Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 13.1


__ADS_3

Rion melirik ke arah Galang yang sedang duduk di jok belakang melalui auto dimming rear mirror yang ada di depannya. Remaja itu lebih memilih duduk di sana, daripada duduk persis di sampingnya. Tolehan kepalanya pun selalu menghadap jendela, memandang beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya sejak mobil Toyota ini keluar dari halaman kosan dan Rion tak perlu bertanya di mana alamat rumah keluarga kecil itu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Gebri setelah lima tahun berlalu, dia mendadak menjadi stalker yang mencari tahu segala sesuatu tentang Gebri. Bahkan dia tak segan-segan mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengetahui alamat Gebri, yang sempat disesalinya kenapa tidak sejak dahulu saja mencarinya.


“Kamu lapar, Lang?”


Galang diam saja. Pandangannya masih tertuju ke arah jalanan.


“Kita makan dulu, ya?!”


“Nggak. Langsung pulang aja,” ucap Galang tanpa menolehkan kepalanya.


Lampu sein yang sudah terlanjur dinyalakan, berniat untuk berbelok ke sebuah rumah makan yang menjadi saksi perbincangannya dengan Gebri beberapa hari lalu, terpaksa dimatikan dan mobil berwarna super white itu kembali membelah jalan Raya Solo. Setelah melewati depan Universitas Muhammadiyah Surakarta dan kini memasuki salah satu gang yang ada di jalan Honggowongso,  perjalanan mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah satu lantai yang tampak sunyi, menunjukkan memang sedang tidak ada penghuninya di sana.


“Terima kasih,” ujar Galang sebelum menutup pintu mobil.


“Lang!” panggil Rion seraya mendekat ke arah remaja yang hampir mengimbangi tinggi tubuhnya. “Bisakah kita bicara sebentar?”


“Aku capek.”


Galang menggerakkan kakinya lagi.


“Aku ingin membicarakan tentang Gebri.”


Gerakan Galang yang hendak memasukkan kunci ke lubang pintu seketika berhenti, lalu kepalanya berpaling ke arah Rion yang sudah berdiri di belakangnya. Kedua matanya langsung melotot. Dia selalu tak suka nama mbaknya disebut-sebut oleh Rion. Rasa benci ini terlalu menggerogoti hatinya.


“Bicaralah!” tutur Galang sambil duduk di kursi plastik yang ada di sampingnya. Setiap berhubungan dengan mbaknya itu, dia tak bisa hanya sekadar berdiam diri saja.


Rion ikut duduk, mengambil posisi tepat di samping kirinya.


“Cepatlah bicara! Aku capek dan ngantuk,” seru Galang lagi.


“Dalam keluarga, saudara laki-laki mempunyai tanggung jawab yang besar. Ketika tidak ada sosok ayah, saudara laki-laki yang akan mengganti semua tugas ayah dan menjadi—”


“Langsung to the point. Jangan bertele-tele!” hardik Galang keras.


Rion sedikit menghela napas.


“Seperti perkataanku kemarin, aku ingin menikahi mbakmu dan aku berharap kamu merestuinya. Meskipun usiamu belum sembilan belas tahun, tapi aku tidak bisa mengabaikan kalau kamu adalah wali nikahnya beberapa tahun lagi. Aku ingin kamu merestui kami.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau aku tidak merestuimu?” tantang Galang sambil menyeringai.


Sekali lagi Rion menarik napas, kemudian mengembuskannya.


“Apakah kamu tahu kalo seorang laki-laki bisa berbuat sesuatu tak logis hanya demi seorang perempuan?”


“KAU MENGANCAMKU?” teriak Galang lantang, tubuhnya tiba-tiba berdiri.


“Aku tidak ada maksud sedikitpun untuk mengancammu. Aku hanya mengutarakan apa yang aku pikirkan dan sebagai bukti kalau aku menghargaimu karena kamu adalah adik laki-laki Gebri. Aku tidak ingin seperti lima tahun lalu, menjadi pecundang dan takut mengambil keputusan. Aku benar-benar akan menebus segala kesalahanku selama ini.” Rion mengujar dengan sangat tenang, seolah tak terusik sedikitpun dengan suara keras dari Galang sudah berdiri tegak dan kapan saja bisa bertindak seperti Sabtu sore itu, yang memukul dengan sangat bertenaga.


“Apa jaminan kalau kamu tak akan menyakiti mbakku lagi?”


“Aku tidak bisa menjamin apa-apa. Hanya kamu harus percaya kalau aku tidak akan pernah menyakiti mbakmu lagi,” jawab Rion seraya bangkit dari tempat duduknya, kemudian melirik jam yang ada di pergelangan tangan. “Masuklah, lalu istirahat! Aku akan pergi sekarang,” ucapnya sebelum melangkah menuju mobil yang terparkir di depan pagar, dan pembicaraan singkat hari ini berakhir tanpa kesimpulan apa-apa, apakah Galang mau merestui hubungannya dengan Gebri atau tidak.


^_^


“Yuk masuk, Bun!” ajak Gebri setelah mobil Toyota milik Rion tak terlihat retina mereka lagi sambil membuka pintu kosan dan mengulurkan tangannya.


Rasti mengganggukkan kepala singkat, kemudian membalas uluran tangan sang anak. Matanya menoleh sebentar ke halaman, di mana beberapa menit lalu terdapat sebuah mobil berisi anak laki-lakinya dan sosok Rion yang pernah menjadi tokoh utama di kisah pilu anak perempuannya. Sungguh, dia begitu merasa sangat khawatir dan cemas sekarang, takut sikap ababil khas remaja Galang kembali menyeruak, gelisah jika Galang kembali bertindak anarkis dan meninggalkan beberapa bekas biru di wajah tampan Rion lagi.


“Untuk apa kamu datang ke sini?” Galang bertanya dengan sinis.


Rion membalas dengan senyuman ramah, kemudian berujar, “Apa kabar, Tan, Lang?”


“Kami baik, Yon. Kamu gimana?” jawab Rasti sambil menyungging senyum pula.


“Saya juga baik, Tan.”


Galang mendengus. “Jangan berbasa-basi! Apa maksud kedatanganmu ke sini?”


Rion kembali mengumbar senyum sebelum menjawab, “Kedatangan saya ke sini bermaksud untuk meminang Gebri. Saya ingin menikahi—”


BUK! Rion tak siap, bahkan otaknya tak terpikirkan akan mendapatkan serangan mendadak ini. Seketika sudut bibirnya langsung berdarah dan rasa perih spontan menderainya. Rasti yang melihat kejadian cukup mengerikan di depannya langsung berdiri, menarik lengan Galang menjauh, dan membawa ke belakang tubuhnya. Kemudian dia mendekat ke arah Rion yang tersungkur ke lantai keramik, membantunya untuk bangkit dan mendudukkan kembali ke atas sofa.


Galang masih belum puas, masih ingin melancarkan aksi brutalnya. Tapi Rasti yang ada di depannya kontan mendelikkan mata, memperingati.


“Kamu tidak apa-apa, Yon?” tanya Rasti sambil menuntun wajah Rion ke arahnya.

__ADS_1


Kepala Rion membalas dengan anggukan singkat. Bibirnya benar-benar terasa perih, pasti. Sepertinya Galang memukulnya dengan sekuat tenaga.


“Lang, ambil kotak P3K!” suruh Rasti pada sosok Galang yang menatapnya tidak suka. “Lang!” panggil Rasti saat tak ada tanda-tanda kalau Galang beranjak dari tempat duduknya.


Galang mendecih, lalu bangkit dari tempat duduk dan melangkah memasuki ruang tengah. Beberapa detik kemudian, dia sudah kembali berada di ruang tamu dengan sebuah kotak berwarna putih. Dengan enggan dia menyodorkan ke arah Rasti.


“Sini Tante obatin?”


Rasti menumpahkan sedikit desinfektan ke kapas dan menempelkan sedikit demi sedikit ke sudut bibir Rion. Laki-laki itu sedikit meringis, rasa perih kian menghampiri.


“Maafkan sikap Galang, ya Yon!” ucap Rasti sambil memasukkan kembali alat-alat yang telah digunakan ke dalam kotak.


“Sebelum Tante bilang, saya sudah memaafkan Galang kok, Tan.” Rion menyunggingkan senyum. Sunggingan tidak selebar seperti beberapa menit lalu, sudut bibirnya masih terasa sakit. “Tapi saya serius dengan perkataan saya tadi, Tante. Saya ingin menikahi Gebri. Saya ingin menebus kesalahan saya selama ini. Saya ingin membahagiakannya, Tan.”


“Bun, kok melamun? Apa yang sedang Bunda pikirkan?”


Rasti sedikit tersentak, pikiran tentang kejadian sehari yang lalu langsung buyar. Retina matanya menatap ke arah Gebri yang memasang mimik heran dan bercampur tatapan khawatir. Apa yang harus dilakukannya kepada perempuan muda ini? Haruskah dia menyetujui pinangan Rion? Rion tampak begitu serius. Begitu terpancar dari kedua bolamatanya. Tapi...


“Bun! Bunda baik-baik saja, kan?” tanya Gebri sambil memegang lengan Rasti.


“Bunda baik-baik saja, kok,” angguk Rasti dengan menempelkan telapak tangannya ke tangan Gebri, sedikit menepuk-nepuk kecil.


“Bunda sudah makan? Aku masih ada ayam goreng yang aku beli siang tadi.”


“Sudah. Bunda sudah makan.” Sekali lagi Rasti menepuk-nepuk kecil telapak tangan Gebri dengan pandangan mata yang tak terlepas darinya. “Bagaimana hubunganmu dengan Rion?” Setelah terdiam cukup lama dalam pikiran mereka masing-masing, Rasti akhirnya mengutarakan keinginantahuannya, dan rasa penasaran itu semakin besar tatkala melihat Rion yang mengantar Gebri tadi.


“Hubungan?” ulang Gebri dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Rasti. “Maksud Bunda?” Mau tak mau kening Gebri sekarang mengernyit. Bingung.


“Apakah kamu berpacaran dengannya?”


“Tidak, Bun,” geleng Gebri cepat. “Tapi dia mengajakku....” Ditarik napasnya sebentar. Banyak kebimbangan yang terselip dibenaknya. Haruskah dia mengatakannya? “Untuk menikah,” sambungnya dengan menundukkan kepala, takut melihat ekspresi Rasti.


Rasti mengembuskan napas. Sudah diduganya. Ucapan Rion di Sabtu sore itu memang bukan sekadar main-main belaka. Malam harinya setelah kedatangan Rion, pikiran Rasti sangat tenang. Matanya tidak mau tertutup, selalu membelalak dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Makanya hari ini dia memutuskan untuk ke Yogyakarta, mendatangi kosan Gebri untuk pertama kalinya. Banyak yang harus ditanyakan. Banyak yang harus dipastikan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi diantara mereka setelah lima tahun berlalu, hingga laki-laki yang berahang tegas itu berani mengunjungi rumah mereka dan mengutarakan keinginannya untuk meminang Gebri.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! **TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA!


JANGAN LUPA VOTE, COMMENT, AND LIKE YA!!!**

__ADS_1


__ADS_2