
Sebelum pesan itu terkirim, beberapa kali Gebri harus mengetik dan menghapus berulang-ulang terutama untuk panggilan laki-laki itu. Apakah harus memanggil Rion–mengingat usia mereka yang setara dan pernah seangkatan–ataukah memanggilnya dengan sebutan ‘Kak Rion’ seperti ucapannya tadi karena sekarang dia adalah senior di kampus?
Tttrrrttt... tttrrrttt... lagi-lagi ponsel Gebri kembali bergetar, dan kini sedikit membuatnya terkejut. Ternyata cukup cepat juga Rion membalas.
[LINE 02:01 PM]Rion Michael Fernandez
Bsakah kta brtmu?
Kening Gebri kontan mengernyit. Sungguh jawaban tak terduga. Padahal Gebri mengira, Rion akan membalasnya dengan kalimat-kalimat santai seperti: tidak apa-apa kok. Atau kalimat-kalimat yang mengaitkan dengan kejadian lima tahun lalu: Sudah seharusnya aku mendapatkan itu. Tidak perlu meminta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf. Tapi ternyata kata-kata seperti itu tidak muncul, tidak seperti bayangannya.
[LINE 02:06 PM]Gebri Adinda
Maaf, ak tk bisa
[LINE 02:08 PM]Rion Michael Fernandez
Aku mohon. Please!
Ad yg ingin ku bcrakan
Bicarakan? Tentang apa? Apakah ini mengenai pemukulan Galang terhadapannya? Atau kejadian lima tahun lalu? batin Gebri terus bertanya-tanya sebelum kembali membalas.
[LINE 02:11 PM]Gebri Adinda
Maaf, aku bnr2 tk bsa
Aku sdg sbuk dgn tgas kuliah
Gebri berharap jawaban ini dapat mengurungkan niat laki-laki Fernandez itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Masa lalu mereka tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Bukankah kehidupan Rion sudah cukup nyaman dan terlihat bahagia saat ini?
__ADS_1
[LINE 02:14 PM]Rion Michael Fernandez
Apkh kmu di kosan?
Ak akn k kosanmu skrg
Kening Gebri sekali lagi mengernyit. Apa-apaan jawaban itu. Kalimatnya jelas memperlihatkan penolakan, tapi kenapa Rion masih tampak memaksa?
Gebri kembali hendak membalas, kembali hendak menepis keinginan Rion sebelum dia mendadak tercenung. Mungkin ada baiknya dia menyetujui permintaan laki-laki itu. Mungkin Rion tidak suka dengan ucapan permintaan maaf darinya atas sikap Galang yang tidak disampaikan secara langsung, seolah tak tulus saja. Tapi tempat mana yang cocok untuk pertemuan mereka? Kosan Wisma Bestari? Tidak, kepala Gebri cepat-cepat menggeleng. Penghuni kosannya hampir semua adalah mahasiswa di Universitas Yogyakarta, bahkan teman sejurusan dan seangkatan Rion juga ada di sana. Dia tidak mau mengambil resiko kalau rahasia itu terbongkar, membuat orang-orang tahu siapa laki-laki yang seharusnya juga ikut bertanggung jawab.
Di manakah tempat yang memungkinkan orang-orang tidak mengenal mereka? Di Malioborokah? Ah, meskipun kemungkinan kecil orang mengenal mereka tetapi tempat itu sangat tidak cocok untuk berbicara empat mata. Atau di perpustakaan daerah yang berada di belakang toko Gramedia? Tempat itu kayaknya juga tidak. Tempat itu juga tidak cocok. Ah, tiba-tiba Gebri teringat sebuah perumahan yang cukup jauh. Sekitar tiga puluh menitan dari kampus.
“Kon, rumahmu di Palagan Tentara Pelajar Km 10, kan?” tanya Gebri memastikan meskipun sudah beberapa kali dia pergi ke sana.
Kepala Koning sedikit mengangguk kecil tanpa beralih dari laptop Toshiba di depannya.
“Apakah ada anak kampus kita yang tinggal di sana?”
“Tidak,” geleng Koning dengan masih fokus pada layar 14 inci.
Gebri kembali menatap layar ponselnya, membalas pesan.
[LINE 02:20 PM]Gebri Adinda
Ak sdg tk d kosan
Bisakh kta brtmu di perum Puri Alam Permai no. D2
Jl. Palagan Tentara Pelajar km 10
Tk trlalu jauh dri taman palagan asri
[LINE 02:22 PM]Rion Michael Fernandez
Jm brpa?
[LINE 02:24 PM]Gebri Adinda
Sktr jm 4 an
LINE 02:22 PM]Rion Michael Fernandez
Oke
Trima ksh
__ADS_1
Menganggap pesan itu adalah pesan terakhir dari Rion dan merasa kalau dia tak perlu membalasnya, Gebri memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celana dan kemudian menatap ke arah Koning. “Kon, bisakah sore ini aku ke rumahmu?”
“Bisa. Kalau perlu kamu nginap di sana. Hanya ada aku dan Mbak Surti,” Koning menjawab dengan antusias.
“Tapi nanti ada seseorang yang mau datang. Apakah tidak apa-apa dia datang ke sana?” ungkap Gebri dengan hati-hati, sangat berharap gadis itu tidak marah karena mendengar rumahnya dijadikan tempat pertemuannya dengan Rion. Hanya rumah Koning–yang menurutnya–memiliki peluang kecil orang-orang se-Universitas melihat mereka, menimbang lokasinya yang cukup jauh dari jalan Kaliurang Km 14,5 ini, dan cocok untuk mereka saling berbicara empat mata.
“Siapa?”
“Kak Rion.”
“Oh, oke,” tanggap Koning sebelum menghadap ke arah laptopnya lagi dan membuat Gebri tercengang di tempatnya.
Tak seperti yang dipikirkan gadis beralis tebal itu. Koning tidak marah. Tidak pula melontarkan kalimat-kalimat pertanyaan yang beruntun. Apakah dia tidak penasaran dengan kisahnya dan Rion? Apakah tidak terlintas rasa penasaran itu di hatinya? Dan sekarang Gebri merasa tidak enak. Mungkin ada baiknya dia harus menceritakan masa lalunya dan Rion, walaupun gadis berwajah bulat di hadapannya tidak pernah menuntut.
¬^_^
“Kon, aku mau ke depan dulu.”
Koning melepaskan pandangan dari ponsel pintarnya. “Kak Rion sudah datang?”
“Nggak tahu,” balas Gebri kemudian berjalan menuju pintu kamar.
Gelisah. Resah. Cemas. Suasana hati seperti itulah yang sedang menggerogoti perasaan Gebri saat ini. Sedikit ada rasa penyesalan juga. Seharusnya dia tidak perlu menghubungi Rion, apalagi menyetujui permintaannya untuk saling bertemu. Tanpa meminta maaf pun atas perbuatan Galang, Rion pasti akan mengerti. Sikap Galang semata-mata bentuk dari sikap adik laki-laki yang ingin melindungi kakak perempuannya. Tapi kini semua sudah terlanjur. Dibatalkan pun sudah tidak ada guna. Rion pasti sudah berada di sekitar area perumahan Puri Alam Permai ini.
Tet... tet... tet... Baru saja Gebri melewati pintu depan rumah, bunyi klason mobil terdengar. Detakan jantung Gebri mendadak bergemuruh seperti letusan gunung Merapi, apalagi saat melihat laki-laki yang terlihat gagah dengan setelan kemeja dan celana jeans hitam yang keluar dari mobil. Gebri sebisa mungkin memamerkan senyum ramah. Mengkukuhkan dalam hati kalau pertemuan ini hanya beberapa menit.
“Hai!” sapa Rion, sedikit canggung.
“Hai juga, Kak!” balas Gebri dengan nada sesantai mungkin, meskipun detak jantungnya lebih dari sekedar bergemuruh sekarang. “Silakan duduk, Kak!” suruhnya dengan mempersilakan duduk pada sebuah kursi plastik berwarna hijau yang tepat terletak di depan jendela.
“Panggil Rion saja. Bagaimana pun usia kita sebaya.”
Gebri menganggukkan kepala menyetujui, kemudian ikut duduk di salah satu kursi. Hening. Suasana mendadak sunyi. Kepala Gebri bahkan sempat menunduk, memandang ke lantai keramik yang terlihat cukup menarik hari ini, sebelum memutuskan untuk mendongakkan kepala dengan mantap. Semakin dia berdiam diri, maka semakin lama mereka berada di depan teras. Dia hanya perlu mengutarakan permintaan maaf atas sikap Galang dan pertemuan ini pun berakhir, sehingga tidak perlu berlama-lama berdekatan dengan Rion.
“Aku meminta maaf atas sikap Galang kemarin dan bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Gebri sambil menatap wajah Rion, meneliti dengan saksama wajah yang masih terdapat lebam membiru di beberapa bagian.
“Tidak apa-apa kok. Sudah lebih membaik sekarang,” jawab Rion dengan meraba wajahnya, sedikit meringis ketika tanpa sengaja menekan terlalu kuat ke bagian yang lebam itu.
“Aku benar-benar meminta maaf atas sikap Galang,” ulang Gebri lagi, merasa sangat tidak enak hati.
“Aku sudah memaafkannya meskipun kamu ataupun Galang tidak meminta maaf. Sudah seharusnya aku mendapatkan pukulan-pukulan itu. Aku sudah meninggalkanmu dulu dan membuatmu menderita.”
Hening lagi. Gebri tidak tahu harus merespon seperti apa atas kalimat itu. Gebri juga bingung bagaimana harus mengakhiri pembicaraan ini. Tidak ada lagi yang perlu dibahas, terutama kejadian lima tahun lalu. Biarlah kisah itu hanya menjadi masa lalu. Tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Lagipula dia dan keluarganya sudah berjanji dengan kedua orang tua Rion dalam pertemuan di hari minggu ketiga bulan Mei yang penuh ketegangan, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu kalau Rion juga ikut bertanggung jawab atas aibnya.
Lima menit berlalu, situasi itu masih sama. Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut mereka berdua. Gebri sudah gelisah dalam duduknya. Ingin keadaan seperti ini segera berakhir agar dia bisa masuk ke dalam rumah dan mengerjakan tugas kuliah yang tadi ditunda.
Masih tidak ada tanda-tanda Rion mau mengucapkan sepatah katapun, Gebri berinisiatif mengutarakan maksud untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun terdengar tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi, situasi ini sungguh membuat cemas. Peluh di keningnya pun mendadak muncul, sebagai tanda kegusaran.
“Apakah kamu melahirkannya?”
Baru saja Gebri hendak membuka suara, Rion sudah mendahului dan membuat tubuh Gebri tak berkutik. Kaku di tempatnya. Apakah si bungsu Fernandez memaksa bertemu karena ini? Ah, tadi dia sempat melupakan faktu itu, fakta kalau Rion ingin berbicara sesuatu dengannya.
“Apakah kamu melahirkannya, Geb?” ulang Rion lagi.
Tubuh Gebri masih membeku di tempatnya. Wajahnya kini memucat.
“Apakah dia laki-laki? Ataukah perempuan?” Rion bangkit dari tempat duduknya, mendekat ke arah Gebri, kemudian berlutut, berharap gadis itu dapat merespon semua pertanyaannya. “Geb, tolong jawab pertanyaanku! Apakah kamu melahirkannya? Bolehkan aku melihatnya? Pasti sekarang usianya sudah empat tahun.” Sekarang mata Rion berkaca-kaca, sudah dari lama dia ingin mengetahui kenyataan itu, kenyataan tentang sosok mungil yang mengaliri darahnya. Keinginan Rion semakin kuat saat matanya menangkap postur Gebri di koridor kampus untuk pertama kalinya sejak lima tahun berlalu. “Tolong jawab, Geb! Bagaimanapun aku berhak mengetahuinya karena aku ayah biologisnya,” lirih Rion sembari memegang kedua tangannya Gebri, menyampaikan getaran-getaran tak kasat mata.
__ADS_1
Tubuh Gebri tidak lagi kaku seperti tadi, justru sekarang sedang bergetar hebat dengan suara isakan-isakan yang tiba-tiba muncul, dan Rion masih setia menunggu sepatah dua patah kata yang keluar dari dara berponi di hadapannya. Gebri pasti teringat dengan kejadan lima tahun lalu.