Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 3.2


__ADS_3

“Selain dia senior SMA-ku, sebenarnya dia juga kakak sepupuku. Dia anak dari adik mama. Dan sudahlah, jangan membahas laki-laki berwajah bayi itu lagi! Sebaiknya kita sekarang makan, aku sudah sangat lapar,” ucap Koning sebelum menyendok nasi goreng yang terpampang di hadapannya.


^_^


“Hai bro, sedang apa?”


Rion refleks mendongakkan kepala, memergoki Kharisma yang sedang melewati pintu ruangannya dan langsung mendiami kursi plastik yang berada di hadapannya.


“Sedang apa?” ulang Kharisma.


“Biasa.”


Rion menekuni lagi buku tulis merek gelatik berukuran 10,5 x 31 cm yang ada di atas meja, kembali membaca buku pengeluaran bulan ini.


“Yon.”


“Hem,” gumam Rion tanpa mendongak.


“Dia cantik, ya?”


“Siapa?” Rion terpaksa mengangkat kepalanya, ucapan Kharisma cukup menarik perhatiannya mengingat laki-laki berwajah bayi itu sangat jarang membahas topik seperti ini. Seperti halnya para cewek, para cowok pun saat bertemu dengan teman sesama cowok, mereka adakalanya membahas tentang lawan jenis, dari gebetan, mantan, hingga selingkuhan. “Gadis bernama Koning-Koning itu?” tanyanya lagi sambil mengikuti arah pandang Kharisma, berhenti ke arah meja bernomor 15 yang ditempati dua orang gadis yang sedang bercengkrama, dan matanya mulai memperhatikan gerak-gerik gadis berkacamata yang sedang menyendokkan makanannya ke dalam mulut, sekali-kali dia tampak menimpali perkataan gadis beralis tebal di depannya.


“Tidak. Bukan Koning. Koning itu adik sepupuku. Tapi temannya.”


“Temannya? Maksudmu....” Lidah Rion mendadak kelu, tak mampu melanjutkannya.


Kharisma mengangguk dengan antusias. “Gebri.”


“Kamu... kamu menyukainya?” Pemikiran itu datang tiba-tiba saat melihat mata penuh minat dari sosok di depannya.


Cukup lama Kharisma memandang Gebri sebelum laki-laki itu berujar, “Entahlah. Hanya saja aku merasa nyaman saat berbicara dan berdekatan dengannya tadi. Bukan seperti diriku saja.”


“Tapi—”


“Dia pernah hamil?” potong Kharisma cepat.


“Bukan. Bukan itu,” sanggah Rion dengan cepat pula. “Tapi—”


Sebelum Rion sempat menyelesaikan kalimatnya, Kharisma lagi-lagi memotong.


“Kalau cinta, masa lalu bukanlah apa-apa. Dan menurutku, perempuan bukanlah sebuah guci yang diukur lewat retak atau tidaknya.” Kharisma mengalihkan wajahnya lagi ke arah meja yang posisi tepat di tengah-tengah ruangan, matanya menatap mantap ke salah satu gadis yang sedang bercengkrama dengan lawan bicaranya. “Keluargaku pun tidak pernah mempermasalahkannya hal-hal seperti itu untuk pendamping hidup anak-anaknya. Selagi perempuan itu baik dan seagama, mereka akan selalu mendukung,” tambahnya yang masih memandang meja 15, tepatnya ke arah gadis berambut ekor kuda yang saat ini sedang menjadi perbincangan hangat di kampus mereka.


“Lalu?” lirih Rion, sekarang lehernya mendadak seperti tercekik, mempersulitnya untuk bernapas dan berbicara.

__ADS_1


“Tentang sikapku ke depannya?”


Rion membalas dengan anggukkan kepala singkat, hampir tak terlihat.


“Mungkin aku akan mulai mendekatinya.”


“Ma-mau ke mana?” tanya Rion tergagap saat tiba-tiba Kharisma bangkit dari tempat duduknya dan menggeser kursi plastik itu ke belakang.


Kharisma memamerkan senyum lebar sebelum menjawab, “Mulai melancarkan aksiku dan siapa tahu kami langsung berjodoh.”


“Kamu... serius?”


“Ya,” angguk Kharisma bersemangat dan mulai beranjak mendekati pintu keluar.


Tubuh Rion kontan bergeming di posisinya, tak tahu harus merespon bagaimana. Mendukung atau justru menghalangi. Sebenarnya dia tidak akan bersikap seperti ini kalau sosok itu bukanlah Gebri Adinda–gadis yang pernah memiliki kisah kelam dengannya dan kini semakin mengusik relung terdalam di hatinya. Sebagai teman yang telah berteman hampir dua tahun lebih ini, dia pasti akan mendukung semua pilihan Kharisma. Pula akan memberikan bantuan semampunya bila memang diperlukan. Tapi kini... Kharisma....


Rion menempelkan dahinya di atas meja. Matanya sedikit terpejam, pikirannya mulai berkelana jauh. Mulai dari awal pertemuan mereka di UKS sekolah, pertemuan di Mal Kelapa Gading hingga tragedi bungkam di hari itu, dan berakhir diperkenalan singkat mereka beberapa menit lalu, perkenalan yang membuat hatinya begitu sakit karena sikap Gebri yang seolah tak mengenal dirinya, menganggap tidak pernah ada kisah diantara mereka.


“Apa yang harus aku lakukan?” ucapnya seraya mengangkat kepala dan kedua maniknya kontan tertuju ke arah sosok itu, sosok Gebri yang masih membuat perasaannya berbunga-bunga seperti anak ABG, sama seperti lima tahun yang lalu.


^_^


Gebri langsung bangkit dari kursi plastik yang terletak di samping pintu kos, bibir tipisnya mengukir senyum lebar saat melihat sepeda motor bebek berwarna merah memasuki halaman kosan, menampilkan postur berjaket hitam yang sudah ditunggunya.


“Lancar, Mbak,” sahut Galang seraya melepaskan helm dan mengulurkan tangannya.


Gebri menyambut hangat jabat tangan itu, membiarkan Galang menyalaminya, “Bagaimana keadaanmu, Lang? Sehat?”


“Sehat, Mbak.”


“Mulai jam berapa berangkat dari rumah tadi?” tanya Gebri lagi yang kini ikut membantu Galang menurunkan beberapa barang yang dibawanya.


“Jam sepuluh pagi.”


“Kok banyak banget barang yang kamu bawa, Lang? Mau menginap di sini ya?”


Galang dengan cepat menggeleng-geleng kepala. “Ini semuanya titipan Bunda untuk Mbak. Ada lauk pauk, ada rice cooker, dan beberapa barang lain.”


“Benarkah?” ucap Gebri tak percaya, mengingat bagaimana sikap beliau sejak kejadian aib lima tahun lalu.


Galang menganggukkan kepala, lalu berkata, “Bunda bahkan dari jam empat subuh sudah bangun dan menyiapkan makanan kesukaan Mbak.”


Kedua manik Gebri kontan berbinar-binar. Perasaan senang langsung melingkupi hatinya. Ternyata wanita paruh baya itu masih peduli, padahal Bundanya selalu menunjukkan sikap dingin sejak aib itu hingga membuat hubungan diantara mereka merenggang. Apalagi saat dia mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, Rasti tidak mengomentari apa-apa maupun memberikan sedikit wejangan-wejangan layaknya seorang Ibu yang khawatir dengan anaknya. Wanita–yang hari itu sedang memakai daster merah kesayangannya–hanya memberikan ekspresi datar. Tidak menunjukkan raut setuju ataupun menolak.

__ADS_1


“Lalu bagaimana kabar Bunda? Beliau sehat?” tanya Gebri seraya membayang-bayangkan wajah keibuan Rasti, mendadak begitu rindu dengan wanita paruh baya itu, terutama dengan pelukan hangatnya yang sudah tidak pernah didapatkannya lagi sejak lima tahun berlalu.


“Empat hari belakangan, Bunda sempat sedikit demam. Tapi sekarang dia sudah sehat-sehat saja kok,” balas Galang yang kini sedang mengekori Gebri  memasuki kamar kosan.


“Sekolahmu bagaimana, Lang?”


Gebri mulai membuka barang-barang yang dibawa Galang, ada sebuah kardus cukup besar yang berisikan rice cooker dengan kapasitas 0,6 liter beras, alat-alat makan dan beberapa bahan makanan sehari-hari, juga tiga paper bag yang berisikan makanan buatan Bunda dan beberapa pakaian baru. Untuk kesekian kalinya hari ini, bibir tipis Gebri kembali mengukir senyum. Dadanya pun semakin merasa hangat. Kasih sayang dan kepedulian Bunda memang merupakan hadiah yang paling indah daripada hadiah-hadiah yang lain.


“Seperti biasa saja, Mbak,” jawab Galang yang beranjak mendekat, kemudian membuka sebuah tupperware yang berisikan telur pindang dan mencomotkan ke dalam mulut.


“Setelah memasak nasi, bolehkan Mbak pinjam motormu sebentar? Mbak mau beli air galon. Air mbak habis,” ujar Gebri yang pergi ke dalam kamar mandi dengan membawa panci aluminium yang sudah berisi beras.


“Aku ikut ya, Mbak?”


“Sebaiknya kamu istirahat di sini saja, Lang.”


“Aku mau ikut saja Mbak, sekalian lihat-lihat lingkungan sekitar,” kukuh Galang.


“Ya sudah, kalau memang begitu. Ayo kita pergi sekarang!” ucap Gebri sambil memasukkan panci ke dalam wadah rice cooker.


Gebri kemudian menggerakkan kakinya di belakang pintu, mengambil dompet yang tergeletak di dalam saku tas ranselnya, dan sesaat kemudian keluar dari kamar kosan dengan diikuti Galang. Laki-laki remaja berusia tujuh belas tahun itu berinisiatif untuk membonceng Gebri, mengingat selama ini selalu Mbak tersayangnya itu yang menjadi pengemudi. Gebri sempat mendebat keinginan Galang, namun dia tidak lagi berkomentar ketika sosok itu mengucapkan bahwa dia adalah seorang laki-laki dan sudah seharusnya memimpin serta melindunginya, dan menjadi pengemudi adalah salah satu hal sederhana yang dapat dilakukannya.


Toko kelontong itu bernama Ijo Royo-royo. Hanya lima menit dari kosan apabila melewati jalan tikus. Seperti namanya, toko itu identik dengan warna hijau dan di dalamnya terdapat berbagai kebutuhan pokok, dari kebutuhan pangan seperti beras dan sayur-mayur hingga kebutuhan sehari-hari. Mayoritas pelanggannya adalah perempuan yang sekitar 30%-nya merupakan mahasiswa, dan di hari minggu seperti ini toko kelontong ini memang lebih ramai daripada hari biasa.


“Kamu mau ikut masuk, Lang?”


“Tidak mbak. Aku mau ke sebelah saja, mau beli cappucino,” tolak Galang sambil turun dari motor bebeknya.


“Mbak, masuk dulu ya!” ucap Gebri sebelum kaki Gebri melangkah masuk dan ikut memenuhi deretan antrian. “Mbak, air galon Aquanya satu. Diantar ke kosan Wisma Bestari,” ungkap Gebri pada sosok seorang wanita berpakaian serba hijau.


“Rp. 19.000 dengan jasanya, Mbak. Ada lagi?”


Gebri sedikit menggelengkan kepala dan kemudian menyodorkan uang 20 ribuan-an. Setelah mendapatkan kembalian, Gebri menghampiri sepeda motor mereka tetapi tidak menemukan Galang di sana. Kepala Gebri menoleh ke kiri, tempat di mana  toko penjual es cappucino berada dan menemukan beberapa orang-orang yang sedang berkerumunan. Ketika memfokuskan pandangannya, mata Gebri seketika terbelalak lebar, tersentak mengetahui Galang yang sedang ditahan beberapa orang.


“GALANG!” pekik Gebri yang mendekat ke arah laki-laki beranjak dewasa itu yang tampak sedang mengumpat-ngumpat. “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya sambil memegang pundak Galang.


“DIA MEMANG PANTAS MENDAPATKANNYA, MBAK!” teriak Galang lantang.


Mata Gebri kian terbelalak. Apa maksud Galang? Kepalanya langsung menolehkan ke laki-laki yang sedang memegang perut dan terdapat beberapa lebam-lebam merah dan biru. Mata Gebri semakin membulat lebar ketika menyadari siapa sosok yang menjadi sasaran tangan dan emosi Galang.


“Rion?” lirih Gebri yang masih dapat terdengar laki-laki dengan mata menjorok ke dalam tersebut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2