
“Nggak ke mana-mana,” jawab Gebri sambil memperhatikan Rion. Laki-laki itu terlihat berkeringat, baju dan wajahnya terdapat noda berwarna kehitaman. Rambutnya juga tampak acak-acakan. “Kamu habis ngapain Mas?”
Rion memberikan sunggingan lebar. “Sini! Aku tunjukin sesuatu.” Rion menarik pergelangan tangan Gebri, membawanya ke depan gazebo yang ada di belakang rumah. “Tadaaa…!” ujarnya sambil merentangkan tangan, menunjukkan kendaraan roda dua yang tampak mengkilap seperti baru saja dicuci.
“Motor baru Mas?” Selama beberapa bulan dia tinggal di rumah ini, hanya mobillah yang diketahuinya menjadi kendaraan satu-satunya di rumah ini. Dia tidak tahu kalau Rion memiliki sepeda motor sport berwarna merah seperti itu. Dia tak pernah melihat di garasi sebelumnya.
“Nggak kok. Ini motor lama. Awal-awal kuliah dulu, Mas pakai ini.” Rion sedikit memperbaik posisi kaca spion yang agak miring.
“Tapi aku nggak pernah melihatnya?”
“Sejak pakai mobil, Mas meletakkannya di gudang belakang.” Rion menunduk, memperhatikan penampilannya yang terlihat kotor karena bekas oli. Beberapa bagian bajunya juga tampak basah. “Karena tadi Mas merasa bosan, Mas jadi teringat motor ini. Mas tiba-tiba berinisiatif untuk mencuci dan memperbaikinya sedikit.”
Gebri mengulurkan jemarinya ke wajah Rion, mengusap noda hitam di pipinya, kemudian terkikih pelan. “Mas seperti anak kecil, cemong-cemong!”
“Gimana kalau malam ini kita jalan pakai motor ini?” usul Rion dengan wajah sumringah sambil menepuk-nepuk jok. “Nanti kamu bisa peluk pinggang Mas dan meletakkan pipimu di punggung Mas, seperti di film- film,” sambungnya, dia memberikan kerlingan menggoda.
Gebri memukul pelan dada Rion. Wajahnya merona memerah. “Apaan sih kamu Mas?”
“Jadi gimana, mau nggak? Sekalian kita ke kafe.”
“Boleh,” angguk Gebri.
“Aku mau mandi dulu. Kamu mau ikut mandi nggak?” Rion menaik turunkan alisnya, bibirnya merekah lebar.
Gebri dengan cepat menggeleng, rona di pipinya semakin memerah. “N-nggak. Aku mandiri sendiri saja nanti.”
__ADS_1
“Padahal aku berharap kamu mau.” Rion menghela kecewa.
Gebri tak menanggapi, membiarkan Rion meninggalkan dapur. Laki-laki itu memang sering mengajaknya mandi bersama seperti itu, dan mereka selalu menghabiskan hampir satu jam lebih di sana. Rion nggak akan melepaskannya sebelum dia merasa puas. Dia pernah tak masuk satu mata kuliah tiga SKS karena menurutinya. Alhasil sekarang, bila mereka hendak pergi dan Rion mengajaknya mandi bersama, sebisa mungkin dia menolak dengan halus, dia nggak ingin rencana yang sudah mereka buat menjadi gagal. Lagian sudah lama juga mereka tak keluar di Sabtu malam seperti malam nanti. Biasanya Rion selalu mengurungnya di dalam kamar. Hasrat laki-laki itu terlalu mengebu-gebu, masih merasa seperti pengantin baru.
>_<
Rion menggandeng tangan Gebri memasuki kafe yang sudah didirikannya sejak awal masuk kuliah. Ruangan dengan dominan berwarna merah ini terlihat sangat ramai, hampir sebagian dipenuhi muda-mudi yang membentuk kelompok-kelompok. Semula Rion nggak berharap banyak dengan usahanya yang diberi nama Cinta Geprek ini. Dia hanya berniat coba-coba seperti saran papanya saja, sekadar untuk belajar sebelum akhirnya mengurus usaha miliki keluarga, layaknya yang sedang dilakukan Riyan setelah lulus kuliah.
Setelah mengecek beberapa hal di dalam kantor, sedikit berbasa-basi dengan beberapa karyawan, masih dengan telapak tangannya menggenggam tangan Gebri, Rion menuju parkiran. Dia ke sini memang hanya sebentar saja, karena niat awalnya memang ingin menelusuri jalanan-jalanan kota gudek ini, ingin sepuas-puasnya mengendarai motornya dengan belitan lengan Gebri di pinggangnya. Rion ingin merasa seperti orang-orang pacaran pada umumnya. Apalagi kata sebagian orang lain bilang, lebih enak pacaran setelah menikah. Tidak akan ada yang melarang saat melakukan hal-hal yang sedikit di luar batas, misalkan memeluk di depan umum ataupun mencium pipi.
Tapi sepertinya malam ini nggak bersahabat. Langit yang semula cerah dengan cahaya rembulan, tiba-tiba didatangi awan kehitaman yang mengumpal-gumpal. Selang kemudian, rintik hujan turun dan membasahi bumi. Rion terpaksa memberhentikan sepeda motornya di salah satu ruko yang tertutup di jalan Cik Ditiro, bersama pengendara-pengendara yang lain.
Hampir tiga puluh menit menunggu, tidak ada tanda-tanda rintik air hujan itu akan berhenti, justru semakin deras. Rion melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu masih jam sembilan kurang, belum terlalu malam memang, tetapi dia nggak tahu kapan hujan ini akan reda.
Beberapa pengendaraan di sekitar sejoli itu tampak terkesiap mendengar ucapan Rion, bahkan ada yang terang-terangan menatap mereka sinis, mungkin menganggap sepasang kekasih itu sudah di luar batas. Untung saja Gebri tak menyadari, dia sedang memindai hotel berwarna putih itu, menimbang. Sementara Rion kini memegang-memegang cincin di jari manisnya, memamerkan kalau dia dan Gebri adalah sepasang suami istri, bukan sepasang kekasih tanpa ikatan. Jadi nggak ada salahnya dia mengajak Gebri ke hotel tersebut, sah-sah saja.
“Gimana?”
Gebri melirik jam di pergelangannya, “Sebaiknya kita tunggu lima belas atau dua puluh menit lagi Mas, siapa tahu hujannya akan reda.”
“Oke, tapi jika hujannya nggak berhenti-henti juga, malam ini kita menginap di sana saja,” saran Rion yang langsung disetujui Gebri dengan anggukkan kepala.
Rion menarik lengan Gebri, meletakkan di lingkaran pinggangnya, sambil mengelus-elus lengan itu. Bibirnya sedikit terangkat menyadari beberapa pasang mata yang sedang melihat, merasa puas karena bisa membuat mereka baper. Ah, sungguh nikmatnya punya istri, bisa melakukan skinship di mana saja tanpa ada yang melarang. Awalnya Gebri hendak menjauhkan lengannya, merasa sedikit malu dengan tatapan-tatapan yang tertuju ke arah mereka. Tetapi kehangatan dari punggung Rion begitu nyaman, apalagi di kondisi dingin seperti ini. Dia kian mempererat pelukannya.
“Sudah dua puluh menit, tapi hujannya belum reda juga. Mau lanjut ke hotel atau mau masih nunggu lagi?” Rion menolehkan sedikit kepalanya ke belakang, melihat wajah Gebri yang juga sedang melihatnya.
__ADS_1
Gebri menatap jam di pergelangannya lagi, kemudian mendongak menatap langit yang masih mendung dengan rintik hujan yang semakin deras. “Sebaiknya ke hotel saja, Mas,” jawabnya.
Rion segera menyalakan sepeda motornya, perlahan meninggalkan ruko itu bersama berpasang-pasang mata yang mengantar kepergian mereka. Jalanan aspal kali ini cukup licin, Rion tidak berani mengendarai sedikit lebih laju meskipun rintik hujan semakin lebat. Setelah berputar balik di lintasan u-turn dan mengendarai sekitar 100 meter, akhirnya motor berwarna merah itu berhenti di parkiran khusus kendaraan roda dua.
“Kamu basah banget,” ujar Gebri sambil memegang baju di dada Rion yang sudah basah kuyup.
“Kamu juga sama,” timpal Rion sambil mengusap-ngusap bahu Gebri, berharap basah di area tersebut bisa sedikit kering. “Setelah ini kita langsung mandi, biar nggak kedingingan.”
“Tapi kita nggak punya baju ganti.”
“Untuk sekarang kita pakai kimono handuk dulu, nanti kita coba beli online. Semoga ada tukang ojol yang mau ngantar,” imbuh Rion, dia memegang tangan Gebri dan mengajaknya masuk melewati lobi.
Salah satu resepsonis spontan berdiri saat mereka menghampiri. Wanita berseragam putih sedikit mengernyit heran sebelum memberikan senyum ramah, “Ada yang bisa dibantu Mas?”
“Ada kamar kosong mbak?”
Wanita itu memperhatikan ke komputer yang ada di bawahnya, terhalang meja resepsonis setinggi dada orang dewasa. “Ada Mas? Untuk satu kamar atau dua kamar Mas?”
“Satu kamar aja Mbak, yang Queen bed.”
"Baik Mas," sahutnya sambil mulai mengoperasikan komputerdi depannya.
Setelah seluruh administrasi selesai dan mendapatkan kunci bernomor 303, Rion da Gebri segera menuju kamar yang mereka sewa menggunakan lift. Gebrilah yang mandi terlebih dahulu karena Rion yang menyuruhnya. Mereka menghabiskan malam itu dengan berbincang-bincang sambil menatap jendela, memperhatikan rintik hujan yang tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Dan menjelang subuh, suara bel di kamar mereka tiba-tiba terdengar. Rion yang tiba-tiba terbangun seketika melepaskan pelukannya ke tubuh Gebri, lantas bangun dari kasur. Dengan ogah-ogahan karena masih mengantuk, dia berjalan menuju pintu. Keningnya kontan mengerut tajam saat melihat dua orang laki-laki berpakaian PDL berwarna khaki tua kehijauan, dan di dada mereka terdapat tulisan polisi pamong praja.
Terima kasih sudah membaca. Mohon kritik dan sarannya. Dan please vote, comment, like, and rate nya. Nantikan terus kelanjutannya.
__ADS_1