Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 8.1


__ADS_3

“Sudah lama datangnya, Kak?”


“Tidak kok. Baru lima menitan.” Kharisma sedikit melirik arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. “Memangnya kalian berdua dari mana?” sambungnya sambil sedikit menolehkan kepala ke arah Koning yang tampak tidak senang dengan kehadirannya.


“Jangan KEPO, deh!” celetuk Koning dengan tampang kesal.


Gebri sedikit memukul kecil lengan Koning sebelum menjawab. “Kami baru saja nge-print dan fotokopi tugas, Kak.”


“Dan habis ini kami mau belajar bersama. Seminggu lagi ‘kan UTS,” timpal Koning masih dengan nada yang sama, masih terdengar nada dongkol.


“Tapi kami belajarnya setelah kita ke Gramedia kok, Kak,” ucap Gebri cepat-cepat, takut laki-laki itu merasa tidak enak hati.


Memang sudah beberapa kali Kharisma selalu mengajaknya ke toko buku yang ada di jalan Sudirman itu, dan sudah beberapa kali juga Gebri mencoba menolak. Namun sore kemarin, saat Kharisma kembali mengirimkan chat di Line dan mengajak untuk menemaninya ke Gramedia, dia tidak bisa lagi untuk menolak. Sudah terlalu sering dan akhirnya Gebri terpaksa menyetujui, tentunya dengan banyak pertimbangan.


“Kalau memang tidak bisa—”


“Dia memang tidak bisa!” sahut Koning memotong pembicaraan Kharisma.


Laki-laki berwajah bermata sipit itu mencoba tak mengindahkan, malas menghadapi mood adik sepupunya yang mungkin sedang masa PMS. Dia memang selalu terlihat seperti itu, sangat menjengkelkan kalau sedang datang bulan. Seperti singa betina yang marah bila pasangannya dilirik para betina yang lain. Tampak garang. Siap menerkam. Siap untuk bertarung.


“Kalau kamu memang tidak bisa, tidak apa-apa kok Geb.”


“Bisa kok, Kak. Lagian ada yang mau kubeli juga.”


“Seriusan? Aku merasa—”


“Tidak apa-apa kok, Kak. Aku ‘kan sudah janji.”


Kharisma menyungging senyum. “Oke. Mau berangkat sekarang?”


Gebri mengangguk singkat, sebelum berujar, “Tapi aku masuk ke dalam dulu ya, Kak. Mau ambil jaket dan tas.”

__ADS_1


“Pulangin dia dengan selamat!!!” tekan Koning dengan tatapan tajam, kemudian membiarkan lengannya ditarik Gebri untuk masuk ke dalam kosan, meninggalkan sosok Kharisma yang masih tak mengindahkan keberadaannya.


Sekitar dua menit kemudian, Gebri sudah berada di hadapan Kharisma dengan jaket berbahan jeans dan tas model satchel bag berwarna hitam. Selama perjalanan menuju Gramedia, Kharisma tidak berhenti mengajaknya ngobrol. Banyak hal yang dibahas terutama tentang gadis berkacamata bergigi gingsul yang sedang mendiami kamar bernomor sembilan di Wisma Bestari. Mungkin sekarang Koning–yang sedang menonton drama korea terbaru di kamar–sedang terbatuk-batuk.


Setelah menempuh perjalan hampir tiga puluh menit lebih yang melalui sepanjang Kilometer Kaliurang, memasuki jalan Persatuan dan jalan C. Simanjuntak, dan akhirnya mereka sampai di sebuah gedung berlogo Gramedia yang terletak di jalan Sudirman tepat di persimpangan empat lampu merah. Malam itu area parkiran tidak terlalu penuh, banyak space kosong. Wajarlah, sekarang bukanlah hari libur. Tak banyak pengunjung yang mendatangi lokasi ini.


Gebri hanya membeli sebuah buku binder berserta isinya. Sedangkan Kharisma telah menenteng dua buah buku bertemakan bisnis. Sebenarnya Gebri ingin langsung pulang setelah dari toko buku ini, tapi Kharisma memaksanya agar mereka makan terlebih dahulu, dan tanpa bisa menolak, disinilah Gebri dan Kharisma berada, di sebuah kafe bernuansa romantis dengan cahaya lampu yang sedikit remang-remang.


“Kamu mau pesan apa, Geb?”


“Aku ngikut saja, Kak.”


Tangan Gebri menyodorkan kembali menu yang diberikan Kharisma, tidak berniat untuk melihat. Dia benar-benar tidak tahu makanan apa yang enak di sini, dan sebenarnya dia merasa tak nyaman dengan suasana kafe ini, yang menurutnya sangat tidak cocok untuk dua lawan jenis yang tidak memiliki hubungan apa-apa seperti mereka. Kebanyakan tamu di kafe yang persis terletak di samping Mirota kampus ini adalah pasangan muda-mudi yang tampak kasmaran, yang tak malu-malu untuk melakukan skinship.


Seorang perempuan berpakaian serba merah menghampiri meja mereka, hanya untuk mengambil nota pesanan yang kemudian meninggalkan Gebri yang sedang risih dan Kharisma yang mendadak merasa canggung dengan butir-butir keringat tiba-tiba muncul di keningnya. Detak jantung laki-laki itupun berdetak dengan cepat, bak sedang beradu lomba dengan seseorang. Mungkin kalau suasana di tempat sangat senyap, Gebri dan pengunjung-pengunjung yang lain pasti bisa mendengarkannya, saking kencangnya.


“Kamu sakit, Kak?”


“Ti-tidak Geb.”


“Kalau memang sakit, sebaiknya kita pulang saja.”


“Sebenarnya aku hanya—”


“Maaf, pesanan atas nama Kharisma,” ucap gadis berpakaian serba merah tadi sambil meletakkan beberapa piring pesanan mereka di atas meja.


Tanpa Gebri sadari, Kharisma sedikit menghela napas panjang. Merasa lega.


“Jadi tadi Kakak kenapa?” tanya Gebri setelah pelayan itu beranjak pergi.


“Kita makan dulu. Aku sedikit lapar,” cengir Kharisma dengan sedikit menggeserkan mangkuk nasi mendekat ke arah Gebri.

__ADS_1


Mereka makan dalam keheningan, sibuk dengan pikiran masing-masing, tak mempedulikan apakah makanan di tempat ini cocok di lidah mereka atau tidak. Sekali-kali mereka tampak saling melirik. Suasana kekakuan semakin menjadi-jadi ketika makanan di atas meja sudah habis tak bersisa. Tak ada lagi yang bisa dijadikan sebagai pengalihan. Gebri begitu merasa tak nyaman. Namun dia juga bingung harus membicarakan apa. Biasanya Kharismalah yang mengambil inisiatif topik bahan obrolan mereka.


“Sebenarnya aku mengajakmu pergi malam ini karena aku ingin mengatakan sesuatu.” Kharisma sedikit mengambil napas panjang, kemudian menatap wajah Gebri. Begitu lekat. “Aku menyukaimu sejak aku melihatmu di kantin fakultas. Mungkin bisa dikatakan kalau aku Love at first sight.”


Mulut Gebri bungkam, tak bersuara. Tubuhnya pun tiba-tiba terpaku di tempat. Selama usianya sudah dua puluh tahun, tak sekalipun dia pernah mendapatkan pernyataan cinta seperti ini, bahkan saat bersama Rion dahulu, status diantara mereka tidak jelas. Kisah diantara mereka mengalir begitu saja. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa pernyataan. Dan sekarang dia menjadi gugup tak keruan.


“Aku tahu kamu pasti terkejut. Tetapi aku benar-benar ingin mengungkapkan perasaanku,” sambung Kharisma yang sekarang dengan beraninya memegang tangan Gebri di atas meja.


“Tapi aku—”


“Dan tentang masa lalumu, kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak mempermasalahkannya. Nenekku pernah berkata, seburuk atau sekelam apapun masa lalu yang kita alami, yang perlu diketahui bahwa masa depan masih tetap suci dan akan selalu baik,” ucap Kharisma lagi dengan sedikit mengelus punggung tangan Gebri dengan jemari telunjuknya.


Ah, kata-kata itu terdengar familiar di telinganya. Seseorang pernah mengatakan sebelumnya dengan kata yang hampir sama. Ah, dia ingat sekarang, gadis bergigi gingsul dan berkacamata, sepupu dari laki-laki itu. Koning yang mengucapkannya.


“Tapi Kak, aku—“


“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Saat ini aku hanya ingin kamu tahu dan aku berharap kamu tidak merasa terbebani dengan pengakuanku.” Kharisma cepat-cepat memotongnya saat menyadari raut muka Gebri yang sudah berbeda dari beberapa menit lalu, tampak mimik enggan menghiasi wajahnya. Dia tidak ingin ditolak malam ini, setidaknya sebelum usaha PDKT yang dilakukannya maksimal. Masih banyak waktu untuk mereka saling mengenal. Masih banyak waktu juga untuk mengubah perasaan gadis beralis tebal dan berponi itu. “Mau pulang sekarang atau ada tempat yang mau kamu kunjungi?” Kharisma mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Kita pulang saja, Kak. Kasihan Koning sendirian.”


“Oke,” angguk Kharisma sambil bangkit dari tempat duduknya yang diikuti Gebri, kemudian beranjak mendekati kasir, membayar makan malam mereka dan mengambil sebuah kantong yang berisi makanan untuk Koning, sebelum menaiki motor ninja yang terparkir di samping gedung dan kembali melintasi jalan sepanjang Kaliurang dengan berbagai gejolak.


Malam ini menjadi saksi bahwa ada yang sedikit berubah di dalam hati mereka, terutama Kharisma yang telah memantapkan hatinya untuk memiliki hati Gebri.


^_^


Asep sedikit melongok ke arah belakang Rion, memandang ke arah tangga yang baru saja dilewati laki-laki bermata setajam elang itu. Sudah beberapa kali dia tidak mendapati gadis berbehel yang selalu mengikuti Rion. Padahal biasanya Lisa suka mengintilin kemanapun Rion pergi. Lisa pun sekarang tampak jarang ikut mereka nongkrong, atau mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama. Kemanakah dara itu? Apakah yang terjadi di antara mereka? Benak Asep terus bertanya-tanya.


“Lisa ke mana, Yon?”


JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND VOTE YA!!!

__ADS_1


__ADS_2