Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
SEASON 2 Episode 4


__ADS_3

IG: @alsaeida0808


Merasa sedikit tenang, aku terpaksa kembali lagi ke dapur. Mbok Ida pasti kewalahan karena Tante Ria tidak memperkerjakan orang lain. Tapi untunglah Mbok Ida memintaku untuk membantu di dapur saja. Tamu-tamu pun sepertinya sudah banyak yang pulang. Tugas menyiapkan dan mengantar makanan juga sedikit berkurang.


“Maaf, kamar mandi di mana, ya?”


Piring yang sedang aku gosok dengan sabun spontan jatuh ke wadah wastafel. Suara serak itu mengejutkanku. Ditambah suara itu mengingatkanku dengan seseorang.


“Permisi!” serunya.


Aku menunjuk dengan jariku tanpa membalikkan badan. Aku yakin suara itu milik Devian. Suara itulah yang sering menghantui tidur malamku.


“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tiba-tiba suara Devian kembali terdengar.


Aku memegang pinggiran wastafel dengan erat, berharap bisa menghilangkan rasa ketakutan yang kembali hadir.


“Sebenarnya aku pernah mengalami kecelakaan dan sebagian ingatanku hilang. Ada beberapa orang yang tidak bisa aku ingat. Jadi apakah kita pernah saling kenal sebelumnya?”


“Ti-tidak,” lirihku pelan.


“Tapi kenapa reaksimu begitu? Kamu melihatku seolah aku adalah seorang penjahat. Apa—”


“Devian, kenapa di sini?” suara yang terkesan manja dan genit memotong ucapan Devian, yang aku duga sebagai suara Tante Gladis.


“Saya mau ke kamar mandi, Tan.”


“Jangan pakai kamar mandi di sini, pakai kamar mandi di depan saja. Biar Tante antar.”


Setelah memastikan suara telapak sepatu heels yang bergerak menjauh, seketika aku menghela napas panjang. Kemudian aku membilas tanganku dan pergi dari dapur, menuju kamarku. Lagi-lagi aku memutuskan bersembunyi. Aku ketakutan. Beberapa hari ini mungkin adalah hari kesialanku. Aku terus bertemu dengan Devian. Sudah ketiga kalinya sejak pertemuan pertama kami di Aji Mart. Sepertinya aku harus sering-sering banyak beribadah, supaya Tuhan sedikit memberikan kebaikan untukku. Tidak muluk-muluk, hanya agar aku tidak bertemu dengan Devian di dunia yang tak selebar daun kelor ini.


0_<


Pukul sepuluh malam, aku baru tiba di kosan. Aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasur. Hari ini sangat melelahkan, baik secara fisik dan batin. Tante Ria dan Tante Gladis tidak membiarkanku untuk beristirahat, bahkan di saat aku masih menunjukkan reaksi ketakutan. Semua orang di rumah itu tahu kalau aku mengalami trauma karena kejadian pemerkosaan itu. Waktu awal-awal kejadian, aku bahkan tidak berani berada di dekat laki-laki. Aku pasti akan berteriak histeris. Tapi tidak satupun yang peduli. Mereka tetap memaksaku untuk bekerja dan sekolah. Padahal saat itu aku masih berumur enam belas tahun, masih butuh rangkulan.

__ADS_1


“Apa benar dia tidak mengingatnya?” ucapku sambil meletakkan lenganku di atas mata.


Di malam itu aku memang mencium bau alkohol dari mulutnya, tapi aku yakin Devian masih dalam kondisi sadar. Tapi melihat sikapnya yang tidak merasa bersalah, bahkan seolah tidak mengenal wajahku, aku merasa sedikit percaya dengan ucapannya. Atau kemungkinan lainnya, mungkin saja dia psycho gila yang tidak memiliki hati nurani?


Tiba-tiba ponselku bergetar. WhatsApp dari Lala.


Lala Aji Mart: Setelah shif hari minggu besok, nonton yuk!


Lala Aji Mart: Sekalian ada seseorang yang ingin berkenalan denganmu


Lala Aji Mart: Aku sudah menolak, tapi dia maksa


Aku meletakkan ponselku di atas bufet samping kasur dan kembali memandang langit-langit kosanku yang memiliki banyak bercak-bercak coklat karena air. Selama ini aku selalu menghindari bila teman laki-laki Lala mengajak berkenalan. Selain karena masih trauma, aku juga sedikit minder. Mereka pasti akan menjauh jika tahu kalau aku adalah korban pemerkosaan.


Ponselku kembali bergetar.


Lala Aji Mart: Please…


Lala Aji Mart: Soalnya yang minta dikenalin ini Kakak sepupuku


Aku berpikir cukup lama sebelum membalas.


WhatsApp: Lihat besok ya La


Aku mengambil remote TV di samping bantal dan menyalakannya. Seketika menampakkan sebuah adegan muda-mudi yang sedang berjalan bersama. Mereka masing-masing membawa tas, beberapa ada yang membawa buku. Mereka terlihat saling bercengkrama riang.


Iri? Tentu, aku sering merasakannya. Seandainya aku bisa seperti mereka, pergi ke kampus, memiliki banyak teman, dan orang-orang yang menyayangi. Bahkan aku pernah menyalahkan Tuhan. Kenapa Tuhan harus memberikan kehidupan buruk untukku? Kenapa Tuhan membiarkan aku mengalami kejadian mengerikan itu? Mengapa Tuhan tidak membiarkan aku mati saja?


Tiba-tiba mataku terasa berat. Aku ambil selimut dan menyelimuti tubuhku hingga ke dagu. Aku tidak perlu minum obat tidur malam ini, sepertinya aku akan tidur nyenyak karena rasa letih ini. Dan aku berharap, aku tidak lagi mengalami mimpi buruk yang sebenarnya adalah reka ulang kejadian mengerikan itu. Semoga…


0_<


“La, kamu tahu tempat salon yang bagus?”

__ADS_1


Lala yang tadinya fokus menghitung stok, kini mendongakkan kepalanya. “Kenapa?”


“Aku ingin potong rambut.”


“Kok tumben? Biasanya selalu potong sendiri.”


Bibirku tersungging kecil. “Ini merubah suasana saja.”


Lala mendadak cengar-cengir menggoda. “Atau jangan-jangan karena kamu mau bertemu Mas Abram besok?” Lala menaik turunkan alisnya. “Benar, kan? Benar, kan?”


Telapak tangan kananku melambai-lambai. “Nggak kok. Nggak.”


“Bohong! Pasti kamu sudah jatuh cinta, kan? Sejak aku menunjukkan fotonya, kan?”


“Tidak. Sudah aku bilang tidak,” bantahku.


“Nggak usah malu. Aku orang pertama yang akan mendukung hubungan kalian.”


Aku memberikan decakan tidak suka. “Jadi kamu tahu tempatnya?”


“Nanti kita pergi bareng saja, sekalian aku mau creambath.”


“Oke, nanti jam dua lewat, kita langsung pergi,” sahutku.


Dua hari belakangan, aku telah banyak berpikir. Karena tidak bisa pergi ke psikiater karena terhalang biaya, dan juga karena tidak ingin memiliki kehidupan yang seperti ini terus, yang selalu ketakutan dan gelisah, aku memutuskan untuk sedikit berubah. Aku ingin bahagia. Aku ingin bisa memiliki banyak teman dan berinteraksi dengan mereka tanpa harus khawatir dengan kondisiku.


Apalagi sepertinya Devian juga tidak merasa bersalah. Devian tidak mengingatkan kejadian di hari itu. Dari informasinya yang aku dapat di internet—mengingatkan bisik-bisik yang aku dengar dari Tante Gladis, kalau ibunya adalah seorang aktris senior yang masih aktif dan ayahnya seorang pengusaha—dia mengalami kecelakaan tunggal dan mengalami luka berat. Dia dirawat di rumah sakit Singapura selama dua bulan.


Aku juga tidak bisa menjebloskannya ke penjara karena tidak ada bukti. Kejadian itu juga sudah lima tahun berlalu. Makanya, kenapa aku harus menderita seperti ini, sedangkan si pelaku bisa hidup baik-baik saja. Aku memang tahu masa lalu tidak bisa diubah, tapi  setidaknya aku bisa mengubur dan menguncinya dengan rapat, kemudian aku bisa menulis lembar hidup yang baru.


Aku berharap semua pikiranku ini berhasil. Aku benar-benar ingin bahagia.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. NANTIKAN TERUS KELANJUTANNYA. MOHON KRITIK DAN SARANNYA.

__ADS_1


__ADS_2