
*Rasti mengembuskan napas. Sudah diduganya. Ucapan Rion di Sabtu sore itu memang bukan sekadar main-main belaka. Malam harinya setelah kedatangan Rion, pikiran Rasti sangat tenang. Matanya tidak mau tertutup, selalu membelalak dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Makanya hari ini dia memutuskan untuk ke Yogyakarta, mendatangi kosan Gebri untuk pertama kalinya. Banyak yang harus ditanyakan. Banyak yang harus dipastikan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka setelah lima tahun berlalu, hingga laki-laki yang**berahang tegas itu berani mengunjungi rumah mereka dan mengutarakan keinginannya untuk meminang Gebri.*
“Apakah kamu tahu kalau Rion mendatangi rumah kita kemarin?” tanya Rasti yang kini mengelus-elus punggung Gebri, mencoba memberi kehangatan dari seorang ibu.
Gadis yang rambutnya sedang diikat ekor kuda itu hanya menganggukkan kepala kecil.
“Lalu bagaimana?”
Kepala Gebri bergerak ke kiri dan ke kanan sebelum menjawab, “Entahlah, Bun. Aku bingung. Sebenarnya aku tak ingin lagi berurusan dengannya. Kejadian lima tahun lalu begitu sangat menyakiti perasaanku. Tapi....” Gebri kembali menggantungkan kalimatnya. Benaknya lagi-lagi bertanya, haruskah dia mengatakan pemikirannya ini? Gebri mengambil napas sebelum melanjutkannya. “Tapi setelah kejadian sore ini, aku menyadari bahwa bukan hanya aku saja yang menderita. Kami sama-sama masih belum bisa melupakan aib lima tahun lalu itu.”
“Kejadian sore ini?” tanya Rasti yang kian mendekatkan dirinya ke arah Gebri, tubuh mereka sudah menempel sekarang.
“Di awal-awal pertemuan kami sejak lima tahun berlalu, Rion pernah meracau tentang kehamilanku, menganggap kalau aku masih mengandung Gebian. Mulanya aku mengira dia hanya ingin mengolok-olokku. Tapi sore tadi saat dia memaksaku ke rumahnya, aku menemukan beberapa pakaian ibu hamil dan berlembar-lembar foto USG. Aku mulai menyadari kalau dia tak sebahagia yang aku kira selama ini. Rion memendam rasa penyesalan itu. Dan aku yakin bahwa selama lima tahun ini, dia sering berhalusinasi tentang kami,” papar Gebri panjang lebar.
Rasti tak memberikan tanggapan apa-apa. Pikirannya mendadak buncah.
“Aku harus bagaimana, Bun?”
Rasti masih diam. Belum saatnya dia membuka mulut. Biarlah gadis itu mengeluarkan keresahannya.
“Aku tidak mungkin menutup mata dan menulikan telingaku atas sikap Rion. Setidaknya kami harus memperbaiki hubungan yang telah rusak ini,” tambah Gebri lagi.
“Jadi kamu akan menerima lamarannya?”
Gebri menggelengkan kepala, pelan dan singkat. “Aku tidak tahu, Bun.”
Rasti kembali mengelus-elus lembut punggung anak gadisnya sambil bertutur, “Sebagai orang tua, Bunda akan selalu mendukung apapun keputusanmu karena Bunda mengganggap kamu sudah matang untuk mengambil keputusan sendiri, dan Bunda hanya mengingatkan kalau derajat keluarga kita dan keluarganya sangat jauh berbeda dengan kita. Mereka mungkin saja bisa menyakitimu. Sebagai seorang ibu, Bunda tidak ingin melihatmu disakiti.”
Sekarang Gebri yang tak bereaksi apa-apa. Sebenarnya itu juga yang sedang ada dipikirankannya. Kalau memang akhirnya dia menerima lamaran Rion, dia tak yakin kalau keluarga Fernandez akan menerima dirinya. Status derajat mereka terlalu berbeda. Dia masih ingat jelas bagaimana tatapan intimidasi yang orang tua Rion berikan saat itu, saat dia dan Rasti mendatangi rumah mewah Rion, yang membuat Gebri selalu menundukkan kepala dan tak berani untuk mendongak.
__ADS_1
Dan tentang ucapan Rion beberapa jam lalu, tentang dia yang telah mengembalikan semua pemberian fasilitas dari orang tuanya dan akan pindah dari rumah mewahnya, pasti akan membuat kedua orang tua Rion semakin membencinya bila tahu kalau dia yang meminta. Memikiran semua itu mendadak membuat kepalanya sedikit berdenyut.
“Geb!” panggil Rasti yang kini sedang memegang kedua pipi Gebri dan mengusap-usap pelan. “Ingatlah, kamu tidak sendiri. Ada Bunda dan Galang yang selalu mendukungmu.”
“Terima kasih, Bun.”
Gebri melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Rasti, didekapnya dengan erat wanita paruh baya tersebut. Sosok ibu memang sosok yang paling luar biasa, pasti ada suatu ketenangan yang muncul setiap tindakannya. Dialah superwoman di kehidupan nyata.
^_^
“Sudah makan siang, Geb? Kita makan dulu, ya?”
Kepala Gebri menoleh ke arah kemudi, kemudian mengangguk. Ada beberapa alasan kenapa Gebri menyetujuinya, meskipun sebenarnya dia sudah makan dengan Rasti tadi sebelum Rion datang ke kosannya dan berniat untuk mengantar Rasti ke Solo, tetapi Rasti langsung menolaknya. Alhasil, Rion hanya memberikan tumpangan untuk menuju stasiun Lempuyangan.
Mobil Rion memasuki area gang Pandega Karya dan berhenti di sebuah Waroeng Steak and Shake yang dominan dengan warna kuning khasnya. Tak banyak pengunjung siang ini yang terlihat. Memang kebanyakan para pengunjung datang di waktu sore hari. Kemudian kaki mereka melangkah menaiki tangga. Rion dan Gebri memutuskan untuk mengambil tempat duduk di lantai dua, meskipun tak banyak pemandangan yang dapat dinikmati.
Gebri hanya menganggukkan kepala singkat saat Rion memesankan chicken pepper dan jus jeruk. Dia sedang tidak lapar, jadi dia tak terlalu peduli dengan pesanan dari Rion. Gebri hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan basa-basi ini, lalu mengutarakan sesuatu yang menjadi beban pikiran saat ini, ingin cepat menyelesaikan semua permasalahan diantara mereka sekarang. Sekitar lima menit berlalu, seorang pelayan laki-laki berpakaian serba hitam membawa sebuah baki berisi pesanan mereka.
“Bukankah sejak tadi kita memang sudah bicara?”
Selama Gebri dan Rion menyantap hidangan mereka, memang sekali-kali Rion mengajak Gebri bercakap-cakap dan Gebri pun hanya menjawab sekadarnya saja, hanya gelengan atau anggukkan kepala ataupun memberikan jawaban yang sangat singkat, dan Rion tak mempermasalahkan sikap itu selagi Gebri masih merespon, masih beraksi dengan perkataannya, berarti Gebri masih menghargai keberadaannya.
“Aku ingin bicara serius denganmu.”
Rion sedikit memperbaiki tempat duduknya. “Silakan.”
Diambil napas sejenak kemudian diembuskan dengan pelan. Gebri sudah memantapkan hati dan pikirannya.
“Aku tidak bisa menikah denganmu.”
__ADS_1
“Tapi kenapa? Bukankah aku sudah memenuhi semua syaratmu,” sahut Rion tak terima, matanya menatap tak percaya.
“Banyak hal yang membuat kita tidak bisa menikah dan aku meminta maaf atas perkataanku beberapa hari lalu, aku tidak seharusnya berkata seperti itu.”
“Tapi kamu sudah berjanji kalau—“
“Aku yakin banyak perempuan yang lebih baik dariku yang bisa menjadi istrimu kelak,” sela Gebri sebelum kembali meminum jus jeruknya, tenggorokkan terasa begitu kering. Perbincangan ini semakin menegangkan.
“Aku hanya ingin kamu yang menjadi istri dan ibu dari anak-anakku,” tutur Rion dengan nada setengah berteriak, sangat tak suka mendengarkan omong kosong yang terlontar dari mulut Gebri, untung tidak ada pelanggan selain mereka di lantai ini, mereka tidak perlu menjadi pusat perhatian.
“Tidak. Tidak bisa. Terlalu banyak perbedaan dan kendala diantara kita, terutama dari keluargmu.” Gebri menjawab dengan tenang, tidak mau terpancing dengan nada bicara Rion. Meskipun sepi, tempat makan ini tetaplah tempat umum.
“Keluargaku?”
“Pernikahan yang baik dan berkah adalah pernikahan yang mendapat restu kedua orang tua, dan aku yakin kalau orang tuamu tak akan mau merestui pernikahan kita. Aku harap kamu mengerti, kita memang tak bisa menikah,” papar Gebri yang sekali lagi menyeruput jus jeruk terakhirnya. “Bisakah kita pulang sekarang, jam tiga nanti aku ada jadwal kuliah?” tanyanya sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukkan jam dua tepat.
“Tak bisakah kita menikah tanpa—”
Gebri cepat-cepat memotong, dia tahu apa yang mau dikatakan Rion. “Tidak, karena aku ingin menikah seseorang yang mau menerimaku dan keluargaku.”
“Tapi—”
“Aku akan pulang dengan gojek,” tukas Gebri yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, lalu menyampirkan tas selempangnya ke bahu.
“Kita pulang bersama,” ucap Rion yang ikut bangkit.
Tidak ada lagi pembicaraaan yang terjadi apapun sejak Gebri dan Rion meninggalkan Waroeng Steak and Shake itu. Sekali-kali mata Rion melirik ke arah samping, memandang Gebri yang tampak fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Banyak kalimat yang ingin diucapkannya, tapi selalu ditahan. Menurutnya saat ini bukan waktu yang tepat, Gebri memiliki sifat yang sedikit keras kepala, apapun yang dikatakannya pasti ditolak gadis itu. Dia akan memberi beberapa hari untuk gadis itu tenang dan dalam kondisi yang bisa diajak berkompromi. Bagaimanapun dia tidak akan menyerah, hanya Gebrilah yang akan menjadi istrinya di masa depan.
Saat memasukki gang menuju kosan Wisma Bestari, mata Rion kontan bereaksi berlebihan, dengan tatapan yang penuh kegelisahan. Dari jauh mata Rion dapat melihat sebuah mobil hitam yang terparkir di sana. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan kendaraan itu, hanya saja mobil itu terlihat familiar, seperti dia pernah melihatnya. Dan tidak pernah terlintas di benak Rion ataupun Gebri, kalau kendaraan roda empat itu adalah milik dari sosok yang menjadi topik pembicaraan mereka beberapa menit, dan saat mata Gebri menangkap dua sosok paruh baya yang dikenalnya, tubuhnya seketika menegang. Butir keringat mendadak muncul di sekitar dahi. Hatinya berdebar-debar tak karuan. Otaknya mulai bertanya, mengapa kedua orang tua Rion bisa berada di depan kosannya?
__ADS_1
VOTE YA! COMMENT YA! LIKE YA! DI FAVORIT KAN YA!