Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
SEASON 2 Episode 7


__ADS_3

IG: @alsaeida0808


BELUM DIEDIT


Dua minggu berlalu sejak aku pingsan dihadapan Devian dan selama itupula dia tidak lagi pernah muncul. Semoga seperti ini terus sehingga aku tidak selalu dihantui kejadian mengerikan lima tahun lalu. Sementara hubunganku dengan Mas Abram juga semakin dekat. Bahkan malam ini dia mengajakku sebuah restoren bertemakan rooftop kitchen yang ada di Jalan Setia Budi. Suasana di sini sangat hangat, ditemani dengan dekorasi tanaman hijau yang membuat mata menjadi rileks.


“Ada apa, Mas?” tanyaku setelah meletakkan meletakkan gelas yang baru saja diminum. Mas Abram terlihat sangat gelisah, sekali-kali dia memperbaiki tempat duduknya.


“Gimana? Makanannya enak?”


Kepala mengangguk. “Enak, sesuai dengan harganya.”


Mas Abram menegakkan posisi duduknya. “Keiy,” panggilnya.


“Kenapa Mas?”


Mas Abram menelan ludahnya. “Sejak melihatmu fotomu di postingan Lala, Mas sudah merasa tertarik. Dan Mas ingin mengajakmu menjalin hubungan serius denganmu. Apakah kamu bersedia?”


Aku akui kalau aku merasa sedikit terkejut, meskipun sudah menduga. Beberapa kali Mas Abram pernah mengatakannya, meskipun di sela-sela candaan. Sebenarnya aku bisa saja langsung mengiyakan, karena aku juga menyukainya. Dia selalu membuatku merasa nyaman. Tapi rasa insecure ini selalu mengusikku. Jika Mas Abram mengetahui masa laluku, apakah dia masih tetap mau menjalin hubungan serius itu? Dan seandainya dia tidak masalah, bagaimana dengan keluarganya?


“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Kamu bisa memikirkannya dulu,” sambung Mas Abram di saat aku tidak menanggapinya. “Apakah Lala sudah memberitahumu kalau seminggu lagi dia akan bertunangan?” tanya Mas Abram, mengalihkan pembicaraan.


“Sudah Mas, tadi sore dia mengatakannya. Dia merasa sangat antusias.”


“Semoga kali ini dia bisa sampai ke jenjang pernikahan, tidak seperti sebelumnya,” tutur Mas Abram sebelum memasuki nasi goreng ke mulutnya.


“Amin,” doaku menimpali. Kemudian aku berdiri. “Mas, aku ke kamar mandi sebentar,” ujarku yang langsung dibalas dengan anggukan dari Mas Abram, kantung kemihku terasa penuh. Aku mengembuskan napas lega ketika keluar dari pintu salah satu toilet. Aku mencuci tangan di wastafel sembari memperhatikan penampilanku. Lipstikku masih terlihat meskipun sedikit samar. Beberapa hari ini, aku memang sedikit berdandan jika mau bertemu dengan Mas Abram, meskipun hanya dengan memoles lipstik tipis.


“Kamu Keiysa, kan?” tanya seseorang saat pintu toilet di belakangku terbuka, menampakkan sosok semampai dengan kesan elegan dan stylish.


Aku menatapnya dari cermin di depanku. Raut terkejut tidak bisa aku sembunyikan.


“Aku Clara. Kita bertemu beberapa minggu lalu.”

__ADS_1


“Mbak temannya Mas Yudi, kan?”


“Iya,” sahut Clara mengangguk. “Jangan panggil Mbak, panggil saja Clara atau Cla.”


“Kamu dengan siapa, Cla?” Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi, tapi aku benar-benar ingin mengetahui jawabannya. Sebab kalau Clara menjawab jika dia bersama kakaknya, maka aku harus segera pergi dari restoran ini. Aku sudah merasa sangat nyaman dan damai tanpa bertemu dengan Devian beberapa minggu ini.


“Sama teman-teman SMA, ada acara—” tiba-tiba suara nada dering memotong ucapan Clara. Dia langsung merogoh tas, mengambil sebuah ponsel. “Aku duluan Keiy. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi,” sambungnya sebelum meletakkan ponselnya ke telinga dan berjalan menuju pintu. “Kenapa Dev? Kamu jadi datang, kan? Teman-teman yang lain sudah nanyain kamu.”


Mendengarkan pembicaraan mereka, aku buru-buru keluar dari kamar mandi dan berjalan tergesa-gesa menuju tempat dudukku. “Kita pulang sekarang, yuk Mas!” kataku seraya memasukkan ponselku yang ada di atas meja ke dalam tas.


“Tapi makanan kita belum habis,” ucap Mas Abram yang tampak enggan untuk pergi. “Apa terjadi sesuatu?” kini dia memasang wajah khawatir.


“Aku lupa kalau malam ini sudah janji dengan Bukde Rini. Dia mendapat orderan yang besar dan aku berjanji untuk membantunya,” alasanku saja.


Mas Abram terlihat kecewa. Tapi dia tetap menyetujui dan berniat untuk mengantarku ke tempat Bukde. Aku langsung menolak, memaksanya untuk mengantar ke rumah saja, memberi asalan kalau ada barang yang harus diambil dulu.


0_<


Aku memutar tubuhku ke kiri ke kanan di depan cermin, memastikan penampilanku sudah rapi dengan gaun polos putih selutut, dan juga sedikit memperbaiki tatanan poniku. Malam ini aku akan menghadiri pertunangan Lala dan Andomeda, ditemani Mas Abram yang secara khusus mengajakku untuk datang bersama.  Tidak dipungkiri kalau aku merasa sangat gugup, mengingatkan Lala adalah sepupu Mas Abram dan pertunangan itu pasti dihadiri oleh seluruh keluarga mereka.


“Kamu terlihat sangat cantik,” puji Mas Abram.


“Terima kasih,” sahutku. Aku yakin kalau pipiku menunjukkan semburat merah.


“Kita pergi sekarang?”


Aku menjawab dengan anggukan, kemudian segera mengunci pintu dan berjalan beriringan menuju sepeda motor Abram. Di sepanjang perjalanan, kami saling bercengkrama, sekali-kali kami saling melontarkan canda. Aku begitu menikmati moment sederhana seperti ini, berharap bisa terus berlanjut. Bahkan aku sudah memutuskan untuk memberikan jawaban atas permintaan Mas Abram seminggu lalu. Aku bersedia untuk menjalin hubungan yang lebih dari pertemanan ini.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya sepeda motor yang kami naiki berhenti di sebuah rumah sederhana bercat biru. Saat mendekati pintu rumah, seorang wanita paruh baya datang mendekat dan tersenyum ke Mas Abram.


“Ma, kenalin ini Keiysa,” ujar Mas Abram setelah mereka bercakap-cakap sebentar.


Aku mengulurkan tangan dan wanita itu membalas uluranku. “Keiysa Tan.”

__ADS_1


“Ayuk masuk ke dalam, sebentar lagi acara dimulai,” ajak Mama Mas Abram.


“Kak Amila sudah datang, Ma?”


“Mungkin sebentar lagi,” jawab Mama Mas Abram. Wanita paruh baya itu berhenti di depan ruang tengah, tepat di sebelah pintu kamar. “Kalian duduk di sini saja. Mama mau ke belakang sebentar.


Dengan patuh aku segera duduk, begitupula dengan Mas Abram. Tamu yang datang tidak banyak, mungkin hanya keluarga yang dekat-dekat saja. Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku buru-buru merogohnya dari tas tanganku karena beberapa orang tampak melihat ke arahku.


“Ya La?” ucapku saat panggilan telepon kami sudah tersambung.


“Kamu jadi datang, Keiy?”


“Aku sudah di rumahmu.”


Pintu di belakangku tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok Lala yang sudah cantik dengan kebaya merah. “Keiy, ke sini!” panggilnya, menyuruhku masuk ke dalam kamar.


Melalui mataku, aku meminta izin sebentar dengan Mas Abram untuk ke kamar Lala dan dia membalas dengan anggukan pelan.


Lala langsung memelukku setelah pintu tertutup. “Aku nervous banget.”


“Semua pasti berjalan dengan baik. Kamu sudah mempersiapkan dengan matang,” ujarku menenangkan.


“Dan semoga kamu dan Mas Abram cepat menyusul ya,” tukas Lala dengan senyum menggoda.


Aku hanya membalas dengan kekehan kecil. Kami berbincang-bincang sebentar sebelum aku memutuskan untuk kembali ke tempat dudukku tadi. Ternyata Mas Abram tidak ada di sana. Kepalaku celingak-celinguk sembari duduk. Aku juga coba menghubunginya dengan chat.


“Keiysa?” ujar seseorang.


Kepalaku mendongak. Aku mencoba mengingat-ingat wanita berambut sepinggang di depanku. “Mbak Amila?” kataku memastikan, menyadari kalau kami pernah bertemu di taman kota.


“Kalian sudah saling kenal Mbak?” interpusi Mas Abram.


“Dia Keiysa yang sering kamu certain itu?” tanya Amila.

__ADS_1


Mas Abram menyetujui dengan antusias, berbanding terbalik dengan raut Amila beberapa menit lalu, yang sekarang menunjukkan ketidaksukaan.


UPDATE LAGI. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. DUKUNG TERUS KARYAKU. 


__ADS_2