Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 5.1


__ADS_3

Untaian senyum yang merekah masih tampak jelas di mimik wajah Gebri. Sekali-kali jemari tangannya menyapu helaian rambut dari balita laki-laki yang ada dipangkuannya. Saat sang bocah gembul itu bertanya, Gebri selalu menjawab dengan antusias, menunjukkan betapa dia sangat menikmati detik-detik kebersamaan mereka. Bahkan ketika balita itu ingin buang air kecil, Gebri tanpa ragu mengantarnya menuju kamar mandi dan melakukan beberapa kegiatan sederhana yang sering dilakukan ibu-ibu dengan semangat, dari melepaskan hingga kembali memakaikan celana sang balita.


“Kamu suka anak kecil, Geb?”


Gebri–yang sedang mengendong balita berusia empat tahun itu, pula sekali-kali mengajak bercanda–hanya menganggukkan kepala, dengan senyuman yang masih berkembang di bibirnya. Padahal beberapa jam lalu, dia sempat menolak untuk datang ke rumah ini, menemani Koning menemui paman dan tantenya sekaligus orang tua dari laki-laki berwajah berambut sedikit gondrong yang ada di hadapannya kini. Sebenarnya Gebri sedang malas keluar kosan sejak perbincangan dengan Rion di teras rumah Koning, tapi dia harus menunjukkan rasa terima kasih atas tindakan spontan gadis itu kemarin. Karena Koning yang tiba-tiba keluar rumah dengan ekspresi polosnya, dia tidak perlu menjelaskan dan menjawab apapun semua pertanyaan Rion.


“Aku sudah lama tidak bermain dengan anak seusia Rudi, Kak. Keluarga dan sepupuku tidak ada lagi yang mempunyai balita, mereka rata-rata seusiaku atau adikku. Jadi saat bertemu Rudi, aku merasa sangat senang,” papar Gebri yang kembali mengelus-ngelus kepala bocah digendongannya dengan penuh sayang.


Kening Kharisma sedikit mengernyit. Ada beberapa pertanyaan yang menggelitik benaknya. Tapi laki-laki berwajah bermata sipit itu mencoba menahan, tidak sepantasnya kalimat-kalimat keingintahuan keluar dari mulutnya. Itu privasi Gebri. Bisa dikatakan privasi yang saat ini tidak perlu diketahui, mengingat hubungan mereka belum bisa dikatakan dekat. Hanya sekedar kakak angkatan yang menyapanya, pula sekali-kali mengirimkan pesan lewat Line atau WhatsApp untuk menanyakan kabar.


“Enaknya jadi kamu, Mbul. Selalu disayang gadis-gadis cantik,” seru Kharisma dengan mencubit-cubit kecil pipi sosok yang dipanggil gembul itu.


“Nama aku bukan Mbul Om, tapi Ludi Anggala Putla,” bantah sang bocah cilik dengan gaya khas anak-anaknya.


“Rudi Anggara Putra. Bukan Ludi Anggala Putla. Dasar cadel!” tukas Kharisma yang hendak mencubit lagi, tapi segera ditepis Rudi.


“Kamu digombalin lagi sama si wajah bayi, Geb?” celetuk Koning yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.


“Jangan sok tahu deh!”


“Aku memang tahu, bukan sok. Aku tahu kalau Kak Kharisma sebenarnya suka sama Gebri, kan? Dan setiap hari selalu nge-chat dia, kan?” tutur Koning dengan menyeringai, yang langsung mendapatkan balasan dengusan dan tatapan mendelik, sementara Gebri bersikap seolah tak mendengarkannya.


Selama ini Gebri bukannya tak tahu, Kharisma begitu jelas menunjukkan perasaannya. Namun dia tak pernah mengganggap lebih, bila Kharisma mengirimnya pesan, Gebri akan menjawab sesingkat mungkin. Atau saat laki-laki mengajaknya pulang bersama, Gebri sebisa mungkin menolak dengan berbagai alasan. Biarlah dianggap sok jual mahal atau dibilang kurang peka. Biarlah, dia tak peduli. Prioritasnya saat ini bukanlah mengurus masalah percintaan.


Kharisma masih melotot ke arah Koning, tapi gadis berkemeja kotak-kotak itu tak menggubris, merasa tak berpengaruh dengan sikap Kharisma, justru kini menolehkan kepala ke arah Rudi, menusuk-nusuk lembut pipi gembulnya. “Kamu chubby banget, Rud. Seperti bakpau. Rasanya Tante ingin memakan pipimu,” sambungnya tanpa memedulikan suasana canggung yang mendadak terjadi antara Gebri dan Kharisma.

__ADS_1


“Jangan, Nte! Nanti pipi aku berdayah-dayah. Lebih baik makan donat aja. Lacanya lebih enak dari pipi aku,” ujar Rudi sambil memegang kedua pipinya.


“Kamu mau donat, Sayang?”


Rudi dengan antusias menganggukkan kepala dengan kekehan-kekehan kecil.


“Let’s go to Dunkin’ Donuts!” seru Koning seraya mengambil Rudi dari gendongan Gebri, kemudian beranjak pergi. Tiba-tiba dia memalingkan kepala, tertuju pada sepasang manusia yang masih sibuk dalam keheningan dan pikiran masing-masing. “Geb, kamu ikut nggak?” tanyanya yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Gebri.


¬^_^


“Aku saja yang beli, Kon. Kamu dan Rudi di sana saja.” Gebri menunjukkan sebuah meja dan beberapa kursi stainless yang disusun melingkar di sudut ruangan, tepat di dekat kaca jendela yang menampakkan pemandangan hiruk-pikuk jalan Kaliurang.


“Beli dua lusin, ya! Banyakkan yang ada coklatnya, seperti choco marble. Sisanya terserah saja, tapi jangan icy cool blueberry.”


“Gebri?” Seorang laki-laki berkacamata tanpa frame tampak terkejut dengan sosok perempuan yang berdiri di depannya. Sudah lama mereka tak bertemu, mungkin sudah lima tahunan. “Bagaimana kabarmu?”


Sama halnya dengan laki-laki itu, Gebri juga tidak bisa menyembunyikan raut kagetnya. Kedua alis matanya naik, mulutnya refleks terbuka, kedua matanya pun terbelalak dan semakin terbuka lebar tatkala melihat sosok wanita paruh baya yang berada di belakang sosok si jangkung. Sudah bertahun-tahun Gebri tidak melihat mereka dan figur mereka masih terlihat sama, masih tampak angkuh dengan mata setajam elang yang menjorok ke dalam yang menjadi ciri khas keluarga Fernandez.


“Ba-baik, Kak,” jawab Gebri yang sedikit terbata-bata.


“Geb!” seru Koning sambil mendekat dan seketika membuat Gebri memanjat syukur.


Koning memang pahlawannya, meskipun dia tak menyadari. Dara bergigi gingsul itu memang selalu bisa menolongnya di waktu-waktu yang tepat. Sekarang Gebri menjadi punya alasan untuk menghindar, seperti saat-saat Rion menuntut dengan pertanyaan seputar kehamilan dan anaknya kemarin.


“Maaf, Kak. Aku sudah ditunggu temanku,” pamit Gebri yang siap-siap untuk bergerak. “Pemisi Kak, Tante Raya.” Akhirnya kaki Gebri benar-benar melangkah. Tanpa sadar, mulutnya menghela napas. Begitu lega.

__ADS_1


“Bisakah kita berbicara sebentar?”


Lontaran yang tiba-tiba itu kontan menghentikan langkah kaki Gebri. Seketika benak Gebri mulai bertanya-tanya. Ada apa? Apakah wanita berambut tergerai itu ingin mengingatkannya tentang janji lima tahun lalu, janji untuk tidak menyangkut-paut nama Rion? Atau ada hal-hal yang belum selesai diperbincangkan tentang kejadian silam? Ataukah karena sesuatu hal yang lain? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepala Gebri. Tanpa ada satupun jawaban yang jelas.


^_^


Hampir sepuluh menit suasana keheningan ini terjadi. Perempuan paruh baya itu terus memandang dengan tatapan menilai, sementara laki-laki dengan jambang tipis di wajahnya yang merupakan kakak kandung Rion itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Setelah menyuruh Koning dan Rudi untuk pulang duluan, Gebri memutuskan untuk menerima ajakan dari wanita bernama Raya Fernandez itu. Di sinilah mereka sekarang, duduk melingkar memenuhi kursi-kursi yang disediakan khusus untuk pelanggan Dunkin’ Donuts dengan sekotak donat berukuran selusin yang sudah terbuka.


“Sekarang kamu tinggal di Yogya, ya?”


Gebri sedikit mendongakkan kepala, menatap Riyan yang baru saja melontarkan pertanyaan. “Ya, Kak,” jawab Gebri diikuti anggukan kepala.


“Kuliah atau kerja?”


“Kuliah, Kak.”


“Di mana? Berarti sudah semester lima, kan?”


“Di UY. Di Universitas Yogyakarta, kak. Aku baru masuk kuliah dua bulan lalu.”


“Kamu jurusan apa? Rion juga di UY. Kamu pernah bertemu dengannya?” Kini pertanyaan beruntun itu bukan bersumber dari Riyan, namun dari Raya yang masih menampakkan tatapan menyelidik.


“Aku jurusan akuntansi, Tan.” Gebri terdiam sejenak sebelum menjawab. Dia tampak ragu-ragu. Takut wanita itu menunjukkan tatapan tajam yang lebih dari ini. “Aku dan Rion sudah pernah bertemu. Kami satu fakultas, Tan.”


Sunyi melanda lagi. Gebri segera menundukkan kepala, mendadak merasa terintimidasi. Tatapan wanita paruh baya itu semakin tajam. Raya tampak tak menyukainya. Seharusnya tadi dia sedikit berbohong. Mengatakan kalau mereka tidak pernah bertemu walaupun berada di dalam satu kampus, mengingat kampus yang berpusat di jalan Kaliurang Km 14,5 sangat besar.

__ADS_1


__ADS_2