
IG: @alsaeida0808
“Kamu terlihat lebih fresh,” puji Lala.
Aku memperhatikan lagi penampilanku di cermin, memang terlihat berbeda, lebih terlihat hidup. Sepertinya keputusanku cukup tepat untuk memotong rambutku hingga ke bahu, menambahkan poni, dan sedikit memberi gelombang di ujungnya.
“Setelah ini kamu mau ke mana, Keiy?”
“Aku mau ke toko kacamata,” jawabku sambil berdiri dari kursi.
Lala yang yang sibuk memotret dirinya di depan cermin, menoleh. “Mau beli kacamata?”
Aku menjawab dengan anggukkan.
“Matamu minus?”
“Nggak kok. Aku mau beli kacamata tanpa minus. Dengan rambut sekarang kayaknya cocok dipakai kacamata.” Tiba-tiba saja aku terpikir seperti itu. Penampilanku selama lima tahun ini memang tidak berubah, dengan berambut panjang lurus sepinggang dan tanpa poni. Aku tidak ingin orang-orang mengingatkan lagi bagaimana penampilanku dulu. Dan aku sedikit menyesal, mengapa aku tidak melakukannya sejak dulu.
“Sepertinya memang cocok,” timpal Lala yang memindai wajahku saksama.
“Kamu mau ikut atau gimana?”
Lala melirik jam di pergelangannya. “Seperti nggak, aku langsung pulang. Aku ada janji nonton sama pacarku.”
“Oke La, hati-hati di jalan dan selamat have fun ya.”
“Tapi besok jadi bertemu Mas Abram?”
Kali ini aku menjawabnya tanpa berpikir. Aku benar-benar ingin mengubah kehidupanku. Bertemu dengan Mas Abram mungkin bisa saja menjadi langkah awal. “Iya. Di Kafe lantai dua, kan?”
“Oke. Sip.” Lala menunjukkan jempolnya. “Nanti kita langsung bertemu di sana saja.”
“Sampai bertemu besok,” jawabku sebelum beranjak menuju kasir.
0_<
__ADS_1
Senja baru saja berubah menjadi gelap. Tapi langkah ini seolah enggan untuk pulang. Sejak meninggalkan toko kacamata, aku berkeliling di jalur pedestrian, menikmati hiruk-pikuk pengendaraan yang membelah jalanan, hingga aku cukup lama berada di taman kota. Aku duduk di sebuah bangku batu yang memang sengaja di letakkan di sana. Bibir ini terus tersungging lebar, padahal tidak ada kejadian yang lucu. Aku hanya begitu menikmati pemandangan biasa yang ada di taman ini, seperti anak-anak yang berlari-lari atau seorang ibu yang sedang menyuapkan makanan untuk anaknya.
“Sudah mau pulang, Mbak?” tanya si wanita bergaun santai berwarna biru muda yang memperkenalkan namanya sebagai Amila. Dia datang ke taman ini bersama dua anak kembarnya berusia empat tahun yang sekarang sedang bermain kejar-kejaran.
“Iya Mbak. Saya kangen dengan anak saya,” jawabku dengan senyum lebar.
Raut Amila terlihat terkejut. “Saya kira Mbak Keiysa belum menikah, karena terlihat sangat muda. Apa Mbak Keiysa menikah muda?”
Aku tidak menyahut dan justru berpamitan. Tidak ada yang perlu dijelaskan karena kami juga baru pertama kali bertemu. Aku singgah dulu ke toko mainan sebelum pergi ke rumah terbengkalai itu. Melihat tingkah anak-anak di taman tadi, aku jadi merindukan El. Sudah lumayan lama juga aku tidak mengunjunginya.
Mungkin bagi orang-orang, rumah terbengkalai itu terlihat menyeramkan, seperti rumah-rumah berhantu. Tapi bagiku yang sudah terbiasa, tempat itu adalah tempat aku berpulang. Meskipun Ayahku memiliki rumah yang megah dan berbagai fasilitas, tidak sekalipun aku merasa sebagai rumah. Aku sangat bersyukur karena akhirnya aku bisa keluar dari tempat itu.
“Hai El, apa kamu sedang melihat mama sekarang?”
Sunyi. Tenang. Hanya terdengar suara rumput-rumput yang bergoyang karena angin.
“Mama hari ini potong rambut. Apakah mama terlihat cantik?” Aku menyisir rambut pendekku. “Mama sengaja potong rambut agar Mama bisa memberanikan diri. Mama ingin menemukan kebahagiaan. Mama tidak ingin diliputi rasa takut ini lagi. Kamu akan mendukung—” Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingku, aku spontan menoleh.
Aku mencoba meneliti penampilannya yang terhalang remang-remang, karena hanya ada lampu jalanan yang redup. Tidak banyak orang yang memiliki mobil yang mengenalku, selain Mas Yudi dan keluarga Ayahku. Dan mataku langsung melotot saat menyadari siapa sosok tersebut. Dadaku juga berdegup kencang.
Aku mengambil napas dan mengeluarkannya. Berulang-ulang. Tidak apa-apa. Tidak apa-apa Keisya. Aku berusaha mensugesti diriku.
“Kenapa kamu di sini?” Devian melihat ke rumah terbengkalai di depan kami, kemudian menatap dengan mengernyit. Dia juga memperhatikan penampilanku. “Kamu baru saja selesai kerja di Aji Mart dan mau pulang?” duganya.
“I-Iya,” jawabku setelah sekali lagi mengambil napas dan mengembuskan.
“Rumahmu di mana? Biar aku antar pulang,” tawar Devian.
Kepalaku dengan cepat menggeleng. “Nggak perlu. Aku-aku bisa pulang sendiri.”
“Tapi hari sudah malam dan di sini terlihat sunyi.”
“Aku sudah biasa.”
“Lebih cepat bila aku antar dengan mobil.”
__ADS_1
“Tidak. T-tidak perlu,” ujarku yang seketika membalikkan badan dan bergerak menjauh.
Meskipun penampilanku sudah berubah, tapi reaksi tubuhku masih tetap sama. Tubuh ini masih bergetar ketakutan dan kilatan kejadian hari itu terus muncul di kepalaku. Langkahku yang semula hanya berjalan tergesa-gesa, kini berubah menjadi lari kecil. Aku takut kalau Devian mengikutiku. Tapi untunglah itu hanya pikiranku saja. Saat aku menoleh karena merasa sudah cukup jauh dari rumah terbengkalai itu, aku tidak menemukan siapa-siapa. Bahkan aku juga tidak mendengar suara mobil. Aku menghela napas lega.
0_<
Sekali lagi aku memperhatikan penampilanku di cermin, memastikan kalau penampilanku sudah cukup rapi dan sopan. Hari ini aku memutuskan untuk menggunakan gaun santai sebatas lutut yang dihiasi dengan tali pinggang berukuran kecil. Sejak sejam yang lalu, Lala sudah menelepon, memastikan kalau aku tidak lupa dengan janji bertemu Mas Abram. Dari penjelasan Lala, Mas Abram melihat fotoku di Instagram yang di posting Lala, dan dia memaksa untuk dikenalnya. Semula Lala menolak, mengingat sikapku yang cukup tertutup dan tidak ingin didekati. Tapi karena sudah muak dipaksa, Lala terpaksa menyetujuinya.
Di Kafe Lantai Dua ini terlihat cukup ramai. Tapi aku bisa dengan mudah menemukan posisi Lala dan Mas Abram yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Apalagi Lala dengan semangat melambai-lambai tangan saat melihatku.
“Ini Mas Abram Keiy. Ganteng, kan?” ucap Lala setelah aku berdiri dihadapan mereka.
Wajah Mas Abram tampak memerah. Dia mengulurkan tangan. “Abram.”
“Keiysa,” balasku.
“Duduk di sini Keiy,” tukas Lala sambil menuntunku duduk berhadapan dengan Mas Abram.
“Kalian mau pesan apa? Biar aku pesankan ke kasir.”
“Yang enak apa, La?” kataku meminta rekomendasi. Ini pertama kalinya aku datang ke kafe ini.
“Di sini Spaghetti Bolognese enak, Keiy,” jawab Mas Abram.
“Kalau minumannya, Mas?”
“Ice Lychee Tea,” kini Lala yang menjawab.
Aku mengangguk kepala. “Aku pesan itu saja.”
“Aku juga sama La,” tambah Mas Abram.
Lala bangkit dari kursinya. “Oke, aku ke kasir sekarang. Kalian silakan ngobrol-ngobrol dulu.”
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA DAN MENANTIKANNYA. TERUS TUNGGU EPISODE SELANJUTNYA.
__ADS_1