Takut jika pertanyaan yang terlontar dari mulutnya nanti akan mengeluarkan air mata lagi dan menyebabkan mata Gebri semakin membengkak kemerahan. “Tidak jadi, Geb. Aku tiba-tiba lupa mau bertanya apa,” imbuh Koning cepat ketika menyadari kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Apakah kamu ingin bertanya, apakah Rion mengetahui tentang kematian bayimu?” ungkap Gebri tiba-tiba.
Koning tak mengangguk ataupun menggeleng. Mulutnya pun tak terbuka, tak ada satu katapun keluar. Tapi diamnya Koning cukup menjadi sebuah jawaban.
Gebri sedikit mengusap kedua matanya sebelum berkata. “Tidak. Baik Rion maupun keluarganya tidak ada yang tahu tentang kematian putraku.”
“Apakah kamu masih belum memaafkan Kak Rion, Geb?”
“Aku sudah memaafkan sejak lima tahun yang lalu.” Gebri mengambil napas sebentar, kemudian mengembuskan dengan pelan. “Tapi bekas kekecewaan itu masih ada, seperti bekas paku. Meskipun lubang paku itu nantinya tertutupi oleh pigura atau kapur tembok, bahkan kembali dicat hingga tampak tak berbekas, tapi sebenarnya bekas lubang itu masih tetap ada. Sekecil apapun paku akan tetap meninggalkan bekas di dinding.”
__ADS_1
“Sok puitis banget kamu, Geb!” ujar Koning dengan terkekeh kecil.
“Eh, kamu malah meledekku.” Gebri sedikit memukul pelan lengan Koning. Merasa sedikit jengkel, dia tadi sedang serius-seriusnya. Tetapi sesaat kemudian, Gebri merangkul pundak Koning. “Terima kasih, Kon. Kamu sudah menjadi penolong dan penghiburku selama sebulan ini.”
“Itulah gunanya seorang teman,” balas Koning yang ikut merangkul pundak Gebri. “Dan dengan Bundamu, apakah hubungan kalian masih seperti lima tahun lalu?” Koning merasa kalau dia perlu mempertanyaankan ini. Mendadak dia teringat dengan pesan neneknya lagi.
“Aku bingung bagaimana memperbaikinya. Tapi aku sangat tidak ingin hubungan buruk ini terus berlanjut. Hanya dia dan Galang keluarga yang aku punya sekarang.”
Koning terdiam sebentar. Sedang berpikir. “Apakah Bundamu tahu kalau kamu sudah bertemu Rion?”
Gebri dengan cepat menggelengkan kepala.
“Menurutku, Bundamu harus tahu tentang pertemuanmu dengan Rion dan keluarganya. Kamu bisa memulai berbicara dengannya menggunakan topik itu.”
Gebri sedikit mengernyitkan dahi. Tampak tidak yakin dengan solusi yang diberikan Koning. Pembahasan yang ditawarkan gadis bergigi gingsul terlalu sensitif. Apalagi dia dan bundanya sudah lama tidak berbicara empat mata. Namun tidak ada salahnya mencoba, kan? Mungkin saat pulang ke Solo nanti, dia akan mencoba sarannya.
“Lalu....” Sebenarnya Koning tidak ingin menanyakan ini, tampak raut keragu-raguan di wajahnya. Hanya saja dia perlu tahu. “Lalu apakah kamu masih menyukai laki-laki?”
“Maksudmu aku jadi lesbian?” ungkap Gebri dengan kedua manik mata membesar sebelum suara terbahak-bahak terdengar.
“Aku hanya bertanya Geb, aku takut kamu trauma terhadap laki-laki. Kan, di film-film seperti itu!” ucap Koning sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Gebri kembali tertawa nyaring dan keras, kemudian berkata, ”Ada-ada saja kamu, Kon. Aku memang pernah memiliki pengalaman buruk dengan seorang laki-laki, tapi aku tidak trauma atau apapun istilah lainnya. Aku hanya kecewa, rasa kecewa yang sangat dalam kepada Rion dan keluarganya.”
“Jadi saat ada laki-laki lain mengajakmu pacaran, kamu akan menerimanya?”
“Untuk sekarang, aku tidak mau menjalin hubungan apapun dulu. Aku ingin fokus kuliah dan membahagiakan keluargaku. Tapi kalau lima tahun mendatang ada yang mau mengajak berpacaran atau menikah, mungkin aku akan mencoba menerimanya asalkan dia juga mau menerima masa laluku,” papar Gebri sambil merebahkan tubunya ke tempat tidur.
“Berarti Kak Kharisma ada peluang, dong!”
“Kak Kharisma?”
Koning ikut membaringkan tubuhnya, lalu ikut memandang langit-langit kamar. “Jangan pura-pura tak tahu, Geb! Perhatiannya selama ini sudah menunjukkan perasaannya.”
__ADS_1
“Saat ini aku hanya ingin fokus kuliah dan cepat wisuda,” balas Gebri, hanya jawaban itu yang bisa diberikannya.