Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 19.1


__ADS_3

“Kalau aku nggak datang, mungkin mereka berdua akan dinikahkan lagi,” dengan tawa yang terbahak-bahak, Asep menceritakan.


“Serius?!” Deni memandang wajah Asep antara percaya dan tidak, mengingat selama ini sosok gembul itu sering menceritakan guyonan lucu yang membuatnya dan teman-teman mereka tertawa terpingkal-pingkal. Lantas dia menoleh ke Rion, ingin mendengarkan bantahannya, tapi laki-laki itu justru mendengus kasar.


Kemarin Rion tidak ada pilihan lain, dari panggilan telepon yang dilakukannya ke Kharisma, Asep, dan Deni, hanya Aseplah yang mengangkat. Dia meminta untuk mengambil buku nikahnya dan Gebri di rumah, kemudian mengantarnya. Ah, kalau mengingat kejadian pagi itu, rasanya dia ingin mencak-mencak. Hanya karena KTP-nya berstatus belum kawin dan salah satu satpol PP melihat kartu  mahasiswanya, dia dan Gebri disangka sepasang kekasih yang sedang berbuat mesum di hotel. Tanpa sadar, ingatan Rion mengajak mengulang ke kejadian penggebrekan itu.


“Ada apa ya, Pak?” tanya Rion yang setengah mengantuk.


“Maaf mengganggu waktunya Mas. Kami sedang menggelar operasi penertiban. Jadi bisakah Anda menunjukkan kartu identitas Anda?” jawab laki-laki berkacamata dan bertubuh sedikit tinggi.


“Hah? Ya?” Rion mengucek-ngucek matanya, mencoba membangunkan kesadarannya.


“Tunjukkan KTP-mu!” suruh polisi berkumis dengan suara sedikit membentak.


“Oh...., bentar Pak, saya ambil dulu.”


Kaki Rion melangkah masuk ke dalam kamar, mengambil dompetnya yang diletakkan di atas bufet kecil di samping lampu tidur. Dia sempat menaikkan selimut hingga ke dada Gebri sebelum berjalan menuju pintu.


“Ini Pak!” Rion menyerahkan KTP-nya ke laki-laki berkacamata.


“Itu kartu mahasiswa?” celetuk bapak berkumis sambil melihat slot kartu dompet.


“Iya Pak,” angguk Rion.


“Bisa kami melihatnya?”


Dahi Rion mengernyit, menatap sedikit ganjil ke kedua polisi itu, kemudian dengan ragu-ragu dia menyerahkan kartu dominan kuning tersebut. Mereka membacanya dalam diam sebelum mengembalikan.


“Dengan siapa kamu di dalam?” tanya laki-laki berkumis sambil memasang wajah sangar, kedua matanya memindai penampilan Rion yang memakai kimono handuk. Dia juga melihat ke belakang Rion. “Kamu sama pacarmu, kan? Kalian berdua pasti berbuat mesum di sini, kan?” tuduhnya saat melihat Gebri yang juga berkimono handuk sedang membangunkan tubuhnya.


“Nggak Pak! Saya sama istri saya. Kami sudah menikah,” bantah Rion lantang sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.


“Jangan bohong kamu!” bentak polisi berkumis.


“Saya nggak bohong, Pak. Dia bukan pacar saya, tetapi istri saya.”


“Sebaiknya kamu bangunkan pacarmu dan ikut kami ke kantor,” ucap Bapak berkacamata.


“Tapi Pak—“


“Ikut kami dengan baik-baik atau kami bawa paksa?!” ancam laki-laki berkumis dengan suara yang masih meninggi.

__ADS_1


Rion memutuskan untuk tidak lagi membantah. Menurutnya sia-sia saja, kedua laki-laki itu pasti tidak akan percaya karena KTP-nya yang berstatus belum kawin dan kartu mahasiswanya. Dia beranjak masuk ke dalam kamar, mengambil pakaian Gebri yang digantung di dekat AC. Malam tadi mereka tidak menemukan toko online yang bisa mengantarkan pesanan di malam itu juga. Kemudian dia menyodorkan ke Gebri. Untunglah kemeja dan celana jeans itu sudah kering.


“Apa yang terjadi, Mas?” Gebri melirik ke pintu dimana dua satpol itu sedang berdiri.


“Cepat ganti pakaianmu ke kamar mandi!” suruh Rion.


Gebri tak puas, Rion tak menjawab pertanyaannya. Tapi dia tetap melakukan apa yang disuruh Rion. Dia melirik lagi ke pintu kamar sebelum pergi ke kamar mandi. Sementara Rion mulai sibuk dengan ponselnya. Dia butuh bukti nyata yang menunjukkan kalau dia dan Gebri memang telah menikah, bukan pasangan mesum seperti yang diduga kedua polisi berseragam PDL tersebut dan menunjukkan buku nikah adalah solusinya.


Sudah tiga kali dia menelepon Kharisma, tidak ada panggilan yang terjawab. Lalu dia menelepon Deni. Cowok itu tidak juga mengangkat, mungkin masih bergelung di atas kasur. Dia memutuskan untuk menelepon Asep meskipun dia sedikit pesimis. Si gembul itu sangat susah untuk dibangunkan. Kalau ada jadwal kuliah jam tujuh pagi, dia selalu telat datang atau titip absen. Dia juga nggak mungkin meminta Bik Sumi, tidak ada yang bisa mengantarkan wanita paruh baya itu. Bik Sumi juga tidak pandai menggunakan aplikasi gojek online.


“Halo!” sahut Asep di dering panggilan kedua.


Rion menghela napas lega. Akhirnya.


“Halo!” ujar Asep lagi saat dia tidak mendengarkan apa-apa.


“Bisa kamu ambilkan buku nikahku di rumah.” Cukup lama tidak ada sahutan. Rion melihat layar ponselnya, panggilan telepon masih tersambung. “Asep!” panggilnya dengan setengah berteriak.


“Ini... ini siapa?” lirihnya setengah tidak sadar.


“Ini aku, Rion.”


“Tolong ambilkan buku nikahku di rumah dan antarkan. Nanti aku kirim alamatnya.”


“Buku Nikah?”


“Aku tunggu segera ya,” ucap Rion sebelum memutuskan panggilan mereka dengan terpaksa. Bapak berkumis baru saja meneriakinya, menyuruh untuk lebih cepat.


Beruntunglah sebelum dia dan Gebri dibawa ke kantor polisi, Asep sudah datang. Rion dengan bangga menunjukkan buku nikah tersebut, tapi bapak berkumis tampak tak percaya. Rion tak mau peduli, yang penting mereka berdua sudah bebas sebagai tersangka pasangan mesum. Malam itu, selain mereka, ada lima pasangan lain yang digebrek. Rata-rata mereka adalah mahasiswa, bahkan salah satu dari mereka merupakan mahasiswa di kampus yang sama.


“Tapi ngapain kalian nginap di hotel?” tanya Kharisma, membuyarkan lamunan Rion.


“Mungkin bosen indehoy di rumah.” Asep tertawa lebar.


Rion tak berniat menanggapi, justru dia berdiri.


“Mau ke mana, Yon?” tanya Deni sedikit heran, baru sekitar lima belas menit lalu Rion datang ke kosan Kharisma ini.


“Mau ngubah status KTP jadi kawin,” jawab Rion yang spontan membuat ketiga laki-laki tersebut tertawa terbahak-bahak.


>_<

__ADS_1


“Kok sudah pulang, Mas? Nggak jadi kuliah?” ujar Gebri keheranan, padahal baru sekitar tiga puluhan menit lalu laki-laki berkemeja kotak-kotak itu berpamitan ke kampus. Dia bahkan belum beranjak dari sofa ruang tengah, masih dengan aktivitasnya menonton TV.


Rion menyambut uluran tangan Gebri yang menjadi kebiasan mereka, membiarkan sang istri menyalami sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang. “Dosennya mendadak nggak bisa masuk,” jawabnya sambil duduk di samping Gebri.


“Mau aku ambilkan minum, Mas?”


Kepala Rion menggeleng, “Nggak usah.”


Gebri kembali fokus menatap layar LCD di depannya, menampilkan reality show dari eksperimen sosial tentang kepedulian orang-orang sekitar. Tiba-tiba dia sedikit tersentak merasa tangannya ditarik, memaksa tubuhnya untuk naik ke pangkuan laki-laki di sampingnya. Rion melingkarkan sebelah lengannya di pinggang Gebri, memenjarakannya.


“Liburan ini mau honeymoon, nggak?” tanya Rion seraya mengusap lembut punggung Gebri.


“Honeymoon?”


“Saat liburan semester nanti, Mas ingin mengajakmu liburan. Gimana?”


Gebri tampak tertegun sebentar. “Aku ngikut saja, Mas,” jawabnya.


“Kamu mau liburan ke mana?”


“Terserah Mas saja.”


“Kalau ke Bali gimana? Atau kita ke Lombok?”


“Boleh juga,” angguk Gebri menyetujui.


“Atau kita liburan keluar negeri saja?”


“Sebaiknya di Indonesia saja Mas. Masih banyak tempat-tempat liburan yang bagus kok.”


“Oke deh, nanti kita cari-cari referensi dulu,” sahut Rion.


Gebri berniat untuk turun dari pangkuan Rion, tapi laki-laki itu semakin mengencangkan lingkaran lengannya di pinggang Gebri. Kemudian sebelah tangan Rion memegang dagu Gebri sebelum menyatukan bibir mereka. Tubuh Rion mendadak bergairah. Ah, dia memang selalu seperti itu jika di dekat Gebri. Ciuman mereka semakin dalam dan penuh hasrat. Kini lengan yang tadi di pinggang sudah beralih ke dalam kaos Gebri.


JEPRET!


Sejoli itu spontan melepaskan pagutan bibir mereka. Kepala mereka langsung menoleh ke asal suara yang terdengar seperti memotret tersebut. Saat melihat sosok jangkung berkacamata yang sedang berdiri sambil mengarah kamera ponsel ke arah mereka, wajah Gebri berubah menjadi memerah, lagi-lagi merasa malu karena terpergok sedang bermesra intim. Sedangkan Rion memasang wajah kesal.


**TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENANTIKANNYA.


KALAU MENEMUKAN TYPO ATAU MENURUTMU ADA YANG MENGGANJAL, KASIH TAHU YA... SUPAYA PENULISAN KARYA INI SEMAKIN BAGUS DAN ENAK DIBACA**.

__ADS_1


__ADS_2