
“Kok kamu bisa tahu kalau perempuan itu pelakor?”
Koning berdecak kesal. “Gimana aku nggak bilang pelakor, dia suka SMS Papaku, suka datang ke rumah kami jika ada Papa, dan suka cari perhatian dengan Papa?" Koning mengoyang-goyang jemarinya, melenturkannya. "Kalau mengingatnya, rasanya aku ingin mencakar-cakar wajah wanita itu. Dasar pelakor!”
“Memangnya dia siapa?”
“Dia teman sekolah Mama, rumahnya nggak terlalu jauh dari rumah kami,” celetuk Koning bersungut-sungut. “Sekarang memang banyak teman makan teman, nggak tahu malu banget.” Koning sekonyong-konyong mengoyangkan telapak tangannya sambil menggeleng-geleng. “Tapi aku nggak ya, Geb. Aku nggak suka makan teman, nggak enak! Aku bukan kanibal. Aku lebih suka makan nasi, sate, dan soto,” tukasnya dengan sedikit terkekeh pelan di akhir kalimatnya.
Gebri juga ikut tertawa kecil. “Ada-adanya kamu Kon.”
“Bukannya berniat suudzon, tapi bagi seorang perempuan yang sudah memiliki pasangan, apalagi suami, memang harus mewanti-wanti. Pelakor itu bisa datang dari mana saja, bahkan keluarga sekalipun,” ucap Koning memperingati.
“Iya Kon, makasih sarannya,” sahut Gebri sambil menaiki undakan-undakan tangga. Kelas mereka hari ini ada di lantai dua di samping ruang akademik.
Koning tiba-tiba melepaskan hembusan napas panjang. “Semoga hari ini nggak ada Kuis dadakan.”
“Amin,” ucap Gebri mendoakan, karena malam tadi dia juga nggak belajar, terlalu sibuk memikirkan bagaimana membuat Rion tak marah lagi dan juga terlalu sibuk melayani laki- laki itu di atas ranjang. Prioritas kini menjadi bertambah, antara kuliah dan mengurus rumah tangga.
>_<
Akhirnya mata kuliah tiga SKS hari ini telah selesai, setelah hampir tiga jam harus mendengarkan dan memperhatikan viewer yang menampilkan beberapa slide materi di depan kelas. Jam satu siang nanti, dilanjutkan mata kuliah Pengantar Akuntansi II. Hari ini Gebri memiliki tujuh SKS mata kuliah yang harus diikuti. Jadwal kuliah di hari Selasa ini memang lebih padat dari hari-hari biasa. Dan untunglah, sepanjang dia berada di kampus dan mengikuti mata kuliah, tidak ada yang menyadari tanda kemerahan yang ditinggal Rion di lehernya. Ah, atau mereka menyadari, tetapi menganggap pura-pura?
“Mau makan di mana, nih?” tanya Lutfi di sela-sela memasukkan peralatan tulisan ke dalam tas.
“Aku manut wae,” sahut Koning sudah berdiri.
“Gimana kalau di tempat Bukde Santi, udah lama kita nggak ke sana?”
Kepala Koning menggangguk. “Boleh.”
“Gimana Geb?”
__ADS_1
Yang ditanya tak mengubris, tetap fokus menatap layar ponsel yang menampilkan aplikasi chat WhatsApp-nya. Sebelum kelas ini berakhir, Gebri telah mengirimkan pesan ke Rion, seperti rutinitas biasa sejak mereka menikah. Tapi entah mengapa, kali ini Rion hanya men-read saja. Jelas sekarang dia kebingungan.
“Geb, gimana?” Kini Koning yang bertanya.
Gebri tampak sedikit tersentak, “Eh… iya, kenapa?”
“Mau ikut makan ke Bukde Santi nggak?” tanya Koning.
“Boleh deh, aku juga lapar.”
“Yuk pergi sekarang!” Lutfi bangkit dari bangku yang didudukinya.
Gebri juga segera berdiri, kemudian mengekori Lutfi dan Koning yang sedang berbincang-bincang sambil berjalan. Kantin Bukde Santi terletak di area fakultas PAI alias Pendidikan Agama Islam yang bersebelahan dengan fakultas Ekonomi. Bisa dikatakan, kantin itu didominasi mahasiswa fakultas tersebut, tetapi banyak juga mahasiswa FE yang makan di sana. Di sana terkenal dengan masakan soto dan misonya yang sangat enak. Seperti dugaan, di waktu-waktu siang seperti ini, kantin itu terlihat sangat ramai dengan hiruk pikuk pengunjung. Hampir semua tempat telah diisi.
“Gebri, sini!”
Merasa namanya dipanggil, kepala Gebri kontan menoleh. Didapati sosok Asep yang sedang melambai tangan. Dilihatnya juga Kharisma yang sedang mengunyah tahu goreng sambil melihat ke posisinya dan Rion yang terlihat menunduk menatap ponselnya. Gebri jadi teringat dengan pesan yang dikirimnya ke Rion. Mengapa dia nggak membalasnya, padahal jelas-jelas sekarang dia sedang santai sambil memegang HP. Tidak ada halangan laki-laki untuk membalasnya.
Gebri menoleh ke Koning dan Lutfi, meminta saran apakah mengiyakan atau mencari tempat duduk lain, namun ternyata mereka sudah melangkah mendekati meja bundar tersebut.
“Duduk sini!” Asep menepuk-nepuk bahu kursi di sampingnya, tepat di samping kanan Rion.
“Makasih Kak,” ujar Gebri sambil duduk.
“Kalian kenapa? Kok diam-diaman?” Kharisma sedikit mengangkat sebelah alisnya. Heran. Rion terlihat tidak bersemangat karena kedatangan Gebri, justru dia terlihat mengacuhkan. Padahal biasanya, Rion tak akan pernah melepaskan atensinya kepada perempuan yang berstatus istrinya tersebut. Dia dan teman-temannya bahkan menjulukinya sebagai “Korban Bucin” karena sikap Rion sejak menikah, yang selalu mengintil Gebri ke mana cewek itu pergi, bak seperti bodyguard yang menjaga majikannya.
“Kalian bertengkar?” timpal Asep yang jadi penasaran.
“Berisik!” celetuk Rion.
Kharisma berdecak sambil mengeleng-geleng kepala. Tak habis pikir. Setelah menikah, sikap Rion memang banyak berubah, selain bucin, dia juga menjadi lebih ekspresif. Dia tidak sependiam dulu.
__ADS_1
Sementara Asep masih dengan rasa penasarannya. “Rion kenapa Geb? Kamu nggak kasih jatah?” Asep sedikit tertawa kecil karena kata terakhir yang diucapkannya sendiri.
Pipi Gebri spontan merona. Bisa-bisa Asep bertanya seperti itu. Tapi dia jadi kepikiran. Apa benar Rion sedang marah karena dia menolak melayani lagi di atas ranjang tadi pagi? Masa iya? Tapi, kan, dirinya nggak sepenuhnya menolak, dia berjanji akan melayaninya nanti malam. Gebri mengembus napas pelan. Untunglah Asep tidak lagi bertanya, sebab bingung juga harus menjawab apa. Nggak mungkin dia membenarkan pertanyaan dari Asep tersebut. Pasti jadi bulan-bulanan ejekan cowok bertubuh sedikit tambun itu.
Diliriknya Rion, laki-laki beralis tebal itu masih mengabaikannya. Dilihatnya Koning dan Lutfi yang sedang memilih menu yang akan mereka makan. Sementara Asep dan Kharisma terlibat asyik mengobrol pertandingan sepak bola tadi malam di sela-sela kunyahan mereka. Kemudian Gebri melirik lagi Rion yang masih fokus dengan ponselnya. Dengan ragu-ragu, Gebri meletakkan sebelah tangannya di tangan Rion yang tergeletak di paha, lalu mengusapnya dengan lembut, berharap laki-laki menoleh kepadanya, tapi ternyata Rion masih tak tergubris.
>_<
“Aku duluan ya,” pamit Gebri buru-buru tepat setelah dosen mata kuliah terakhir hari ini keluar, meninggalkan Koning yang terbengong-bengong melihat kelakuannya. Dia berlari-lari kecil melewati lorong kelas. Tadi Rion mengirimkan chat WA, mengatakan dia sudah di parkiran. Dia nggak ingin membuat Rion menunggu, apalagi mengingat suasana hati laki-laki itu sedang tidak bersahabat.
Gebri juga sudah berencana, setelah sampai di rumah mereka nanti, dia akan langsung melayaninya. Dia tidak ingin diacuhkan seperti ini lagi, cukup kemarin dan hari ini.
Langkah kaki Gebri perlahan memelan, matanya menangkap sosok Titania yang sedang berbicara dengan Rion di samping mobil. Cewek itu tampak tertawa sumringah dengan tanggapan yang diberikan Rion, meskipun Rion terlihat menanggapi biasa saja.
“Akhirnya datang juga,” kata Titania saat Gebri sudah berada di dekat mereka. “Yuk, kita jalan sekarang Mas!” imbuhnya.
Titania hendak memegang gagang pintu mobil, tapi tangan Gebri langsung menahannya. Tersirat guratan terkejut di sinar mata Gebri, tidak menyangka karena tubuhnya yang bergerak sendiri tanpa diperintah. Perkataan Koning tadi menjadi terngiang-ngiang di benaknya, begitupula dengan artikel tentang pelakor yang tadi dibaca sekilas.
“Kenapa?” tanya Titania, terdengar nada tidak suka di suaranya.
“Kamu sebaiknya duduk di belakang.”
“Tapi aku mau duduk di depan, di samping Mas Rion,” tolak Titania dengan memberikan tatapan sinis.
Gebri mengambil napas panjang dan mengembuskan pelan. “Aku istrinya, dan menurutku, seorang istri sebaiknya memang harus duduk di samping suaminya.”
Mata Titania kontan membelalak lebar, dengan mulut yang menganga. Sementara bibir Rion menyungging senyum lebar.Tidak sia-sia dia mengacuhkan Gebri hari ini.
>_<
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR DAN MEMBACA. EPISODE 17 SELESAI. NANTIKAN EPISODE 18. DAN PLEASE VOTE, COMMENT, LIKE, AND RATE, SUPAYA AKU MENJADI SEMANGAT MENULIS TERUS.
__ADS_1