
...Selamat membaca 🍊...
......................
"Ca, kamu hamil? "
Caca terkejut ketika mendengar ucapan tersebut, karena ia muntah sekedar asam lambung nya yang naik, bukan berarti ia muntah karena ia sedang hamil.
"Nggak ko ma—"
"Iya mak, alhamdulillah Caca hamil... "
Bagas langsung memotong ucapan Caca, Ayu yang mendengar hal tersebut menjadi gembira, karena ia akhirnya diberi cucu lagi oleh Bagas dan Caca.
"Caca, udah berapa minggu umurnya? " tanya Ayu.
"Eummhh, belum periksa, mak, soalnya Caca banyakan sibuk sih di kantor. " jawab Bagas.
"Aduh, kenapa istri lagi hamil disuruh kerja? Harusnya minta cuti kerja, nanti yang ada bisa drop kalau dipaksa kerja. Gimana sih kamu jadi suami, Gas...! "
Ayu terlihat kesal saat mendengar Caca yang disibukkan kerja di kantor, padahal itu adalah akal-akalan Bagas saja untuk bisa meyakinkan kedua orang tuanya.
"Iya bu, nanti Bagas suruh Caca buat cuti kerja, kemarin lupa sih, hehehe. " ucap Bagas.
Caca hanya diam, ia tidak bisa berbicara karena yang sekarang menjadi komando adalah Bagas.
Karena kebohongan Bagas, akhirnya semua keluarga percaya, termasuk Bima dan Nanno yang bahagia karena sebentar lagi mereka akan menjadi kakek dan nenek.
"Duh, yang ditunggu akhirnya kabulkan juga, kesampaian juga karena nyuruh Bintang sama Bianca yang mantau mereka, akhirnya ada hasilnya. " ucap Ayu.
"Iya, disuruh konsumsi buah zuriat, yakin lah kalau berhasil, aku lah yang kasih ide. " ucap Bima dengan bangga.
Nanno mendekati Caca, dengan membawa buah yang sudah dikupas, ia memanjakan Caca dengan buah yang telah ia kupas untuk anaknya.
"Dimakan ya, Ca, untuk kamu sama calon cucu ibu. Kalau masih lapar, makan aja ya di dapur. " ucap Nanno.
Caca hanya bisa tersenyum, ia tidak bisa melakukan apa apa kecuali jika Bagas sudah mengatakan sesuatu. "Ibu, manjain banget si Caca nya, Bagas nggak gitu? " tanya Bagas.
"Ada kok, ini buat kamu, duduk sama Caca, dinikmatin ya buahnya. "
Bagas dan Caca diperlakukan seperti orang yang istimewa, mereka duduk dan menikmati makanan yang telah dihidangkan, sesekali Nanno mendekat ke arah Caca sekedar untuk mengelus perutnya, perut yang hanya berisi cacing dan bukannya seorang calon bayi.
Tak lama Caca moodnya berubah, karena kepalsuan itu membuatnya sedikit bosan, ingin segera ia langsung meninggalkan rumah dan bertanya kembali apalagi rencana selanjutnya.
Bagas menyadari raut wajah Caca yang terlihat bosan, ia kemudian berencana untuk langsung mengajak Caca pulang, karena ia juga sudah bosan di rumah orangtua Caca.
"Yaudah bu, kalau gitu Caca sama Bagas izin untuk pulang ya, kayaknya Caca kecapean tuh. " ucap Bagas.
"Cepet banget sih, yaudah, hati hati dijalan ya. "
Bagas dan Caca beranjak dari kursi, mereka berjalan bersama untuk pulang ke rumah. "Akhirnya, selesai juga kita dipantau, Ca. "
Caca hanya diam, ia menatap sinis ke arah Bagas, membuat Bagas bingung.
"Kenapa, Ca? " tanya Bagas.
"Kebanyakan bohong kamu, Gas, aku yang bingung gimana ngeyakinin nya. " ucap Caca.
Bagas hanya tertawa, ia menepuk-nepuk kepala Caca, dan juga ingin mengelus perut Caca, tetapi Caca menepis dan langsung melotot. "Heh, pelecehan! " tegas Caca.
Bagas mengurungkan niatnya, ia menggaruk kepalanya dan langsung menjalankan mobilnya, karena hampir saja ia ingin berbuat lancang kepada Caca.
__ADS_1
"Sebagai tanda kita bisa terlepas dari jeratan kakak kakakku, bagaimana kalau kita jalan jalan? Kan sebagai tanda kesuksesan kita bisa bebas. " ucap Bagas.
"Boleh juga sih, yaudah, aku mau, tapi kemana? " tanya Caca.
Bagas memikirkan sesuatu, ia teringat akan tempat favoritnya di setiap akhir pekan.
......................
Malam telah tiba, Caca dibawa oleh Bagas ke sebuah tempat hiburan, bahkan Caca tidak tahu tempat hiburan apa yang dimaksud oleh Bagas sendiri.
Tiba di tempat yang dituju, Bagas berhenti di tempat karaoke, Caca terkejut ketika melihat karaoke tersebut, karena otaknya sudah terisi oleh pikiran pikiran yang kotor.
"Gas, seriusan kita ngabisin malam disini? " tanya Caca.
"Terus, ngapain lagi kalau aku nggak parkir disini, Ca? " tanya Bagas balik.
Caca meragukan tempat tersebut, tetapi karena Bagas berjalan dengan santai, ia bahkan tidak peduli dan memilih untuk segera masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.
"Sewa bos. "
"Oke, ruang nomor tiga. "
Ucapan Bagas yang terkesan singkat tersebut membuat Caca kebingungan, apa seperti itu memesan sebuah ruang karaoke.
"Ke karaokean begini enaknya ngapain ya? " tanya Caca sambil menatap di sekelilingnya.
Bagas tersenyum mendengar pertanyaan Caca, Caca beralih ke arah Bagas dan melihat ekspresi aneh suaminya itu, tampak mencurigakan dan menakutkan bagi nya.
"Gas, jangan aneh aneh.... " ucap Caca dengan nada ketakutan.
Seakan sebuah semangat, Bagas memiringkan senyumnya dan ia di datangi oleh biduan karaoke yang telah ditunjuk.
"Gas, jangan pesen yang aneh aneh... "
"Ikut aja, ayo masuk sini. " Caca hanya bisa mengikuti Bagas, pikirannya sudah kalut, ia bahkan tidak pernah ke karaoke seperti Bagas.
"Nyanyilah, Ca. " ucap Bagas.
"Gas, kamu ngomong nya jangan kayak gitu... Kamu kesannya kek mau jual aku di karaoke begini... " ucap Caca gemetaran.
Bagas terkejut dengan ucapan Caca.
"Astaghfirullah, Ca, walaupun aku iseng sama kamu, nggak sampai hati berpikir aku mau jual kamu disini. Aku ngajakin kamu kesini tuh cuma buat nyanyi sambil santai santai aja, kebanyakan baca novel sama nonton film nih kamu, dikiranya tempat beginian tuh kayak pelayanan hotel murah gitu? " tanya Bagas.
Caca hanya diam, ia sedaritadi berpikiran sembarangan ternyata, karena ia yang tidak pernah mengunjungi karaokean yang membuatnya berpikiran aneh. "Ini pesanannya mas, silahkan dinikmati. "
Sepiring nasi goreng beserta bandrek tersedia di atas nampan, sesegera mungkin Bagas mengambil sepiring nasi goreng tersebut dan memakannya.
"Ke karaoke cuma buat mesan gini doang? Tau gitu bisa masak sendiri di rumah, Gas. "
"Disini beda, Ca, kalau di rumah di bikinnya dengan hati, kalau disini di bikinnya dengan iringan lagu. Jadi vibes nasi goreng nya berbeda sama yang biasanya kita buat. " ucap Bagas.
Caca menggeleng kepalanya, ia kemudian mencari lagu yang akan ia nyanyikan, Caca memilihnya dan Bagas memperhatikan nya ketika ia bernyanyi.
Semua seakan terlarut dalam suara lagu tersebut, Caca menyanyikannya dengan nada yang sesuai dengan ritme lagu, membuat Bagas juga menikmati istrinya yang sedang bernyanyi.
"Huah, leganya kalau abis nyanyi. " ucap Caca.
"Kan, itulah alasanku mau ajak kamu ke sini aja, Ca. Sesekali buat refreshing. " ucap Bagas.
Caca duduk di sebelah Bagas, Caca yang penasaran ingin mencicipi nasi goreng tersebut meminta Bagas menyuapi nya, Bagas menyuapi Caca satu persatu.
__ADS_1
"Kamu dulu ke karaoke itu sekali dua kali atau keseringan? "
Bagas yang sedang mengunyah nasi goreng tersebut menatap ke arah Caca.
"Bisa dibilang keseringan sih, soalnya aku nggak punya rumah juga dulu. " ucap Bagas.
"Kok kamu nganggep kayak gitu, Gas? Kamu kan bisa pulang ke rumah mamak, kenapa sering disini terus? " tanya Caca.
"Selagi ada uang, bebas aja sih Ca, kadang bisa sewa biduan nya cuma sekedar nemenin aja, kadang juga—"
Kepala Bagas dipukul mikrofon oleh Caca, ia meringis kesakitan dengan suara nyaring dari mic tersebut yang seirama dengan rintihan kesakitan nya.
"Duh Ca, kamu suka banget sih main kasar? "
"Jadi kamu udah macem-macem sama mbak biduan karaoke disini ya? Murah banget kamu...! " tegas Caca.
"Astaghfirullah Ca, bisa nggak mikirnya jangan kesitu mulu? "
"Terus, maksudnya nemenin itu apa coba?! " tanya Caca dengan curiga.
"Maksudnya itu, aku tuh suka nginep di sini, nah itupun bareng temen temen kerja lainnya yang ketiduran di sini. Makanya aku bilang kalau aku kayak nggak punya rumah. " jawab Bagas.
Caca masih tidak percaya, bahkan ia menuduh Bagas yang sudah macam macam, ia juga tidak percaya Bagas masih perjaka.
"Bohong, laki-laki jaman sekarang udah langka masih pada perjaka, apalagi kerjaannya ngeluyur kayak kamu. "
"Kalau aku udah nggak perjaka, udah dari awal tengah malam ku trobos kamu, Ca. "
Caca langsung melotot, wajahnya seketika memerah ketika Bagas sudah mengarah ke arah yang lebih dewasa.
"I—iya deh, aku percaya. " ucap Caca dengan gugup.
"Yaudah, kamu kalau mau nyanyi, nyanyi aja lagi, Ca. Nanti giliran aku juga nyanyi abis selesaiin makanku. "
Caca kembali memegang mic, tak lama setelahnya Bagas ikut bernyanyi, mereka juga duet lagu, membuat keduanya menikmati waktu bersama.
......................
Menunjukkan pukul 11 malam, kedua pasangan tersebut pulang terlalu malam, karena mereka terlalu asyik berduet di tempat karaoke.
"Gas, aku langsung ke kamar ya, mau tidur. " ucap Caca.
"Ca, boleh numpang lagi? " tanya Bagas.
"Buat apa? " tanya Caca.
"Kangen aja sih tidur sama kamu, buat terakhir kita setelah bisa lepas tidur seperti semula lagi. " jawab Bagas.
Caca mengiyakan keinginan Bagas, ia mengajak Bagas untuk tidur di kamarnya, Bagas dan Caca langsung berbaring, tetapi Caca memasang bantal guling sebagai pembatas jarak antara mereka berdua.
"Tidur bagian situ ya, Gas. "
"Iya Ca, aku bakalan tidur di sini. " ucap Bagas.
Kedua pasangan tersebut mulai memejamkan mata, hingga Caca duluan yang akhirnya tertidur.
Bagas belum bisa tidur sama sekali, ia membalikkan tubuhnya mengarah ke arah Caca, ia juga menatap wajah Caca terlalu dalam.
"Makasih ya Ca untuk selama ini, kamu benar-benar partner ku yang terbaik. " ucap Bagas.
...****************...
__ADS_1