
Rion kembali memfokuskan pandangannya ke arah Gebri, perempuan itu masih menatapnya dengan tatapan penuh kesal, mendeliknya dengan tajam.
“Kemarin aku ke rumahmu.”
“Hah?” Mata Gebri kontan terbuka lebar. Terbelalak. Maksudnya?
“Aku sudah melamarmu.”
“APA MAKSUDMU, HAH?” teriak Gebri dengan mata melotot. Kemarahan benar-benar sedang melingkupi dirinya sekarang. “SUDAH AKU KATAKAN, AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGANMU,” masih dengan nada yang sama, Gebri kembali berseru keras.
“Tapi—”
“AKU AKAN PULANG SEKARANG.”
Gebri cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya, berjalan terburu-buru menuju pintu sebelum sebuah tangan kembali memegang pergelangan tangannya, memaksa langkah kakinya untuk berhenti dan Rion segera membalikkan tubuh Gebri agar menghadapnya.
“Tapi kamu sudah janji akan menerimaku, asalkan aku meninggalkan semua kemewahan dari orang tuaku, dan aku sudah melakukannya. Aku akan pindah dari rumah ini. Aku juga sudah mengembalikan semua fasilitas dan barang pemberian orang tuaku,” urai Rion panjang lebar sambil menatap dalam.
Gebri menghempaskan lengan Rion. Pegangan laki-laki yang sedang memasang wajah serius itu langsung terlepas.
“TIDAK. KITA TIDAK BISA MENIKAH,” lantang Gebri sebelum hendak menggerakkan kakinya lagi, tetapi Rion kembali memegang pergelangannya, mematut untuk tidak bergerak.
“Kenapa? Aku sudah memenuhi keinginanmu.”
“Tidak. Pokoknya kita tidak bisa menikah,” ucap Gebri dengan mendorong tubuh Rion, berusaha melepaskan cengkeramannya, hingga tubuh laki-laki itu bertubrukan dengan beberapa tumpukan kardus yang ada di belakangnya.
BRAK! Kardus bekas rokok gudang garam yang ada paling atas langsung terjatuh. Barang-barang yang ada di dalamnya seketika berserakan, menampakkan beberapa helaian pakaian khusus ibu hamil dengan berbagai bentuk dan motif, serta isi dua buah kotak hitam berukuran kecil yang juga terbuka dan isinya tersebar di lantai.
“Apa itu?” tanya Gebri sambil mendekat, begitu penasaran, barang-barang yang kini terhampar di lantai begitu menarik perhatian matanya, terutama lembar-lembar foto hitam putih yang dahulu pernah menjadi sesuatu yang membahagiakan untuknya.
“Bukan, bukan apa-apa.”
Rion dengan cepat memunggut benda-benda yang bisa dijangkau tangannya dan memasukkan kembali ke dalam kardus.
“Ini foto USG, kan?” tanya Gebri dengan mengangkat selembar foto yang masih tergeletak di lantai.
Rion tak menjawab, tubuhnya justru bergeming.
“Ini milikmu?”
__ADS_1
Rion masih diam.
“Kenapa?” tanya Gebri dengan mata mendadak berkilau, berkaca-kaca, dan kemudian berubah menjadi lelehan tatkala memori pertemuan di minggu awal masuk kuliahnya berputar, menampilkan beberapa adegan Rion yang sedang dalam delusi, berimajinasi kalau dirinya sedang mengandung, bukan bermaksud mengejek seperti yang diduganya selama ini.
Gebri tak bisa lagi menahannya, kini bening-bening itu makin deras membasahi kedua pipinya. Ternyata selama ini bukan hanya dia saja yang menderita, laki-laki itupun juga. Pantas selama ini Rion tampak gencar untuk mendekatinya, tidak menghiraukan pandangan orang-orang dan terus-menerus menanyai tentang Gebian. Bahkan sekarang mata laki-laki itu juga berkaca-kaca, mungkin air matanya siap tumpah-ruah kapan saja.
“Aku mohon, menikahlah denganku. Aku ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatanku lima tahun lalu, atau aku akan benar-benar gila karena rasa penyesalan ini.” Bening-bening itu akhirnya tumpah, diikuti dengan suara isakan-isakan kecil yang keluar dari mulut Rion. “Me-menikahlah denganku, a-aku pasti membahagiakanmu d-dan tidak akan pernah meninggalkanmu seperti dulu,” ucapnya lagi dengan air mata yang semakin mengalir di pipi dan suara yang sedikit terbata-bata.
Jemari Gebri spontan menyeka aliran-aliran itu. Dia tidak tahu harus mengucapkan apa, atau bereaksi bagaimana. Hanya air matanya saja yang semakin deras.
Hampir tiga puluh menit Gebri dan Rion habiskan dengan menangis bersama. Menumpahkan beban-beban yang menumpuk di hati dan pikiran mereka. Sementara Bik Sumi yang hendak mengantarkan minuman terpaksa kembali ke dapur, memutuskan melakukan rutinitas rumah tangga lainnya daripada mengganggu kegiatan penuh haru yang ada di ruang tamu. Lambat laun suara tangis yang tersedu-sedan itu mulai mereda saat ringtone khas aplikasi Line dari dalam tas ransel berwarna hitam terdengar. Gebri lupa mengatur ke dalam mode vibrate.
Awalnya dia ingin mengabaikan. Paling-paling chat dari grup sejurusannya. Tetapi suara indah dan unik dari Halsey bergema, menandakan adanya panggilan masuk. Gebri buru-buru mengambil ponselnya yang sekali-kali menyapu jejak-jejak air mata yang masih mengalir. Panggilan tak terjawab. Dari Galang. Sekali lagi ringtone dengan bunyi suara bel itu kembali berkumandang dan langsung menampilkan kotak chat. Mata Gebri seketika terbelalak saat rangkaian kata itu sudah tercerna di otaknya.
“Aku mau pulang.”
Tangan Gebri yang ingin membuka pintu kembali di cengkram tangan Rion.
“Ada apa?”
“Galang dan Bundaku sudah ada di depan kosan. Aku harus pulang sekarang,” bubuhnya saat menangkap ekspresi wajah Rion yang menuntut penjelasan.
^_^
Perjalanan dari kawasan Bale Hinggil menuju satu-satunya kosan di RW 31 itu hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Rasti dan Galang tampak sedang berbincang kecil saat mobil Toyota Yaris berwarna super white memasuki halaman depan kosan Wisma Bestari. Ketika Rion turun dari mobil, hendak mengikuti Gebri yang mendekat ke sosok Rasti, matanya langsung menangkap otot rahang Galang yang mengeras, matanya mendelik tajam tapi tetap tidak mengurungkan niat Rion yang mengekori Gebri.
“Bunda dan Galang sudah lama tiba di sini? Kenapa tidak mengabariku dulu sebelum kemari? Pakai apa kalian ke sini?” tanya Gebri berturut-turut sambil mengambil tangan Rasti dan menyalaminya.
“Apa kabar, Tan?” ucap Rion yang ikut mengikuti gerakan Gebri, ikut menyalami tangan wanita paruh baya berkacamata itu.
“Syukurlah, Tante baik-baik saja,” balas Rasti dengan memamerkan senyum ramah.
“Kenapa kamu bisa bareng Mbakku?” seru Galang ketus.
“Lang, jangan berbicara seperti itu. Dia lebih tua darimu,” tegur Rasti.
“Kita nggak usah baik-baik dengannya, Bun. Dia memang pantas mendapatkannya.”
“Lang, kamu—”
__ADS_1
Tidak ingin melihat perdebatan kecil diantara anak dan ibu itu, Rion cepat-cepat menyahut. “Tidak apa-apa, Tan. Sikap Galang wajar kok. Dia pasti sangat menyayangi Gebri.”
“Ck,” decak Galang tak suka, matanya semakin melotot ke arah Rion.
“Yuk Bun, kita masuk ke dalam!”
Gebri mengambil tas jinjing yang ada di kursi, kemudian mengajak masuk.
“Bun, Mbak, aku berangkat ke stasiun sekarang, ya?! Aku sudah mesan gojek dan sebentar lagi mungkin datang,” kata Galang seraya mengambil tangan Rasti, menyalaminya dan juga melakukan hal yang sama kepada Gebri.
“Kamu tidak menginap di sini, Lang?”
Galang menggelengkan kepala. “Nggak, Mbak. Besok aku masuk sekolah.”
“Pulang pakai apa? Kereta api?”
Kepala Galang mengangguk kecil.
“Memang motormu ke mana, Lang?”
“Pagi tadi aku antarkan ke tempat service. Kemarin mogok.”
“Geb, bagaimana kalau aku saja yang mengantar Galang ke Solo?” ujar Rion yang kontan mendapatkan pelototan tajam dari Galang.
“Tidak. Aku tidak mau,” tolak Galang setengah berteriak.
“Bagaimana Bun?” bisik Gebri ke telinga Rasti, tapi masih dapat didengar mereka.
“Apa nggak merepotkanmu?” tanya Rasti ragu-ragu, sebenarnya dia merasa sungkan dengan Rion, mengingat pertemuan terakhir mereka yang bisa dibilang tidak baik. Tapi dia juga merasa tidak tega membiarkan Galang pergi sendirian, meskipun dia bukanlah anak kecil lagi. Rasti tetaplah seorang ibu yang memang selalu khawatir saat matanya tidak bisa menangkap wujud anak-anaknya.
Rion menggelengkan kepala sebelum tersenyum. “Tidak merepotkan kok, Tan.”
“Maaf ya sudah merepotkanmu.”
Rasti masih merasa tidak enak hati, ada sedikit rasa risau juga yang mengganggu pikirannya, takut kalau Galang kembali bereaksi seperti sore itu, dengan brutal memukul Rion hingga sudut bibir laki-laki itu robek dan bekasnya masih terlihat sekarang.
Rion kembali senyum, begitu ramah, berharap kalau ini langkah awal untuk bisa berdekatan dengan keluarga kecil mereka.
LIKE! COMMENT! AND VOTE! PLEASE!
__ADS_1