Seperti Bekas Paku

Seperti Bekas Paku
Episode 4.1


__ADS_3

“Mbak marah denganku?”


Gebri tak mengindahkannya, tetap menyibukkan diri di dalam kamar mandi dengan  sabun dan piring-piring kotor dari sisa makan siang mereka beberapa menit lalu.


“Mbak!” seru Galang lagi.


Gebri masih tidak meladeni. Mulutnya masih bungkam seribu bahasa, jemari tangannya pun masih berkutat membilas-bilas piring.


“Aku tidak salah. Aku tidak akan pernah meminta maaf. Dia sudah seharusnya mendapatkan pukulan-pukulan itu,” ujar Galang yang terkesan seperti mengomel.


Tangan Gebri yang sedang membilas piring, seketika berhenti dan berdiri di depan pintu kamar man di. Matanya menatap lekat ke sosok remaja yang kini sedang terbaring di atas kasur.


“Kamu tidak seharusnya begitu, Lang. Semuanya sudah berlalu, tidak sepatutnya diungkit-ungkit lagi,” ucap Gebri, mencoba memberikan pengertian.


Galang sekarang menatap Gebri dengan tajam. “Tapi dia sudah membuat Mbak hamil di luar nikah, dikeluarkan dari sekolah tepat tiga hari sebelum UN, dan membuat Mbak—”


“CUKUP LANG! JANGAN DITERUSKAN LAGI!” teriak Gebri.


“Kenapa Mbak? Kenapa aku tidak boleh meneruskannya? Bukankah itu kenyataan? Dan bukankah sudah sepantasnya dia mendapatkan pukulan-pukulan seperti itu? Bahkan pukulan-pukulan itu belum sebanding dengan penderitaan yang Mbak dan keluarga kita alami selama ini. Dia sudah membuat kita menderita, membuat kita malu, membuat kita dicaci maki orang-orang,” ucap Galang beruntun dengan dada naik turun.


Gebri seketika menundukkan kepala, menyembunyikan bola mata yang sudah berkaca-kaca. Tak lama kemudian, badan kecil itu bergetar. Suara lirih mulai terdengar. “Ap-apakah ini sebabnya... Bunda selalu mendiamiku... selalu menghindariku? Apakah kamu dan Bunda... merasa malu karenaku? Merasa menderita karenaku?”


“Mbak? Apa yang Mbak bicarakan?” Galang menghampiri Gebri, kemudian tangannya memegang pundak Gebri yang masih menundukkan kepala dengan tubuh bergetar. “Mbak!” panggilnya tatkala Gebri masih tak menyahut.

__ADS_1


Suara isakan sedikit demi sedikit terdengar. Bahu Gebri semakin bergetar. Selama ini air mata itu jarang keluar, raut sedih pun jarang muncul ke permukaan wajahnya. Sebisa mungkin dia menyembunyikan segala pilu rasa yang mendekam. Tak ingin menjadi beban yang semakin memikul sang Bunda, juga Galang.


“Mbak!” Galang mengeluarkan suara lagi, kini berharap mendapatkan balasan.


“Kamu tahu kenapa aku memilih kuliah di sini daripada di Solo?” Akhirnya suara Gebri keluar meskipun suara isakan masih sedikit terdengar.


Galang tak menjawab, membiarkan saja perempuan di hadapannya kini mengeluarkan segala resah yang tersimpan di dalam hati.


“Bila aku tetap tinggal denganmu dan Bunda, aku takut kalau kalian akan menderita lagi seperti saat berada di Jakarta, membuat kamu dan Bunda merasa malu dan dicemooh orang-orang sekitar, meskipun kita tak pernah mengalaminya lagi sejak pindah ke Solo. Tapi tetap saja aku takut. Aku tidak mau Bunda menangis lagi dan kamu dihina teman-temanmu apabila aibku terbongkar.”


Galang masih diam, tapi tangannya bergerak membelai pipi Gebri, menghapus jejak-jejak air mata yang mengalir di sana.


“Beberapa kali aku melihat Bunda menangis di kamar saat tengah malam. Aku ingin memeluknya, tapi aku takut ditolak,” ungkap Gebri lagi sembari menghapus air mata yang kembali mengalir.


Gebri cepat-cepat menggeleng kepala dan berkata,”Tidak, dan tidak sekalipun perasaan itu terbesit di otakku. Aku justru merasa tindakan Bunda adalah benar. Sudah seharusnya aku mendapatkan perlakuan seperti itu.”


Tubuhnya Gebri merasa tertarik dan masuk ke dalam sebuah rangkulan hangat. Sebuah tangan mengelus kepalanya dengan lembut dan sayang. Tanpa ragu-ragu Gebri ikut memeluk laki-laki remaja itu.


“Aku dan Bunda tidak pernah merasa menderita karena perbuatan Mbak. Semua itu sudah takdir Tuhan. Dan percayalah, kami selalu menyayangi Mbak,” tutur Galang dengan mata yang ikut berkaca-kaca, sudah lama dia ingin mengucapkan kata-kata penenangan itu untuk Mbaknya.


^_^


Sekali lagi Gebri menengadahkan kepala, menatap wajah Koning yang tampak serius menatap laptop berwarna putih yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian, Gebri kembali menggelut buku pengantar akuntasi yang terbuka di depannya, menampilkan uraian tentang sejarah, definisi, dan pembagian akuntasi. Selang beberapa detik berlangsung, kepala Gebri lagi-lagi mendongak dan menatap wajah Koning yang sekali-kali menaikkan kacamata yang sedikit melorot. Lalu mata Gebri kembali menatap buku di hadapannya. Terus berulang-ulang selama beberapa menit.

__ADS_1


“Ada apa, Geb?” Koning sepertinya mulai merasa terusik. Matanya sudah teralih dari layar laptop dan sedang menatap Gebri dengan sedikit menyelidik. “Tapi kalau tidak ada, sebaiknya kamu hentikan tingkahmu itu. Aku merasa terganggu,” sungut Koning yang sekali lagi menaikkan frame kacamatanya.


“Apakah....” Gebri memberikan sedikit jeda, masih terdapat keragu-raguan di dalam hatinya. Tapi kalau tidak dengan Koning, dengan siapa lagi dia harus meminta tolong. Dia tidak mempunyai banyak teman yang benar-benar akrab. “Apakah kamu mempunyai nomor Kak Rion, temannya kakak sepupumu itu?”


“Tidak,” jawab Koning dengan menggelengkan kepala. “Tapi aku bisa menanyakan dengan Kak Kharisma kalau kamu mau,” sambungnya.


“Sungguh? Tapi jangan bilang aku yang memintanya.”


Koning hanya menganggukkan kepala, kemudian mengeluarkan ponsel dari tas model tote bag berwarna merah di atas meja. Jemari tangannya mulai bermain-main dengan touchscreen ponsel pintarnya.


“Untuk apa? kata Kak Kharisma?”


“Ehm....” Gebri hanya sedikit bergumam. Bingung. Tak tahu harus mengucapkan apa. Tidak mungkin dia mengatakan untuk meminta maaf atas perbuatan Galang yang sudah memukul Rion hingga membuat memar-memar di wajahnya. “Ehm, aku....”


“Aku bilang untuk temanku yang hendak menanyakan apakah Kak Rion bisa menjadi narasumber untuk acara seminar di kampus, bagaimana?” ucap Koning, mencoba memberikan opsi kala matanya menangkap raut gamam dari gadis di depannya.


Tanpa menunggu persetujuan Gebri, mata Koning kembali tertuju lagi ke ponsel bermereknya, jemari tangan kembali bergoyang menekan tombol-tombol qwerty yang tertera di layar. Tak lama kemudian, Koning menunjukkan layar ponselnya ke arah Gebri, menampilkan sebuah kontak dari aplikasi Line.


“Bisa kirim ke ponselku?”


“Oke,” balas Koning yang sekali lagi kembali memandang layar ponselnya.


Tttrrrttt... tttrrrttt... ponsel di celana jeans Gebri tiba-tiba bergetar dan refleks merogohnya, lalu segera mengirimkan pesan ke Rion, mengucapkan permintaan maaf atas sikap Galang kemarin. Tidak perlu menunggu esok hari ataupun lusa, ucapan itu harus secepat mungkin disampaikan hingga tidak menimbulkan prahara baru di kemudian hari.

__ADS_1


Sebelum pesan itu terkirim, beberapa kali Gebri harus mengetik dan menghapus berulang-ulang terutama untuk panggilan laki-laki itu. Apakah harus memanggil Rion–mengingat usia mereka yang setara dan pernah seangkatan–ataukah memanggilnya dengan sebutan ‘Kak Rion’ seperti ucapannya tadi karena sekarang dia adalah senior di kampus?


__ADS_2