
IG: @alsaeida0808
BELUM DIEDIT
Pertemuan pertamaku dengan Mas Abram berlanjut ke pertemuan berikutnya. Hari ini kami juga berjanji untuk bertemu, sembari makan malam. Mas Abram sosok yang perhatian dan gentleman. Beberapa kali dia membuat pipiku bersemu merah, padahal dia hanya melakukan hal-hal kecil, seperti membuka tutup air mineral tanpa diminta, atau selalu memastikan kenyamanku terlebih dahulu.
“Selamat da—” Aku tak jadi melanjutkan kalimatku saat melihat sosok Devian yang membuka pintu Aji Mart. Aku segera mengambil napas pelan dan mengembuskan. Tidak ada yang perlu ditakukan, dia tidak ingat, batinku.
“Selamat datang,” ucapku lagi.
Devian membalas dengan anggukan singkat, kemudian menghilang di antara rak-rak bagian makanan ringan. Spontan aku menghela napas panjang, dan segera mengambil air minuman yang sengaja diletakkan di bawah meja kasir. Meskipun aku tampak sudah berdamai dengan masa lalu, tapi reaksi yang diberikan tubuhku seperti tidak sejalan. Aku merasa tubuhku basah karena butir-butir keringat. Jantungku juga masih berdebar kencang. Mungkin butuh proses.
Lima menit berlalu, Devian mendekati meja kasir dan meletakkan dua keranjang di atas meja. “Bagian buah-buahan di mana?”
“Di paling ujung Pak sebelah kiri pintu masuk Pak.”
“Di sana?” tanya Devian sambil menunjuk.
“Iya Pak,” jawabku dengan mengangguk.
“Ada buah apa saja di sana?”
“Ada buah pisang, pir, apel, dan lain-lain Pak.”
Mata kami sempat beradu sebelum aku memilih untuk menatap ke tempat lain.
“Ada buah mangga?” tanya Devian.
“Ada pak,” jawabku dengan sedikit acuh dan kali ini aku berharap dia tidak mengajakku berinteraksi lagi. Aku merasa kalau dia memang sengaja melakukannya. Untunglah kali ini dia segera beranjak. Dia kembali lagi dengan membawa satu keranjang yang berisi buah-buahan. “Ada lagi, Pak?” tanyaku berbasa-basi, memang prosedurnya begitu.
“Tempat produk olahan di mana?”
“Itu pak, di samping kiri Bapak.”
Devian menoleh ke samping, kemudian mengambilnya secara acak. “Silakan dihitung,” katanya.
Satu per satu barang aku tempelkan ke barcode scanner. Awalnya aku melakukan scanning ini dengan fokus, tapi lama-lama mulai merasa risi. Aku memang tidak melihatnya, tapi aku dapat merasakan kalau Devian sedang menatapku.
“Semuanya tujuh ratus delapan puluh tiga ribu.”
Devian menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam.
__ADS_1
“Ini kartunya pak,” ujarku setelah transaksi selesai. Aku juga menyodorkan bungkusan-bungkusan plastik yang berisi barang yang dibelinya tadi. “Terima kasih,” timpalku.
Devian hanya membalas dengan anggukan, lalu mengambil belanjaannya dan melangkah pergi.
“Aku sangat membencimu. Semoga kita tidak bertemu lagi.”
Tiba-tiba Devian berbalik. Aku spontan menutup mulutku dengan tangan. Mungkinkah dia mendengarkan ucapanku, padahal aku berniat untuk mengucapkannya di dalam hati, dan ternyata terlontar begitu saja. Devian tampak ingin mendekat, kakinya sudah bergerak beberapa langkah, namun diurungkan saat melihat di depan meja kasirku sudah ada pelanggan lain. Aku langsung membatin syukur.
0_<
Aku melirik jam di pergelangan, sudah jam sembilan lewat. Mungkin sekitar lima menit lagi, Mas Abram akan sampai. Seperti chat pagi tadi, aku dan Mas Abram memang akan makan malam bersama.
“Bisa kita bicara sebentar?”
Aku yang memutuskan untuk melihat-lihat Instagram sembari menunggu langsung mendongak. Pupil mataku seketika membesar saat melihat Devian yang sudah berdiri di depanku.
“Aku kepikiran dengan ucapanmu siang tadi,” lontarnya.
Aku menghela napas kemudian berdiri. “Abaikan saja perkataanku itu.”
“Kamu tidak mungkin mengatakannya tanpa sebab,” Devian berkukuh.
“Kalimat itu bukan ditujukan untukmu,” kataku sambil melangkah pergi. Tidak bisakah dia hanya mengabaikannya saja. Menganggap sebuah ungkapan yang tak perlu dipikirkan. Tapi tiba-tiba Devian memegang pergelanganku, mencegah kepergianku, dan aku refleks menghempas. Mataku menatap horror ke arahnya. “PERGI! PERGI! JANGAN MENYENTUHKU!” teriakku histeris.
Pikiranku berkecamuk. Ingatan dari kejadian lima tahun lalu bergulir, mengerogoti semua cel-cel otakku. Aku ingin berlari sekencang-kencang, ingin segera menjauh dari Devian, tapi kaki ini seperti lumpuh. Bahkan sekarang mataku berkunang-kunang. Tanah yang sedang dipijak seolah bergoyang, bak gempa bermagnitudo. Aku lantas berjongkok dan merangkul tubuhku, berusaha melindungi diri. Dan setelahnya, aku tidak inga tapa-apa, kecuali kegelapan yang hadir.
0_<
Mataku terbuka perlahan, menatap samar langit-langit yang berwarna hitam pudar, sebelum kelopak mataku terbuka lebar dan tubuhku bangkit. Aku langsung memang kepalaku Ketika merasa kepalaku yang berdenyut.
“Bagaimana keadaanmu?”
Tubuhku spontan bergerak mundur ke belakang hingga mentok ke kepala tempat tidur saat menyadariku kalau ada sosok lain di ruangan ini.
Laki-laki berjas putih itu tersenyum ramah. “Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Aku Brian, aku seorang dokter.”
“Aku di mana?” tanyaku, menoleh ke kiri dan kanan. Ruangan ini terlihat sangat maskulin, dengan mayoritas dipenuhi dengan perabot-perabotan minimalis berwarna gelap.
“Kamu berada di kamar Devian.”
“Devian,” lirihku dengan suara bergetar. Aku terburu-buru turun dari tempat tidur. Aku harus segera pergi dari sini.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Brian sambil memegang bahuku.
Tapi aku langsung menepisnya. “JANGAN MENYENTUHKU!”
“Devian tidak ada di sini. Jadi kamu tidak perlu takut,” terang Brian yang terdengar ragu-ragu, tidak yakin apakah kalimat yang dilontarkannya bisa membuatku tenang. Tapi nyatanya kalimatnya itu mampu membuat ketakutanku sedikit memudar. “Tarik napasmu dan embuskan pelan!” instruksinya.
Aku mengambil napas dalam dan mengembusnya pelan. Rasa sesak ini sedikit berkurang. Senyap. Tidak ada yang berbicara, seolah Brian sengaja memberikan waktu untukku.
“Aku ingin pulang,” suaraku nyaris tak bersuara.
“Hari sudah larut malam, biar aku yang mengantarmu pulang,” tawar Brian.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Tunjukkan saja di mana pintu keluarnya,” tolakku.
“Ini sudah terlalu larut malam. Kendaraan umum sudah jarang ada. Kalau kamu tidak nyaman karena aku laki-laki itu, aku bisa meminta teman perempuanku untuk mengantarkanmu.”
“B-baiklah,” akhirnya aku memutuskan untuk menyetujui, mengingat ucapannya memang benar.
“Aku akan meneleponnya sekarang.” Brian merogoh saku celananya, mengeluarkan iphone-nya dan melakukan panggilan telepon. Mereka tampak berbincang-bincang sebentar. “Tunggulah sebentar, lima menit lagi dia akan sampai. Tempatnya ada di lantai atas apartemen ini.”
“Terima kasih,” ujarku.
“Sembari menunggu, bisakah aku memeriksamu. Devi—” Brian tidak jadi melanjutkan kalimatnya, mungkin karena menyadari reaksi tubuhku yang tiba-tiba menegang. “Sebagai seorang dokter yang berlisensi, aku hanya tidak bisa mengabaikan seseorang yang wajahnya terlihat pucat. Sudah naluri hati,” sambungnya.
Aku memilih untuk tidak merespon, hanya memandang pintu kamar.
“Jadi bisakah aku memeriksamu?”
“Aku baik-baik saja,” jawabku.
“Aku menyarankanmu untuk memeriksakan diri ke dokter. Sepertinya ini bukan pertama kalinya kamu pingsan tiba-tiba. Bila kamu sering pingsan, terkadang bisa menjadi masalah medis yang serius.”
Aku hanya bungkam, justru berjalan menuju pintu kamar dan bertepatan saat pintu terbuka, berdiri seorang wanita berambut sepinggang dengan hodie berwarna hijau.
“Pakai mobilku saja, Clau?” tanya Brian dari belakang tubuhku.
“Mobilku saja,” jawabnya.
Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Aku hanya ingin segera pulang dan membaringkan tubuhku di kasur. Brian mengantarku dan wanita bernama Claudia itu hingga ke pintu apartemen. Aku masih terus diam meskipun sudah sampai di depan pintu lift yang persis di depan pintu apartemen. Mulut ini entah kenapa enggan bersuara.
“Ada apa?” tanya Claudia heran saat aku tiba-tiba saja memegang lengan dan bersembunyi di belakangnya.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, sebaliknya menundukkan kepala dan berharap pintu lift segera tutup rapat. Brian berbohong. Tadi Brian mengatakan kalau Devian tidak ada di apartemen itu. Tapi nyatanya, Devian berdiri di belakang Brian dan sedang menatapku.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. SEMOGA MASIH SETIA MENUNGGU.