
IG: @alsaeida0808
Aku sekali-kali melirik ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Mungkin Mas Yudi akan mencari nanti, tapi aku tidak peduli. Aku tak sanggup untuk duduk di sana, terutama di samping Devian. Bayangan di sore itu memburu pikiranku, seperti buronan kelas kakap. Tubuhku juga tidak bisa diajak kompromi, yang semakin menggigil dan rasa mual yang terus memenuhi kerongkonganku.
Sebuah taksi melewatiku dan aku segera berteriak memanggilnya. Lokasi tempat tinggalku masih jauh dan ongkosnya pasti akan menghabiskan jatah makanku selama dua hari. Tapi lagi-lagi aku tak peduli. Aku hanya ingin segera menjauh dari tempat makan ini.
“Ke mana, Mbak?”
Aku tersentak. Tak sadar kalau aku terlalu sibuk dengan lamunanku. “Kawasan Jatibaru ya Pak.”
0_<
Ponselku terus berdering. Aku memutuskan untuk mengabaikannya karena sebentar lagi akan tiba. Aku tidak ingat kapan terakhir kali kaki ini menginjak rumah megah itu. Mungkin sekitar setengah tahun lalu, atau mungkin lebih.
“Cepat ke belakang!” perintah Tante Ria saat baru saja melewati pintu.
Dugaanku benar. Kedatanganku ke sini hanya karena untuk mengurus urusan dapur. Memang selalu begitu. Tapi setidaknya aku cukup senang. Aku bisa bertemu dengan Mbok Ida dan Mang Guntur. Merekalah yang merawatku sejak bayi, menganggapku seperti anak sendiri.
“Mbok!” panggilku riang.
“Non Keiysa,” sahut Mbok Ida sambil tersenyum lebar.
Aku langsung memeluknya erat. Cukup merindukannya. “Mbok apa kabar?”
“Mbok baik. Kalau Non sendiri gimana?”
__ADS_1
“Saya juga baik Mbok.” Aku menoleh ke belakang, melihat ruang tengah yang sudah ramai. “Ada acara ya, Mbok?”
“Kata Nyonya, ini acara makan-makan sama keluarga calon tunangan Non Rania,” jawab Mbok Ida yang meneruskan memotong buah-buahan yang tertunda karena interupsiku. “Mbok dengar-dengar, kalau tunangan Non Rania itu adalah anak pemilik hotel Harmonis Pangeran, yang di Kawasan Perawang itu loh, yang hotel-hotel bintang lima itu,” Mbok Ida mulai bercerita. “Katanya juga, tunangannya juga keponakan dari yang pengusaha rokok Melbournee.”
Aku hanya mendengarkan saja, tak menanggapi. Siapapun tunangan Rania bukanlah urusanku. Meskipun Rania memiliki hubungan darah denganku, aku tetap tidak bisa bergabung untuk menghadiri acaranya, karena nantinya aku akan sangat sibuk di dapur, menyiapkan masakan hingga mengantar di meja-meja. Semua para undangan juga tidak ada yang akan peduli dengan keberadaanku.
“Mbok, jusnya habis. Cepat diisi!” terdengar suara bariton memerintah.
Aku refleks menoleh. “Ayah,” lirihku.
Sosok itu hanya melihatku sekilas. Dia meninggalkan dapur tanpa mengatakan apa-apa, ataupun sekadar menyapa. Aku hanya tersenyum kecut, seolah menganggap reaksi yang biasa.
“Non, bisa tolong isikan jusnya, Mbok lagi memotong buah naga,” pinta Mbok Ida.
“Semakin dewasa, kamu semakin mirip dengan ibumu,” ujar Tante Gladis, salah satu dari adik Tante Ria. “Semoga saja kamu tidak mengikut jejak ****** ibumu.”
Aku berusaha menulikan telinga. Bukan pertama kali, justru sering. Setiap mereka berkumpul di rumah ini, mereka memang selalu melontarkan kalimat-kalimat hinaan tentang ibu. Tapi aku tidak merasa marah. Aku tak tahu bagaimana rupanya. Karena sejak kecil aku tidak pernah bertemu. Yang aku dengar dari Mbok Ida, kalau ibu meninggal setelah melahirkan. Dulu ibu adalah seorang pembantu di rumah ini.
“Bawakan juga beberapa kue dan minuman lagi ke sini!” perintah Tante Ria dengan suara sinis.
“Iya Tan,” jawabku yang langsung melangkah ke dapur.
Semakin waktu berlalu, tamu semakin banyak berdatangan. Awalnya aku menduga kalau acara ini sekadar makan-makan biasa, mengundang pihak keluarga dekat saja. Tapi tamu semakin banyak berdatangan silih berganti. Sudah dua jam kedatanganku, aku sudah bolak-balik dari dapur, ruang tengah, dan ruang tamu. Aku bahkan tidak sempat sekadar untuk minum, karena aku selalu diperintah untuk sigap menyiapkan makanan, membawa alat makan yang sudah digunakan ke wastafel dan mencucinya.
“Istirahat dulu bentar Non, biar bibi yang membawakan cemilan itu ke depan,” saran Mbok Ida.
__ADS_1
“Nanti saja Mbok, setelah yang satu ini,” ujarku sebelum kembali membawa cemilan permintaan Tante Gladis yang tiba-tiba terlihat antusias. Dari perbincangan mereka yang aku dengar, sepupu Harvi—nama tunangan Rania—akan datang. Tante Gladis berniat untuk menjodohkannya dengan anaknya, Misca.
Tapi langkahku terhenti di pintu penghubung antara ruang tengah ke ruang tamu. Tubuhku mendadak berkeringat. Sosok itu… Devian. Kenapa dia bisa berada di rumah ini?
“Cepat bawa ke sini!” perintah Tante Gladis.
“I-Iya Tan,” jawabku sambil berjalan ragu-ragu mendekati meja.
Aku tidak tahu apakah saat ini Tuhan memang sedang marah denganku, atau karena hari ini memang hari kesialanku. Gelas berisi jus jeruk yang ingin diletakkan dihadapan Devian tumpah, efek dari reaksi tubuhku karena tekanan emosional dan psikologis karena kedatangan laki-laki itu. Dan saat telapak tangan kami tidak sengaja bersentuh ketika Devian berusaha membantu mengelap bekas-bekas jus, aku refleks menjauh ketakutan. Raut Devian spontan mengernyit keheranan. Pasti merasa aneh dengan reaksiku, begitupula dengan Tante Gladis dan Misca. Anak dan ibu itu justru menatapku dengan sengit, seolah ingin menelanku hidup-hidup.
“Ma-maafkan aku.” Aku langsung membalikkan badan dan berlari pelan menuju dapur. Setelah meletakkan napan, aku melangkah ke kamarku yang terletak di samping kamar Mbok Ida. Aku butuh menenangkan respons tubuhku sebelum kembali bekerja. Tapi tiga puluh menit berlalu, tubuhku semakin bereaksi berlebihan, dengan keringat mengucur deras, bola mata yang tidak fokus, dan lelehan air mata yang menggenangi pelupuk mata. Sekarang aku juga bersembunyi di bawah meja belajar, berharap tidak ada yang menemukanku.
“Non Keiysa!” suara Mbok Ida memanggil.
Aku semakin merapat tubuhku ke belakang, berharap tidak ditemukan. Tapi Mbok Ida seolah tahu kebiasaanku. Dia dapat menemukanku dengan mudah. Dia menuntunku keluar dan langsung memelukku erat dan mengusap-usap punggungku. Seketika aku menangis terisak-isak.
“Mbok di sini Non. Tidak ada penjahat itu di sini. Tidak ada yang akan menyakiti Non,” ucap Mbok Ida.
“T-Tapi dia… dia di-di sini Mbok,” sahutku di sela isak-isak tangis.
Mbok Ida merenggangkan pelukan kami hingga wajah kami bertemu. Bola matanya tampak membesar. “Siapa Non? Si pemerkosa itu?”
Aku menarik tubuh Mbok Ida agar memelukku lagi. Aku tidak ingin membahasnya. Aku ingin segera pergi dari sini, tapi kemarahan Tante Ria mengurungkan niatku. Wanita paruh baya itu tidak akan mengizinkanku pergi. Bahkan kalau aku berhasil keluar dari sini tanpa sepengetahuannya, beberapa hari ke depan dia pasti akan berbuat gaduh di kontrakanku, seperti memaki-maki di depan pintu, melontarkan berbagai jenis binatang dan sumpah serapahnya, atau lebih parahnya, dia akan mengobrak-abrik isi kontrakanku. Beberapa kali aku pernah berpikir, apakah Tante Ria sudah tidak punya urat malu lagi? Begitu besarkan rasa benci yang dimilikinya untukku?
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. INFO LEBIH LANJUT, BISA DILIHAT DI INSTAGRAM YA. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, DAN SHARE.
__ADS_1