
“Mama? Papa?” ucap Rion saat turun dari mobil bersamaan dengan Gebri yang juga ikut turun sambil menundukkan kepala. “Apa yang kalian lakukan di sini?” sambungnya sambil mendekat ke arah dua sosok paruh baya yang sedang bangkit dari kursi plastik di depan teras sementara Gebri mengekor dengan langkah pelan, kepalanya masih tidak mau mendongak.
“Ada yang ingin kami bicarakan padamu dan Gebri,” jawab laki-laki berambut sedikit keputihan yang masih tampak gagah dalam balutan kemeja berwarna gelap yang melekat di tubuhnya.
“Tentang apa?” Rion tanpa sadar sedikit meninggikan nada suaranya.
Jawaban dari laki-laki yang dipanggil Papa itu mendadak membuatnya gusar, rasa cemas pun langsung menderai benaknya dan rasa penasaran mulai menghantuinya. Untuk apa meraka datang ke sini? Untuk apa? Apakah mereka ingin mengganggu dan menekan Gebri lagi seperti dulu?
“Ada baiknya kita tak bicara di sini,” ucap Raya sebelum Adrian yang berdiri di sampingnya menyahut. “Kalian tidak ada kegiatan apa-apa lagi, kan? Mungkin kita bisa bicara di Bale Hinggil,” tambahnya dan kemudian menarik sang suami menuju mobil mereka.
Rion menolehkan ke arah Gebri yang ternyata masih menundukkan kepala. Otaknya mulai menerka-nerka, apa yang harus dilakukannya. Menyetujui permintaan kedua orang tuanya, yang mungkin akan mengulang kejadian penolakan lima tahun lalu? Atau mengabaikan mereka, lalu menyuruh Gebri untuk masuk ke dalam kosan dan memintanya agar tidak memikirkan perkataan mereka? Argh... jemari tangan Rion tanpa sadar *** helai-helai rambutnya. Ini sungguh memusingkan!
“Kamu mau ke mana, Geb?” tanya Rion saat retina matanya menangkap pergerakan tubuh Gebri yang ingin beranjak.
“Ke rumahmu.”
“Kalo kamu nggak mau ke sana, juga nggak apa-apa. Kamu ada jadwal kuliah, kan?”
Rion mensejajarkan langkahnya dengan Gebri yang sudah mendekati pintu mobil. Saat Gebri hendak membuka pintu, tangan Rion kontan menarik lengan Gebri dan wajah mereka langsung saling berhadap-hadapan.
“Aku serius. Kalau kamu—”
“Pasti ada hal penting yang mau mereka bicarakan, hingga Papa dan Mamamu mau jauh-jauh datang ke sini,” potong Gebri.
“Tapi kamu gimana? Kamu baik-baik saja?” tanya Rion dengan raut wajahnya yang sekarang benar-benar menunjukkan kalau dia sangat cemas. Bahkan saking cemasnya, ada beberapa butir keringat yang sudah memenuhi keningnya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Gebri dengan suara tegas, tampak begitu yakin dengan keputusannya, meskipun terpancar sedikit raut ketakutan di kedua bola matanya.
Jemari Gebri kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Rion menghela napas panjang sebelum memutar menuju pintu kemudi, ikut masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya membelah jalan Kaliurang yang akan membawa mereka memasuki kawasan Bale Hinggil yang tampak selalu sunyi. Kebanyakan penghuni di area sini memang selalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di dalam rumah, sangat jarang mereka tampak berkeliaran di luar.
Semakin mendekati rumah tingkat dua bernomor 2E itu, jantung Gebri kian berdetak kencang, begitu nyaring. Dia memang terlihat tenang dari luar, tapi sebenarnya hati Gebri sedang tak karuan. Bila laki-laki yang ada di sampingnya kini sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya, dia sangat yakin Rion dapat mendengar jelas degup-degup itu. Sungguh, suaranya seperti gemuruh gunung Merapi saja.
__ADS_1
Sebelum mematikan mesin mobilnya, sekali lagi Rion memastikan kembali apakah Gebri yakin akan menemui kedua orang tuanya, dan Gebri hanya bungkam seribu bahasa sambil turun dari mobil. Deru jantung wanita muda itu semakin berdetak kencang. Butir keringat sedikit muncul di sekitar dahi.
“Ayo, duduk!” ucap Raya saat Rion dan Gebri memasuki ruang tamu.
Rion menganggukkan kepala singkat, lalu menuntun Gebri yang tampak kaku, mengambil tempat duduk yang persis di depan Raya dan Adrian.
“Mama ke belakang dulu, suruh Bik Sumi buat minuman,” ucap Raya sambil bangkit dari tempat duduknya, melangkah ke area belakang yang akan menghubungkan dengan ruang keluarga dan terakhir dapur.
Hening. Keringat di dahi Gebri semakin deras. Sementara jemari Rion tak berhenti untuk menggenggam jemarinya, berharap dapat sedikit memberikan ketenangan untuk gadis itu. Tak terbesit di otak Rion kalau orang tuanya akan ke sana, datang ke kosan Wisma Bestari, dan berakhir di ruang tamu ini. Apakah kali ini adegan-adegan yang terjadi di Jakarta akan terulang kembali? Ghrrr... tanpa sadar Rion menggeram. Tidak. Tidak. Adegan itu tak akan terulang lagi. Dia tak akan menjadi pengecut untuk kedua kalinya.
“Sebenarnya ada apa Papa dan Mama datang ke Yogya dan ingin bertemu Gebri?” tanya Rion setelah Raya menempati tempat duduknya dan merasa kebungkaman diantara mereka tak akan menghasilkan apa-apa.
“Kamu sehat?”
Ehm... Kening Rion mengernyit. Bukan ini yang diharapkan. Bukan pertanyaan seperti ini yang seharusnya dilontarkan laki-laki yang dipanggil Papa dengan aura dominan mengintimidasi itu. Sekarang Rion semakin merasa takut.
“Sehat, Pa. Papa dan Mama bagaimana?” mau tak mau Rion harus menjawab.
Hening lagi. Setelah Bik Sumi mengantarkan sebuah baki dengan beberapa gelas yang sudah terisi minuman dan beberapa cemilan, kelengangan ini masih terjadi. Gebri pun semakin tak sanggup untuk mendongakkan kepala. Tak siap untuk mendapatkan tatapan dari mata yang serupa dengan Rion, bahkan tampak lebih menjorok sehingga tampak seperti selalu memberikan tatapan tajam.
“Jadi ada maksud apa Papa dan Mama ke sini?” ungkap Rion lagi, berharap ada salah satu diantara mereka dapat memberikan penjelasan.
“Kami bermaksud menjodohkanmu.”
Kedua manik Rion sontak terbelalak, sedangkan Gebri kontan mendongakkan kepala, memandang Adrian yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, seolah perkataan laki-laki itu bukanlah sebuah prahara.
Benar dugaanku,batin Gebri yang membenarkan firasatnya. Perkataan Adrian sudah menjadi bukti konkret. Orang tua Rion pasti tak akan merestui hubungan mereka seandainya dia menerima lamaran Rion. Kasta mereka terlalu jauh, bak kata pepatah seperti langit dan bumi. Dan menolak Rion adalah solusi terbaik, agar tak ada lagi yang tersakiti terutama dia dan keluarganya.
“TIDAK. AKU TIDAK MAU,” tukas Rion tanpa sadar berteriak.
“Kami—”
__ADS_1
“AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN SIAPAPUN KECUALI DENGAN GEBRI.” Masih dengan nada yang sama, Rion menyerukan pendapatnya, lalu menarik Gebri untuk bangkit dari sofa. “Kita pergi dari sini, Geb!”
“Rion, tunggu! Ini—” Raya berusaha menjelaskan tapi Rion segera memotong.
“Meskipun tanpa persetujuan Papa dan Mama, aku tetap akan menikahi Gebri. Aku tidak mau menjadi pecundang lagi seperti lima tahun lalu.”
“Rion! Rion!”
Raya mencoba memanggil, mencoba menghentikan sejoli itu, tapi Rion terus menarik Gebri menuju mobil super white yang sedang terparkir di halaman.
^_^
Dua hari berlalu sejak pertemuan Gebri dan orang tua Rion, dengan kesimpulan kalau dia dan Rion memang tidak bisa menikah seperti diharapakan laki-laki itu, memang tak berjodoh. Adrian dan Raya tidak akan merestui mereka. Tapi kenapa Rion tetap kukuh, tetap ingin menjadikan Gebri sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya?
Bahkan Rion sudah tidak tinggal di Bale Hinggil lagi. Dia kini tinggal di tempat kosan putra yang tidak terlalu jauh dari kosan Wisma Bestari, membenarkan perkataannya beberapa hari lalu kalau dia akan meninggalkan semua kemewahan yang didapatnya selama ini. Gebri juga baru tahu kalau sejak semester tiga, Rion sudah tidak bergantung dengan uang orang tuanya lagi. Segala kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya ditanggung dengan uangnya sendiri yang berasal dari hasil bisnis kulinernya. Mobil Toyota Yaris itupun bukan pemberian orang tuanya. Mobil itu dibeli secara kredit dan dicicil setiap bulan. Milik orang tua yang digunakan Rion selama ini hanyalah rumah di Bale Hinggil.
“Sudah. Sudah. Jangan memikirkannya!”
Kedua tangan Gebri menepuk-nepuk pelan kedua pipinya, berharap otaknya segera sadar dan kembali berkonsentrasi pada buku di hadapannya, tidak memikirkan tindakan ataupun sikap Rion lagi.
Keteguhan hatinya tak akan goyah lagi. Keputusannya masih sama. Apalagi dengan sikap kedua orang tua Rion beberapa hari lalu, Gebri semakin yakin dengan apa yang dipilihnya. Dia dan Rion memang tidak dapat menikah seperti yang diharapkan laki-laki itu. Gebri sangat berharap orang tuanya segera menuntaskan rencana mereka yang akan menjodohkan Rion, biar Rion tak mengganggu kehidupannya lagi. Gebri hanya ingin menyelesaikan masa-masa kuliahnya seperti mahasiswa-mahasiswi biasa lainnya, tanpa menghadapi pelik seperti orang yang hendak menikah.
Tiba-tiba alunan lirik Closer dari The Chainsmokers feat Halsey bersenandung. Sedikit menyentak Gebri yang baru saja fokus membaca beberapa paragraf tentang Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Besok ada kuis dengan materi itu.
“Galang?” gumamnya sebelum menggeser ikon berwarna hijau. “Halo, Lang?”
“Mbak, waktu aku pulang dari sekolah dan melewati ruang tamu, aku melihat laki-laki yang begitu mirip dengan Rion dan seorang wanita. Apakah Mbak mengenalnya? Mengapa mereka datang ke sini?” ucap Galang tanpa basa-basi, terdengar jelas nada kecemasan dan rasa penasaran.
“Maksudmu Papa dan Mama Rion ke rumah kita?” tanya Gebri sambil menerawang mengingat bagaimana rupa dewasa yang sangat mirip dengan Rion, roman muka yang–mungkin–akan merefleksikan sosok Rion beberapa tahun mendatang, dan seketika mata Gebri langsung melotot membesar.
PLEASE LIKE-NYA! PLEASE VOTE-NYA! PLEASE COMMENT-NYA!
__ADS_1
THANKS YOU SOOOOOOOO MUCH