
TERIMA KASIH YANG MASIH SETIA DAN MENUNGGU KELANJUTAN SEPERTI BEKAS PAKU. MAAF BILA SUDAH TERLALU LAMA HIATUS.
INI ADALAH EPIDOSE TERAKHIR UNTUK KISAH RION DAN GEBRI. UNTUK SEASON 2, AKAN DIUMUMKAN SESEGERA MUNGKIN.
IG: @alsaeida0808
“Ngapain Abang di sini?” tanya Rion dengan sedikit mendengus.
“Aku sedang ambil cuti dan memutuskan untuk liburan di Yogya,” jawab Riyan sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Rion. “Hai Geb!” sapa Riyan mengangkat sebelah tangannya.
“Y-ya bang,” sahut Gebri dengan sedikit terbata-bata, masih merasa malu karena Riyan memergoki keintiman mereka tadi.
“Kemarin kenapa Abang nggak bilang apa-apa saat aku chat?” lontar Rion.
“Biar suprise saja.” Riyan tiba-tiba menyeringai, “dan siapa tahu kalau aku datang tiba-tiba, aku bisa memergoki kalian yang sedang berbuat mesum. Aku dengar dari Asep, kamu dan Gebri ditangkap satpol PP, kan?”
Rion memberikan tatapan tajam dan sinis. “Emang salah kalau berbuat mesum sama istrinya sendiri?”
Sementara wajah Gebri semakin memerah. Dengan menghindari kontak mata, Gebri berucap, “Aku izin ke belakang ya Bang, mau menyiapkan minuman untuk Abang dan minta Bik Sumi membersihkan kamar tamu.”
“Nanti saja Geb. Mumpung aku masih ingat, ada yang ingin aku sampaikan sama kalian.” Riyan membuka resleting tas ranselnya, memilah-milah sebentar sebelum mengambil beberapa lembar kertas. “Nih!” sodornya.
“Nisie Sumba Island,” baca Gebri.
“Untuk apa tiket ini, Bang?” tanya Rion seraya melihat-lihat kertas yang lain. Tak hanya tiket hotel tersebut, ada juga dua lembar tiket pesawat yang tertera tanggal tiga hari setelah mereka selesai ujian.
“Itu hadiah daripada Papa dan Mama. Untuk honeymoon. Tapi kata Mama ini nggak gratis. Kalian harus memberikan dia cucu sesegera mungkin setelah kalian honeymoon. Mama sudah nggak tahan lagi pengen gendong cucu, karena katanya teman-temannya yang lain sudah punya cucu semua. Jadi selama honeymoon nanti, berusahalah lebih keras," tukasnya dengan tatapan menggoda di akhir kalimatnya. "Dan karena aku sudah mengantarkannya ke sini, selama liburan Abang ini, kamu harus jadi supir pribadi Abang dan menemani Abang ke tempat-tempat wisata. Abang ingin merefreshingkan otak. Jadi pekerja kantoran itu sungguh capek.”
“Nggak. Aku sibuk. Tugasku banyak,” tolak Rion.
“Kalau gitu Abang sama Gebri saja.”
“Tidak. Gebri juga sibuk,” jawab Rion. “Kenapa Abang nggak mengajak Mbak Dara saja. Biasanya Abang juga selalu sama Mbak Dara bila jalan-jalan.”
“Kami sudah putus,” ucap Riyan lesu.
“Lagi?” tukas Rion tak percaya, karena ini bukan pertama kalinya mereka putus. Sebentar lagi pasti akan balikan. Padahal mengingat umur yang sudah lebih dari setengah abad, seharusnya mereka bersikap lebih dewasa dan sudah memikirkan pernikahan.
“Kali ini kami benar-benar putus,” lirih Riyan.
“Kenapa?”
“Karena dia dijodohkan sama orang tuanya. Sebulan lagi akan menikah.”
__ADS_1
“Makanya jangan digantungin anak orang, akhirnya ditinggalin, kan? Kayak aku dong bang, kalau suka, langsung ngajak nikah. Nggak usah nunggu lama-lama.”
Riyan mencibir. “Itu mah karena kamu aja yang nafsuan.”
“Daripada buat dosa, mendingan langsung nikah,” tukas Rion.
“Sudahlah, malas Abang berdebat sama kamu. Pokoknya selama Abang liburan di sini, Abang mau kamu yang nyupirin. “Riyan bangkit dari sofa dan menenteng tas ransel beserta kopernya. “Abang pakai kamar yang mana?”
“Yang di bawah tangga,” jawab Rion sambil memasang raut masam.
“Kita makan siang dulu ya Bang. Biar Bik Sumi membersihkan kamarnya dulu,”ujar Gebri.
“Abang masih kenyang Geb. Abang mau langsung istirahat, sedikit jetlag. Kamarnya nggak terlalu kotor, kan?”
Kepala Gebri menggeleng, “Nggak bang.”
“Nanti minta Bik Sumi untuk antarkan air putih ke kamar Abang ya,” pinta Riyan sebelum melangkah.
“Iya bang,”angguk Gebri.
“Mau ke mana?” Rion memegang pergelangan tangan Gebri.
“Mau cari Bik Sumi.”
“Jangan kotorin sofa itu dengan kenistaan kalian, kasihan sofanya!” celetuk Riyan tiba-tiba. Dia lupa membawa ponselnya yang tadi diletakkan di atas meja dan terpaksa kembali ke ruang tamu. Dan mata sucinya ini kembali mendapatkan pemandangan mesra dari sejoli itu. Tak bisakah mereka melakukan di dalam kamar saja? Tak bisakah mereka memikirkan kalau di dalam rumah ini ada seseorang yang sedang patah hati? Ah, dia sedikit merasa kasihan dengan Bik Sumi, wanita paruh baya itu pasti sangat sering melihat kelakuan mereka yang tak tahu tempat itu.
“Abang mengganggu saja! Padahal aku sedang berusaha keras memenuhi keinginan Mama,” tukas Rion, tidak sedikitpun ekspresinya menunjukkan rasa malu. Berbanding terbalik dengan Gebri yang wajahnya kian memerah hingga telinga.
>_<
Empat tahun kemudian,
Kepala Gebri celingak-celinguk, matanya memindai dengan saksama setiap wajah yang tertangkap retina. Dia baru saja keluar dari gedung yang menjadi salah satu hari paling penting di hidupnya. Setelah sempat cuti selama setahun, akhirnya dia menyelesaikan juga masa kuliahnya. Hari ini adalah hari wisudanya.
“Mama!” suara khas balita memanggil.
Wajah Gebri langsung sumringah tatkala mendapati seorang balita yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Balita itu digendong sesosok laki-laki yang terlihat berkali-kali lipat lebih tampan daripada biasanya, dengan paduan jeans dan kemeja berwarna senada seperti kebayanya. Di belakang mereka, terlihat sang bunda dan Galang yang memasang senyum lebar.
Rion mencium puncak kepala Gebri ketika mereka sudah saling berhadapan. “Selamat ya Sayang!”
“Terima kasih, Mas,” balas Gebri sambil memeluk Rion dan memberikan ciuman hangat untuk si balita.
“Selamat Mbak atas wisudanya,” ucap Galang dengan menyerahkan sebuket bunga mawar merah yang di tengah-tengah terdapat boneka beruang dan bertopi toga.
__ADS_1
“Makasih Lang,” jawab Gebri yang mengambil buket bunga tersebut dan memeluk Galang sebentar. Matanya menatap haru ke wanita paruh baya yang sedang memamerkan senyum tulus. “Bunda...,” lirihnya sambil berusaha memeluk.
Rasti membalas pelukan hangat itu. “Selamat wisuda Sayang.”
Mata Gebri langsung berkaca-kaca. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian beberapa tahun silam. Tidak menduga akhirnya dia telah sampai ke tahap ini, salah satu impiannya. Setelah kejadian—dia tidak ingin menyebutnya lagi sebagai aib, dia ingin menyebutkan sebagai bunga tidur—itu, pernah terbesit untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Kebanyakan yang mengalaminya pasti akan berpikiran yang sama. Tapi Bundanya terus berjuang, terus memberinya nasihat bahwa pendidikanlah yang membentuk pola pikir seseorang. Orang memiliki adab dan akhlak karena mereka berilmu. Hingga akhirnya perjuangan ini tidak sia-sia. Dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan IP yang memuaskan.
“Ma, gendong,” rengek balita bernama Rayyan yang ada digendongan Rion.
“Mama lagi pakai baju cantik, jadi Rayyan sama Papa saja ya. Nanti sore kita beli mobil-mobilan,” bujuk Rion.
“Biar aku gendong bentar Mas. Mungkin dia nggak nyaman karena terlalu banyak orang di sini,” ujar Gebri sembari mengangkat tubuh Rayyan. Kepala Rayyan langsung menempel ke pundaknya dan memejamkan mata. “Koning sudah melahirkan Mas? Bang Riyan ada ngasih kabar?”
Rion mengecek ponselnya. “Belum.”
Gebri sedikit terkekeh kecil. “Nggak nyangka ya kalau Bang Riyan dan Koning berjodoh?! Padahal awal-awal bertemu, mereka sering banget adu mulut.”
“Dulu mereka seperti anak kecil banget, nggak ingat umur,” gerutu Rion yang selalu jengkel bila mengingat kelakuan mereka. “Dan maaf ya Mama dan Papa nggak bisa datang ke wisudamu.”
“Nggak papa Mas. Mereka kan harus menyambut kelahiran cucu kedua mereka,” ujar Gebri memaklumi.
“Kita mau langsung ke foto studio atau makan dulu Mbak?” tanya Galang yang melihat jam di pergelangan yang sudah menunjukkan jam dua belas lewat.
“Makan dulu Lang, biar Rayyan nggak rewel nanti.”
“Biar Rayyan sama Bunda. Kamu foto-foto saja dulu sama teman kamu.” Rasti mengisyaratkan matanya ke arah utara. Ada Lisa, Lutfi, dan teman-teman Rion yang sedang mendekat. Di tangan mereka terdapat berbagai macam buket-buket bunga.
Gebri menyerahkan tubuh Rayyan ke Rasti. “Titip Rayyan bentar ya Ma.”
>_<
“Rayyan sudah tidur?” tanya Rion setengah berbisik sambil mendekati tempat tidur Rayyan.
“Iya, baru saja,” jawab Gebri pelan.
“Rayyan mirip banget dengan Mas ya?!” Rion menatap kagum balita laki-laki yang sedang memejamkan mata itu. Tidak tampak gen Gebri yang mewarisinya. Bahkan Riyan sering memanggilnya dan Rayyan dengan sebutan si kembar, karena mereka terlihat bagaikan pinang di belah dua. “Mas pengen juga punya anak perempuan yang mirip sama kamu,” ungkap Rion antusias.
Gebri merespons dengan senyum lebar, kemudian mengambil tangan Rion dan menuntun menuju pintu keluar. “Aku ada hadiah buat Mas.”
“Hadiah? Tapi ulang tahun Mas masih seminggu lagi.”
“Sebenarnya aku ingin menyembunyikan hingga ulang tahun Mas, tapi aku sudah nggak sabar ingin memberitahukannya,” ucap Gebri seraya membuka laci di samping kaca rias. Dia mengambil sebuah benda pipih dan menyerahkannya. Mimik bahagia terlihat jelas terpancar di wajah dan bola matanya.
“Kamu hamil?” Rion mengambil testpack itu dengan tangan sedikit bergetar dan dibalas anggukan pelan dari Gebri. Seketika Rion menarik tubuh Gebri untuk masuk ke dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih sayang. Terima kasih banyak," ucapnya yang sekali-kali mencium kening Gebri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=END\=\=\=\=\=\=\=\=