
Rion masih berceloteh pada gundukan tanah dan nisan, sementara Gebri hanya menjadi pendengar, sekali-kali tangannya mencabut ilalang-ilalang liar. Namun perkataan Rion selanjutnya benar-benar membuat Gebri terpaku. Kerutan yang tercipta dari alisnya terlihat lebih jelas. Dia memang tidak terlalu mendengarkan secara pasti apa kata-kata yang keluar dari mulut Rion sebelum kata itu keluar, tapi tujuh huruf tersebut begitu tertangkap di telinganya. Menikah.
“Menikahlah denganku,” ulang Rion.
“A-apa mak-maksudmu?” ucap Gebri gelagapan saat menyakini kalau pendengarannya tidak mengalami masalah.
“Aku ingin kamu menikah denganku,” ucap Rion lagi yang kali ini dengan berani mengambil jemari Gebri yang sedang memegang rumput.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin membahagiakanmu, seperti janjiku kepada Gebian tadi.”
“Tidak. Aku tidak mau.”
Gebri cepat-cepat menjauhkan tangannya.
“Aku masih mencintamu. Aku ingin—”
“CUKUP!” sela Gebri dengan nada setengah berteriak. “Aku mengajakmu ke makam Gebian bukan untuk mendengarkan kata-kata itu dari mulutmu. Seharusnya aku tidak perlu menyetujui permintaanmu,” sambung Gebri dengan mata sedikit menyalang. Kesal. Kemudian dialihkan pandangannya ke nisan yang mengukir nama Gebian Ananda. “Maaf, Bunda tidak bisa lama-lama mengunjungimu. Tapi Bunda janji akan mengunjungimu lagi nanti,” pamitnya sebelum bangkit dan beranjak menjauh, meninggalkan Rion yang masih berjongkok di depan kuburan Gebian.
^_^
Apa kata yang cocok untuk menyebutkan tindakan Rion saat ini? Teror? Kayaknya tidak. Rion tidak menciptakan ketakutan untuk Gebri, hanya membuatnya sangat kesal. Stalking? Mungkin. Karena laki-laki itu menunjukkan suatu perhatian yang sangat tidak diharapakan Gebri. Bahkan sekarang dia telah menyandar santai di depan pintu mobilnya. Sudah dua hari ini, saat jam-jam di mana Gebri mau pergi ke kampus, Rion selalu sudah berada di depan kosannya, bak memang sedang menunggu dan berniat mengantar gadis berambut ekor kuda itu pergi ke kampus.
“Aku tidak mau.”
Belum sempat sepatah katapun keluar dari mulut Rion, Gebri sudah terlebih dahulu melontarkan jawabannya. Selalu sama. Kata penolakan, dan hari ini dengan nada yang lebih ketus dari hari sebelumnya.
“Kenapa?” Lagi-lagi dibalas dengan mempertanyakan alasan.
“Aku bisa pergi sendiri. Aku tak butuh tumpanganmu.”
“Bukan itu,” geleng Rion. “Tapi kenapa kamu tak mau menikah denganku?”
“Aku sudah sering mengatakannya dan aku harap kali ini kamu mendengarkannya baik-baik.” Gebri menarik napas sebentar, matanya menatap tajam ke mata Rion sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak mau berurusan denganmu dan aku tidak mencintamu.”
“Tapi aku mencintamu. Aku ingin kita kembali seperti dulu,” ujar Rion masih belum menyerah, sama seperti dua hari ini, tetap gigih meskipun gadis yang berdiri di depannya kini selalu menunjukkan sikap penolakan secara gamblang, juga diikuti dengan kata-kata keras dan tajam.
“Seperti dulu?” cibir Gebri, sedikit terkesan mengejek. “Seperti saat kamu meninggalku dan Gebian, atau saat kita hanya teman tanpa status yang nggak jelas?” timpal Gebri mencemooh. “Sudahlah. Kita akhiri saja semua omong kosong ini. Aku ingin hidup tenang dan aku harap kamu tidak menggangguku dengan segala tindakanmu bodohmu itu,” ucap Gebri lagi sebelum membalikkan badan, kemudian melangkahkan kaki dengan rasa kecewa bercampur jengkel yang makin menumpuk.
^_^
__ADS_1
“Lagi PMS?”
Gebri hanya menggoyangkan kepala, menggeleng. Sejak–bisa dikatakan–pertengkaran yang terjadi di depan kosannya tadi, mood Gebri menjadi sangat buruk. Raut mukanya masam, bunyi dari mulutnya pun tak keluar, terus diam. Perasaanya mendongkol.
“Gara-gara Kak Rion?”
Kepala Gebri tak bereaksi apa-apa, tapi cukup untuk menjadi jawaban.
“Yuk, pulang!” ajak Koning sambil bangun dari duduknya, tidak ingin bertanya-tanya lagi yang mungkin akan membuat Gebri semakin kesal.
Dara beralis tebal itu ikut bangkit, kemudian mensejajarkan langkah mengikuti Koning. Setelah sampai di kosan, Gebri memutuskan untuk segera tidur, berharap dapat meruntuhkan rasa dongkol yang terpendam ini. Namun saat motor bebek Koning melewati tikungan dan hanya beberapa meter lagi mereka sudah sampai di depan kos Wisma Bestari, sebuah mobil berwarna super white tiba-tiba menyalip dan berhenti. Koning sudah bersiap-siap untuk mengumpat tapi langsung mengurungkan niatnya tatkala melihat sosok laki-laki bermata menjorok ke dalam yang turun dari mobil. Sementara Gebri hanya mengernyitkan kening. Bingung.
“Turun dan ikut denganku!” ucap Rion dengan wajahnya tampak tak bersahabat.
“TIDAK, AKU TIDAK MAU!” pekik Gebri sambil mencoba melepaskan tangan Rion yang sudah menarik lengannya.
“TURUN!” Rion ikut berteriak.
Koning yang menjadi penonton seketika tersentak. Begitu kaget dengan suara yang terucap lantang itu. Suara seorang laki-laki memang lebih menggelegar dari suara perempuan.
“TIDAK!”
“TURUN!” Rion kembali menarik lengan Gebri dengan kuat hingga motor Koning sedikit oleng. Hampir saja motor mereka terjatuh bila Rion tak menahannya. “Turun! Atau kamu akan mencelakai Koning,” seru Rion masih mencoba menarik lengan Gebri.
Koning dan Rion seketika terpaku, mata mereka menatap horor ke arah gadis yang sedang memasang mata menyalang. Tak terduga. Bahkan mereka tak pernah membayangkan sebelumnya. Kata caci itu dapat keluar dari bibir tipis Gebri. Setahu mereka–meskipun kedekatan dengan gadis itu belum bisa dikatakan lama–Gebri merupakan sosok yang lembut, mempunyai tutur kata yang baik dan dia pasti lebih memilih diam daripada membicarakan hal yang tidak penting. Kata-kata dari mulutmu adalah kualitasmu, itulah pemikirannya. Tapi manusia tetaplah makhluk yang tidak sempurna.
“AKU TIDAK MAU IKUT DENGANMU. TITIK!” teriak Gebri sambil melengos dan beringsut menjauh.
Rion dengan cepat mensejajarkan langkahnya, kemudian menarik lengan Gebri. Setengah menyeret, Rion membawanya mendekati mobil, memaksa masuk ke dalam mobil sebelum laki-laki itu duduk di depan setir kemudi. Gebri mencoba terus untuk keluar dari mobil, tapi hanya sia-sia. Rion sudah terlebih dahulu mengunci pintu, dan selang beberapa detik mobil Toyota Yaris itu telah meninggalkan area sekitar kos Wisma Bestari.
“BERHENTI! AKU BILANG BERHENTI!” lantang Gebri yang sekali-kali memegang handle dalam mobil, berusaha membuka.
Rion tak menggubris, justru semakin menambahkan kecepatan laju mobilnya. Dia dengan berani menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Hanya dua puluh menitan, mobil yang membawa Gebri dan Rion sudah berada di jalan Raya Solo hampir mendekati lampu merah dekat Bandara Udara Internasional Adisucipto.
“Kamu mau membawaku ke mana?”
Suara Gebri sudah mulai merendah. Pemberontakan yang dilakukannya tak sedikitpun menggugah hati laki-laki yang sedang mengemudi itu.
“Ke Solo. Ke rumahmu,” balas Rion dengan menoleh kepala sebentar ke arah Gebri.
“Ke Solo?”
__ADS_1
“Aku mau melamarmu dan setelah itu kita langsung menikah.”
“KAMU SUDAH GILA! SUDAH AKU KATAKAN, AKU TAK MAU MENIKAH DENGANMU,” ucap Gebri yang kembali berteriak.
“Kamu benar. Aku memang sudah gila,” sahut Rion santai, ada sedikit terselip nada frustasi.
Ambil napas, embuskan. Ambil napas, embuskan. Dalam kondisi yang tidak irasional ini, harus ada yang bisa berpikir logis. Bila hanya urat tenggorokan yang keluar, permasalahan diantara mereka mungkin tak akan selesai, mungkin justru menjadi benang yang kusut. Mereka butuh bicara normal, tanpa nada suara yang tinggi apalagi mementingkan ego masing-masing. Sekali lagi Gebri mengambil napas panjang, kemudian mengembuskan perlahan.
“Bisakah kita berhenti di kafe atau rumah makan? Kita butuh saling bicara saat ini.” Menyadari kalau Rion tidak tertarik, Gebri cepat-cepat menimpali. “Aku janji aku tidak akan kabur. Ada yang ingin aku katakan kepadamu.”
Awalnya Gebri menduga laki-laki jangkung itu benar-benar tak tertarik, dia tak memberikan respon apa-apa. Tapi saat mobil Toyota Yaris itu berbelok dan memasuki sebuah rumah makan pinggir jalan, bibir Gebri seketika merekah. Masih ada secercah harapan. Sungguh. Dia tak ingin lagi berurusan dengan Rion apalagi sampai mereka menikah.
“Kamu mau pesan apa?” ujar Rion sambil menarik sebuah kursi kayu.
“Aku nggak pesan.”
“Aku pesankan jus jeruk saja, ya?!”
Tanpa menunggu persetujuan Gebri, Rion segera beranjak mendekati seorang gadis muda yang memakai jilbab berwarna hitam, mereka tampak saling berbicara sebentar sebelum dia kembali ke tempat duduknya, tepat di hadapan Gerbi.
“Mau ngomong apa?”
“Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku masih mau kuliah,” ungkap Gebri.
“Kamu masih bisa kuliah meskipun kita menikah. Kamu masih bisa hangout bareng teman-temanmu. Kamu juga masih mengikuti kegiatan kampus apapun. Aku tidak akan melarang.”
Gebri sedikit menghela napas sebelum kembali mengutarakan alasannya.
“Aku belum siap mental.”
“Kalau kita sama-sama menerima, kata belum siap mental itu pasti tak ada,” ujar Rion yang kini dengan berani meletakkan telapak tangannya di atas jemari Gebri, sedikit mengusap-ngusap pelan dan dengan cepat pula dara cantik itu menarik menjauh.
“Aku tidak ingin mengorbankan masa mudaku.”
“Kita bukan remaja lagi dan menurutku usia kita sudah cukup untuk menikah.”
Gemas. Merasa sangat dongkol dengan semua sahutan dari laki-laki di depannya yang sedang menyungging senyum, menampakkan gigi-gigi putihnya. Seandainya ada lakban hitam di sini, Gebri pasti sudah langsung melekatkan ke mulut Rion, membungkam mulut cowok itu, supaya tak ada lagi kata-kata yang terlontar dan terus membantah semua alasan yang diberikannya.
Ehm... ada satu alasan lagi yang mungkin bisa membuat Rion mengurungkan niatnya, sebuah alasan–yang diyakini Gebri–memicu kenapa lima tahun lalu Rion hanya diam dan menuruti semua keinginan kedua orang tuanya, hingga dia dengan santainya berlenggang di koridor sekolah tanpa rasa takut, bahkan ikut andil mengeluarkan kata-kata kotor bersama teman-temannya. Melihat bagaimana penampilannya saat ini dengan barang-barang bermerek dan berkelas, Gebri sangat yakin Rion akan melepaskan dirinya dan lebih memilih segala kemewahan yang sedang dinikmati sekarang.
Setelah gadis berjilbab itu mengantarkan pesanan mereka, Gebri sedikit menyeruput jus jeruk yang dipesan Rion sebelum bertekad mengeluarkan kata-katanya. “Aku mau menerima lamaranmu dan menikah denganmu. Tapi aku mau kamu meninggalkan semua kemewahan yang diberikan orang tuamu, baik itu mobil, rumah, dan barang-barang kecil lainnya. Kalau kita menikah, aku tidak ingin memakai uang orang tuamu. Aku ingin uang hasil dari keringatmu sendiri.”
__ADS_1
Sesuai dugaan Gebri, laki-laki bermata setajam elang itu langsung tercenung. Pasti syok. Tak akan ada yang mau meninggalkan kehidupan yang serba berlebihan itu, apalagi bagi sosok seperti Rion yang sudah terbiasa sejak kecil. Hanya menunggu waktu, laki-laki itu pasti akan melepasnya dan dia bisa kembali menikmati kehidupannya yang mulai membaik, pula tak perlu lagi berurusan dengan masa lalu serta tak perlu bertemu keluarga Fernandez di masa depan.
AYO LIKE! AYO VOTE! AYO COMMENT! AYO SHARE!