
**YUK GABUNG DI GRUP ALSAEIDA!
DI SANA KAMU BISA MENGETAHUI PROSES PENULISAN KARYA-KARYA ALSAEIDA
😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄😄**
Mendengar suara Bik Sumi, Gebri spontan mendorong tubuh Rion. Kepalanya menunduk ke bawah, tak berani mendongak. Merasa malu karena kepergok lagi. Sementara Rion tampak biasa-biasa saja.
“Iya Bik, makasih,” sahut Rion.
“Kalo begitu, saya ke belakang dulu, Den,” ujar Bik Sumi sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ruang tengah tersebut.
“Aku akan siapkan cemilan untuk teman-temanmu,” ucap Gebri.
Dia segera pergi menuju dapur. Sementara Rion bangkit dari sofa dan segera menuju ruang tamu. Ditemukannya sosok Kharisma, Asep, Dani, Lisa, dan Cintya sudah duduk di atas sofa bertipe cabriole itu.
“Kok cepet banget kalian ke sini?” tanya Rion, dia mendudukkan tubuhnya di sofa single yang berdekatan dengan Asep.
“Iya, memang sengaja. Takut hujan nanti,” sahut Kharisma. Di luar, langit memang terlihat sedikit kehitaman. Mendung. Beberapa menit lagi mungkin akan turun hujan. Dan berhubungan diantara mereka tidak ada yang memiliki mobil, mereka memutuskan untuk pergi lebih awal.
“Gebri ke mana, Yon?” tanya Lisa.
“Di dapur. Katanya lagi nyiapin cemilan buat kalian.”
“Horeee...,” celetuk Asep girang. “Gebri memang istri idaman banget. Tahu aja kalau kita-kita sedang butuh asupan di akhir bulan.”
“Pucuk di cinta ulam tiba,” tukas Dani saat melihat Gebri dan Bik Sumi yang datang. Sebenarnya alasan lain mengapa dia dan teman-temannya cepat datang dan selalu mengerjakan tugas kuliah di rumah ini, karena tuan dan nyonya rumah sangat menjamu mereka dengan baik. Mereka sering mendapatkan makanan gratis di sini.
Gebri membawa sebuah napan yang berisi cheese cake yang tadi dibuatnya dan sudah dipotong-potong. Sedangkan Bik Sumi membawa napan berisi sebuah teko besar lengkap dengan gelas-gelasnya. Mereka meletakkan isi napan tersebut di atas meja.
“Silakan dinikmati,” ujar Gebri mempersilakan.
“Terima kasih Geb,” sahut Lisa dan Asep berbarengan.
“Yang, makan siang udah siap?” tanya Rion.
Kepala Gebri mengangguk. “Sudah.”
“Kita makan siang dulu ya, baru ngerjain tugasnya,” ajak Rion sebelum berdiri dan berjalan menuju ruang makan.
“Horeee...,” sahut Asep berteriak senang sambil mengikuti langkah Rion, disusul Kharisma dan Dani. Inilah yang mereka tunggu-tunggu dan alasan sebenarnya mengapa mereka datang di siang hari saat-saat makan siang seperti ini.
“Yuk Mbak!” ajak Gebri ketika melihat Lisa dan Cintya yang masih duduk di tempatnya.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Lisa dan Cintya berdiri dan mengikuti Gebri memasuki ruang makan. Keempat laki-laki tersebut sudah mengambil posisi masing-masing. Rion duduk di tempat biasa, di dekat pintu yang menghubungkan dengan dapur. Di samping kiri Rion, secara berturut-turut telah duduk Asep, Kharisma, dan Dani.
“Silakan Mbak! Nggak usah malu, anggap saja rumah sendiri,” tutur Gebri mempersilakan.
Memang ini pertama kalinya Lisa dan Cintya datang ke rumah mereka. Kata Kharisma, sebelum menikah Rion tidak pernah mengizinkan teman-teman perempuannya datang ke rumahnya. Kalau ada tugas kelompok yang anggotanya ada perempuan, mereka selalu memilih lokasi publik, seperti kafe atau perpusatakaan. Sementara ketiga cowok tersebut, terutama Kharisma dan Asep, mereka sudah biasa datang ke sini. Hanya saja, sejak Rion menikah dengan Gebri, mereka mengurangi intensitas kunjungan mereka.
“Yuk makan, mumpung gratis!” Asep berujar dengan gembira.
“Kamu mau makan yang mana?” tanya Gebri setelah mengisi nasi ke dalam piring Rion.
“Ayam sama sayur tumisnya,” jawab Rion.
Gebri langsung sigap mengambil keinginan Rion. Dia juga menuangkan air putih ke dalam gelas untuknya. Sejak menikah, Gebri memang mulai membiasakan kegiatan-kegiatan ini. Dia ingin melayani Rion di meja makan seperti yang telah dilakukan Bundanya kepada almarhum ayahnya dulu. Setelah itu baru dia mengisi nasi dan lauk-pauk ke piringnya.
“Jadi kapan nih kami dapat keponakan?” tanya Kharisma di sela-sela menyuapkan makanannya.
Masih dengan mulut penuh, Asep mengangguk menimpali. “Iya nih. Kapan?”
“Doakan saja. Sekarang sedang usaha,” sahut Rion sebelum memasukkan potong kecil ayam gorengan ke mulutnya.
“Sedang usaha keras ya Yon?” Asep terkekeh-kekeh kecil. “Pantes aja leher Gebri banyak tanda cupangnya,” lanjutnya dengan tawa keras.
Gebri refleks memegang lehernya dengan muka yang memerah. Rion kontan menoleh ke leher wanita itu, ingin memastikan ucapan Asep. Mereka sudah tiga hari tidak berhubungan intim dan membuat Rion sedikit uring-uringan. Gebri sedang datang bulan. Dan seingatnya tadi saat di ruang tengah, dia hanya mencumbu bibirnya saja.
^_^
“Nonton ke XXI yuk,” ajak Lutfi.
Gebri mendongakkan kepalanya, menatap Lutfi sebelum menoleh ke Koning yang duduk di sampingnya. Cewek itu sedang memasukkan buku dan peralatan tulisnya di dalam tas. Mata kuliah terakhir hari ini baru saja selesai.
“Boleh deh. Memangnya mau nonton apa?” ucap Koning.
“Rencananya mungkin mau nonton US.” Lutfi menoleh ke Gebri sebelum berujar, “Kamu ikutan juga yuk, Geb.”
“Aku mau sih, tapi aku belum izin sama Mas Rion.” Setelah mereka menikah, Gebri juga mengubah panggilan Rion dengan tambahan Mas. Selain karena Rion lebih tua beberapa bulan darinya, panggilan tersebut juga sebagai bentuk penghormatannya sebagai seorang istri kepada suami. Sementara Rion memanggilnya dengan panggilan Sayang, Honey, atau Beib. Semula Gebri tampak tak nyaman dan sedikit malu dengan panggilan tersebut, terutama saat Rion memanggilnya di depan umum. Tapi lama kelamaan, dia mulai terbiasa.
“Izin pake WA aja. Aku yakin Bang Rion ngasih izin kok. Kan kamu perginya sama aku,” saran Koning.
“Bang Rion pasti ngizinin. Lagian sejak menikah, kamu juga udah lama nggak hangout bareng kita-kita,” timpal Lutfi.
Setelah berpikir cukup lama, Gebri akhirnya mengangguk. “Oke deh.”
Tangan Gebri segera merogoh ke dalam saku tas selempang dan mengambil ponselnya. Dia segera mengirimkan pesan untuk sang suami. Kemudian dia mengikuti Koning dan Lutfi yang sudah berdiri dari bangku masing-masing. Ternyata tidak hanya mereka bertiga pergi, beberapa teman di kelasnya juga ada ingin ikut, mengingat hari ini adalah hari sabtu dan besok libur.
__ADS_1
Film US bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki seorang anak bernama Adelaide Wilson yang rumahnya didatangi empat orang asing bertopeng dan memaksa keluarga mereka untuk menyelamatkan diri. Gebri, Koning, Lutfi, dan kelima temannya terhanyut dengan setiap adegannya, begitu menegangkan. Hingga tidak terasa, dua jam sudah berlalu. Langit biru sudah berubah menjadi gelap dan bertabur bintang-bintang.
“Mau langsung pulang atau mau makan-makan dulu?” tanya Koning setelah keluar dari pintu bioskop.
“Aku mau langsung pulang—“
“Geb, ini dari Bang Rion,” potong Lutfi sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan nomor tanpa nama yang tak asing lagi di matanya.
Ragu-ragu Gebri menerimanya. Dia heran kenapa Rion justru meneleponnya dengan ponsel Lutfi. “Halo,” ujarnya.
“Di mana?” tanya Rion yang terdengar sangat dingin.
“Di-di XXI,” jawab Gebri yang entah mengapa menjadi terbata-bata.
“Tunggu aku di sana,” ucap Rion sebelum panggilan tersebut berakhir.
“Kenapa?” tanya Koning penasaran.
“Mas Rion mau nyusul ke sini,” sahut Gebri sambil menyerahkan ponsel dengan logo apel tergigit itu kepada pemiliknya.
“Tapi kenapa Bang Rion nelpon ke nomorku?” Alis Lutfi terangkat, sedikit heran. Selama ini dia tidak pernah berinteraksi dengan laki-laki itu.
"Mungkin karena HP-ku mati," tukas Gebri sambil melihat ponselnya. Dia sungguh tak menyadari sejak kapan ponsel itu mati. Di dalam bioskop tadi, dia terlalu fokus menatap layar besar di depannya dan tidak sekalipun dia menyentuh benda segiempat tersebut.
“Baterai HP-ku juga habis,” tukas Koning yang juga sedang melihat ponselnya. Ini juga mungkin alasan lain kenapa Rion justru menelepon Lutfi, bukan Koning yang sering bersama Gebri.
“Berarti kamu nggak ikut kami makan-makan, kan?” tanya Lutfi memastikan lagi.
Gebri mengangguk, “Iya. Aku harus pulang sekarang.”
“Kamu Kon?”
“Aku ikut kalian deh,” balas Koning.
Gebri dan teman-temannya berpisah di parkiran. Dia segera menuju ke pintu masuk gedung. Hampir kurang dua puluh menit Gebri menunggu sebelum mobil berwarna super white berhenti di depannya.
Selama perjalanan menuju rumah, Rion terus mengacuhkannya. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Gebri, Rion hanya membalas dengan gumaman. Sebenarnya ada apa dengan laki-laki itu? Mengapa dia terlihat kesal? Apa Rion marah karena dirinya pergi dengan teman-temannya? Tapi dia kan sudah meminta izin?
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA.
MOHON VOTE NYA DONG!
JUGA LIKE DAN COMMENT NYA!
__ADS_1