Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 14.2 END


__ADS_3

“Maksudmu Papa dan Mama Rion ke rumah kita?” tanya Gebri sambil menerawang mengingat bagaimana rupa dewasa yang sangat mirip dengan Rion, roman muka yang–mungkin–akan merefleksikan sosok Rion beberapa tahun mendatang, dan seketika mata Gebri langsung melotot membesar.


“Jadi benar dia orang tua Rion?” tanya Galang seraya mendengus.


“Mbak akan pulang sekarang.”


Gebri cepat-cepat memutuskan panggilan teleponnya, kemudian mulai mengganti pakaian rumahannya menjadi celana berbahan jeans dan kaos berlengan panjang.


Gerakannya tampak terburu-buru mengambil dompet di atas bufet dan tas ransel di belakang pintu. Kini Gebri benar-benar sangat khawatir. Dia harus segera pergi ke Solo, memastikan Bundanya baik-baik saja. Bukannya berpikir buruk, hanya antisipasi. Niat baik atau buruk hati seseorang tidak ada yang tahu, kan?


Saat melewati pagar kos Wisma Bestari, saat itu juga mobil super white berhenti di depannya dan kemudian menampakkan sosok Rion yang hari ini memakai kemeja berlengan panjang bermotif garis-garis.


“Mau ke mana, Geb?” tanya Rion setelah berdiri tepat di depan Gebri.


“Mengapa kalian selalu mengusik keluargaku?”


Sebisa mungkin Gebri mencoba untuk berpikir positif tentang apa yang sedang terjadi di rumahnya sekarang, namun ternyata tetap tidak bisa memudarkan hal-hal negatif yang silih berganti menghampirinya. Amarah itu sedikit demi sedikit menumpuk.


“Apa maksudmu?”


“Kenapa orang tuamu bisa berada di rumahku?” ucap Gebri sebelum kepalanya celingak-celinguk, menoleh untuk mengetahui apakah jasa ojek online yang dipesannya sudah di sekitar kosan Wisma Bestari.


“Maksudmu?” Rion benar-benar tak paham dengan arah pembicaraan ini.


Sejak pertemuan dengan orang tuanya dua hari lalu, Rion memang tak pernah bertemu mereka lagi, tak pula mendatangi rumah di Bale Hinggil. Rion masih merasa jengkel, terkesan marah kepada Adrian dan Raya. Bagaimana mereka bisa berkata seperti itu tanpa pernah mengutarakan dulu kepadanya, apalagi mereka mengatakan di depan Gebri yang sampai sekarang masih enggan untuk menerima lamarannya.


“Kamu mau ke mana?”


Rion menarik pergelangan tangan Gebri saat dara beralis tebal itu tak mengubrisnya, justru berjalan menjauh.


“Ke Solo. Ke rumahku.”


“Kita pergi bersama,” ujar Rion setengah memaksa Gebri untuk masuk dalam mobil.


¬^_^


Gebri mengenal mobil itu, mobil yang sama yang dijumpainya di depan kosan Wisma Bestari beberapa hari lalu, mobil berwarna hitam yang terkesan mewah dan elegan, tentunya dengan harga yang cukup fantastis. Saat Toyota Yaris yang mereka kendarai berhenti, Gebri tergesa-gesa turun dari mobil. Meskipun mencoba untuk terus berpikir positif, tapi hati ini tetap tidak tenang, terus khawatir. Dia sangat takut kalau dua sosok paruh baya itu akan menyakiti bundanya, walaupun dia yakin mereka tak akan melukai secara fisik, tapi bukankah mulut lebih berbahaya dari senjata apapun?


Apa yang dibayangkannya ternyata tidak seperti yang dilihatnya. Tidak tampak sedang adu mulut di sana. Tiga postur dewasa itu justru tampak bersahabat, seperti teman lama yang bertemu kembali setelah tidak bertemu beberapa tahun. Wajah mereka tampak berseri, terdengar sekali-kali suara mereka yang saling menimpali dengan nada riang.

__ADS_1


“Gebri,” ujar Rasti setelah menyadari kedatangan Gebri dan Rion yang sedang berdiri di depan pintu. “Kenapa kamu dan Rion bisa di sini?” Rasti ikut melirik ke arah Rion yang terlihat keheranan, kemudian dia bangkit mendekati mereka.


“Rion.” Raya juga ikut bersahut, tubuhnya juga mendekatkan ke arah putranya.


“Ayo, masuk!” ajak Rasti seraya menuntun Gebri beranjak dari posisinya dan mendudukkan di salah satu sofa yang berhadapan dengan Adrian, diikuti Raya yang juga membawa Rion di sofa panjang yang dia dan Adrian duduk.


“Jadi kenapa kamu dan Gebri bisa berada di sini? Nggak ada jadwal kuliah?” tanya Adrian dengan tatapan selidik.


“Kenapa Papa dan Mama bisa ada di sini?” tanya Rion sambil memandang kedua orang tuanya silih berganti, mengabaikan pertanyaan dari satu-satunya laki-laki dewasa di ruang tamu itu.


“Kami ingin membicarakan tentang perjodohan—”


“Aku tidak mau menikah dengan siapapun kecuali dengan Gebri,” ucap Rion hampir berteriak.


Adrian yang mendengarkan kalimat dari anak bungsunya spontan tertawa kecil. Ternyata kesalahpahaman ini masih terjadi. Tak hanya sosok berhidung mancung itu, Raya dan Rasti juga ikut cekikikan di balik senyum mereka.


Kening Rion dan Gebri mengernyit. Tidak mengerti. Namun tidak satupun kalimat tanya yang keluar dari mulut mereka, hanya membiarkan saja suara tawa dan kerlingan menggoda yang tertuju ke arah mereka.


“Maka dari itu Papa dan Mama datang ke sini,” tutur Adrian setelah suara tawanya sedikit mereda. “Kami datang ke sini bermaksud untuk menjodohkanmu dengan Gebri. Sekaligus melamarnya untukmu.”


Raya tiba-tiba bangkit dari sofanya, mendekat ke arah Gebri dan mengambil tempat duduk tepat di sampingnya, hingga sekarang Gebri berada di tengah-tengahnya dan Rasti. Lalu dia mengambil tangan Gebri dan mengenggamnya erat, berharap kehangatan ini dapat tersampaikan.


Adrian melirik ke arah Rion sebentar, sebelum memandang Gebri dan ikut menimpali, “Kami tahu perkataan maaf tak akan cukup untuk mengurangi rasa sakit yang kamu tanggung selama ini. Kami sudah terlalu banyak membuatmu menderita.”


“Jadi biarkan Rion kembali bertanggung jawab, biarkan Rion menikahimu, menebus semua kesalahannya dan kami selama ini,” tambah Raya yang sedang berkaca-kaca.


Kepala Gebri lantas menoleh ke arah bundanya, menatap manik di balik kacamata itu.


Rasti yang menyadari kebingungan Gebri langsung merangkul pundaknya. “Saat kamu telah menjalankan peran sebagai orang tua nanti, kamu pasti akan paham dengan apa yang Papa dan Mama Rion lakukan, karena tidak ada satupun tindakan orang tua di dunia ini yang bermaksud menjerumuskan anaknya.”


“Maafkan kami. Maafkan kami yang telah membuatmu menderita,” lirih Raya di sela-sela isak tangisnya.


Rasti mengusap-usap kepala Gebri. “Masa lalu memang tidak bisa direkonstruksi ulang. Tapi jangan biarkan masa lalu menjeratmu. Masih ada masa depan yang harus kita jalani.”


“Maafkan kami, Nak. Maafkan kami dan biarkan kami menebus kesalahan kami selama ini,” masih dalam isakan yang semakin terdengar keras, Raya terus melirihkan permohonan maaf, sementara Gebri masih terus sengap.


^_^


Gebri sebenarnya ingin menginap, tapi teringat kalau besok ada kuis mata kuliah Pendidikan Pancasila dan akhirnya dia berada di dalam mobil Rion yang sedang membelah jalanan Raya Solo. Hari ini benar-benar tak terduga. Setelah lima tahun berlalu, tidak pernah terbayang di otaknya kalau dia akan mengalami kejadian seperti ini. Matanya melirik ke arah kemudi, memandang Rion yang sejak masuk ke dalam mobil selalu memasang wajah berbinar cerah. Dia terlihat sangat senang dan bahagia.

__ADS_1


“Geb!” Rion menoleh sebentar ke arah Gebri, mata mereka lantas bertemu.


Kepala Gebri terburu-buru menolehkan matanya ke arah depan, memandang ke arah jalanan yang terdapat sebuah mobil berwarna merah yang juga sedang membelah jalan Raya Solo. Tiba-tiba wajahnya merona, merasa  malu telah terpergok memandang Rion.


“Gebri!” panggil Rion lagi.


“Ya? Ada apa?” Gebri menyahut tanpa memalingkan kepalanya sedikitpun.


“Bagaimana tentang lamaran itu?” Selama mereka berada di rumah orang tua Gebri, memang tidak sekalipun dia menyinggung tentang lamaran yang sudah beberapa kali menjadi topik pembicaraan mereka, hanya membiarkan bagaimana Ayahnya mengutarakan maksud kedatangan mereka. “Kemarin Koning bercerita, tentang rasa kekecewaanmu, ibarat seperti bekas paku,” lanjutnya saat Gebri tidak menunjukkan tanda-tanda akan membalas perkataanya.


Kepala Gebri sekarang tertoleh ke arah Rion, memandangnya lekat.


“Masa lalu tidak dapat berubah. Tapi percayalah aku akan selalu membahagiakanmu, selalu membuatmu tersenyum hingga kamu tidak pernah mengingat lagi kejadian lima tahun lalu, seperti kapur tembok yang menutup bekas paku. Aku akan menjadi kapur tembok yang akan menutup rasa kekecewaanmu selama ini meskipun aku tahu rasa itu tidak akan benar-benar hilang di hatimu,” tutur Rion sambil sekali-kali melirik ke arah Gebri yang masih menatapnya.


Tiba-tiba suara tawa terdengar, memaksa Rion untuk mengernyitkan kening. Otaknya mulai bereaksi, mulai bertanya-tanya, apakah ada perkataannya yang lucu sehingga membuat Gebri yang duduk di sampingnya ini bisa mengeluarkan gelak seperti itu? Dan sudah lama juga dia tak melihatnya, masih terlihat cantik seperti dulu.


“Ada apa?” tanya Rion yang memutuskan untuk bertanya, dia tak menemukan jawaban yang dapat menjelaskan reaksi Gebri.


“Sok puitis banget!” jawab Gebri diselingi tawa-tawa kecilnya.


“Hah?”


“Itu juga yang diucap Koning saat aku mengatakannya sepertimu. Sok puitis banget!”


Kening Rion semakin mengernyit. Tapi dia tak bertanya lebih lanjut. Ada yang lebih penting dari pembicaraan sok puitis banget itu. Kemudian dia menyalakan lampu sein, menepikan mobil di sebuah mini market. “Jadi bagaimana dengan lamaran itu?”


“Kalau bulan sekarang aku tidak bisa. Aku—“


“Orang tua kita sudah setuju. Tapi kenapa kamu masih menolakku?” potong Rion cepat, matanya sudah berkaca-kaca, sikapnya kembali cengeng bila berhubungan dengan Gebri.


Dulu dia masih bisa menahan linangan itu saat berpikir orang tuanya tidak akan menyetujui keinginan untuk meminang Gebri, tapi sekarang situasinya berbeda. Kedua orang tua mereka sudah saling setuju. Tapi kenapa Gebri masih menolaknya. Dan benar kata bijak yang didengarnya, perempuan menangis karena merasa tidak kuat dengan hati yang tersakiti dan laki-laki menangis karena selalu menginginkan wanita yang mereka cintai untuk kembali.


“Kalau bulan ini aku tidak bisa. Aku banyak tugas kuliah. Kita bisa menyelenggarakan pernikahan kita setelah ujian akhir semester nanti,” jelas Gebri seraya meletakkan telapak tangannya di sebelah tangan Rion yang sedang berada di atas setir, memberanikan diri untuk menggenggamnya.


YEEEEEEEEEEEEEEE! HAPPY ENDING! 


PLEASE VOTE! PLEASE COMMENT! PLEASE LIKE!


__ADS_1


__ADS_2