
“Tunggu bentar ya, aku ambilkan dulu,” ujar Rion. Dia menyempatkan sekali lagi mengecup kepala Gebri sebelum beranjak menjauh dari ranjang.
Gebri mengikuti setiap pergerakan Rion, dari mulai memakai pakaiannya hingga wujud itu menghilang di balik pintu kamar yang tertutup. Ditatapnya langit-langit kamar yang berwarna kuning gading, warna yang belakangan ini menjadi warna kesukaannya, warna yang mempunyai arti "kebahagian" dan "keceriaan" seperti perasaan yang sedang bergelut di dalam hatinya kini. Sebelum dia bertemu kembali dengan Rion setelah empat tahun berlalu, dia nggak pernah berharap akan memiliki kehidupan seperti sekarang ini, dengan suami yang sangat penyayang, ayah dan ibu mertua yang memperlakukannya dengan baik, dan sikap sang Bunda yang semakin menunjukkan sikap kasih sayangnya seperti saat dia masih kanak-kanak. Dulu dia cukup sadar diri dengan keadaannya yang penuh dosa dan hina.
Sebagai seorang perempuan, hamil di luar pernikahan di negara ini–negara yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan adat istiadat–adalah aib yang terus melekat di benak masyarakat, selalu menjadi buah bibir yang tak akan dilupakan. Bahkan sampai sekarang, Gebri masih mengingat jelas apa yang dilontarkan Bulik Ambar dan Mbak Erika, yang saat itu dia hanya diam saja dan tidak bisa membantah.
Dahi Gebri tiba-tiba mengerut tajam. Gagang pintu coklat itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bergerak, padahal dia merasa waktu sudah berljalan cukup lama. Diliriknya jam yang tergantung di atas meja rias. Ternyata sudah sepuluh menit berlalu. Lantas dia bangun, berniat untuk menyusul Rion. Dia melilit selimut ke tubuh telanjangnya sebelum mengambil pakaian yang berceceran di lantai. Dia sedikit kebingungan tatkala mencari pakaian dalamnya. Tadi Rion terlalu bersemangat dan membuangnya secara sembarangan.
Tepat saat menapaki anak tangga terakhir, samar-samar Gebri mendengar beberapa suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kakinya refleks menuju ke ruang tamu, dilihat sepasang paruh baya dan anak perempuan seusianya yang sedang duduk di atas sofa. Mata mereka langsung tertuju ke arahnya saat menyadari kehadirannya.
“Dia adikmu ya, Mas?” tanya gadis berambut model shaggy lob yang duduk persis berhadapan dengan Rion, maniknya memindai Gebri dengan tatapan menilai.
Rion langsung menoleh ke pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga itu, bibir menyungging senyum hangat. Dan baru saja hendak membantah, hendak mengatakan kalau sosok cantik dalam balutan piyama berwarna merah muda adalah istrinya, wanita paruh baya yang diketahui sebagai ibu dari gadis bernama Titania itu sudah dulu melontarkan kalimatnya. “Nak Rion, sepertinya kami harus pulang sekarang. Kami harus bersiap-siap, supaya besok tidak ketinggalan pesawat.”
“Kalau ada waktu, tolong lihat anak kami ya, Nak!” timpal si laki-laki paruh baya. Dia sedikit memperbaiki letak kacamatanya.
“Maaf sudah ganggu malam-malam Mas,” ujar Titania.
“Iya. Nggak apa-apa kok,” sahut Rion.
Rion diikuti Gebri dari belakang mengantar keluarga kecil itu di depan pintu. Sepasang paruh baya itu sedikit berbasa-basi sebelum akhirnya berpamitan pulang. Sebelum beranjak, Titania memberikan senyum yang sangat lebar dengan tatapan berbinar. Dan sebagai bentuk saling menghormati, Rion balik membalas senyum tersebut.
“Mereka siapa Mas?” Tidak pernah sebelumnya dia melihat wajah-wajah mereka di perumahan ini.
“Penghuni baru di rumah sebelah kita. Tapi hanya Titania yang tinggal di sana, kedua orang tuanya besok harus pulang ke Bandung. Mereka ke sini untuk bersilaturahmi sekaligus meminta kita agar sekali-kali melihat Titania. Titania itu anak tunggal, makanya mereka begitu khawatir,” terang Rion, sedikit mengingat-ingat percakapannya dengan keluarga kecil tadi.
“Memang sebelumnya Titania tinggal di mana?”
__ADS_1
“Dulu dia indekos.” Rion menatap Gebri dengan kerlingan menggoda. Piyama yang digunakan Gebri merupakan piyama berlengan panjang dan wanita itu pun tidak menunjukkan gestur yang berniat merayunya, tapi entah kenapa organ di bawahnya menjadi menegang. Apa mungkin dia belum puas? Lalu tiba-tiba dia terkekeh pelan, dia jadi teringat dengan pertanyaan Titania.
“Kenapa ketawa Mas?” Dahi Gebri berkerut, kebingungan.
“Mengapa orang-orang yang baru pertama kali melihat kita, selalu menganggapmu sebagai adikku? Apa mereka nggak melihat cincin emas yang ada di jari manis kita? Atau perlukah aku menulis di jidadku kalau kamu adalah istriku?” Ini untuk kesekian kalinya orang-orang berpikiran seperti itu, dan setiap kali mereka melontarkan, Rion selalu ingin tertawa. “Memangnya ada ya, adek kakak yang sering berpeluh keringat di atas ranjang, saling mengerang, dan saling menjalin lidah?” tanyanya sebelum kembali terkekeh. “Ah, mungkin ada, adek ketemu gede!” sahutnya dengan tatapan menggoda.
Pipi Gebri lantas bersemu memerah.
“Dan anehnya, mereka tak melihat maha karyaku di lehermu, padahal warnanya cukup jelas,” ucap Rion terdengar bangga.
Tangan Gebri refleks memegang lehernya. Kedua manik matanya langsung memberikan tilikan kesal dan memasang wajah cemberut. Selama mereka bergulat di dalam kamar tadi, beberapa kali dia memang sering memperingati Rion agar tidak meninggalkan tanda di kulit-kulit yang bisa terlihat. Dia nggak ingin orang lain, terutama teman-teman di kampus melihatnya. Tapi sepertinya laki-laki itu tak mengindahkannya.
Sementara Rion hanya tertawa lebar melihat reaksi perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
^_^
Gebri tak mempedulikan, tetap fokus mengambil piring kotor dari sarapan mereka dan membawanya ke rak pencuci piring. Sejak pagi tadi, mungkin sejak dia tak bisa menutupi bekas perbuatan Rion di lehernya, dia memang mengabaikannya. Dia merasa sangat kesal. Dia sudah mencoba menyamarkannya dengan concealer, tapi warnanya masih terlihat jelas, merah keunguan yang gelap. Dia juga sudah berusaha menutupi dengan kemeja yang berkerah cukup tinggi dan rambutnya, hanya saja masih bisa kelihatan bila tertiup angin. Padahal seharian ini dia memiliki mata kuliah ke kampus.
Rion tertawa kecil sebelum menarik pergelangan Gebri, memaksa wanita itu untuk duduk di pangkuannya.
“Lepaskan!” berontak Gebri, berusaha untuk berdiri. “Nanti Bik Sumi melihat!”
“Bik Sumi pasti paham dengan keromantisan kita,” celetuk Rion diikuti sunggingan lebar dan kerlingan menggoda.
Gebri lantas memasang wajah masam dengan bibir yang menekuk ke bawah.
Rion menarik dagu Gebri agar menghadap wajahnya, “Oke, aku minta maaf. Aku terlalu bersemangat malam tadi.”
__ADS_1
Raut wajah Gebri masih sama. Masih cemberut.
“Baiklah, aku janji. Besok-besok aku nggak akan membuat tanda di lehermu.”
“Bohong!” bantah Gebri sambil memberi tatapan sedikit sinis. “Dua hari yang lalu kamu juga berkata seperti itu, tapi kamu tetap saja melakukannya. Untung saja hari itu jadwal kuliahku sedang kosong,” ujarnya.
Rion kembali terkekeh. Dia ingat bagaimana hari itu Gebri juga terlihat sangat kesal karenanya. Hanya saja rasa kesalnya itu tak berlangsung lama. “Oke, gini deh. Kalau aku melanggar lagi, kamu boleh nggak ngasih jatah aku selama seminggu.”
“Sebulan?” tawar Gebri.
Kedua bola mata Rion langsung membulat lebar. “Nggak!” bantahnya cepat. “Hanya seminggu.”
“Dua minggu?” Gebri mencoba kembali menawar. Dia bukannya nggak ikhlas menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, cuman dia ingin membuat laki-laki itu sedikit jera. Sudah berulang kali Rion memberikan warna kemerahan itu di tubuhnya yang terbuka. Kalau hanya satu nggak masalah, dia justru menandaikan paling sedikit tiga tanda. Bahkan mama mertuanya pernah menggeleng-geleng kepala tanpa berkata apa-apa saat melihat tanda-tanda tersebut. Saat itu Gebri hanya bisa menahan malu dengan menundukkan kepala.
Rion berdecak kasar. “Baiklah. Dua minggu,” sahutnya. “Dan sekarang cium aku, sebagai tanda terima kasih karena aku sudah menyetujui tawaranmu,” perintahnya dengan nada yang terdengar jengkel. Dia masih tak rela jika Gebri tak akan memberinya jatah selama dua minggu jika dia melanggarnya. Karena dia tahu, dia mungkin akan melanggarnya lagi. Seharusnya dia meminta maaf seperti biasa saja. Gebri juga nggak akan marah begitu lama kepadanya.
Kali ini Gebri tidak menolak, dia segera memajukan kepalanya agar mendekati kepala Rion. Beberapa senti lagi bibir mereka hendak saling menempel, bel tiba-tiba berbunyi. Gebri spontan menjauhkan kepalanya.
"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi," gerutu Rion.
Gebri menurunkan tubuhnya dari pangkuan Rion. “Biar aku yang buka!” ujarnya.
Selama menuju depan pintu, benak Gebri mengajak bertanya-tanya, kira-kira siapa tamu yang datang cukup pagi seperti ini? Apa mungkin teman-teman Rion? Tapi laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, biasanya dia selalu bilang jika teman-temannya ingin datang ke rumah ini. Dan saat membuka pintu berwarna coklat itu, pupil matanya sedikit membesar, cukup terkejut melihat kehadiran Titania yang sedang menyunggingkan senyum lebar.
“Mas Rionnya ada?”
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR DAN MEMBACA. MOHON KRITIK DAN SARANNYA. MOHON JUGA UNTUK LIKE, COMMENT, RATE, AND LOVE-NYA.
__ADS_1