
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dengan menggunakan kereta api Prameks, singkatan dari Prambanan Ekspress, akhirnya Gebri tiba di stasiun Solo Balapan dan langsung mencari tukang ojek. Galang tak dapat menjemputnya, hari ini bukan merupakan libur nasional, jadi sekarang dia pasti sedang berada di sekolah.
Dari stasiun ke rumahnya ditempuh hampir dua puluh menit, dan sekarang Gebri sudah berada di depan rumah yang pintunya tertutup rapat. Siang hari di hari-hari sibuk seperti ini, rumah mereka memang selalu terlihat sepi, orang rumah sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti Bunda yang sedang mengajar di sekolah dan Galang yang sedang menuntut ilmu. Untungnya Gebri masih menyimpan kunci duplikat rumah, dia tak perlu menunggu di luar. Saat pintu terbuka, mata Gebri langsung dihadapkan dengan ruang tamu berukuran 3 m x 3 m dan dinding-dinding yang ditempeli berbagai jenis foto, dengan fotonya dan Galang yang paling mendominasi.
“Ayah, aku pulang,” lirih Gebri ketika mendekat ke salah satu foto laki-laki gagah dalam balutan seragam polisi, dia selalu merindukan sosok itu, sosok yang telah damai di tempat peristirahatan terakhirnya.
Kemudian kaki Gebri semakin masuk dan memasuki sebuah ruangan yang sudah lama tidak ditempatinya. Kamar itu tidak ada yang berubah sejak ditinggal hampir tiga bulanan, semua barang miliknya masih tersusun dalam posisi yang sama. Bahkan tidak ditemukan debu menumpuk di sana. Setelah membongkar tas dan berganti pakaian, Gebri melangkahkan kaki ke dapur. Seperti hari-hari saat dia masih tinggal di rumah ini, dapur memang selalu terlihat sedikit berantakan, dengan piring-piring kotor yang ada di bak cuci piring, juga beberapa peralatan masak yang masih bertengger di atas kompor. Tuntutan pekerjaan Bunda sebagai seorang guru memaksanya untuk tepat waktu datang ke sekolah, dan akhirnya meninggalkan dapur dalam kondisi yang cukup kacau di pagi hari.
Gebri mulai mengumpulkan peralatan-peralatan masak itu, lalu membawa ke dalam bak, berniat untuk mencucinya. Tiga puluh menit kemudian, kaki Gebri beranjak ke depan kulkas, melihat-lihat isinya yang bisa diolah dan memutuskan untuk membuat ayam goreng beserta tumisan kangkung. Sekitar satu jam lagi, Bunda dan Galang mungkin sudah pulang dari sekolah dan mereka pasti sedang kelaparan.
“Mbak!” panggil Galang sambil mendekat ke arah Gebri yang sedang mencuci piring, membersihkan peralatan yang digunakan untuk memasak tadi. “Datang jam berapa, Mbak?” sambungnya yang kini sedang berjalan ke depan kulkas.
Gebri menolehkan kepala ke arah dinding bagian Utara, menatap jam berbentuk bulat yang sedang menunjukkan jarum panjang di angka satu dan jarum pendek di angka dua.
“Sampai rumah sekitar jam setengah satuan kurang.”
“UTS-nya gimana, Mbak? Lancar?”
Gebri menganggukkan kepala. “Lancar dan sekolahmu gimana, Lang?”
“Yah, begitu-begitu saja, Mbak.”
Gebri meletakkan piring terakhir ke rak sebelum mendatangi Galang yang sedang membuka tudung saji.
“Kamu mau makan sekarang atau tunggu Bunda?”
“Kita makan duluan saja, Mbak. Bunda mungkin agak lama pulangnya.”
“Memangnya Bunda kemana?” tanya Gebri seraya menuju ke rak piring dan kemudian mengambil nasi dari rice cooker yang terletak di sampingnya.
“Jemput Bulik Ambar dan Mbak Erika di bandara. Aku berharap kalau mereka tidak akan lama menginap di sini. Aku tak terlalu suka dengan mulut mereka.”
“Hush, tidak boleh berbicara begitu!” tegur Gebri, tangannya meletakkan piring di hadapannya dan di depan Galang.
“Aku tidak membenci mereka, Mbak. Hanya tak suka dengan mulut mereka. Mulut mereka seperti ular berbisa.”
“Jangan berkata seperti itu, Lang. Tidak baik.”
__ADS_1
“Mereka pernah menghina, Mbak,” tukas Galang merasa tak terima.
“Semua sudah berlalu. Lupakan semua hal-hal buruk tentang mereka dan sebaiknya kita makan siang sekarang,” ucap Gebri sambil sedikit menggeser piring ayam goreng dan tumis kangkung mendekati piring Galang, berharap laki-laki remaja itu tergiur dengan hidangannya dan topik ini bisa dapat berhenti.
Galang merespon dengan suara dengusan yang keluar dari embusan napasnya, menandakan kalau dia sedang kesal dengan kakak satu-satunya itu. Dengan sedikit kasar hingga terdengar bunyi aduan sendok dan piring, Galang mengambil sepotong ayam dan sebongkah tumis kangkung ke dalam piring, dan lantas melahapnya dengan terburu-buru. Gebri hanya dapat menggelengkan-gelengkan kepala melihat tindakan laki-laki bertubuh jangkung itu.
^_^
“Kamu kuliah di UY, Geb?”
Gebri yang hendak mengambil teko air terpaksa mengurungkannya, matanya langsung memandang Ambar yang sedang juga menatap dirinya.
“Iya, Bulik. September kemarin masuk ke sana.”
“Swasta, kan? Pasti mahal masuk ke sana.” Kini suara Erika yang terdengar.
Belum sempat Gebri memberikan jawaban, Ambar sudah kembali mengeluarkan suara.
“Seharusnya kamu tidak perlu kuliah lagi, Geb. Menyia-nyiakan uang pensiunan almarhum ayahmu saja.”
“Kenapa, Bulik? Mbak Gebri anak Ayah, jadi wajar-wajar saja memakai uang pensiunan Ayah,” celetuk Galang yang sejak kedatangan Ambar dan Erika memang selalu menunjukkan sikap ketidaksukaannya.
“Memang kenapa dengan kejadian lima tahun lalu, Bulik?” sambar Galang mendelik ke arah wanita yang duduk di hadapannya, menunjukkan tatapan sinis.
“Dia pernah mempermalukan keluarga besar kita, seharusnya dia tidak perlu kuliah lagi, cukup sampai SMA saja. Sebaiknya dia memikirkan apakah ada laki-laki yang mau menikahinya. Dia pernah hamil di luar nikah,” serobot Ambar dengan membalas tatapan Galang, tak kalah sinis.
“Memang kalau perempuan yang pernah hamil di luar nikah, tidak boleh melanjutkan kuliahnya? Bukankah setiap orang berhak mendapatkan pendidikan? Dan Bulik tak perlu khawatir dengan masa depan Mbakku. Aku yakin banyak laki-laki di luar sana yang mau menikahinya. Wajah Mbak Gebri cantik, sifatnya baik, dan dia juga sangat pintar terbukti dari nilai UN-nya tertinggi se-Solo. Daripada mengkhawatirkan Mbak Gebri, sebaiknya Bulik memikirkan Mbak Erika saja,” papar Galang dengan suara sedikit lantang.
“Apa maksudmu, Lang?”
“Bukankah kita semua tahu, Mbak Erika adalah orang ketiga dari hancurnya rumah tangga antara Mas—”
“Galang, sudahlah!” ucap Rasti mencoba memberhentikan pertikaian adu mulut yang semakin memanas.
“Inilah mengapa dulunya aku tidak menyetujui Masku menikah denganmu, Mbakyu. Karena aku yakin kalau kamu tidak bisa mendidik anakmu dengan benar,” ucap Ambar sebelum bangkit dari tempat duduk, beranjak menuju kamar tamu yang diikuti Erika yang sempat mengeluarkan beberapa makian dan tatapan penuh kebencian.
“Apa maksud Bulik berbicara seperti itu kepada Bundaku?” seru Galang sambil berdiri, tak suka dengan perkataan wanita paruh baya bersanggul itu yang menyalahkan Rasti, bundanya tidak pernah mengajarkan hal tidak benar selama ini seperti perkataan Ambar.
__ADS_1
“Sudah Galang! Sudah!” Rasti bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Galang dan mengusap-usap punggung anak laki-lakinya, berharap emosi remaja itu kian surut. “Kamu makan lagi, ya! Kamu mau tambah lagi?” tutur Rasti sambil mendekatkan beberapa piring berisi lauk-pauk ke arah Galang.
^_^
Malam semakin larut, tapi mata Gebri masih terbelangah menatap langit-langit kamar. Diapun sudah menghitung mundur seratus anak domba, yang kata orang-orang merupakan cara ampuh untuk menidurkan diri, tapi ternyata tak memberikan efek apa-apa. Matanya masih tetap tidak terpejam, kelopak masih terasa sangat ringan. Sesaat kemudian Gebri memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur, berniat pergi ke dapur dan membuat segelas susu. Siapa tahu setelah meminum segelas susu, matanya mulai berasa hendak terpejam. Dari artikel yang dia baca, susu mengandung zat disebut triptofan yang merupakan zat yang dapat berubah menjadi hormon melatonin yang bisa membuat tidur menjadi lebih nyenyak pada malam hari.
Seluruh ruangan sudah gelap. Sebelum keluar dari kamar, Gebri sempat melihat jam digital dari ponselnya, menampakkan angka 11:20. Bunda, Galang, serta Bulik Ambar dan Mbak Erika pasti sudah tidur lelap sekarang. Dengan bantuan rembulan yang melewati jendela dan ventilasi, Gebri melangkahkan menuju dapur, lalu menekan sakelar sehingga ruang tempat memasak itu menjadi terang benderang. Tangannya langsung mengambil sebuah gelas dan memasukkan beberapa sendok susu bubuk, lalu membawanya mendekat dispenser di samping kulkas dan menyeduh dengan air panas.
“Kamu belum tidur, Geb?”
“Ehm, ya Bun,” jawab Gebri yang mendadak merasa gugup dengan kedatangan bundanya, tidak menduga kalau wanita paruh baya yang sedang memakai daster batik itu belum tidur. Sejak kedatangan ke rumah ini siang tadi, mereka tidak banyak bicara seperti halnya lima tahun belakangan ini. Hanya sekedar saling menanyakan kabar. “Bunda mau aku buatkan susu juga?” tawar Gebri mencoba memecahkan keheningan yang ada, pula mencoba membangun komunikasi yang menurut Koning, komunikasi bisa menjadi awal untuk menjembatani menyelesaikan kesalahpahaman.
“Bunda ingin teh, tapi nanti Bunda yang buat sendiri.”
“Biar aku saja yang buatkan, Bun,” ucap Gebri yang langsung bergerak cepat mengambil gelas di rak dan teh celup yang ada di dalam kabinet atas.
Kali ini dia tidak akan mengindahkan Rasti yang hendak menolak bantuannya, seperti yang selalu wanita paruh baya itu lakukan selama ini, dan dia tak punya banyak waktu lagi untuk menunda pembicaraan mereka. Dua hari lagi dia sudah harus kembali ke Yogyakarta, kembali melakukan rutinitas yang berhubungan dengan kampus dan mata kuliahnya. Selama sisa waktu yang singkat ini, Gebri berharap ada yang berubah diantara mereka, setidaknya hubungan mereka semakin baik layaknya hubungan diantara seorang anak dengan seorang ibu, yang selalu bisa berbicara dengan santai tanpa merasa seperti berbicara dengan orang asing.
“Ini tehnya, Bun,” ucap Gebri sambil menyodorkan secangkir teh kehadapan Rasti yang langsung melontarkan ucapan terima kasih, kemudian Gebri menarik kursi dan ikut duduk di samping Rasti.
Mereka minum minuman masing-masing dalam kesenyapan. Sekali-kali Gebri tampak memalingkan muka ke samping, menoleh ke arah Rasti yang sedang menikmati teh buatannya. Hati Gebri mendadak menghangat, merasa begitu berbunga-bunga. Sudah lama mereka tidak duduk bersama, hanya berdua seperti ini. Biasanya selalu ada Galang ataupun orang lain, jarang bundanya mau duduk saling bersebelahan. Selama lima tahun ini, beliau sangat terkesan seperti menghindar.
“Bun,” panggil Gebri.
Rasti seketika menolehkan kepala, kemudian memberikan tatatapan tanya.
“Aku minta maaf karena gara-gara aku, Bulik jadi marah kepada Bunda.”
“Tidak, itu bukanlah salahmu,” geleng Rasti.
Suasana kembali senyap. Gebri meneguk susunya lagi, begitupula dengan Rasti yang juga sedang meneguk tehnya. Cukup lama suasana ini berlangsung, hingga mata Gebri menangkap cangkir Rasti yang hampir kosong.
“Bun,” panggil Gebri lagi.
Rasti kembali menolehkan kepala. Dia tidak akan membiarkan malam larut ini menjadi sia-sia dan membuang kesempatan ini. Yang Kuasa mungkin sudah merencanakannya.
“Apakah Bunda membenciku....” Gebri meneguk susunya sekali lagi, hatinya kini bergemuruh dengan kencang, begitu gugup dan takut perkataannya akan semakin memperburuk keadaan. “Karena aku pernah hamil di luar nikah?”
__ADS_1
TOLONG COMMENT, VOTE, DAN LIKE-NYA DONG!!!