
“Lalu bagaimana dengan janin itu? Apakah dia melahirkannya?” Setelah Rion mengakhir ceritanya, Kharisma kembali mengungkapkan keingintahuannya. Dia benar-benar sangat penasaran dengan kehidupan masa lalu kedua orang ini.
“Aku tidak tahu,” lirih Rion.
“Dia tidak memberitahumu apa-apa tentang anak itu?”
Lama Rion bungkam sebelum menjawab. “Tidak, dan mungkin aku memang pantas mendapatkannya.” Tiba-tiba kedua mata Rion mulai tampak berkaca-kaca, pembicaraan ini terlalu sensitif dan terlalu menguras emosi. “Tapi aku sungguh ingin melihatnya, aku sungguh ingin memeluknya.” Dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali air mata ini jatuh di kedua pipinya, sudah terlalu lama bening itu tak mengalir, dan hari ini tepat di hadapan Kharisma, Rion tak dapat lagi menahannya. Bagaimanapun dia seorang laki-laki–yang mungkin–telah berstatus sebagai ayah, yang bisa menangis untuk sesuatu yang benar-benar menyentuh ke dasar hatinya.
Sekali lagi, Kharisma hanya bertindak sebagai pendengar yang baik. Dibiarkan saja Rion yang duduk di sampingnya itu mengeluarkan air mata, mengalir cukup deras di kedua pipinya. Rion cengeng? Ah tidak, tidak pernah terlintas kata-kata itu di kepala Kharisma. Dan menurutnya, tak ada yang salah saat seorang laki-laki menangis karena dia juga seorang manusia biasa. Menangispun itu bukanlah tanda orang lemah, tapi menangis merupakan suatu bentuk dari bahasa tubuh saat bibir tak mampu untuk berbicara dan mengungkapkan kata-kata lagi. Sama seperti tangisan Rion saat ini.
^_^
Terungkapnya fakta tentang masa lalu Rion ternyata tak seheboh saat orang-orang mengetahui kalau Gebri pernah hamil ketika kelas 3 SMP. Meskipun ada beberapa orang yang menghujat dan memaki, tapi berita itu tidak berlangsung lama. Mungkin mereka lebih memilih mengurus urusan lain yang lebih penting, apalagi waktu UTS sudah dekat. Para mahasiswa sibuk mempersiapkannya, dari meminjam dan memfotokopi catatan yang dianggap lengkap, menyelesaikan tugas makalah dan paper yang dijadikan sebagai pengganti UTS dari mata kuliah tertentu, ataupun mulai membentuk kelompok belajar yang dibimbing oleh kakak angkatan.
Sejak UTS berlangsung, hingga hari ini merupakan hari terakhir ujian untuk angkatan dan jurusan Gebri, tidak sekalipun dia melihat Rion, pula dengan Kharisma meskipun sekali-kali laki-laki berwajah bayi itu mengirim pesan Line atau WhatsApp untuknya. Biasanya di hari-hari normal mereka sering berpapasan, baik di koridor atau di tangga fakultas ataupun di kantin. Mungkin karena waktu keberadaan di kampus yang singkat, hanya kurang lebih dua jam untuk satu mata kuliah yang diujiankan untuk setiap hari, menjadi faktor utama untuk mereka jarang bertatap muka. Juga setelah ujian, Gebri tidak keluyuran ke manapun, dia langsung pulang dan mempersiapkan ujian berikutnya.
“Jadi kamu pulang ke Solo, Geb?”
Kepala Gebri mengangguk. “Mungkin besok berangkatnya jam sepuluhan dari Stasiun Lempuyangan. Sore ini aku mau beli oleh-oleh dan malamnya aku mau packing,” jawab Gebri sambil membuka pintu kamar kos. “Dan kamu beneran nggak mau ikut aku pulang ke rumah?” sambungnya lagi dengan meletakkan tasnya di samping rak buku.
Koning dengan cepat menggeleng kepala. “Kapan-kapan saja, deh. Aku sudah ada rencana dengan Kak Kharisma.”
“Padahal kalau kamu ikut, aku berencana untuk mengajakmu ke Grojogan Sewu Tawangmangu atau Air Terjun Jumog dan tempat-tempat wisata lainnya.”
“Nanti akan aku tagih, tapi tidak sekarang.” Mata Koning kini meneliti saksama, memastikan terlebih dahulu kondisi perempuan di sampingnya yang ikut duduk di atas kasur. “Dan bagaimana urusan dengan Bundamu?”
Tubuh Gebri mendadak tegang. Koning seketika menepuk-nepuk pundaknya.
“Aku tidak bermaksud untuk mengguruimu, tapi sebagai seorang teman dekatmu sekarang, aku wajib mengatakannya. Mau sampai kapan kamu dan Bundamu memiliki hubungan seperti itu, menjadi saling asing di dalam rumah sendiri. Pernahkah kalian sejak hari itu saling duduk berhadapan, mengutarakan keresahan yang selama ini melanda hatimu dan Bundamu?” Koning diam sebentar, menunggu reaksi Gebri sebelum melanjutkannya. “Komunikasi adalah proses penting dalam suatu keluarga, karena komunikasi menjadi jembatan untuk dapat mencari solusi dari permasalahan yang muncul, dan menurutku kalian membutuhkan hal itu saat ini.”
Mendengar lontaran bernada bijak dari mulut Koning, hati Gebri tiba-tiba menjadi tenang. Tak membuncah lagi seperti beberapa menit lalu. Kalimat-kalimat pendukung itu memang sangat dibutuhkan dalam situasi-situasi seperti ini. Bibirnya lantas tersungging lebar.
__ADS_1
“Perkataanmu benar, Kon. Kami memang butuh berbicara empat mata, dan terima kasih karena selama ini kamu selalu memberi dukungan kepadaku, Kon.”
“Kamu tahu Geb, sejak aku berteman denganmu, entah mengapa aku menjadi sosok yang pandai berbicara, menjadi sok bijak. Mungkin aku bisa menjadi seorang motivator seperti Merry Riana,” ucap Koning dengan cengar-cengir, merasa sedikit geli dengan sikapnya, padahal biasanya selalu acuh tak acuh.
“Cocok kok. Koning si motivator,” imbuh Gebri dengan cekikikan kecil.
¬^_^
“Kamu mau ke mana, Lis? Kok buru-buru?”
Lisa terpaksa memberhentikan langkahnya, menolehkan kepala ke suara bariton yang serak dan langsung mendapatkan tatapan tanya dari Asep, berserta Rion dan Kharisma yang duduk di sisi kanan dan kirinya. Selesai ujian, biasanya gadis itu suka ikut nongkrong-nongkrong di depan kelas. Tidak terkesan menghindar seperti beberapa minggu lalu.
“Aku mau pulang ke Pemalang. Temanku sudah menunggu,” jawab Lisa yang kembali menuruni anak tangga.
“Kamu nggak ikut ujian Negosiasi Bisnis jam sepuluh besok?
“Aku sudah mengambilnya di semester tiga,” balas Lisa setengah berteriak, dia telah berada di pertengahan undakan tangga di lantai dua, yang beberapa menit kemudian Asep sudah tidak melihat lagi dara berbehel itu.
Rion hanya memberikan gelengan kepala.
“Sip, karena Rion nggak pulang, dan karena rumahku dan Kharisma sangat jauh, bagaimana kalau kita pergi mendaki atau jalan-jalan ke mana gitu?” usul Asep dengan antusias. “Aku akan mengajak beberapa teman yang lain di Line Group. Siapa tahu ada yang pingin ikutan juga,” tambahnya yang segera meronggoh ke saku celana, mengambil ponsel pintarnya.
“Maaf Sep, aku tidak bisa,” cegah Kharisma sebelum jemari tangan Asep menyentuh touchscreen keypad.
“Kenapa?”
“Aku dan Koning sudah berencana mau ke Surabaya.”
“Aish, nggak asyik banget sih. Emangnya nggak bisa kalau dibatalin aja, ikut acara kita-kita ini. Kalau perlu ajak juga adik sepupumu itu. Dia pun pasti butuh refreshing setelah ujian,” celetuk Asep yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Kharisma, tidak setuju. “Dan kamu Yon?” alih Asep pada sosok yang kembali bergelut dengan androidnya.
“Aku juga tidak bisa.”
__ADS_1
“Kenapa?” Lagi-lagi Asep butuh alasan.
“Gebri.”
Meskipun hanya satu kata dan terdengar ambigu, Asep hanya menganggukkan kepala singkat, tidak berani berujar secara spontan seperti kepada Kharisma, apalagi bertingkah kepo. Nama mahasiswa dari jurusan Akuntansi 2016 itu sekarang menjadi sesuatu hal yang sensitif—bisa dikatakan sedikit tabu—untuk dibicarakan di depan Rion. Saat mereka dan teman-teman yang lain berkumpul di kosan Asep–yang menjadi basecamp anak laki-laki seangkatannya–ataupun di tempat usaha-usaha Rion, tidak sekalipun nama itu terdengar. Bukan karena rasa penasaran itu tidak ada, hanya saja mereka ingin menghargai sikap Rion. Meskipun sosok itu selalu irit berbicara yang memberikan kesan dingin, tetapi Rion selalu bersikap baik, loyal, dan tanpa pandang bulu untuk selalu memberikan pertolongan di saat orang-orang membutuhkan.
Bahkan Asep masih mengingat jelas kejadian setahun yang lalu, saat dia kebingungan bagaimana harus pulang ke Padang saat mendengar kabar duka tentang ibunya yang telah meninggal dunia dan sebagai seorang anak, dia sungguh ingin melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya, tetapi terkendala dengan harga tiket yang hampir sejutaan itu, bahkan ayahnya menyarankan untuk tidak pulang, yang lantas membuat Asep tidak bisa menahan air matanya. Namun tiba-tiba sekitar pukul duaan, Rion datang ke kosannya dengan sebuah tiket pesawat yang sudah di booking, yang semakin membuatnya menangis. Terharu. Laki-laki berhidung cukup mancung itu bahkan juga mengantarnya ke bandara.
“Pulang sekarang yuk, Yon?!”
Perkataan Kharisma yang masuk ke gendang telinga Asep, kontan membuyarkan segala angan di benaknya.
“Nggak mau di sini, dulu? Nyantai-nyantai.”
“Aku mau tidur. Ngantuk. Malam tadi kita’kan bergadang.” Kharisma menyampirkan sling bag ke pundaknya. “Yuk, Yon!” ulang Kharisma lagi, kembali mengajak.
“Oke!” balas Rion dengan bangkit dari tempat duduknya.
“Kamu nggak bawa motor, Khar?” tanya Asep yang mengikuti langkah dua sohibnya menuruni anak-anak tangga, akhirnya memutuskan untuk ikut pulang, teman-teman sepermainan lainnya pun sudah tidak terlihat lagi.
“Nggak. Aku nebeng dengan Rion. Motorku sedang di-service.”
“Oh, aku kira ada apaan,” ujar Rion yang kini telah merangkul pundak Kharisma.
Setelah melewati lorong-lorong fakultas, dengan obrolan-obrolan dari Asep yang mendominasi, akhirnya mereka sampai di parkiran fakultas dan berpisah jalan di sana. Asep langsung menuju ke motor bebeknya, sedangkan Rion dan Kharisma menuju ke parkiran mobil yang masih beberapa meter lagi.
Kharisma minta diantar ke bengkel resmi motor Yamaha yang bertepatan di depan gerbang kampus, mau mengambil motornya. Tak sampai lima menit, mereka sudah sampai di depan sebuah gedung tingkat dua berwarna putih, dan mata Kharisma dapat menangkap sepeda motornya yang telah mengkilap. Setelah berbasa-basi sedikit, Kharisma segera turun dari mobil. Baru saja hendak menutup pintu mobil, tiba-tiba dia teringat sesuatu hal, sesuatu hal yang harus dikatakan kepada Rion sebagai seorang laki-laki sejati.
“Yon, aku tidak tahu apakah sekarang waktu yang tepat atau tidak. Tetapi aku harus mengatakannya sekarang.” Kharisma sedikit mengambil jeda, untuk memastikan kalau dia memang harus mengatakan tentang ini. Dia tak ingin menjadi musuh dalam selimut. “Aku menyukai Gebri, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkannya dan aku tidak ingin pertemanan kita rusak hanya gara-gara cewek. Jadi aku ingin kita bersaing secara sportif,” sambung Kharisma dengan menunjukkan raut serius.
PLEASE! PLEASE LIKE, COMMENT, AND LIKE-NYA!!!
__ADS_1