Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 8.2


__ADS_3

Asep sedikit melongok ke arah belakang Rion, memandang ke arah tangga yang baru saja dilewati laki-laki bermata setajam elang itu. Sudah beberapa kali dia tidak mendapati gadis berbehel yang selalu mengikuti Rion. Padahal biasanya Lisa suka mengintilin kemanapun Rion pergi. Lisa pun sekarang tampak jarang ikut mereka nongkrong, atau mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama. Kemanakah dara itu? Apakah yang terjadi di antara mereka? Benak Asep terus bertanya-tanya.


“Lisa ke mana, Yon?”


Rion hanya mengangkat bahu sedikit, tanda tidak tahu.


“Tumben dia jarang membuntutimu lagi,” seru Asep dengan kening berkerut.


“Entahlah,” jawab Rion sambil ikut menduduki salah satu kursi kayu yang sudah tidak terpakai, tidak mungkin dia mengatakan kalau dia sudah melarang Lisa untuk mengikutinya lagi.


Setelah Kharisma secara gamblang mengatakan kalau dia menyukai Gebri saat mereka berbicara di kantor rumah makan Cinta Geprek 1 beberapa hari lalu, Rion secara pribadi meminta Lisa untuk tidak lagi mengikuti setiap kegiatannya. Meskipun selama dua tahun mereka berteman dan menjadi teman sekelas, Rion tidak pernah mempermasalahkan dan membiarkan saja. Tapi kondisi sekarang berbeda. Gadis yang pernah mengikat hatinya, pula masih mengikatnya hingga sekarang telah datang. Rion ingin lebih memfokuskan dengan gadis berwajah oval itu, memperbaiki dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang seharusnya dia lakukan sejak dulu. Dan kedekatannya dengan Lisa, mungkin bisa menjadi bumerang suatu saat nanti.


“Kharisma sepertinya benar-benar sudah kepincut sama Gebri.”


Rion spontan menolehkan kepalanya ke arah Asep, kemudian mengikuti pandangan laki-laki itu yang mengarah ke arah lapangan besar yang dipenuhi puluhan sepeda motor. Cukup banyak rutinitas yang terjadi di sana. Ada yang sedang mencari tempat parkir yang kosong, ada yang sedang mengambil karcis, adapula yang sedang ngobrol-ngobrol dan duduk-duduk di kendaraan mereka. Dari sekian banyaknya rutinitas yang terjadi, ada dua mahasiswa yang sedang turun dari sepeda motor sport yang menarik perhatian Rion sejak beberapa hari yang lalu. Sudah beberapa kali dia mendapati Gebri dan Kharisma pergi ke kampus bersama. Namun ada sedikit yang berbeda dengan wajah Kharisma di pagi menjelang siang hari ini. Wajahnya tampak berseri-seri. Dari kejauhan, Rion pun dapat melihat lengkungan yang terpatri dari bibir laki-laki seangkatannya itu.


Pagi tadi sebelum pergi ke kampus, Rion untuk kesekian kalinya mengirim pesan. Tak hanya melalui aplikasi Line, tetapi dia juga mengirimkan pesan lewat WhatsApp, pula mengirimkan lewat BBM yang pin-nya didapat setelah membayar teman sekelas Gebri, namun tak ada satupun yang dibalas. Hanya sekedar di-read. Juga tak terhitung sudah beberapa kali dia menghubungi lewat panggilan telepon, dan hasilnya masih sama. Tak satupun panggilannya dijawab. Bahkan dua hari yang lalu, dia membeli kartu Telkomsel yang baru untuk semata-mata agar Gebri mau membalas semua kontaknya. Sesuai dugaan, Gebri sempat menjawab dan langsung memutuskan panggilan telepon saat tahu bahwa sang penelepon adalah dirinya.


Sebenarnya Rion hendak mendatangi kosan Gebri, tapi tindakannya mungkin akan mempersulit gadis itu, mengingat mereka tidak pernah saling menyapa ataupun berbicara di depan orang-orang. Apalagi Rion tahu ada anak sejurusannya yang juga tinggal di sana. Bisa saja menimbulkan spekulasi-spekulasi yang tidak benar, meskipun Rion sangat tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang.


“Tak sangka ya kalau gadis secantik dia pernah mempunyai masa-masa mengerikan,” ucap Asep lagi yang masih menatap Kharisma dan Gebri yang sedang berjalan menuju pintu fakultas. “Waktu kalian SMP, Gebri orangnya kayak mana, Yon?” ucap Asep lagi seraya memandang Rion.


“Dia gadis yang baik dan murah senyum. Sikapnya membuatku jatuh cinta kepadanya.” Ingin rasanya Rion mengucapkan kata-kata itu dengan lantang. Namun yang keluar justru ucapan, “Aku tidak tahu.”


“Kamu beda kelas dengannya?”


Rion hanya menjawab dengan anggukkan.


“Kalau berita kehamilannya itu tidak terungkap, mungkin banyak laki-laki yang akan mengejarnya. Dia cantik dan badannya juga tinggi. Bila melihat dari wajahnya, dia terlihat seperti cewek berotak cerdas. Menurutmu bagaimana, Yon?”


“Benar perkataanmu, Sep. Gebri memang pintar. Koning mengatakan kepadaku kalau nilai UN-nya saja yang tertinggi di sekolahnya,” ungkap Kharisma tiba-tiba ikut nimbrung, yang kemudian mengambil tempat duduk di bangku kayu yang sudah tidak digunakan di dalam kelas lagi.


“Cie... cie... yang lagi kasmaran. Pulang pergi kampus selalu berdua,” serbu Asep dengan cengiran khasnya.


“Doakan kami semoga jadi,” ucap Kharisma dengan senyum lebar.


“Amin, dan kapan kamu mau nembak dia?”

__ADS_1


“Sebenarnya aku sudah menyatakan per—”


BRAK!


Kharisma dan Asep spontan menolehkan pandangan mereka ke arah samping, ke arah sumber suara nyaring berasal sekaligus ke arah Rion yang masih duduk di posisinya dengan napas yang sedang memburu, seperti marah. Sebuah bangku kayu yang terletak tepat di depan laki-laki itu sudah tidak seperti di posisi semula, sudah tergeletak di lantai dengan tragis. Tungkai kaki kursinya sudah hampir patah.


“Apa yang terjadi, Yon?” tanya Kharisma dan Asep serempak.


Rion diam saja, menganggap angin lalu. Kemudian bangkit dari tempat duduknya, melewati sebuah pintu yang di dalamnya sudah terdapat beberapa mahasiswa dengan kesibukan masing-masing, meninggalkan dua laki-laki itu dengan wajah kebingungan.


“Khar, apakah ada perkataanku yang salah?” tanya Asep dengan jari menunjuk ke arahnya.


^_^


Hanya mereka–Gebri, Koning, dan Upi–yang ada di ruangan yang terletak di lantai tiga tepat di samping tangga. Teman-teman yang lain sudah beranjak ke ruang kuliah selanjutnya ataupun pergi ke kantin fakultas. Ketiga wanita muda tersebut tampak sibuk dengan sebuah laptop yang ada di atas meja, salah satu diantaranya berkutat dengan keyboard laptop sementara yang lain sedang memandang layar laptop sekali-kali melirik beberapa lembar materi fotokopian. Hari ini mereka ada presentasi di mata kuliah Hukum dalam Bisnis.


“Yeeee... Akhirnya selesai juga,” sorak Upi dengan girang, pipi gembulnya sedikit menggelembung.


“Mau ke kantin dulu atau langsung ke ruang II-5?” tanya Gebri sambil memasukkan beberapa peralatan tulis dan buku ke dalam tas.


“Ke kantin yuk! Aku lapar,” jawab Koning yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


“Yuk Geb, kita ke kantin!” seru Koning dengan menarik lengan Gebri, sepertinya gadis berkacamata itu memang sedang kelaparan dan tadi saat mereka masih membahas tugas, Koning memang beberapa kali mengeluh lapar.


Saat Gebri dan Koning telah berada di lantai satu, beberapa mahasiswa tampak setengah berlari menuju ke arah kantin. Bahkan Pak Umar–yang mereka kenal sebagai salah satu staf akademik–pun tak mau kalah. Melihat situasi yang tak biasa itu, Koning pun kembali menarik lengan Gebri, mengikuti langkah beberapa mahasiswa yang lain. Pikirannya hanya takut makanan Bu Kantin yang terkenal enak itu habis tak bersisa, apalagi sekarang sedang jadwal makan siang.


Ruang kantin hari ini sangat padat, begitu sesak dan sedikit lebih ramai daripada hari-hari biasanya. Suara berisik pun tak terelakkan, laksana seperti pasar malam. Tiba-tiba tangan Gebri merasa ditarik seseorang, menerobos beberapa mahasiswa yang sedikit mengumpat kecil karena tubuh mereka terdorong ke depan. Awalnya dia ingin memberontak, tapi diurungkan saat menyadari siapa sosok berambut sebahu itu, Lisa.


Gebri sungguh tidak dapat menyembunyikan keterkejutanya. Kedua matanya terbelalak dengan mulut menganga lebar. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa meja dan kursi kantin tampak sedikit porak-poranda seperti ini? Seperti telah terjadi pertarungan hebat saja?


“Rion, sudahlah. Daris sudah tak berdaya. dia bisa mati kalo kamu terus memukulnya.”


Mendengar suara Lisa yang berdiri di sampingnya, Gebri menoleh sebentar ke arah gadis itu, kemudian memfokuskan pandangan ke arah laki-laki yang sedang dipegang beberapa mahasiswa. Napas Rion tampak menderu kasar, dadanya naik turun dengan cepat, dan matanya menyalang marah. Beberapa kali dia hendak memberontak, hendak kembali melancarkan aksi pada sosok yang sedang dipapah Pak Umar. Lagi-lagi otak Gebri bertanya, sebenarnya apa yang terjadi di sini, terutama dengan Rion dan laki-laki bernama Daris itu?


^_^


“Aku minta maaf atas kejadian hari ini.”

__ADS_1


Gebri tidak menolehkan kepala sedikitpun, tetap memandang ke arah jalanan yang menampakkan beberapa anak kecil yang sedang berlari-lari. Entah bagaimana, Gebri  kini berada di dalam satu mobil dengan laki-laki yang rambutnya sudah acak-acakan itu, tidak tampak rapi lagi dengan model angular fringe yang selalu menghiasi surai kepalanya. Yang dia ingat, saat itu dia sedang duduk berdampingan dengan Lisa di undakan tangga di sisi Selatan gedung, di mana jarang mahasiswa ataupun dosen lalu-lalang, sambil mendengarkan penjelasan kenapa Rion dan Daris bisa beradu tinju. Tiba-tiba Rion datang dan langsung menariknya menuju parkiran tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang memperhatikan gerak-gerik mereka, dan akhirnya kini mereka telah berada di depan kosan Wisma Bestari.


“Aku sungguh minta maaf. Aku tidak—”


“Seharusnya kamu tidak memukul Daris.”


“Tapi dia menjelek-jelekkan kamu,” ucap Rion dengan napas yang mendadak menderu, merasa tak terima dengan pendapat perempuan di sampingnya yang masih betah memandang ke arah jalanan.


“Aku sudah biasa menerimanya.”


Kepala Rion langsung tertunduk. Dadanya mendadak nyeri. Rasa penyesalan kembali menggerogoti hatinya.


“Aku... Aku sungguh minta... maaf. Aku tidak... seharusnya meninggalkanmu dulu.”


Mata Rion sekarang berkaca-kaca.


Gebri hanya diam, matanya masih menatap ke arah jalanan.


“Aku—”


“Sebaiknya kita lupakan saja kejadian lima tahun lalu dan juga kejadian hari ini,” lirih Gebri tapi masih bisa didengar laki-laki yang duduk di depan kemudi, tangannya sudah memegang gagang pintu mobil, Gebri berniat untuk segera turun dan menjauh dari situasi yang sensitif ini.


Rion menarik lengan kanan Gebri, memaksa pandangan mereka bertemu. “Kenapa?”


“Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Jangan diungkit-ungkit lagi.”


“TAPI AKU TAK BISA!” teriak Rion lantang, mendadak amarah menggebunya, tidak suka mendengar kata-kata itu. “Aku tak bisa melupakannya. Aku benar-benar tak bisa melupakannya, karena aku ingin memperbaiki hubungan kita. Karena aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu. Karena aku ingin mengenal anakku. Karena aku ingin mengendongnya. Dan karena aku....” Rion menjeda kalimatnya sebentar. “Karena aku masih mencintamu.”


Mata Gebri langsung membelalak lebar, hanya sesaat sebelum tangannya lantas membuka pintu, sedikit menghempas pegangan Rion dan pergi meninggalkan laki-laki bermata berkemaja garis-garis itu yang juga sedang turun dari mobil. Tak dipedulikan panggilan Rion. Langkah Gebri terburu-buru memasuki pintu kosan. Sungguh, Gebri tidak ingin lagi mengungkit masa lalu. Tidak ingin lagi berurusan dengan Rion dan keluarganya, dan tidak pula ingin mendengarkan ungkapan cinta itu yang sesaat tadi sempat membuat hatinya bergetar kembali seperti lima tahun yang lalu.


LIKE!


LIKE!


LIKE!


COMMENT!

__ADS_1


VOTE!


VOTE!


__ADS_2