Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 15.1


__ADS_3

“Pulang jam 12, kan?” tanya Rion sambil memutar posisi kunci mobilnya menjadi ACC.


“Iya,” angguk Gebri. Dia menyampirkan tote bag-nya ke bahu. “Aku kuliah dulu ya,” ucapnya sebelum berniat memegang handle pintu, hendak turun dari mobil.


“Tunggu!” cegah Rion dengan memegang pundak Gebri. "Sepertinya kamu melupakan sesuatu."


Gebri spontan memutar tubuhnya hingga menghadap ke kemudi. Alisnya sedikit mengernyit. Ah, baru ingat! Dia lantas mencondongkan tubuhnya, kemudian mengecup pipi Rion. Sebenarnya hampir setiap ada jadwal kuliahnya, laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu selalu mengantarnya ke kampus, meskipun Rion tidak memiliki jadwal mata kuliah apapun di hari itu. Sejak mereka menikah, Rion memang meminta Gebri untuk mencium pipinya sebelum keluar dari mobil. Meskipun begitu, dia masih belum terbiasa hingga sekarang untuk melakukannya.


“Makasih sudah meng—“


Belum sempat Gebri menyelesaikan kalimatnya, Rion sudah menarik tengkuknya. Rion menyatukan bibir mereka.


“Telpon aku kalo kuliahnya udah selesai,” ujar Rion setelah bibir mereka terpisah jarak.


“Y-ya,” jawab Gebri terbata-bata. Ternyata dia masih sangat canggung bila Rion mencium bibirnya seperti itu, padahal sudah tak terhitung berapa kali Rion melakukannya setelah mereka menikah. Memang sejak menikah, mungkin karena sudah merasa sah, Rion tak malu menunjukkan skinship mereka di depan orang ramai. Setiap mereka berjalan ke manapun, Rion tidak segan melingkar tangannya di pinggang Gebri.


“Geb!” panggil seseorang.


Merasa namanya dipanggil, Gebri yang baru saja menutup pintu mobil kontan menoleh. Dia menyungging senyum lebar saat melihat sosok Koning yang menghampirinya. “Pagi Kon,” sapanya.


“Nggak ada tugas, kan?”


“Nggak,” geleng Gebri. “Hari ini, kan, melanjutkan presentasi kelompok kemarin.”


“Kelompoknya Nisa yang tampil, kan?”


Perbincangan mereka terus berlanjut hingga tiba di dalam kelas yang berada di lantai dua. Di dalam kelas masih sedikit sunyi. Masih sepuluh menit lagi sebelum mata kuliah Hukum Bisnis/Hukum Komersial akan dimulai.


“Oh ya Geb, boleh nanya nggak?”


“Nanya apa?” sahut Gebri sambil meletakkan tote bag-nya di atas meja.


“Aku semalam baca ini di IG.” Koning mengambil ponselnya di dalam tas. Dia berkutat sebentar dengan layar di depannya sebelum menunjukkan ke Gebri. “Menurut pengalamanmu yang sudah nikah, benar nggak tentang ini?”

__ADS_1


Gebri memfokuskan penglihatannya, membaca posting dari INDTimes tersebut. Posting itu berisikan tentang tujuh perubahan yang bakal dirasakan setelah menjadi istri.


“Satu, berani tampil apa adanya, nggak ada kata jaim di depan pasangan,” baca Koning. “Benar nggak?” tanyanya meminta pendapat.


“Mungkin iya,” jawab Gebri tidak terlalu yakin. Menurutnya, dia maupun Rion tidak pernah jaga image, alias jaim, untuk menyembunyikan kebiasan buruk masing-masing. Kebiasaan mereka sebelum dan setelah menikah sama saja. Hanya saja, sifat Rion yang posesif semakin terlihat. Sebenarnya Gebri sudah mengetahui sifat Rion yang satu itu. Saat mereka pacaran ketika SMP dulu, Rion sering menunjukkannya. Hanya saja, kadar keposesifannya semakin kuat sekarang. Rion ingin selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan dan sedang bersama siapa.


“Dua, lebih toleran kepada pasangan. Toh, kamu sudah memiliki dia sepenuhnya. Tiga, prioritasmu tidak lagi hanya tentang dirimu, tapi juga membahagiakan suami dan anak-anak kalian nanti,” baca Koning lagi. “Perasaanmu sama suamimu gitu nggak, Geb?”


“Ya,” jawab Gebri setelah menimbang-nimbang cukup lama.


“Empat, dulu sih bangun pagi rasanya berat, tapi sekarang biasa saja, bahkan selalu bangun sebelum keduluan ayam berkokok.”


Gebri tidak berkomentar apa-apa kali. Selain bukan karena Koning tidak meminta untuk menanggapi, juga karena dia tidak mengalaminya. Baik sebelum dan sesudah menikah, dia selalu bangun sebelum ayam berkokok. Sejak kecil kedua orang tuanya mengajarkan untuk selalu bangun pagi meskipun tidak ada kegiatan apapun. Banyak manfaat dari membiasakan diri bangun pagi, diantara memberikan kesehatan mental yang lebih baik dan bisa memperbaiki sirkulasi darah, juga rata-rata orang sukses selalu bangun di pagi hari.


“Lima, tadinya malas banget kalau disuruh ke dapur, tapi setelah menikah hampir tiap hari rajin masak buat suami," Koning masih melanjutkan bacaan. “Kalau menurutmu Geb, benar nggak setelah menikah perempuan itu pasti bisa masak?”


“Entahlah, nggak tahu. Mungkin juga iya.”


“Kalau kata kakak sepupuku, perempuan itu kodratnya memang bisa masak. Jadi nggak usah khawatir kalau sekarang belum bisa masak. Nanti kalau sudah menikah, karena tuntutan rumah tangga, perempuan pasti bisa masak. Meskipun awal-awalnya, sang suami harus jadi kelinci percobaan dulu,” timpal Koning sambil terkikik kecil diakhir kalimatnya.


Koning kembali membaca postingan tersebut, “Enam, me time dulu dihabiskan buat ke salon atau shopping, sekarang me time berarti menghabiskan waktu berdua bersama suami. Tujuh. Meski sesekali masih suka dimanja, tetapi siapa sangka kamu bisa juga berubah menjadi seorang wanita yang kuat, tegar dan bisa diandalkan sama suami.”


“Sedang bahas apa sih?” sela Yeni yang baru saja datang ke dalam kelas dan mengambil tempat duduk di samping kiri Koning.


“Bahas ini,” jawab Koning seraya menunjukkan layar ponselnya.


“Oh itu,” gumam Yeni dengan manggut-manggut. "Aku juga pernah baca. Kamu mengalaminya nggak, Geb?"


"Mungkin hampir setengah iya," balas Gebri dengan anggukkan pelan.


“Ehm Geb,” seru Koning yang tampak ragu-ragu, tapi kedua pipinya tiba-tiba memerah.  “Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyain ke kamu. Aku sudah penasaran sejak dulu.”


“Tanya apa?” Dahi Gebri sedikit mengernyit.

__ADS_1


Koning mendekati telinga Gebri. Dia malu untuk mengungkapnya secara terang-terangan, jadi dia memilih untuk membisikkannya saja.


Mendengarkan apa yang dilirihkan Koning, muka Gebri tiba-tiba ikut bersemu merah. Dia juga cukup terkejut Koning bisa menanyakan tentang hal sensitif itu. Sementara Yeni menatap heran kedua temannya tersebut. Dia penasaran, hanya tidak bisa mengutarakan ke keingintahuannya. Dosen mata kuliah Hukum Bisnis/Hukum Komersial baru saja masuk ke kelas. Materi hari ini akan segera dimulai.


Di sela-sela presentasi teman sekelasnya, Gebri mencuri pandang ke Koning yang duduk cukup jauh karena berbeda kelompok. Bila mengingat apa yang ditanyakannya tadi, wajah Gebri mendadak merasa panas, bersemu merah. Bisa-bisanya Koning bertanya seperti itu. Bisa-bisanya dia bertanya, “Kata orang-orang, berhubungan intim untuk pertama kalinya akan terasa sakit. Benar nggak sih? Apakah kamu merasakan sakit juga ketika kamu melakukannya dengan Bang Rion saat SMP dulu?”


Ah, dasar kepo!


^_^


“Iya Ma, terima kasih, ” ucap Gebri sebelum panggilan tersebut berakhir dan ponselnya menjauh dari telinga.


“Mama ngomong apa?” tanya Rion sambil duduk di sofa, kemudian dia  meletakkan lengannya di pundak Gebri. Bila mereka berdekatan di manapun mereka berada, dia sangat suka merangkul tubuh istrinya itu, bak menunjukkan kalau sosok berambut panjang sepinggang itu sudah menjadi miliknya.


“Hanya tanya kabar. Mama juga mengirimkan oleh-oleh untuk kita.”


"Oleh-oleh dari liburan Papa dan Mama ke Korea kemarin?"


Gebri menjawab dengan anggukan kepala.


“Mama dan Papa sehat-sehat saja, kan?”


“Mereka sehat kok.”


“Kalau Bang Riyan?”


“Nggak tahu," jawab Gebri dengan menggeleng. "Mama nggak mengatakan apa-apa tentang Bang Riyan tadi. Coba kamu hubungi dia. Sudah lama kan kamu nggak telepon Bang Riyan,” lanjutnya sambil hendak berdiri, dia ingin pergi ke dapur, ingin melihat apakah cheese cake yang dimasukkan ke dalam oven sudah matang atau belum.


Tapi tiba-tiba Rion menarik pergelangan tangannya, membuat Gebri sekarang terduduk di atas pangkuan laki-laki itu. Kemudian dia merasa sesuatu yang lembut menempel bibirnya sebelum berubah menjadi lumatan. Gebri tidak menolak, dia cukup menikmati apa yang sedang dilakukan Rion. Mereka sudah sah dalam ikatan pernikahan, tidak ada yang bisa melarang apa yang sedang mereka lakukan.


“Ehm... maaf Den,” interupsi Bik Sumi ragu-ragu dan terdengar kikuk. Sebenarnya bukan pertama kalinya dia memergoki tuan dan nyonya muda di rumah ini berciuman seperti itu, bisa dikatakan dia cukup memakluminya, mungkin karena mereka masih merasa suasana pengantin baru. Hanya saja, dia tetap malu melihatnya secara langsung. “Ada teman-teman Aden di depan."


Mendengar suara Bik Sumi, Gebri spontan mendorong tubuh Rion. Kepalanya menunduk ke bawah, tak berani mendongak. Merasa malu karena kepergok lagi. Sementara Rion tampak biasa-biasa saja.

__ADS_1


SEPERTI BEKAS PAKI SEASON 2 TERBIT PERDANA. SEMOGA KALIAN SUKA DAN TERUS MENANTIKANNYA. TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA.


DITUNGGU VOTE DAN COMMENT NYA YA!!!


__ADS_2