
“Benar nomor 2D, kan?”
Gebri menatap layar ponselnya lagi. “Benar, Kon.”
“WA Yeni, Geb. Bilang kita udah di depan.”
Sekali lagi Gebri memandang layar ponselnya, jemari tangannya mulai berkutik dengan touchscreen keypad. Selang kemudian, pintu kokoh bercat coklat tua itu terbuka, menampakkan sosok Yeni dengan senyum ramah dan dalam balutan celana training serta baju kaos bertuliskan’I Love You Mommy’.
“Yuk, Masuk!” ajak Yeni sambil membuka lebar pintu pagar.
Kepala Gebri dan Koning mengangguk serempak sebelum Koning menjalankan motornya ke dalam garasi, memarkirkan tepat di samping mobil berwarna merah. Gebri sudah lebih dulu mengekor langkah Yeni.
“Ayuk, masuk!” ucap Yeni, kembali menyilakan untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Anne sudah datang?” tanya Gebri sambil mengikuti langkah sang pemilik rumah yang akan membawa mereka ke lantai dua, menuju salah satu kamar yang akan menjadi tempat belajar dan diskusi mereka siang ini.
“Sudah.”
“Tapi aku nggak melihat motornya di depan,” ujar Koning dengan kening mengernyit.
“Dia diantar cowoknya.”
“Oh,” sahut Gebri dan Koning berbareng, paham.
Setelah undakan terakhir ini, mereka bertiga akan sampai di lantai tertinggi rumah ini, mata mereka akan langsung berhadapan dengan satu-satunya kamar di sana, kamar yang pintunya sedang terbuka, dan terdapat sosok berambut sepinggang yang ujung-ujungnya di blow sehingga terlihat cantik dan cocok untuk paras Anne.
“Akhirnya kalian datang juga,” sambut Anne saat Gebri, Koning, dan Yeni baru saja berdiri di depan pintu.
“Udah lama datangnya, Ne?” tanya Koning sambil mendudukkan tubuhnya di samping Anne, matanya ikut menatap layar laptop yang terbuka dan sedang menampilkan adegan-adegan dari para aktris Negeri Ginseng.
“Belum, Kok,” jawab Anne yang kembali mengalihkan pandangannya ke depan, terfokus lagi pada aplikasi GOM Player.
“Kita belajar di balkon saja yuk!” ajak Yeni dengan mengambil beberapa buku referensi yang diletakkan di atas kasur, kemudian melangkahkan kaki menuju serambi atas yang menghadap ke jalanan, diikuti Gebri yang menenteng tas ranselnya.
__ADS_1
Hari ini matahari tidak terik, cenderung berawan dan mungkin beberapa jam lagi akan turun hujan. Silir angin langsung membelai wajah Gebri dan Yeni saat kaki mereka menginjak lantai balkon, beberapa helai rambut mereka tampak bergoyang mengikuti arah tiupan angin. Sejuk. Pemandangan di kawasan ini pun cukup menarik, meskipun hanya bangunan bertingkat dua yang tertangkap mata. Cukup menghibur dan mencuci mata.
Kawasan Bale Hinggil yang terletak di sekitar Km 10 Kaliurang ini memang terkenal sebagai kawasan elit. Semua rumah memiliki bentuk yang hampir sama, melingkupi garasi yang bisa memuatkan dua buah mobil, halaman depan yang besar, dan ukuran rumah yang bisa menampung dua kepala keluarga. Mengingat ayah Yeni adalah salah satu kepala instansi di Kota Pelajar ini dan ibunya sebagai business woman, maka sangat wajar mereka bertempat tinggal di sini.
“Itu rumah siapa, Yen?” tanya Koning yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, Anne masih betah di dalam kamar dan menikmati menonton drama koreanya.
“Yang mana?”
“Itu. Di depan rumahmu yang nomor 2E.”
“Kenapa?” Yeni balik bertanya.
“Ada motornya Kak Kharisma.” Koning melangkahkan kakinya mendekati pagar pembatas saat menangkap sosok laki-laki yang hendak menaiki sepeda motornya. “Kak Kharisma!” serunya lantang. “Aku di balkon, Kak,” tambahnya tatkala melihat kepala Kharisma celingak-celinguk mencari sumber suara.
“Ngapain di sana?” tanya Kharisma tepat saat matanya menangkap sosok Koning.
“Ngerjain tugas, Kak. Kalau kakak?”
Kharisma melirik sebentar ke arah Gebri sebelum memalingkan kepalanya ke belakang, menatap rumah bercat abu-abu yang hampir sama dengan rumah di depannya sebelum menjawab, “Ini rumah Rion. Ada sedikit urusan di sini.”
“Kakak mau pulang dulu. Kerjain tugasnya dengan benar. Jangan banyak main atau bergosip!” tutur Kharisma sambil menyalakan sepeda motornya. “Duluan Kon, Geb, dan si mungil!” sambungnya seraya perlahan-lahan mulai meninggalkan area elit itu, meninggalkan ketiga wanita muda itu dengan raut berbeda-beda, Koning yang mendengus kasar, Gebri yang hanya menyungging senyum kecil, dan Yeni yang tersipu-sipu malu mendengar panggilan lucu dari kakak angkatannya.
Lalu mata Gebri beralih ke arah rumah bertingkat dua yang ada di hadapannya. Seperti ciri khas dari rumah di Bale Hinggil yang lain, rumah itupun terlihat megah dengan tiang-tiang kokoh. Dan bila teringat perbincangan itu, perbincangannya dengan Rion di salah satu rumah makan di pinggir jalan Raya Solo empat hari lalu, Gebri tak pernah lagi melihat wajah Rion. Laki-laki itupun tak menampakkan wujudnya lagi di depan kos Wisma Bestari. Di area kampus juga, mata Gebri tak pernah menangkap sosoknya. Melihat bagaimana besarnya rumah Yeni, dia yakin kalau laki-laki bermata setajam elang itu pasti tak mau meninggalkan segala kemewahan yang didapatnya selama ini. Tidak ada orang yang mau meninggalkan rumah besar itu beserta isinya, sama seperti Rion yang dulu dikenalnya.
Pernyataan cinta itupun pasti hanya ucapan belaka, Gebri membatin.
Dan tentang Kharisma, laki-laki berwajah baby face itu?
Sebenarnya Gebri merasa sangat tak enak hati, merasa menjadi wanita yang jahat. Malam tadi Kharisma mendatangi kosannya, dan saat mereka sudah saling duduk di depan teras, Kharisma kembali mengungkapkan perasaannya. Kini dia meminta jawaban, tidak seperti dulu yang hanya ingin Gebri mengetahui perasaannya saja. Dia juga mengatakan akan memberikan waktu sebanyak mungkin untuk Gebri berpikir. Tapi Gebri pun tak seperti hari itu yang hanya menganggukkan kepala, seolah memberikan sebuah harapan. Dengan tatapan serius, dia mengutarakan pemikirannya selama ini. Dia merasa tak pantas menjadi pasangan Kharisma. Laki-laki itu bisa menemukan gadis yang lebih baik darinya, dan tentunya yang tidak memiliki aib yang sangat memalukan.
“Kerjain tugas sekarang, Yuk!” ucap Yeni yang langsung membuyarkan lamunan Gebri.
^_^
__ADS_1
Empat jam berlalu dan sekarang pukul 16.15 sore, makalah dan PPT tugas kelompok mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro akhirnya selesai, dan besok siap untuk diserahkan ke dosen pengampu. Anna baru saja pulang, dijemput pacarnya. Sedangkan Gebri dan Koning sedang menuruni tangga melingkar yang sisi kiri dan kanannya terdapat dua buah guci besar. Isi rumah ini sesuai dengan penampakan luarnya yang terkesan megah dan berkelas. Banyak properti-properti artistik berharga tinggi yang memenuhi setiap dinding dan sudut ruangan, dominan dipenuhi guci dari keramik dan kristal. Semakin menambahkan kesan gemerlap.
“Gebri!”
Tiga dara cantik itu baru saja menongolkan kepala dari pintu rumah, namun suara yang besar dengan nada yang rendah langsung tertangkap telinga mereka. Pandangan mereka spontan menoleh ke asal suara, menampakkan sosok laki-laki bercelana tanggung dipadu kaos berwarna putih datang mendekat.
“Aku tadi kirim WA. Kenapa nggak dibalas?” tanya Rion saat sudah berdiri di depan Gebri yang diapit Koning dan Yeni, tatapannya begitu lembut menatap gadis berbulu mata lentik itu. “Sudah mau pulang?” Lagi-lagi Rion bertanya meskipun sosok itu tak merespon. Masih bungkam.
“Iya, Kak.”
Akhirnya Koning yang menjawab setelah terjadi keheningan yang cukup lama dan tidak ada tanda-tanda Gebri akan bereaksi.
“Gebri pulang bareng kamu, Kon?”
“Iya, Kak,” balas Koning dengan sedikit menganggukkan kepala.
“Masih ada kegiatan?” tanya Rion lagi yang langsung mendapatkan gelengan dari gadis berkacamata itu. “Kamu pulang sendirian nggak apa-apa, kan Kon? Nanti aku yang akan antar Gebri ke kosan,” sambungnya dan langsung mendapatkan jawaban anggukkan kepala Koning lagi.
“Aku tidak—”
“Pergilah, Geb! Selesaikan masalah kalian baik-baik,” potong Koning dengan berbisik di telinga Gebri, kemudian sedikit mendorong tubuh Gebri ke depan, hampir menabrak tubuh besar dan tinggi Rion.
Aarhg, ini pertama kalinya Gebri tak menyukai sikap sok bijaksana Koning. Sarannya kali ini tidak tepat. Tak ada lagi yang perlu diselesaikan dengan laki-laki itu. Semua sudah clear. Sudah jelas. Masa lalunya dan Rion tak perlu lagi dibahas. Mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti lima tahun belakang ini. Tapi saat ingin melontarkan kata-kata penolakan, Rion sudah terlanjur memegang pergelangan tangannya, membawa Gebri menyeberang jalan dan masuk ke dalam ruang tamu yang tak kalah berkelas seperti rumah Yeni. Dia tak sempat untuk melepaskan diri, laki-laki berambut angular fringe itu memegangnya dengan erat, sedikit mengunci pergerakan darinya.
“Mau minum apa, Geb?” tawar Rion seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
“Tidak. Aku mau pulang,” jawab Gebri ketus, merasa jengkel.
“Kalau jus jeruk, kamu mau?”
Tanpa menunggu persetujuan dari gadis di sampingnya, Rion lantas memanggil Bik Sumi yang tak berapa lama datang dengan tergopoh-gopoh. Wanita itu sempat melirik ke arah Gebri dan tersenyum kecil, kemudian terjadi perbincangan kecil diantara sosok itu dan Rion sebelum Bik Sumi membalikkan badan dan menjalankan tugasnya.
Rion kembali memfokuskan pandangannya ke arah Gebri, perempuan itu masih menatapnya dengan tatapan penuh kesal, mendeliknya dengan tajam.
__ADS_1
PLEASE LIKE-NYA! PLEASE COMMENT-NYA! PLEASE VOTE-NYA!