Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 17.1


__ADS_3

"Mas Rionnya ada?" ulang Titania sambil melihat ke belakang Gebri, berharap sosok yang sedang dicarinya berdiri di sana.


“Ehm, ya... Mas Rionnya ada di dalam,” jawab Gebri.


“Aku boleh masuk, kan?” Tanpa menunggu sahutan Gebri, Titania menyelonong melewati pintu, melangkah memasuki ruang tamu dan ruang tengah sebelum berakhir di ruang makan. Bibirnya menampakkan senyum lebar melihat Rion yang sedang duduk di atas kursi seraya menatap layar ponselnya. “Mas Rion!” panggilnya sambil menghampiri.


Kepala Rion lantas menengok ke sumber suara. “Titania?”


“Bolehkan aku nebeng sama Mas Rion ke kampus?” pinta Titania dengan wajah memelas, sekali-kali menyelipkan anak rambut di belakang telinganya. "Mobilku tiba-tiba nggak bisa nyala, mungkin mogok."


Rion melirik ke Gebri yang persis di belakang Titania. Perempuan itu mengangguk pelan.


“Bolehkan Mas?” ucap Titania, dia semakin memasang wajah mengiba.


Sekali lagi Rion melirik Gebri. “Ehm, ya,” jawabnya, sedikit terpaksa karena lagi-lagi Gebri mengangguk. Sejujurnya dia enggan, bukannya karena dia membenci Titania, hanya saja dia merasa kesenangan pasti akan terganggu. Padahal tadi dia sudah berencana akan melakukan beberapa hal yang iya-iya setelah ini, masih ada setengah jam. Mereka masih bisa memadu kasih sebelum mereka berangkat ke kampus.


“Mau pergi sekarang atau gimana Mas?”


“Aku ambil tas dulu,” sahut Rion dengan menatap Gebri. Dengan isyarat matanya, dia menyuruh Gebri untuk mengikuti.


“Ehm bentar ya, aku juga harus ambil tas,” pamit Gebri, bagaimana pun Titania adalah seorang tamu yang harus diperlakukan dengan baik.


"Cepat ya!" sahut Titania sebelum Gebri melangkah mendekati undakan tangga yang sudah didahului Rion.


Tepat di undakan teratas, Gebri menoleh sebentar ke bawah, dilihatnya Titania yang sedang memperhatikan sekeliling ruang makan tersebut, seolah sedang menilai-nilai. Kemudian Gebri kembali berjalan dan memasuki satu-satunya kamar di lantai dua. Rion langsung menarik tangan Gebri dan melingkarkan sebelah lengannya di pinggang cewek itu saat pintu kamar baru saja tertutup. Sedangkan tangan kanannya memegang tengkuk Gebri. Dia menyatukan bibirnya dan bibir Gebri, sedikit memberikan gigitan kecil. Sementara Gebri sempat terlena sebelum mendorong dada Rion. Mereka tidak seharusnya seperti ini ketika ada seseorang yang sedang menunggu di bawah.


“Mas, lepas... Kita harus siap-siap,” tutur Gebri di sela-sela Rion yang masih memaksa untuk mencumbunya.


Rion mengeram kasar. Napasnya masih memburu, dadanya kembang-kempis, sisa-sisa dari pagutan bibir mereka tadi. “Aku... masih pengen, masih belum puas,” tukasnya.


“Tapi Titania sudah menunggu kita.” Jemari Gebri mengelus lembut rahang Rion, mencoba menenangkan. “Ayo kita turun!” Dilepasnya lengan Rion dari pinggangnya, lalu mengambil tas selempangnya yang tergeletak di atas meja rias. Dia juga mengambil tas Rion yang ada di atas bufet di samping TV dan menyodorkan ke pemiliknya.


Sementara Rion masih bergeming, tubuhnya menjadi sedikit kebas karena tidak bisa menyalurkan hasratnya yang sudah di ujung. 

__ADS_1


Gebri yang sudah di depan pintu, terpaksa membalikkan badan dan mendekati Rion lagi. “Nanti malam kita bisa menyambungnya,” ucapnya, membujuk. Diciumnya sedikit pipi Rion.


“Tapi aku mau sekarang,” sahut Rion dengan nada manja dan suara serak. Hasratnya benar-benar sudah di ujung, celananya bahkan terasa semakin sesak. “Kita bisa melakukan dengan cepat,” bujuknya dengan jemari yang hendak merayap ke kancing kemeja biru Gebri.


“Kasihan Titania menunggu kita di bawah,” ujar Gebri sambil menahan tangan Rion. Dia kembali memberikan ciuman singkat sebelum melangkah keluar kamar.


Rion mengumpat kecil sebelum uring-uringan menyusul Gebri. Dia tak mengucapkan apa-apa tatkala sudah berhadapan dengan Titania, justru dia langsung menyelonong menuju pintu.


“Gue di depan ya!?” kata Titania yang sedikit menggeser Gebri yang telah memegang gagang pintu mobil.


Rion spontan mengerutkan kening ketika mendapati Titania yang duduk di sampingnya. Kepala menoleh ke belakang, memberikan tatapan tajam ke Gebri sebagai bentuk protes. Mengapa wanita itu mengizinkan untuk duduk di depan?


“Nggak papa, kan, kalau aku duduk di depan?” tanya Titania.


Rion hendak menentang, karena menurutnya yang pantas duduk di sana hanyalah Gebri yang merupakan istri sahnya. Namun Gebri sudah mendahului.


“Iya, nggak apa-apa,” balas Gebri.


>_<


“Makasih ya Mas,” ucap Titania sambil menyelipkan beberapa helai rambutnya di telinga. “Dan nanti, aku boleh nebeng lagi, kan?”


Rion tak membalas. Raut wajahnya terlihat datar.


Titania memegang tangan Rion yang ada di atas kemudi. “Sekali lagi, makasih ya Mas.”


Rion buru-buru menjauhkan tangannya. “Ya,” sahutnya singkat.


Setelah Titania turun dan menutup pintu, Rion menatap Gebri dari kaca spion di depannya. Kemudian dia mengendarai mobil tanpa mengucapkan apa-apa, melanjutkan perjalanan. Begitu sampai di parkiran fakultas Ekonomi, Rion keluar dari mobil terlebih dahulu dan langsung pergi, tidak menunggu Gebri seperti biasanya.


Koning yang baru saja memarkirkan sepeda motornya, sedikit mengernyit heran melihat ekspresi Rion yang menegang dan tak bersahabat. Laki-laki itu juga tak menyapanya, padahal selama ini Rion sedikit berbasa-basi, menghargai dirinya sebagai teman akrab sang istri. Kenyitan di keningnya semakin terlihat saat melihat ekspresi di raut muka Gebri terlihat muram. Dia juga berulang kali mengembuskan napas panjang.


“Kenapa? Bang Rion masih marah?” Seingatnya dari cerita Gebri malam tadi, Rion memang sedang marah dengan cewek itu. “Kamu nggak ngikutin saranku?”

__ADS_1


“Sudah,” lirih Gebri dengan malu-malu.


“Tapi kok wajah Bang Rion kayak tadi?”


Gebri mengedikkan bahu. “Entahlah.”


“Apa karena dia masih belum puas?” duga Koning.


“Ehm, mungkin,” Gebri menjawab ragu-ragu. Pagi tadi Rion memang mengatakannya, tapi masa iya, hanya karena itu Rion menjadi marah. Lagian dia juga sudah berjanji akan melanjutkan nanti malam.


“Eh, eh, tahu Mama Ella nggak?” Koning mensejajarkan langkahnya dan Gebri.


“Mama Ella? Siapa dia?”


“Itu lho, paranormal yang sedang hitz saat ini, gara-gara ramalannya sering terbukti benar,” terang Koning, dia sedikit menaikkan tali tote bag-nya.


“Memangnya ada apa?”


“Dia meramalkan kalau ada artis yang berinisial R dan N yang bercerai karena pelakor. Apa mungkin itu Raffi dan Nagita ya?”


“Mungkin saja,” sahut Gebri yang terdengar tak tertarik.


“Zaman sekarang, pelakor memang sedang marak-maraknya, dan pelakor-pelakor sekarang sudah banyak yang tak punya urat malu,” gerutu Koning yang terdengar kesal. Dia tiba-tiba merogoh tas merahnya, mengambil ponsel dan berkutat sebentar dengan layarnya sebelum menunjukkannya, “Nih, contohnya!”


Janda Muda, Dita labrak istri kekasihnya di depan rumah, baca Gebri dalam hati.


“Kamu harus jaga Bang Rion baik-baik. Meskipun Bang Rion mem-bucin banget sama kamu, tapi siapa tahu dia juga bisa tergoda. Sekarang para pelakor banyak tipu muslihatnya,” ucap Koning mewanti-wanti. “Mamaku juga hampir saja menjadi korban pelakor, tapi untunglah Papaku masih kuat iman. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas bagaimana wajah perempuan itu. Dia pernah mendatangi rumah kami," lanjutnya.


"Kok kamu bisa tahu kalau perempuan itu pelakor?"


MAAF YA LAMA UPDATE, SOALNYA BEBERAPA HARI INI SEDANG MALES 😅😅😅😅


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. MOHON KRITIK DAN SARANNYA.

__ADS_1


__ADS_2