Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 6.1


__ADS_3

Januari 2011


Beberapa bulan lagi, diakhir bulan April tanggal 25 sampai 28 akan dilaksanakan Ujian  Nasional secara serentak bagi siswa-siswi kelas IX SMP dan MTs. Seperti sekolah-sekolah lain yang menambahkan jam belajar yang semula dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 13.30 menjadi pukul 16.00 sore, SMP 216 Jakarta juga melakukan tindakan yang sama sejak memasuki awal tahun ajaran semester genap. Supaya siswa-siswa tidak terlalu jenuh dengan pelajaran, pihak sekolah memberikan istirahat berdurasi satu jam sebelum waktu tambahan jam belajar dimulai, yang kebanyakan diantara mereka memanfaatkannya dengan tidur siang, nongkrong di kantin, ataupun duduk-duduk santai di depan kelas dan taman-taman sekolah.


Dari berbagai opsi yang sering dilakukan teman-temannya, Gebri lebih memilih untuk bertugas di dalam UKS sambil membaca buku Persiapan Menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Sekolah SMP/MTs 2010-2011. Saat sedang mencoret-coret di kertas buram untuk menemukan jawaban dari soal matematika yang sedang dilatihnya, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan laki-laki muda bertubuh jangkung yang sedang memegang lengannya. Gebri tidak terlalu kenal, hanya sekedar tahu apalagi. Teman-teman di kelas sering membicarakan pemuda itu. Siapa yang tak tahu dengan Rion Michael Fernandez, putra kedua dari keluarga Fernandez yang memiliki usaha di bidang kuliner dan perhotelan yang cabangnya tersebar di seluruh Indonesia, dan juga salah satu keluarga yang sering menyumbangkan dana terbesar untuk berbagai event-event yang diselenggarakan di sekolah.


“Lo yang jaga? Bisa obatin luka gue?” ucap Rion sambil melangkah mendekati kasur dan duduk di sana, lalu mata elangnya menatap Gebri dengan tajam yang terkesan merisik.


Kepala Gebri terangguk singkat sebelum mengambil alat dan obat-obatan yang dibutuhkan di lemari kaca, kemudian segera mendekati sosok yang tidak menunjukkan raut kesakitan sedikitpun, padahal di beberapa bagian kaki dan lengannya tampak luka lecet dan sebagian masih berdarah.


Suasana di ruang berukuran 8 m x 7 m itu hening. Gebri tampak serius mengobati luka yang ada di siku dan lutut kanan Rion, sementara remaja berusia 15 tahun itu memperhatikan Gebri dengan seksama. Mata elang Rion bak memindai rupa dari gadis beralis tebal dan berbibir tipis di depannya.


“Cantik.” Kata itu terucap begitu saja dari mulut Rion.


“Apa?” tanya Gebri seraya menatap wajah laki-laki di hadapannya.


“Bukan, bukan apa-apa,” jawab Rion dengan memalingkan kepalanya ke sebelah kiri, tiba-tiba menjadi salah tingkah dengan tatapan polos yang diberikan gadis itu.


“Sudah selesai.” Gebri segera menyusun semua peralatan yang digunakannya, kemudian beranjak menuju lemari kaca, meletakkan ke tempat semula dan setelahnya kembali duduk di pojok ruangan yang di atas mejanya terbuka buku persiapan UN tadi.


“Gue mau kembali ke kelas. Terima kasih atas bantuan lo,” kata Rion di depan pintu sebelum menghilang dari pandangan Gebri.


Dan sejak hari itu, hari di mana untuk pertama kali mereka saling berbicara meskipun hanya percakapan singkat, Gebri dan Rion tanpa sadar saling membentuk interaksi, dimulai dengan saling menganggukkan kepala sebagai bentuk sapaan saat bertemu di koridor kelas, pula sekali-kali saling melirik bila sedang berkumpul dengan teman mereka masing-masing, dan beberapa kegiatan lain yang menunjukkan kalau hati mereka mulai saling tertarik. Gebri dan Rion benar-benar menikmati hal-hal kecil yang mereka lakukan saat itu, ciri-ciri ABG yang sedang jatuh cinta.


^_^


Lagu apa yang sedang populer saat ini? Beberapa orang mungkin akan menjawab lagu Andai Aku Gayus Tambunan yang menceritakan kisah hidup seseorang yang tak punya apa-apa sehingga disiksa selama di penjara, sementara para koruptor yang dipenjara seperti Gayus Tambunan bisa berbuat apa saja hingga bebas untuk keluar masuk dalam penjara dan luar negeri. Lagu itu memang sedang marak-maraknya di awal tahun 2011 ini. Setiap mikrolet seperti mikrolet M30A yang sedang ditumpangi Gebri yang hendak menuju ke Mal Kelapa Gading juga mendendangkannya.


Mal Kelapa Gading merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terbesar di Jakarta dan Gebri berniat menuju kawasan MKG 1 yang terdapat toko buku Gramedia. Dia butuh sedikit refreshing mengingat selalu dihadapkan dengan kumpulan-kumpulan soal UN dan Ujian Akhir Sekolah, dan membeli novel baru adalah salah satu solusinya. Akhir pekan seperti ini, lorong-lorong gedung sudah dipenuhi para pengunjung. Ada yang bersama keluarga, teman-teman, adapula sepasang kekasih yang saling bergandeng tangan. Tidak banyak yang pergi seorang diri. Bisa dihitung dengan jari dan kebanyakan laki-laki.


Sebenarnya Rasti dan Galang juga ingin ikut ke Mal ini, sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat, tapi wanita paruh baya itu mendadak mendapatkan telepon dari salah satu teman SMA-nya dahulu yang ingin mengajak bertemu dan karena mereka sudah lama tidak saling bertatap muka, akhirnya Rasti menyetujui dan membiarkan Gebri pergi sendiri ke kawasan Jakarta Utara itu.

__ADS_1


Gebri menyusuri rak-rak khusus novel teenlit terbaru, sekali-kali mengambil sebuah novel yang dianggap menarik dan membaca garis besar cerita yang berada di belakang sampul. Sudah empat sinopsis novel yang dibacanya, tapi belum ada satupun yang menyantol di hati untuk dibeli.


“Sedang cari apa?”


Buku yang sedang dipegang Gebri hampir saja terjatuh. Suara yang terdengar tiba-tiba di telinganya sedikit membuat Gebri terperanjat.


“Sorry. Lo pasti kaget, ya?!”


“Ehm... Y-ya,” ucap Gebri yang sedikit tergagap. Tidak pernah diduga kalau dia akan bertemu dengan keturunan Fernandez ini selain di sekolah.


“Cari apa?” ulang Rion lagi.


“Novel.”


“Oh...,” sahut Rion. “Itu judulnya apa?”


“Bali to Remember,” jawab Gebri sambil menunjukkan sampul buku yang dominan dengan warna kuning pudar. “Lo sendiri sedang apa di sini?”


“Kalau gue pakai buku Persiapan Menghadapi Ujian Nasional dan Ujian Sekolah SMP/MTs 2010-2011 yang dibuat oleh tim M2S.”


“Lo beli di sini juga?” tanya Rion lagi dan Gebri membalas dengan anggukan kepala. “Lo tahu raknya? Bisa tunjukin gue?” sekali lagi Rion bertanya.


“Bisa,” angguk Gebri dengan melangkah ke pojok kiri ruangan yang merupakan area buku khusus anak sekolahan. “Ini bukunya,” sodornya dengan memberikan buku yang sudah tidak berplastik.


Rion melihat-lihat beberapa halaman sebentar, kemudian menukar buku itu dengan buku yang masih bersampul plastik. “Oke. Gue ambil ini saja. Dan lo masih lama di sini?”


“Ya,” angguk Gebri. “Gue masih belum menemukan novel yang bagus.”


“Lo ada acara lagi selesai ini?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Ke Pizza Hut yuk! Gue yang traktir, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah mengobati luka gue kemarin-kemarin.”


Gebri cepat-cepat menggeleng-geleng kepala. “Tidak perlu. Udah tugas gue sebagai petugas UKS.”


“Kalau gue memaksa, gimana?”


“Tapi—”


“Yuk kembali ke rak yang tadi. Kita cari buku lo,” seru Rion yang beranjak ke tengah ruangan, tempat buku-buku best seller dan novel-novel teenlit terbaru tergeletak rapi. Beberapa dara cantik dan seorang laki-laki tampak berdiri mengelilingi.


Rion tampak mengambil beberapa novel, membaca sekilas sinopsis di belakang sampul dan meletakkan kembali. Terlihat tak berminat. Sementara Gebri beberapa kali terlihat mengedarkan pandangannya. Gelisah. Takut. Rion mempunyai banyak fans dan apabila salah satu dari mereka melihat dirinya dan Rion yang tampak sedang–istilah masa kini menyebutnya dengan–kencan atau dating seperti ini, pasti akan menimbulkan spekulasi-spekulasi yang tidak mendasar. Dan akhirnya Gebri memutuskan untuk mengambil dua buku berceritakan kisah anak SMA, kemudian mengajak Rion ke kasir.


Sebelum mereka melangkah ke lokasi Pizza Hut yang berada di ground floor MKG 1, Gebri sekali lagi mengutarakan keengganannya. Tapi justru ditanggapi dengan tatapan tajam, seketika membuat hati Gebri sedikit ciut dan akhirnya mereka sekarang sedang duduk berhadapan sambil menanti pesanan mereka.


“Lo sendiri aja ke sini?”


“Sebenarnya Bunda dan adik gue mau ikut. Tapi mereka tiba-tiba ada urusan. Kalau lo?” jawab Gebri sebelum memalingkan mukanya ke kiri dan ke kanan lagi, masih gelisah dan takut.


“Gue dengan aba—”


Belum sempat Rion menyelesaikan kalimat, sebuah tepukan di pundaknya memaksa untuk menolehkan kepala. Seorang laki-laki berperawakan sangat mirip dengannya itu langsung mendudukkan diri tepat di sampingnya. Tanpa basa-basi menatap Gebri yang mulai merasa risih.


“Cewek lo, Yon?”


“B-Bukan Kak.” Tidak mendapatkan sepatah kata dari laki-laki di hadapannya, hanya dengusan, Gebri terpaksa mengeluarkan suara.


“Beneran?” seru laki-laki berlesung pipi dan mata serupa dengan Rion itu, merasa tidak yakin mengingat adik laki-lakinya ini sangat jarang menggubris perempuan-perempuan yang mencoba mendekatinya.


“Benar Kak,” jawab Gebri tegas disertai anggukan kepala.


“Oh iya, hampir saja gue lupa. Perkenalkan gue Riyan, abang satu-satunya nih bocah,” kata Riyan dengan mengulurkan tangan. “Kalo lo nggak mau sama si curut ini, mendingan lo sama gue aja. Gue ganteng dan lo cantik. Kita pasti cocok kalo jadi pasangan,” sambungnya lagi sambil nyengir menggoda.

__ADS_1


__ADS_2