Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 6.2


__ADS_3

“Oh iya, hampir saja gue lupa. Perkenalkan gue Riyan, abang satu-satunya nih bocah,” kata Riyan dengan mengulurkan tangan. “Kalo lo nggak mau sama si curut ini, mendingan lo sama gue aja. Gue ganteng dan lo cantik. Kita pasti cocok kalo jadi pasangan,” sambungnya lagi sambil nyengir menggoda.


“Jangan ganggu dia, Bang!” celetuk Rion memberikan tatapan melotot.


Riyan kembali tersenyum-senyum kecil,”Kenapa? Lo cemburu?”


“Diam Bang! Jangan ngomong lagi!” Sekali lagi Rion membelalakan mata elangnya.


Riyan sekonyong-konyong bangkit dari tempat duduknya, memandang ke arah jam  yang terpasang di pergelangan tangan, lalu memandang ke arah laki-laki remaja yang masih sedikit melotot ke arahnya.


“Lo masih lama di sini? Gue masih ada urusan. Mau pulang bareng gue atau lo naik taksi?”


“Naik taksi,” balas Rion cepat.


Riyan sekali lagi menampakkan cengiran, memandang menggoda ke arah Gebri yang tampak gugup dengan wajah memerah merona sementara Rion mendengusan kasar, kemudian dia beranjak menjauh. Ah, gue punya bahan godaan untuk Rion di rumah nanti,batin Riyan dalam hati. Entah mengapa pertemuan dengan gadis–yang terlihat pemalu dan sangat cantik dengan wajah ovalnya–itu membuat Riyan senang, apalagi ada tatapan tertarik yang terpancar jelas dari kedua manik mata adik semata wayangnya itu. Sungguh tidak biasa!


Setelah kepergian Riyan yang mulai menghilang karena hiruk-pikuk para pengunjung, seorang pelayan datang membawa sebuah pizza berukuran reguler berisi enam potong dengan pinggiran pizza berupa stik daging ayam dan keju mozzarella. Makanan sejenis roti bundar yang dipanggang di oven itu sangat menggugah selera, terlihat Rion dan Gebri sangat menikmati hidangan yang tersaji, diikuti beberapa obrolan ringan yang tanpa sadar membuat mereka merasa nyaman, seolah sudah lama berteman, apalagi Gebri tidak secanggung seperti percakapan pertama ataupun pertemuan beberepa menit lalu di Gramedia.


Banyak hal yang Rion dan Gebri perbincangkan, dari cerita konyol yang dilakukan teman-temannya saat di sekolah hingga membahas tentang keluarga. Sebuah deringan ponsel yang berbunyi dari balik tas Gebri menyadarkan mereka. Sudah terlalu lama mereka di sini, sudah satu jam lebih. Sudah saatnya mereka berpisah dan tanpa canggung Rion mengajak untuk bertemu kembali selain di sekolah. Gebri tanpa menunggu lama menjawab permintaan tersebut, dengan anggukan kepala singkat dan rona merah yang menghiasi kedua pipinya.


¬^_^

__ADS_1


Rion tanpa malu-malu menunjukkan ketertarikannya terhadap Gebri. Beberapa kali dia mengajak bertemu di sela-sela kesibukan persiapan menghadapi UN. Dia dan Gebri sering hangout bareng ke Cinema 21, mengunjungi food court- food court yang menawarkan aneka menu variatif, atau mendatangi tempat-tempat yang sedang menjadi tren anak muda saat ini. Tapi saat berada di sekolah, mereka masih tetap bersikap sama, hanya saling menganggukkan kepala saat bertemu di koridor sekolah. Gebri maupun Rion tidak ada mempersalahkan sikap yang seolah tidak dekat itu. Mereka cukup menikmati. Bahkan menganggap memang sebaiknya bertindak seperti itu. Tidak ingin terlalu rempong apabila ditanya teman-teman mereka.


Minggu ketiga di bulan Januari dan kedua kalinya Rion dan Gebri bertandang ke Taman Suropati yang telah direnovasi di awal tahun 2010, sehingga track jalan taman dari batu alam menjadi lebih bersih dan menarik. Ditambah lagi tempatnya sangat strategis yang merupakan pertemuan dari jalan Diponegoro dan jalan Imam Bonjol membuat banyak pengunjung yang datang di kala sore sekedar untuk bermain atau bercengkrama. Namun ada yang berbeda dengan pertemuan hari ini. Rion tanpa ragu-ragu menggandeng tangan Gebri, menyusuri track-track jalan dengan hamparan hijau membentang, bagai menunjukkan pada beberapa pasangan mata bahwa mereka sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Sedangkan Gebri pun tak menolak ataupun menepis tangan dari laki-laki bermata setajam elang di sampingnya. Dara itu menerima semua perhatian dari Rion berikan selama ini.


Sebelum Rion dan Gebri bertemu di tempat janjian dan melancong ke taman yang terletak di kecamatan Menteng ini, awan memang tampak tak bersahabat. Tampak sedikit kehitaman. Tapi tidak mengurungkan sedikitpun niat mereka, hingga akhirnya rintik-rintik itu datang, memaksa para pengunjung pula dua sejoli itu berlari mencari perlindungi. Tak banyak tempat untuk berteduh yang mampu menyembunyikan dari butir-butir air hujan. Beberapa pengunjung banyak yang berlindung di bawah pohon-pohom, semata agar tubuh mereka tidak terlalu basah.


“Lo nggak apa-apa?” tanya Rion yang tampak khawatir melihat Gebri yang mulai tampak menggigil. Hujan semakin lebat membasahi bumi.


“Gue nggak apa-apa kok.”


“Ayo kita ke jalan Imam Bonjol. Semoga ada taksi di sana.”


“Kita singgah ke rumah gue dulu ya, ganti baju dan mengeringkan tubuh lo. Gue takut lo sakit kalau kelamaan basah.”


Tanpa persetujuan Gebri, Rion menyuruh sang supir taksi menuju perumahan elit di kawasan Jakarta Utara. Hanya beberapa menit setelah diterpa macet, pak supir memberhentikan mobilnya tepat di sebuah gerbang berjeruji besi yang menjulang tinggi, sedikit memperlihatkan beberapa pohon palem phoenix sylvestris dan hamparan rumput jepang, serta sebuah gardu satpam. Seorang laki-laki paruh baya berpakaian putih hitam dan memakai payung tampak menghampiri, kemudian membuka pintu gerbang dan mendekat ke arah Rion yang baru saja membuka pintu mobil.


“Den, kok pulang hujan-hujanan? Pak Bambang emangnya nggak jemput, Aden?”


“Pak, bawa payungnya ke sini, Pak!” tanggap Rion tanpa mengindahkan ucapan laki-laki ber-nametag Suparno itu dan menyuruh mendekatkan payung warni-warni tersebut ke arah pintu mobil, kemudian menuntun Gebri keluar dari mobil yang wajahnya sudah tampak pucat dan segera melangkah masuk melewati gerbang.


Gebri tak dapat menyembunyikan rasa kekaguman dengan rumah megah keluarga Fernandez saat menginjak kaki di ruang tamu. Semua interior yang menghiasi setiap sudut ruang tamu terasa mewah, terkesan serba indah dan serba berlebihan. Gebri terus berdecak, sangat terpukau, tidak menyadari kalau Rion telah menuntunnya melewati tangga, beberapa langkah lagi akan berada di lantai dua yang langsung tampak sebuah pintu berwarna coklat tua, dan dapat ditebak siapa pemilik kamar di balik pintu itu  karena ada beberapa tempelan stiker mobil-mobilan di sana.

__ADS_1


Rion segera menuntun Gebri ke kamar mandi, tanpa suara mulai mengatur suhu air menjadi warm.


“Mandilah! Gue akan mencari baju yang cocok untuk lo,” ucapnya sebelum keluar, kemudian menyandarkan tubuhnya ke daun pintu dan menghela napas, mencoba meredam gejolak emosi bergairah yang mendadak datang melanda. Bagaimanapun dia adalah seorang laki-laki remaja yang sedang mengalami masa pubertas, di mana hormon testosteron mulai aktif bekerja dan menumbuhkan ciri seks sekunder yang sering kali mendorong remaja untuk melakukan eksplorasi alat dan fungsi seksual dengan diikuti perasaan kebingungan, ketegangan, kecemasan, perasaan bersalah ataupun berdosa.


Tak ingin masuk terlalu dalam dari pemikiran kotor tentang Gebri, yang tanpa disadari gadis itu telah memperlihatkan lekuk tubuh dari pakaian basahnya yang menempel ketat, Rion menggerakkan kaki menuju lemari yang terletak di pojok kamar, berdiri di depan rak-rak yang tersusun beberapa jenis pakaian, memilih-memilih selembar kaos dan celana pendek yang cocok untuk dara cantik itu.


“Rion!”


Suara dari balik kamar mandi akhirnya terdengar setelah beberapa menit berlalu, dan dua potong pakaian telah di tangan Rion.


“Ada apa?” tanya Rion dengan mendekat ke sumber suara.


“Lo udah dapat baju yang cocok untuk gue?”


“Sudah. Ini sudah gue bawain,” jawab Rion dengan sedikit mengetuk pintu kamar mandi.


Cukup lama tidak ada pergerakan dari pintu sebelum pintu bergeser, menampakkan sebuah lengan berkulit putih mulus yang mengadah. Rion hendak memberikan dua potong pakaian itu, tetapi mendadak terhenti. Hormon yang bergejolak itu benar-benar mengusik pikirannya, mengganggu setiap kerja jaringan otaknya.


Tak mendapatkan apapun, mau tak mau Gebri terpaksa sedikit menongolkan kepala, yang secara tak langsung menunjukkan bagian pundak hingga belahan dada yang baru tumbuh dan seketika membangkitkan hasrat dari remaja di depannya. Rion menarik Gebri keluar, mengarahkan ke tengah ruangan yang terbentang dengan tergesa, dan memenangkan emosi nakal yang bergelora. Gebri pun tak menolak, hanya menuruti semua tindakan laki-laki dengan mata setajam elang yang  menunjukkan tatapan bergairah, seolah mendukung luapan-luapan nakalnya.


Hari itu, di tengah hujan di minggu ketiga di awal tahun 2011, saat beberapa radio maupun angkutan umum masih mendendangkan lagu berjudul Andai Aku Gayus Tambunan,dan mendekati tiga bulan sebelum Ujian Nasional yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia, dua anak muda berusia lima belas tahun telah berani melakukan hal-hal terlarang sebelum waktunya, tak memikirkan dan memedulikan akibat dari sebab yang telah dilakukan. Ini sungguh celaka!

__ADS_1


__ADS_2