
“Apakah Bunda membenciku....” Gebri meneguk susunya sekali lagi, hatinya kini bergemuruh dengan kencang, begitu gugup dan takut perkataannya akan semakin memperburuk keadaan. “Karena aku pernah hamil di luar nikah?”
Rasti dengan cepat-cepat menggerakkan kepala ke kiri dan kanan. “Tidak. Tidak pernah sekalipun Bunda membencimu.”
“Lalu kenapa sikap Bunda berubah hampir lima tahun ini?”
Tiba-tiba air mata Rasti keluar, membentuk linangan yang memeranjatkan Gebri hingga matanya terbelalak lebar. Dia segera menggeserkan kursinya agar semakin mendekati ke kursi Rasti.
”Kenapa Bunda menangis? Apakah aku sudah menyakitkan perasaan Bunda?” ucap Gebri seraya menghapus jejak-jejak air mata yang membasahi kedua pipi Rasti. “Bun, aku minta maaf kalau ada perkataanku yang menyakitmu. Aku tidak bermaksud—”
“Jangan! Jangan meminta maaf kepada Bunda! Seharusnya Bunda yang meminta maaf kepadamu karena telah membuatmu menderita selama ini.”
Gebri menggelengkan kepala. “Tidak Bun. Bukan Bunda yang harus meminta maaf, tapi aku. Selama ini aku yang sudah membuat Bunda menderita dengan aibku, membuat Bunda dicemooh orang-orang, dan membuat keluarga pihak Ayah membenci Bunda. Aku sungguh meminta maaf, Bun. Aku sudah durhaka kepadamu.” Kini tubuh Gebri memeluk tubuh Rasti, air matanya tanpa sadar juga turun menghiasi kedua pipinya.
“Apa-apakah kamu mem-membenci Bunda?” lirih Rasti terbata-bata dan nyaris tak terdengar, suara tangisan yang tersedu-sedu masih mengungguli, lengannya memerangkap tubuh Gebri, membalas dekapan dari anak sulungnya.
“Tidak, Bun. Tidak pernah sekalipun perasaan itu terlintas di pikiranku.”
“Apakah kamu marah kepada Bunda?”
“Tidak, Bun,” geleng Gebri sambil sedikit mengendurkan pelukan mereka, diusap-usap kedua matanya yang tampak buram, air mata begitu deras menghiasi kedua maniknya. “Tapi aku hanya bingung dan bertanya-tanya, kenapa sikap Bunda berubah kepadaku. Aku merindukan sosok Bunda yang dulu, yang selalu menceritakan banyak hal kepadaku dan selalu mengajakku bercanda,” lanjutnya sambil menatap kedua mata Rasti yang masih basah.
Rasti kembali mendekap tubuh Gebri sebelum berucap, “Maaf. Maafkan Bunda. Bunda tidak berniat untuk menyakiti hatimu. Bunda hanya merasa begitu bersalah setiap kali melihat wajahmu.”
“Maafkan aku, Bun.”
Untuk sekian kali, Gebri kembali melisankan permintaan maafnya.
“Bunda yang seharusnya meminta maaf. Bukan kamu. Bunda sudah membuatmu menderita karena tidak menuntut Rion.”
“Setelah mendengar berita kehamilanku, Bunda begitu kokoh untuk meminta pertanggung jawaban Rion. Tapi tiba-tiba Bunda menyuruhku merahasiakannya.” Gebri sedikit mengambil napas, memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya, tampak begitu gamang. “Sebenarnya apa yang terjadi, Bun?”
Air mata Rasti kembali menyembul, kembali membasahi dan mengalir di kedua pipinya. Bahkan sekarang tangisan itu terkesan lebih keras dari yang beberapa menit lalu, membuat Gebri merutuki tindakannya. Memang tak seharusnya dia mempertanyakan kejadian lima tahun lalu, pasti membuka luka lama yang pernah dialami sang Bunda, yang selalu dicaci dan dimaki orang-orang sekitar.
“Bun, maafkan aku. Kalau Bunda tidak mau—”
“Co-coba dulu Bunda tidak me-meminjam uang ke mereka, pas-pasti kamu tidak akan semenderita ini, dan hubungan diantara ki-kita pun pasti baik-baik sa-saja,” ucap Rasti terbata-bata dengan tangisan yang berubah menjadi tersedu-sedu.
Gebri tak mengatakan apa-apa, cukup menjadi pendengar yang sering dilakukan Koning selama mendengarkan kisahnya. Mungkin inilah awal untuk kembali memperbaiki dan memulai hubungan yang sempat kacau diantara mereka.
__ADS_1
“Bunda saat itu sa-sangat bingung. Bunda sudah mencoba menghubungi beberapa keluarga yang mungkin bisa membantu kita, ta-tapi merekapun sedang dalam kondisi yang cukup sulit. Sedangkan saat itu, Galang harus segera dioperasi dan pihak rumah sakit mau menanganinya apabila ada uang jaminan,” papar Rasti sambil sekali-kali terisak.
Benak Gebri menerawang ke Sabtu sore di pertengahan bulan April lima tahun lalu, saat dia dan Rasti mendapatkan kabar duka kalau Galang mengalami tabrak lari. Setelah wanita paruh baya itu bercakap-cakap dengan dokter, Rasti langsung menghilang hampir tiga jam.
“Jadi Bunda mendatangi rumah keluarga Fernandez, mencoba meminta pertolongan,” sambung Rasti lagi, butir bening kembali menggenang dan memupuki di kedua matanya, sebagian kembali menjejaki kedua pipinya.
Gebri menggerakkan jemarinya ke wajah Rasti, mengusap lembut aliran air mata yang menghiasi wajahnya.
“Ayah Rion mau meminjamkan bahkan memberikannya, tetapi dengan dua syarat. Kita tidak boleh memberitahukan kalau bayi itu milik Rion dan kita juga tidak boleh meminta pertanggungjawabannya,” ucap Rasti dengan tangisan yang meraung, menumpahkan rasa sesak yang memenuhi hatinya sejak dulu.
Air mata Gebri tidak bisa tertangguh lagi, butir bening itu kembali keluar, dia seolah bisa merasakan perasaan Rasti selama ini.
“Sejak itu, setiap kali melihatmu, Bunda selalu merasa bersalah, selalu merasa tak layak menjadi ibumu. Bunda seharusnya meringankan bebanmu, tapi Bunda justru menjerumuskanmu dalam penderitaan,” imbuhnya lagi, lengan Rasti menangkap tubuh Gebri ke dalam dekapannya. “Maafkan Bunda. Maafkan Bunda, Geb. Maafkan Bunda,” lirihnya di sela-sela suara tangisan yang masih mengebu-gebu, sedangkan lengan Gebri membalas dekapannya, merangkul dengan begitu erat, berharap beban yang tersimpan di hati wanita diujung 30-an itu dapat menghilang.
Malam semakin larut, tangisan Gebri dan Rasti masih terdengar. Setelah di dalam kamar pun, ketika Gebri memutuskan untuk tidur dengan bundanya, suara tangisan dengan ucapan-ucapan permintaan maaf yang saling menyahut tetap terdengar. Untungnya penghuni di rumah ini tidak terbangun, mereka pasti tidur dengan nyenyak sehingga merasa tak terganggu. Dan sebelum beranjak ke alam mimpi dalam pelukan hangat Rasti, setelah berada di Yogyakarta nanti, Gebri berjanji akan mentraktir gadis berkacamata itu. Berkat sarannya, mungkin hubungan dengan Rasti akan berubah, menjadi lebih baik.
Terima kasih, Kon, batin Gebri sesaat sebelum rasa ngantuk menyerangnya.
¬^_^
“Setelah sampai di kosan, jangan lupa masukkan kering tempe ini ke dalam toples.”
“Ya, Bun,” jawab Gebri sambil menganggukkan kepala dan matanya memperhatikan kegiatan Rasti yang sudah berkutat di atas meja makan.
“Ya, Bun.” Gebri kembali mengangguk kepala, bibirnya tak berhenti untuk tersenyum dengan wajah sumringah. Inilah sosok Bunda yang dahulu dikenalnya, sedikit cerewet dan penuh perhatian.
“Jangan bawa motornya ngebut-ngebut, Lang! Santai-santai saja,” seru Rasti yang sekarang beralih ke sosok Galang yang sedang duduk di kursi dengan sebuah piring batu di hadapannya, sekali-sekali jemari tangannya tampak asyik mencomot kering tempe dalam balutan gula dan kecap.
“Sip, Bun,” balas Galang dengan menunjukkan jempolnya. “Aku mau panasin motor dulu di depan,” sambungnya sambil berdiri, tak lupa mengambil beberapa irisan tempe dan meletakkan di telapak tangannya, berniat untuk memakannya selama menuju ke teras rumah.
Sejak perbincangan penuh derai air mata di waktu itu, hubungan Gebri dan Rasti benar-benar bisa dikatakan sangat baik, hubungan mereka kembali seperti dahulu saat sebelum pertemuan mereka dengan keluarga Fernandez. Mereka kembali bercanda, bersenda gurau dengan terpingkal-pingkal, menjahili Galang hingga remaja itu memasang wajah cemberut, dan juga mulai bercerita banyak hal, dari kegiatan sehari-hari hingga ke kejadian-kejadian lucu yang pernah dialaminya. Gebri pun tak lupa menceritakan tentang gadis berkacamata bergigi gingsul yang hobi belanja dan mendadak menjadi gadis bijaksana setelah mendengarkan kisah kelamnya. Ah, mendadak dia merindukan gadis itu.
Gebri melirik ke arah Rasti yang masih membungkus beberapa makanan untuk dibawa ke Yogyakarta. Sebenarnya ada dua hal yang belum diceritakan kepada wanita yang sekarang sedang memakai daster bermotif bunga dan kacamata bertengger di hidungnya. Tentang Rion yang satu fakultas dan pertemuan dengan ibu dan abang Rion. Entah karena malas atau takut merusak suasana, sampai dua hari ini dia masih menyembunyikan fakta itu, meskipun dia tahu ada baiknya dia menceritakan kepada bundanya, mungkin Rasti bisa memberikan wejangan apa yang harus dilakukan untuk menghadapi keluarga itu, terutama menghadapi Rion yang semakin gencar menghubunginya. Bahkan pagi tadi, pesan dari Rion kembali muncul di kotak masuk Line-nya.
“Bun,” panggil Gebri yang dibalas dengan gumaman oleh Rasti. “Aku bertemu Rion dan keluarganya,” ujarnya yang seketika memberhentikan gerakan Rasti yang masih memasukkan beberapa makanan ke dalam plastik.
“Apakah mereka menyakitimu?”
Kepala Gebri cepat-cepat menggeleng dan Rasti langsung mengembus napas.
__ADS_1
“Sebenarnya Rion satu fakultas denganku.”
“Lalu di mana kamu bertemu keluarganya?” tanya Rasti sambil mendekat ke posisi Gebri.
“Di Dunkin’ Donuts saat menemani Koning ke sana.”
“Apakah mereka mengatakan sesuatu?”
Lama Gebri terdiam. Bingung. Haruskah dia mengatakannya?
“Apakah mereka mengatakan sesuatu kepadamu, Geb?” ulang Rasti yang kini lebih menggeserkan kursi yang baru didudukinya mendekat ke arah Gebri, hingga lutut mereka saling bertemu.
“Mereka menanyakan tentang bayiku.”
“Apakah kamu mengatakan tentang dia?”
Gebri menggelengkan kepala, kemudian berkata dengan menampilkan raut bingung. “Aku harus bagaimana, Bun?”
Rasti sedikit mengambil napas, kemudian mengembuskannya. Ditatap kedua manik Gebri. “Bunda masih merasa sakit hati dengan sikap mereka. Tapi bagaimanapun Rion tetap ayah biologisnya dan berhak mengetahui tentangnya, begitu juga dengan keluarga Rion. Putramu tetap bagian dari keluarga mereka.”
“Haruskah aku memberitahu tentang dia, Bun?”
Gebri masih tampak belum yakin, bukankah dulu Rasti menyuruhnya agar tidak berurusan dengan keluarga Fernandez lagi.
“Geb, dengarkan Bunda!” ucap Rasti dengan menatap lekat mata Gebri. “Meskipun mereka pernah menyakiti kita, tapi darah mereka tetap mengalir di darah putramu. Mereka mempunyai hak untuk tahu tentang dia.”
Gebri hanya mengangguk kepala, kemudian kembali melanjutkan kalimat, “Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu, Bun.”
“Katakanlah Geb!”
“Satu fakultasku, mungkin satu kampusku sudah mengetahui kalau aku pernah hamil dan Rion ayahnya.”
Mata Rasti kontan terbelalak lebar. Begitu terkejut. Benaknya pun mulai bertanya-tanya, apakah Gebri kembali mendapatkan diskriminasi seperti di sekolah menengah pertamanya dulu, saat mereka masih tinggal di Jakarta. Memikirkannya saja semakin membuat dada Rasti sesak, kedua manik Rasti mulai tampak berkaca-kaca. Sampai kapan putri semata wayangnya akan terus menderita.
“Aku baik-baik saja, Bun. Aku mohon jangan menangis!”
“Maafkan Bunda, Geb.”
Akhirnya tangisan Rasti kembali pecah.
__ADS_1
“Jangan menangis, Bun. Aku baik-baik saja dan aku berjanji, setelah mengatakan tentang bayiku kepada Rion, aku tidak akan pernah mau lagi berurusan dengannya. Aku akan lebih fokus dengan kuliahku. Aku ingin membuat Bunda bangga,” tukas Gebri sambil membelai wajah Rasti, menghapus jejak-jejak air mata yang kian mengalir, dan kemudian memeluknya.
LIKE! VOTE-NYA DONG!