
...Selamat membaca 🍊...
......................
Caca terkejut ketika melihat Jenni keluar dari ruangan dengan menangis, ia kemudian masuk ke ruangan kerja Bagas dan menatap ke arah Bagas. Kondisi Bagas sedang dilanda emosi, Caca menaruh berkas map yang ia pegang tadi dan mendekati Bagas.
"Bagas yang buat Jenni nangis, Ca, sumpah. " ucap salah satu rekan kerja lainnya.
"Gas? "
"Kenapa memangnya? " tanya Bagas dengan nada suara yang terdengar masih marah.
"Mampus, dimarahin bininya sendiri. "
"Eh, sejak kapan? Kan Caca itu sepupunya? "
Mendengar bisik bisik dari rekan kerja lainnya, Caca menggeleng kepalanya dan berjalan keluar ruangan dengan membawa map kerjanya.
"Ca, Caca...! " Bagas mengejar Caca yang pergi tanpa berkata apapun selain memanggilnya, ia merasa bahwa Caca salah paham dan perlu diberi penjelasannya terlebih dahulu.
"Ca, Caca, Caca...! " teriak Bagas memanggil Caca.
Caca tidak berhenti berjalan, ia dengan membawa tas nya beserta barang barang lain menuju ke arah taksi. Dari belakang Bagas mengejarnya, tangannya ditahan dari belakang, Caca menepis tangan Bagas yang berusaha menahannya, tetapi ia masih tetap kalah dengan Bagas.
"Ca, dengerin aku dulu... "
"Apa? Nggak usah ribut disini, kalau mau ribut, pulang ke rumah. "
Bagas menahan Caca terus terusan, hingga membuat Caca berteriak kesal.
"Apa sih, Gas?! " tegas Caca.
"Ca, aku nggak ngapa ngapain sama Jenni, kamu jangan salah paham...! "
"Bodoamat, aku mau pulang lebih awal! " bentak Caca.
Caca menaiki mobil taksi yang ia pesan, sementara Bagas menatap ke arah mobil taksi tersebut berjalan meninggalkan kantor tempat ia bekerja.
Bagas berlari ke dalam kantor, ia meminta izin pulang lebih awal, sementara pekerjaan yang ia kerjakan ia bawa pulang dan akan mengerjakannya saat di rumah.
Masalahnya belum selesai dengan Caca, maka dari itu ia akan menyelesaikannya dengan menyusul Caca yang pulang ke rumah.
......................
Bagas mengikuti taksi yang dinaiki oleh Caca, tepatnya menuju ke rumah dan berhenti disana, mobil Bagas segera masuk ke halaman rumah dan Bagas keluar dari mobil untuk mengejar Caca.
Caca menatap tidak senang ke arah Bagas, ia segera mengambil kunci rumah dan segera membuka pintu rumahnya, sedangkan Bagas dari belakangnya mengikuti dirinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Caca...! "
"Ya, ada apa? Kamu mau ribut sama aku kan? "
Caca menatap Bagas dengan tatapan menantang, kali ini ia memang ingin segera berdebat dengan suaminya itu, entah akan berdebat secara biasa atau berdebat secara besar-besaran.
"Ca, aku nggak cari ribut sama kamu, aku cuma mau jelasin semuanya sama kamu. "
"Nggak perlu, aku udah tau. Kamu apain Jenni, hah? " tanya Caca.
Bagas akhirnya mengerti, bahwa Caca tidak menatapnya dengan salah paham, ia sudah tau permasalahan yang terjadi tadi dan sekarang pastinya akan merembet ke arah yang lain.
"Aku cuma kasih dia penegasan, makanya dia nangis. " ucap Bagas.
"Penegasan? Maksudnya main kasar? " tanya Caca.
"Ingin sekali rasanya tadi main kasar, tapi baru ucapan saja dia sudah nangis tak karuan. "
Ucapan Bagas terdengar sangat jahat, karena ingin berbuat kasar terhadap Jenni, hanya saja kondisinya tadi sedang ramai dan tidak akan bisa melakukannya. Tak lama berselang, Caca memukul dada Bagas dengan kesal.
"Gas, kok kamu kasar sih sama Jenni?! Emang dia kenapa sama kamu, sampai sampai dia lari sambil nangis gitu?! "
"Karena aku tegaskan sama dia, bahwa aku sudah menikah, dan juga aku tidak mau bila dia menganggu rumahtangga kita dengan dia berharap bisa mendekati ku terus menerus! " tegas Bagas.
Caca tampaknya mulai kesal, ia geram ketika Bagas berbuat kasar dengan orang lain.
"Demi apa kamu lakuin itu? Demi pernikahan kita yang dianggap palsu ini aja kan? Kenapa nggak bisa dibicarakan baik-baik dan dijelaskan secara baik baik? " tanya Caca.
Bagas mulai pusing, Caca seperti mengintimidasi nya dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan dirinya dan benar-benar menganggap bahwa dia seratus persen pelakunya.
"Ca, walaupun kehidupan rumahtangga kita sebatas tinggal bersama, tapi aku masih tetap menghargai status pernikahan kita. Walaupun kita nggak saling cinta, setidaknya saling menghargai atau ingat sama status kita sekarang. " ucap Bagas.
"Ya, aku bisa menghargai nya, tetapi setidaknya nggak usah nyakitin perasaan orang lain sama ucapan kamu, Gas! " bentak Caca.
__ADS_1
"Kalau nggak ditegasin, yang ada dia masih nekat buat deketin aku! Kamu perlu tau itu, Ca! " balas Bagas.
Akhirnya perdebatan biasa mereka menjadi perdebatan yang besar, karena sudah saling membentak dan berbicara terlalu keras.
"Bukannya bisa ngomong baik baik kan? Kenapa perlu ngegas gitu, hah?!" tanya Caca dengan suara meninggi.
"Terserahlah, orang kayak Jennie tuh nggak bakal mempan di kasih tau baik baik, nggak beda kayak kamu! "
Caca terkejut dengan ucapan Bagas, Caca memukul Bagas menggunakan tas make-up nya, terasa bahwa ada yang pecah dan retak, ia panik dan membuka tas make-up nya. "Kan, rusak bedak aku gara-gara kamu! Kamu kira bedak aku murah?! "
"Kamu sendiri yang pukulin aku pakai tas kamu, kenapa malah ngelempar kesalahan sama orang?! " tanya Bagas tidak terima.
"Itu karena kamu yang ajak aku buat ribut! " tunjuk Caca ke arah Bagas.
"Siapa yang ngajak ribut? Aku cuma jelasin aja semua kejadiannya, dan kamu yang memulai perdebatan ini! "
"Sekali ngeles tetaplah ngeles! Kamu pengecut! " bentak Caca.
Olah nafas Bagas sudah berubah, nafasnya memburu karena emosi, tangannya sudah naik ke atas dengan rencananya yang ingin memukul Caca. "Kenapa? Kamu mau pukul aku? Pukul, pukul aku kalau kamu berani! " tantang Caca.
Tangan Bagas terkaku, ia baru mengingat bahwa ia tidak bisa berbuat kasar dengan perempuan, apalagi sekarang Caca adalah istrinya, bisa saja ia akan di cap sebagai pelaku KDRT.
Bagas menurunkan tangannya, ia berteriak kesal ke arah Caca, kemudian meninggalkan Caca yang juga sedang emosi.
......................
Suasana rumah menjadi hening, karena Caca dan Bagas sedang mogok ngobrol, mereka masih sama sama kesal dan memilih saling diam.
Ego mereka yang menguatkan mereka untuk tidak saling mengobrol, dan juga tidak ada dari salah satu mereka yang memulai pembicaraan, hanya sibuk dengan apa yang dikerjakan.
Rasa lapar sudah terasa di perut mereka, tetapi bukannya memasak, malah memesan makanan dari aplikasi online sendiri sendiri.
Setiap berpapasan pastinya akan berpaling muka, apalagi saat mandi, jika bertemu di depan kamar mandi secara bersamaan, maka mereka akan membatalkannya dan akan pergi lagi ke kamar.
Hingga malam tiba, mereka benar-benar sama sekali tidak berbicara, mereka memilih akan diam di kamar saja hingga pagi tiba.
Tengah malam telah tiba, tepatnya jam 1 malam, Bagas terbangun dengan perasaan badannya yang terasa berat dan sesak, kepalanya pusing dan ia rasanya ingin muntah.
Tubuh Bagas terasa lemas, ia memegang keningnya sendiri, panas sekali dan menandakan bahwa ia terserang demam.
Keluhan terdengar di kamar Bagas, tubuhnya merasa tidak nyaman, dengan panas tubuh yang membuatnya bertambah tidak nyaman, Bagas mengingat sesuatu, harus ada yang mengetahuinya bahwa ia terserang demam, yaitu Caca.
Saat langkah nya sudah menjauh dari kasur, ia mengingat sesuatu, kalau ia dan Caca baru saja bertengkar dan saling berdiaman.
"Ca... " panggil Bagas dengan suara seraknya.
Bagas merasa bahwa suaranya tidak terlalu keras, ia mencoba membuka pintu kamar Caca, dan ternyata tidak sama sekali terkunci.
Perlahan pintu terbuka, Bagas dengan langkah kaki lemahnya berjalan ke arah Caca yang tertidur pulas. Badannya serasa roboh, akhirnya ia menjatuhkan diri ke atas badan Caca, Caca terkejut dan segera bangun dari tidurnya.
"Gas? "
"Ca, panas... " keluh Bagas.
Mendengar kata panas, Caca menempelkan telapak tangannya di kening Bagas, dan ya, Bagas demam.
"Gas, kamu demam? " tanya Caca.
Caca membaringkan Bagas di kasurnya, ia kemudian berlari ke luar, mengambil kompres pereda panas dan menempelkan nya di kening Bagas. "Ca, pengen mun—"
Belum menyelesaikan perkataannya, Bagas menunduk ke bawah dan memuntahkan isi perutnya di lantai kamar Caca.
Caca terkejut, antara kaget dan jijik, ia akhirnya pasrah dan membantu Bagas untuk melancarkan muntah nya. "Udah, sekarang kamu tidur lagi ya, biar bekas muntah nya aku yang bersihin. "
Bagas berbaring di kasur, sementara Caca menggeleng kepalanya dan berjalan ke arah kamar mandi, ia segera ingin membersihkan bekas muntah suaminya itu.
Walaupun ada rasa jijik saat membersihkannya, Caca merasa kasihan melihat keadaan Bagas, tengah malam seperti ini ia tiba-tiba terserang demam.
Selesai membersihkannya, Caca membangunkan Bagas, ia menyuruh Bagas untuk minum air hangat terlebih dahulu, agar merasa lega setelah muntah.
"Mau dibuatin makanan, nggak? " tanya Caca.
"Nggak Ca, aku nggak mau makan.... " jawab Bagas dengan suara yang lemah.
"Minum paracetamol aja dulu ya, biar reda dikit panasnya. "
"Nggak ah. "
"Dikit aja, mau sembuh nggak sih? " tanya Caca.
Bagas menganggukkan kepalanya, Caca menyendokkan obat pereda panas dan menyuapkan nya ke dalam mulut Bagas.
__ADS_1
"Udah, sekarang tidur lagi. " Seperti anak kecil yang menuruti ucapan ibunya, Bagas segera tidur, Caca menyelimuti Bagas dan kemudian ia tidur disebelahnya.
......................
Pagi hari tiba, Caca bangun dan memeriksa keadaan Bagas sekarang, suhu tubuhnya mulai stabil dan termometer menunjukkan sudah stabil walaupun masih terasa hangat.
Caca berencana ingin memasakkan makanan untuk Bagas, bubur yang akan ia masak, sederhana dan cocok untuk dimakan saat sedang sakit. "Ca... "
Suara Bagas memanggilnya, Caca berjalan ke arah kamarnya dan melihat Bagas yang berusaha bangkit, tetapi ia melarangnya dahulu untuk banyak bergerak dan menyuruh Bagas untuk beristirahat.
"Makan bubur aja ya, kamu hari ini istirahat dulu, biar aku yang izinin. "
"Terus, kamu dimana? " tanya Bagas.
"Tetap di rumah, tapi aku bakalan ke kantor sebentar nanti siang buat nganterin berkas kemarin. Nanti aku kabarin mamak sama kak Bian buat mampir kerumah liatin kondisi kamu. " ucap Caca.
"Eh, bubur...! " Caca berlari ke dapur, ia mematikan kompornya dan melihat bubur buatannya, tidak gosong dan pas untuk bisa dimakan.
Perlahan ia sendok kan ke dalam mangkuk, kemudian Caca berjalan ke kamar untuk menyuapi Bagas.
"Ayo, kamu makan dulu. "
"Ca, badanku pegel pegel... " keluh Bagas.
"Demam aja manja kamu, Gas. " ejek Caca.
"Sakit beneran, Ca, rasanya mau bikin surat warisan. " keluh Bagas.
"Apa yang mau kamu wariskan? Tagihan kontrakan kita sama biaya listrik, air dan internet kita sama aku, gitu? " tanya Caca.
"Detail amat sih jadi cewek? Nggak jadi lah kalo gitu, aku mau sembuh aja, ntar warisannya itu yang ada cepat tua kamu, Ca. " ejek Bagas.
"Sakit gini aja masih berani ngeledekin aku?! Nih, makan aja sendiri! " Caca memberikan mangkuk berisi bubur itu langsung kepada Bagas, ia merasa tersinggung dengan ucapan Bagas yang mengejeknya.
"Nggak ah, aku main main aja, kan kamu anak cantik, baik hati, manis lagi... " puji Bagas.
"Huh, nanti juga udah sembuh bakalan ngejek aku lagi. Nih, buka mulutnya. "
Bagas membuka mulutnya, satu suapan bubur masuk ke dalam mulutnya dan ia mengunyah nya dengan perlahan. "Hambar banget rasanya, Ca... "
"Namanya lagi sakit, Gas, jadi lidah kamu kalau nyicip makanan selalu pahit dan hambar. Udah, tahan aja, dimakan semampu kamu. "
Caca menyuapi Bagas secara perlahan, dengan sabar ia menunggu hingga akhirnya bubur yang dimakan oleh Bagas habis.
"Ini kamu lapar, bukannya sakit. " ucap Caca.
"Perut aku kosong, Ca, jadinya lapar... "
"Ini, ada ember di bawah ranjang aku, nanti kalau perut kamu rasanya mual lagi, muntah aja disana. " ucap Caca.
"Iya... " jawab Bagas.
Caca berdiri, ia menaruh mangkuk bekas makan kebelakang, rencananya ia akan bekerja di kamarnya sambil menemani Bagas.
Sebelum bekerja, ia memberitahu kondisi Bagas di grup keluarga beserta meminta izin, beberapa orang akan berkunjung melihat ke rumah untuk menjenguk Bagas.
"Udah dikasih izin sama pak bos, sama nanti mamak sama bang Bintang mampir ke sini, ibu aku juga bakalan ke sini buat liatin kamu, Gas. " ucap Caca.
Sorot mata Bagas melihat setiap pergerakan Caca, mulai dari Caca menelepon untuk memberitahu keadaannya, dan mengambil laptop beserta beberapa berkas lainnya, kemudian Caca yang duduk bersama di satu kasur.
'Begini ya rasanya diperhatikan pasangan, walaupun kami nggak benar-benar menjalankan rumahtangga kami dengan sempurna. ' ucap Bagas dalam hati.
Ada inisiatif di dalam hati Bagas untuk langsung meminta maaf dahulu dengan Caca.
"Ca... "
"Ya, kenapa Gas? " tanya Caca.
"Maaf, Ca... "
Caca mengerutkan keningnya, ia bingung dengan ucapan Bagas. "Maksudnya? "
"Masalah kemarin, maaf udah ngomong kasar sama kamu, Ca, dan juga hampir mau nyakitin kamu. " ucap Bagas.
Caca ingat, ia kemudian menggenggam tangan Bagas. "Iya Gas, aku juga salah udah bentak kamu kemarin, soalnya tersulut emosi juga karena kita ribut, aku minta maaf ya. " ucap Caca.
"Aku janji, nggak bakal ngomong kasar lagi, ini demi kamu, biar aku selalu ingat. "
Caca menganggukkan kepalanya, keduanya kemudian berpelukan dan saling meminta maaf.
Demam yang membuat mereka menjadi baik kembali, tapi entah bagaimana kedepannya, semoga saja mereka tetap baik baik saja.
__ADS_1
...****************...