
IG: @alsaeida0808
“Bukde, aku pulang dulu ya,” pamitku sambil mengambil tas selempang yang digantung di samping lemari kayu.
“Mau langsung ke Ajimart?”
Kepalaku menggeleng. “Nggak Bukde. Aku masuk jam dua. Aku mau singgah dulu ke suatu tempat.”
“Ini tadi masih ada lauk yang sisa. Kamu bawa saja.” Bukde Rini menyodorkan sekantong plastik hitam. “Hati-hati di jalan,” sambungnya.
Aku menerima kantong plastik itu tanpa ragu. Lumayan bisa menghemat uang makan. “Makasih Bukde,” ucapku.
Setelah perjalanan selama tiga puluh menit dengan menggunakan bus dan melanjutkannya dengan berjalan kaki, akhirnya aku sampai di tempat tujuan, di sebuah toko mainan eceran. Aku melihat-lihat sebentar sebelum memilih sebuah mobil mainan bertuliskan mobil polisi dan meminta dibungkus dengan kertas kado. Semoga dia suka.
Perjalanan kembali berlanjut hingga berhenti di sebuah rumah yang tampak terbengkalai. Aku meletakkan kado itu di depan pintu pagar yang tertutup. Hampir setiap tahun di tanggal ini, aku selalu datang ke sini, meskipun aku tahu semua ini hanyalah kesia-siaan belaka. Namun setidaknya ini sebagai bentuk kalau aku selalu mengingat keberadaanya. Supaya dia tidak kesepian di alam sana. “Selamat ulang tahun, Nak,” lirihku pelan.
Aku mulai berandai-andai. Seperti yang sering kali aku lakukan bila berdiri di sini. Seandainya... Ya seandainya aku tidak melenyapkannya, mungkin sekarang dia sudah berusia tujuh tahun. Dia pasti sekarang sedang tersenyum, senang karena mendapatkan sebuah kado.
Mataku berkaca-kaca dan aku paksakan mukaku menghadap langit, mencoba menahan butir-butir bening yang hendak mengalir.
Seandainya... Kembali aku berandai-andai. Seandainya waktu bisa berputar, atau pihak aparat kepolisian bisa lebih cepat sehari saja menciduk klinik aborsi itu, mungkin El—panggilan untuk bayi kecilku itu—bisa hadir melihat dunia. Atau seandainya aku memiliki sikap lebih berani dan lebih vokal, mungkin aku tidak akan bernasib malang seperti ini.
“Maafkan Mama El dan semoga kita cepat bertemu.” Tanganku mengusap-ngusap pagar dengan sayang seolah sedang mengusap kepalanya. Aku sangat ingin bertemu dengan bayi mungilku itu, bahkan aku pernah mencoba melakukan bunuh diri. Bekas sayatan itu bahkan masih terlihat jelas di pergelanganku. “Maafkan Mama El. Jangan marah lagi sama Mama.” Tiba-tiba aku teringat dengan raut marahnya tadi malam.
“Nanti Mama akan ke sini, membawa hadiah yang...,” tiba-tiba bunyi dari balik saku tas selempang mengalihkan sedikit atensiku, dan dadaku seketika berdebar kencang saat melihat layar. Kenapa sosok itu tiba-tiba menelepon, apakah telah terjadi sesuatu. “Halo Tan,” aku menarik nafas panjang sebelum mengucapkannya. Ada rasa enggan yang begitu besar untuk mengangkat panggilan itu, tapi mengabaikannya adalah kesalahan besar.
“Besok kamu harus ke sini!” tukas suara dari balik telepon tanpa basa-basi atau membalas sapaanku.
“Tapi besok aku ada...,” aku tidak lagi melanjutkan kalimatku karena mendengar panggilan yang diputus secara sepihak. Aku menghembuskan nafas lesu. Wanita paruh baya itu tidak pernah berubah.
__ADS_1
0_<
“Tumben telat Sya. Kamu dari mana?”
“Dari suatu tempat,” jawabku dengan memberikan senyum kecil. Setelah panggilan Tante Ria tiga puluh menit lalu, aku tiba-tiba merasa berat untuk beranjak. Aku menduduk diriku di depan pagar sambil terus berandai-andai, berharap suatu hari ada keajaiban yang datang, mewujudkan semua keinginanku. Atau jika tidak bisa, Tuhan bisa segera mencabut nyawaku. “Mas Yudi ada di ruangannya, La?”
“Ada. Kenapa Sya?”
“Aku mau ngajuin cuti untuk besok.”
“Kok tumben Sya. Baru kali ini aku dengar kamu mau ngajuin cuti, biasanya nggak pernah. Kamu selalu membuat cutimu hangus setiap tahunnya,” Lala menatap keheranan.
“Ada sedikit urusan.”
Lala mengambil clipboard dan mendekapnya. “Kamu mau jaga kasir atau rekap stok barang?”
Lala melenggang senang menuju satu-satunya pintu yang ada di ujung ruangan, dan aku mulai menghitung uang yang sudah ada di mesin kasir seraya menunggu pembeli yang sedang memilih-milih.
“Selamat siang buk, ada lagi yang mau ditambah?” aku berucap dengan senyum lebar dan si pembeli itu menjawab dengan menggeleng. Aku segera memprosesnya. Tidak lupa berujar terima kasih saat menyerahkan barang belanjaannya.
Antrian berikutnya maju. Sebagai seorang kasir yang sudah bekerja selama lima tahun, aku hendak menyapa dengan ramah. Tapi mulutku tiba-tiba membisu tatkala mata ini melihat wajah itu. Detak jantungku berdegup kencang. Dahiku mulai timbul butir-butir keringat. Kepalaku juga terasa sakit, sekali-kali sekelebat bayangan muncul.
“Berapa semuanya?”
Mendengar suaranya, tenggorokanku tiba-tiba terasa asam. Aku berusaha untuk tidak memuntahkannya.
“Berapa?” Sekali lagi laki-laki beralis tebal itu bertanya.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil barang-barang yang dibelinya dan mendekatkan ke mesin barcode scanner. “Se-semuanya de-delapan puluh li-lima ribu.”
__ADS_1
Laki-laki itu menyodorkan uang seratus ribu. “Sisanya buat donasi saja,” ucapnya. Dia mengambil plastik belanjaannya dan melangkah pergi.
Tubuhku langsung terduduk di lantai dengan napas yang memburu dan kepala yang semakin sakit. Aku menutup mulutku ketika merasa sesuatu ingin keluar.
“Keiysha, apa yang terjadi?” Lala datang dengan raut terkejut dan khawatir.
“Aku ti....” Kepalaku semakin sakit, penglihatanku juga memburam sebelum akhirnya menjadi gelap dengan suara Lala yang memanggil namaku.
0_<
Aku mencium bau yang tidak sedap, begitu menyengat, seperti bau alkohol obat-obatan. Aku berusaha membuka mata, tapi terasa sangat lekat.
“Tubuhmu benar-benar nikmat.”
Kelopak mataku spontan terbuka lebar dan retina ini mendapati sosok laki-laki yang sedang berada di atas tubuhku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena di sini cukup gelap dengan pencahayaan hanya dari lampu di luar jendela. Mataku semakin terbelalak saat melihat dada telanjang di hadapanku. Tanganku mencoba mendorongnya, berusaha untuk menjauhkan dari atas tubuhku.
“Ahk!” Aku tiba-tiba berteriak ketika merasa kesakitan di area pribadiku.
“Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini,” ucap laki-laki itu di telinga kiriku sebelum menggigitnya.
Tangisanku pecah. Aku berusaha memberontak, berusaha melepaskan penyatuan yang menyakitkan ini. Aku tidak ingat kenapa aku bisa berada di sini, karena seingatku aku sedang berada di Aji Mart dan sedang menghitung barang pembeli.
“Ahk!” sekali lagi aku berteriak ketika sesuatu menusukku lebih dalam dan terasa sangat menyakitkan, seperti sedang dikoyak paksa. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!” Dengan sisa-sisa tenaga yang semakin melemah, aku terus berusaha melepaskan diri.
Merasa terganggu dengan gerakan tanganku, laki-laki itu mengambil kedua tanganku dan menyatukannya di atas kepala, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, hendak mendekati bibirku. Aku mencoba menghindar, menggeleng-gelengkan kepalaku. Tapi dengan sebelah tangannya yang lain, dia memegang wajahku agar diam.
Mataku menatap horor saat pandangan kami bertemu. Rasa takut semakin menggerogoti. Lalu tiba-tiba cahaya kilat muncul diikuti suara gemuruh dan saat itulah aku dapat melihat wajahnya. Laki-laki itu... Laki-laki yang tadi belanja di tempat kerjaku.
Terima kasih sudah membaca. Semoga selalu sabar untuk menanti 🤭 Jangan lupa like dan comment ya 🙏👍
__ADS_1