
“Aku masih mencintamu, Geb. Dulu dan sekarang.”
Mata Rion tak lepas memandang selembar foto yang sedikit usang, foto berlatarkan warna merah yang ditemukan secara tidak sengaja di ruang guru SMP 216 Jakarta lima tahun yang lalu. Wajah gadis muda dari foto berukuran 3x4 cm itu tak berubah, masih tetapi sama seperti dahulu, tetap cantik dengan alis tebal dan bibir tipis yang menjadi ciri khasnya. Tapi sorot matanya berbeda, binar-binar yang terpancar tidak terlihat lagi sekarang, hanya sorot mata sendu dan lelah yang melingkupinya.
Mata Rion beralih ke foto berwarna hitam putih, foto yang diambilnya dari internet dan dicetak dengan kertas berkualitas matte, foto yang mengingatkannya pada perbincangan yang sangat mengejutkan dan penuh ketegangan tentang kehamilan gadis itu. Foto USG dari janin berusia tujuh minggu, usia saat Gebri pertama kali memberitahukan tentang kehamilannya, dan tanpa sadar pikiran Rion mengajak berkelana, kembali ke adegan-adegan lima tahun silam di salah satu mobil milik ayahnya.
Sore itu, setelah Rion selesai bermain bola basket dengan temannya-temannya dan beranjak dari lapangan, hendak menuju gerbang sekolah, matanya menangkap sosok gadis berambut ekor kuda yang sedang duduk di pinggaran pagar sekolah sambil termenung. Awalnya dia tak ingin menghampiri, tapi kedua kakinya melangkah tanpa perintah untuk mendekat posisi Gebri.
“Sedang apa, Geb?”
Merasa keberadaan orang lain yang datang mendekat, kepala Gebri lantas menoleh, tersadar dari lamunannya.
“Sedang apa, Geb?” ulang Rion tatkala melihat reaksi Gebri yang tak biasa, tatapan remaja itupun tiba-tiba sendu.
“Bisakah kita bicara sebentar?”
Rion menggarukkan kepala yang tak gatal. Bingung. Bukankah mereka sedang berbicara sekarang?
“Ada yang ingin gue katakan, tapi tidak di sini.”
Masih dengan kebingungan, Rion tetap menganggukkan kepala, kemudian bangkit dari tempat duduknya. “Gue lapar. Kita bicara sambil makan, Yuk!” ajaknya.
“Jangan. Kita bicara di mobil lo aja,” cegah Gebri sambil membangkitkan tubuhnya dan saling berhadapan-hadapan dengan Rion.
“Kenapa?”
“Please!” mohon Gebri.
“Oke,” angguk Rion sambil menggerakkan kakinya menuju sebuah mobil berwarna hitam yang telah terparkir beberapa meter dari posisi mereka.
Gebri mengikuti dari belakang dan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Rion, kemudian laki-laki berseragam putih dongker itu bergerak menuju depan kemudi, membuka pintu dan tampak berbicara kepada laki-laki paruh baya. Sayup-sayup Gebri dapat mendengarkan kalau Rion menyuruhnya membeli minuman di toko kelontong yang persis berseberangan SMP mereka.
Setelah laki-laki itu keluar dari mobil dan beranjak menjauh, kaki Rion bergerak memutar melewati depan mobil, membuka pintu mobil untuk penumpang. Sekarang Rion dan Gebri telah duduk bersama.
__ADS_1
“Jadi lo mau ngomong apa?”
Gebri sedikit mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Rion sebentar sebelum menunduk lagi.
“Jadi?” seru Rion lagi.
Jemari Gebri yang ada di pangkuannya saling menggenggam.
“Aku hamil.”
Refleks mata Rion langsung terbelalak lebar, bahkan tampak seperti hendak keluar dari rongga bola mata. Badannya juga tiba-tiba bergeming, mendadak terpaku di tempat.
“Sudah tujuh minggu, hampir dua bulan,” imbuh Gebri dengan masih menundukkan kepala.
Sementara Rion masih terdiam. Dan setelah kesadarannya sedikit kembali dari syok yang begitu menguncangkan, dia menatap lekat ke sosok Gebri, mencari-cari kebohongan di sana ataupun menemukan mimik jahil di raut wajah itu. Tapi tidak ditemukan apa-apa. Ucapan itu sepertinya bukan lelucon semata. Setelahnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Rion hingga Gebri berpamitan untuk pulang, dan sejak sore itu Rion mencoba untuk mengabaikan pendengarannya, menganggap dia tak pernah mendengarkan apa-apa, dan sebisa mungkin tak mengindahkan keberadaan Gebri.
“Apakah kamu melahirkannya, Geb?” ucap Rion setelah lepas dari angan-angannya.
“Apakah dia mirip denganku atau mungkin mirip denganmu, Geb?”
Sering di malam-malam kesendiriannya, otak Rion mengajak berimajinasi, menciptakan gambaran dari berbagai kemungkinan wajah mungil perpaduan antaranya dan Gebri. Cukup memuaskan kerinduan yang selama ini terbentuk. Tetapi sejak pertemuan pertamanya dengan Gebri sejak lima tahun berlalu, angan-angan itu terus mendesaknya, ingin menggerogoti hatinya, yang tanpa sadar telah menjadi sebuah obsesi lain. Sungguh, meskipun hanya sekali, dia sungguh ingin bertemu anaknya. Ingin melihat wajahnya. Ingin memeluknya.
“Yon, kamu di kamar?”
Suara yang begitu familiar di telinga Rion memaksa kepalanya untuk mendongak, mengalihkan dari pandangan dua lembar foto yang hampir dua jam dilihatnya.
“Yon!”
Sekali lagi suara bertipe bas itu kembali terdengar dan Rion tidak sedikitpun berniat untuk menyahut. Bahkan dia tidak beranjak saat matanya menangkap sosok Kharisma yang memasuki ruangan dengan luas empat meter persegi kuadrat ini. Dia lebih memilih kembali memfokuskan pandangan ke sebuah foto formal seorang gadis berseragam putih dan dasi biru dongker. Tidak mengindahkan Kharisma yang sekarang berdiri terpaku dengan tatapan terheran-heran.
Selama hampir dua tahun lebih mereka berteman, sudah sering dia mendatangi rumah Rion, juga memasuki kamar yang terletak di lantai dua ini, tapi tidak terbesit di benaknya kalau laki-laki itu mempunyai sebuah ruangan rahasia, yang di dalamnya terdapat benda-benda yang tak pernah terpikir ataupun terlintas di otaknya. Penampilan Rion tidak menunjukkan ciri-ciri orang yang memiliki kisah kelam yang menyakitkan.
“Ada apa kamu mencariku, Khar?”
__ADS_1
Tak mendapatkan suara apa-apa sejak hampir tiga menit berlalu, Rion berinisiatif mengeluarkan suara.
“Jadi berita itu benar?” ucap Kharisma sambil mendekatkan ke arah Rion, kemudian ikut mendudukkan diri di samping kiri laki-laki itu.
“Apakah kabarnya sudah tersebar?”
Rion tak menjawab, justru mengutarakan keingintahuannya.
“Satu fakultas mungkin sudah.”
“Oh.” Hanya itu balasan dari Rion sebelum kembali fokus dengan foto di tangannya, seolah jawaban yang diutarakan Kharisma bukanlah sesuatu yang patut dikhawatirkan.
“Itu foto Gebri saat masih SMP kan?”
Kharisma ikut melongokkan kepala, mengintip ke lembar foto yang sangat menarik perhatiannya, menampakkan wajah perempuan yang beberapa hari ini selalu pergi ke kampus bersamanya—meskipun dengan berbagai kalimat paksaan—pula sosok yang tiba-tiba menjadi artis dadakan Universitas Yogyakarta yang menghebohkan suasana kampus, dan sosok laki-laki di sampingnya ini adalah sosok yang menjadi lawan berlakon dari gadis bernama lengkap Gebri Adinda itu.
“Wajahnya tak berubah. Masih tetap cantik.” Meskipun tak ada suara ataupun goyangan kepala, Kharisma tahu kalau Rion juga menyetujui pendapatnya. “Dan foto itu?” Kepala Kharisma kian melongok dan sedikit menajamkan penglihatannya, memastikan bahwa kedua manik matanya tidak salah melihat. “Itu foto....” Kharisma terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat nama yang cocok untuk disebutkan. “Foto USG-kan?”
Rion hanya menganggukkan kepala, cukup singkat, bahkan kalau Kharisma tidak berkonsentrasi dengan pandangannya, dia pasti tidak tahu kalau laki-laki itu memberikan reaksi. Tiba-tiba suasana mendadak lagi menjadi lengang. Begitu sunyi. Hening. Rion dan Kharisma sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan yang tak satupun terungkap, bak burung-burung yang berputar di atas kepala.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan kalian lima tahun yang lalu?” Akhirnya Karisma mengeluarkan juga pertanyaan itu, sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya, apalagi sejak mahasiswa seangkatannya mulai membicarakan perkelahian antara Rion dan Daris di kantin. “Kenapa Gebri bisa sampai hamil saat usianya masih muda? Apakah kamu memperkosanya? Atau kalian melakukan karena sama-sama suka?”
Rion menyandarkan kepalanya ke dinding. Lama dia terdiam, memikirkan tindakan apa yang harus dilakukan. Tetap diam sajakah atau menjawab pertanyaan Kharisma, menceritakan kembali kisah masa lalu antara dirinya dan Gebri, yang tak pernah sekalipun terungkap kepada orang luar kecuali dari pihak keluarganya dan pihak keluarga gadis itu.
“Sampai kelas tiga semester pertama, aku dan Gebri tidak saling kenal, tapi beberapa kali kami sering berpapasan di koridor. Percakapan pertama kami terjadi saat dia mengobati lukaku di UKS, dan saat itulah aku mulai jatuh cinta kepadanya,” papar Rion yang akhirnya memutuskan untuk membahas lagi kisah lima tahun lalu. “Dia adalah cinta pertamaku,” tambah Rion lagi, suaranya tampak bersemangat dengan manik mata menatap langit-langit, seolah sedang kembali menerawang ke masa lalu.
Kharisma hanya diam, mencoba menjadi pendengar yang baik saat ini. Dia pun tak terlalu terkejut dengan ungkapan cinta dari laki-laki dengan mata setajam elang itu. Sudah diprediksi sebelumnya. Sosok Gebri memang pantas untuk dicintai.
Rion kembali memaparkan, berucap dengan antusias tatkala menceritakan kenangan-kenangan yang dia dan Gebri lakukan selama masa pendekatan mereka, dan memasang wajah sendu ketika menceritakan apa yang telah dia dan keluarganya perbuat kepada Gebri dan keluarganya, yang meninggalkan rasa tanggung jawab dan menyisakan penderitaan untuk mereka.
“Lalu bagaimana dengan janin itu? Apakah dia melahirkannya?” Setelah Rion mengakhir ceritanya, Kharisma kembali mengungkapkan keingintahuannya. Dia benar-benar sangat penasaran dengan kehidupan masa lalu kedua orang ini.
LIKE YA! VOTE YA!
__ADS_1