
Sabtu sore, 16 April 2011
Kejadian di minggu ketiga itu ternyata membuahkan hasil, menampakkan akibat dari sebab yang telah dilakukan. Bak kata pepatah yang sering orang terdahulu ucapkan: terpijak benang arang, hitam telapak. Barang siapa yang berbuat kesalahan, maka dia sendirilah yang menanggung akibatnya. Dan disinilah Gebri bersama sang Bunda berada, di ruang tamu berinterior megah keluarga Fernandez setelah sebulan lebih sejak dia memberitahukan kepada Rion tentang sesuatu yang tumbuh di dalam perutnya.
Kepala Gebri tak berani mendongak, sangat merasa terintimidasi dari dua pasang mata suami istri yang duduk di depannya. Apalagi kepala remaja bermata setajam elang itu juga tertunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sedangkan aura di ruangan tamu–yang dahulu sempat membuat Gebri terpukau–semakin menegangkan. Ditambah lagi, Rasti tampak teguh dengan permintaannya, sebuah permintaan dari bentuk pertanggungjawaban yang memang patut untuk dituntut dan dipertanggungjawabkan.
Dua hari yang lalu, Rasti mengajaknya ke dokter, lebih tepatnya memaksa Gebri untuk mendatangi salah satu klinik terdekat. Beliau sering melihat Gebri muntah-muntah di pagi hari dengan wajahnya yang sering memucat. Awalnya Gebri mencoba menolak, tapi Rasti terus mendesak dan akhirnya mau tak mau dia harus memenuhi keinginan wanita paruh baya itu, hingga rahasia tentang sosok bernyawa yang telah bersemayam di perutnya terbongkar dan kontan membuat Rasti terpaku di tempat duduknya yang persis di depan seorang wanita berjas putih.
“Yon, bawa Gebri ke halaman belakang!”
Kepala Gebri sedikit terangkat, menolehkan ke arah sumber suara yang keluar dari satu-satunya laki-laki dewasa di ruangan berkelas itu. Rion tampak sedikit mengangguk kepala sebelum berdiri dan melangkah kaki tanpa menoleh ke arah Gebri.
“Pergilah!”
Suara lembut sang Bunda menyadarkan gadis beralis tebal itu dari keterpakuannya menatap kepergian Rion, kemudian berpamitan dan menyusul laki-laki yang hari ini menggunakan celana training bermerek Adidas dan kaos oblong hitam.
Mereka sama-sama terdiam, dengan kepala tertunduk, seolah menganggap lantai keramik pinggir kolam renang ini lebih menarik di mata mereka. Waktu terus bergulir, tapi dua muda mudi berlawanan jenis itu masih bungkam. Sekali-kali terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut mereka. Sebenarnya Gebri ingin bertanya banyak hal, tentang pendapat Rion atas benih hasil dari kegiatan terlarang mereka, tentang tindakan yang seharusnya dia–bukan hanya dia, tapi mereka–untuk mengatasi masalah besar ini, pula tentang masa depan mereka yang pasti sudah tidak sesuai lagi dengan rencana yang sudah disusun. Tapi tidak tahu kenapa bibir ini terkunci. Rapat. Membiarkan keheningan yang menguasai.
“Geb, kita pulang sekarang!” Tiba-tiba Rasti sudah berada di samping mereka, dengan wajah penuh khawatir dan ponsel yang masih tergenggam.
“Kenapa, Bun?”
__ADS_1
“Adikmu ditabrak mobil. Kita harus ke rumah sakit sekarang.”
Gebri kontan bangkit dari kursi santainya, tanpa pamit bahkan tidak memandang ke arah Rion, dia langsung mengikuti wanita berkacamata yang berjalan tergesa-gesa. Saat melewati ruang tamu, kedua orang tua Rion terlihat masih duduk dengan tatapan bingung. Gebri sedikit menganggukkan kepala sebagai bentuk kesopanan. Walaupun hubungan mereka bisa dikatakan sangat tidak baik, orang tua tetaplah orang tua yang harus dihormati.
Setelah sedikit terjebak macet mengingat malam ini merupakan malamnya anak muda, Gebri dan Rasti akhirnya telah sampai di lobi rumah sakit dan langsung menuju bagian administrasif dan umum, bertanya tentang letak kamar Galang ke salah satu perempuan bersanggul, dan berita disampaikan wanita berseragam dominan putih itu sontak mengguncang hati beserta otak mereka. Sungguh tidak menyangka–padahal sebelum ditinggal di salah satu rumah tetangga, bocah berusia dua belas tahun itu tampak senang bermain dengan Angga yang juga merupakan teman akrab di sekolahnya–akan menjadi korban tabrak lari dari orang yang tak bertanggungjawab.
Bagi kebanyakan orang, juga Gebri dan bundanya, ruangan ICU atau Intensive Care Unit itu merupakan ruangan yang sangat menyeramkan, dihantui dengan ketakutan akan malaikat maut yang siap siaga untuk menjemput. Ketika sampai di ruangan yang di-setting cukup jauh dari hiruk-pikuk pengunjung, seorang laki-laki baru saja keluar dari balik pintu dan Rasti langsung menghampirinya. Mereka saling bercakap-cakap, tampak sekali-kali Rasti menunjukkan wajah tegang dan penuh khawatir, dan sesaat kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan si dokter.
“Bunda! Bunda!”
Gebri mencoba memanggil wanita itu sebelum menghilang di balik tingkungan. Dia mencoba menyusul, tetapi bundanya sudah tidak terlihat lagi. Akhirnya Gebri memutuskan untuk kembali ke depan ruangan ICU, duduk di salah satu kursi tunggu teralis. Hampir tiga jam kemudian, Rasti telah kembali dengan mimik wajah penuh kelegaan. Tapi saat kedua bola matanya menatap manik mata Gebri, aura bersinar yang tadi melingkupinya mendadak berubah suram. Bahkan wanita berkacamata itu dengan cepat memutuskan kontak mata diantara mereka.
“Bagaimana keadaan Galang, Bun? Apakah dia baik-baik saja?”
Sebenarnya Gebri kembali ingin bertanya, namun segera diurungkan dengan kening berkerut. Heran. Tidak biasanya Rasti bersikap seperti ini, tampak dingin dan terkesan seperti muak melihat wajahnya. Padahal beliau adalah sosok ramah yang suka nyinyir dengan berbagai topik yang bisa diceritakan, layaknya seperti ibu-ibu rumah tangga yang lain. Tetapi Gebri mencoba berpikir positif. Mungkin wanita paruh baya yang sedang menundukkan kepalanya itu sedang harap-harap cemas, anak laki-lakinya yang telah dibesarkan seorang diri itu sedang berjuang untuk hidup, jadi wajar sikap tak lazim seperti itu tiba-tiba timbul.
Tiba-tiba kepala Rasti yang tadi tertunduk dengan gelutan pikiran yang memenuhi benaknya sedikit terangkat, menatap wajah Gebri dengan mata berkaca-kaca, dan kemudian berkata dengan sedikit lirih, ”Bunda berharap kamu merahasiakan siapa ayah janin itu. Bunda tidak ingin lagi berurusan dengan keluarga Fernandez.”
Gebri ingin bertanya, ”Kenapa?” tetapi yang keluar dari mulutnya justru kata, “Baiklah.”
Hening. Tidak ada lagi pembicaraan yang terjadi hingga seorang laki-laki bertubuh sedikit tambun keluar dari ruangan di depan mereka. Dan hubungan Gebri dengan sang Bunda mulai berubah sejak hari itu. Rasti tidak pernah lagi tersenyum kepadanya, bahkan setiap ucapan selalu dibalas dengan jawaban singkat atau sekedar anggukan ataupun gelengan kepala. Rasti juga selalu terkesan enggan untuk berada di satu ruangan yang sama dengan Gebri dan gadis berbibir tipis itu pun mulai menyadari, menyimpulkan bahwa semua tindakan bundanya adalah bentuk kebencian atas perbuatan dosanya, dosa yang mungkin tak termaafkan karena sudah hamil di luar nikah dan membuat nama besar keluarganya ternoda.
__ADS_1
^_^
Sungguh, Gebri ingin meneriakkan kalau anak dalam rahimnya ini adalah anak dari Rion Michael Fernandez. Agar tak hanya dirinya saja yang dipersalahkan, ditatap dengan tatapan rendah dan penuh hina, diperlakukan bak sampah busuk yang harus dihindari. Namun janji kepada Rasti beberapa hari yang lalu menjadi rantai yang begitu menjeratnya, memaksa untuk selalu menutup mulut agar nama laki-laki itu tidak terlontar keluar.
Sementara sang pelaku lain yang seharusnya juga ikut andil merasakan segala bentuk cemoohan yang didapatkan Gebri, hanya melihat dari kejauhan tanpa bertindak apapun. Awalnya dia tak menduga kalau Rion akan bersikap seperti ini, bersikap seperti laki-laki pecundang. Tapi hati seseorang memang tak bisa ditebak, tak ada yang tahu kecuali sang Pencipta, dan menurut Gebri hanya ada dua alasan kenapa laki-laki remaja itu bisa meninggalkannya seperti ini. Rion masih muda, masih berusia belasan dan tanggung jawab terhadap Gebri dan bayinya akan menjadi beban. Lagipula siapa juga yang akan melepaskan segala kemewahan yang didapatkan dengan mudah? Tidak ada, begitupula dengan Rion.
Gebri juga tahu banyak akibat yang akan diterimanya karena perbuatan terlarang hari itu, tapi keputusan kepala sekolah sangat membuatnya terpukul. Padahal dia sangat berharap pihak sekolah sedikit memberikan toleransi, menimbang kalau tiga hari lagi sekolah mereka akan mengadakann Ujian Nasional. Gebri mencoba memohon, mengharapkan belas kasihan, tapi mungkin kali ini Tuhan sedang marah kepadanya. Permohonan itu tak digubris sedikit pun.
Bunda, sosok itulah harapan terakhirnya. Namun sekali lagi kekecewaan itu harus menggerogoti hati Gebri. Rasti memang bertindak, pergi ke sekolah dan menghadap Pak Rohman yang merupakan kepala sekolah di SMP 216 Jakarta, tapi hasil yang diperoleh tetap sama. Dia tidak boleh ikut Ujian Nasional karena alasan telah mempermalukan pihak sekolah dan Gebri hanya bisa memasrahkan dirinya, menerima semua akibat-akibat yang datang silih berganti.
^_^
“Mau ke mana, Mbak?” tanya Galang tatkala melihat Gebri di depan teras.
Gebri menghentikan sebentar memasang sandalnya. “Mbak mau beli rujak buah.”
“Biar aku yang belikan, Mbak,” tawar Rion seraya bangkit dari bangku rotan yang terletak di depan jendela.
“Jangan. Mbak beli sendiri saja. Lagian tempatnya juga dekat dari sini.”
“Tapi—”
__ADS_1
“Mbak pergi dulu. Jaga rumah sebentar!” ucap Gebri yang segera bergerak menjauh.
Selama masa kehamilannya, Gebri selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri, baik dari memenuhi keinginan sang bayi hingga kegiatan seperti pergi ke dokter kandungan. Sebisa mungkin dia tidak ingin merepotkan bundanya, apalagi hubungan dengan Rasti pun semakin memburuk. Mereka sangat jarang berbicara kecuali memang diperlukan. Beberapa keluarga dari pihak almarhum ayah dan bundanya pun mulai tak respek lagi. Para tetangga juga mulai mencemooh dan memaki sekarang. Bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran, Rasti dan Galang pun ikut terimbas akibat perbuatan aibnya.