Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 27


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


"Nggak, aku bakalan tanggungjawab. "


Caca bertanya kembali, ia tidak percaya dengan ucapan Bagas. 'A—apa, Gas? ' tanya Caca.


"Aku bakal tanggungjawab, karena kamu lagi ngandung anak aku, Ca. " jawab Bagas.


Caca diam, sementara Bagas terus terusan mengatakan bahwa ia akan bertanggungjawab kepada Caca.


"Aku bakalan datang ke sana sekarang, kita perlu periksa kandungan kamu. "


'E—eh?! Serius?! ' tanya Caca.


"Aku butuh lihat kondisi kamu, Ca. Ada siapa di rumah? " tanya Bagas.


'Nggak ada siapapun, ayah dan ibu aku pergi dari tadi pagi, Gas, cuma aku sendiri yang di rumah. ' jelas Caca.


"Oke, aku jemput kamu, kita ke rumah sakit malam ini. "


Bagas mematikan teleponnya, ia menaruh gawai nya di sebelahnya, kemudian mengusap wajahnya, hatinya bercampur aduk, antara tidak percaya dan senang mendengar bahwa Caca tiba-tiba mengandung calon bayi.


"Kalau ini beneran, artinya rezeki buat aku. Aku bakalan susul kalian, istri dan calon anakku. "


Bagas segera bersiap siap untuk bergegas ke rumah orangtua Caca.


......................


Di lain tempat, Caca bersiap siap, ia dengan membawa testpack nya yang akan dia tunjukkan dengan Bagas, takut jika Bagas tidak percaya dengan hasilnya dan menuding dirinya pembohong.


Caca menatap ke perutnya, ia mencoba mengelusnya dengan pelan.


"Kamu kok timbul aja sih, nak? Kamu nggak tau ya nak, kalau aku ini sama bapakmu sudah mau berpisah? " tanya Caca pada perutnya sendiri.


Caca menatap ke arah cermin, ia menatap perutnya yang masih rata itu, dan membayangkan bagaimana kalau benar-benar hasilnya ia akan menjadi seorang calon ibu.


Sesekali Caca memantau dari jendela kamarnya, belum ada tanda tanda Bagas datang, Caca melihat jam dan memilih untuk turun ke bawah menunggu kedatangan Bagas.


Sejam menunggu, suara klakson dari luar rumah, Caca segera bangkit dan membuka pintu rumahnya, ia terkejut ketika melihat siapa yang datang, mobil kedua orangtuanya yang berada di halaman rumahnya.


"Caca, maaf kami kemalaman ya, biasa kalau ibu sudah ketemu tantemu, ngegibah terus pokoknya. " ucap Nanno. Caca gemetaran, apalagi kalau ia bertemu dengan Bimo, akan panjang pertanyaan dari ayahnya itu.


"Ca, kok pakai baju rapih sih? Mau kemana malem malem gini? " tanya Nanno.


Caca tertegun, akhirnya penampilan dirinya disadari oleh ibunya, dan membuat ayahnya juga ikut menyadari penampilan nya malam ini.


"Mau kemana kamu, nak? " tanya Bimo.


"Gi—gini yah, Caca mau main ke rumah Indah malem malem gini... Hehehe, udah kangen mau main ke rumah dia... " ucap Caca gemetaran.


Caca berbohong, ia berusaha untuk meyakinkan kedua orangtuanya, agar ia bisa dipercaya untuk bisa pergi bersama Bagas malam ini ke rumah sakit.


"Main ke rumah Indah? Malem malem gini? Terus kamu mau naik apa? Taksi? " tanya Bimo.


"Emmm, itu—"


"Pulangnya gimana? Taksi kan malem malem dikit, Ca, ayah takut kamu dibawa lari...! Jam berapa pulangnya? Ayah anterin ya—"


"Nggak usah, nggak usah, Caca bisa sendiri kok, nggak perlu dianter sama dijemput Caca bisa kok. Caca kan mandiri... " tolak Caca dengan tawaran ayahnya.


"Tapi kan—"


"Ayah, jangan dahului rencana Tuhan, ayah sama ibu berdo'a aja deh pokoknya, semoga Caca selamat di perjalanan. " ucap Caca.


"Masalahnya Tuhan pun nggak ridho kalau kamu pergi belum ada restu dari kami, Ca. Caca, kamu itu anak satu satunya kami, perempuan lagi. " ucap Bimo.


Bimo terkenal paranoid dan overthinking, bisa mengalahkan Nanno yang sebagai ibunya Caca, ia termasuk strict parents karena ia tidak ingin anaknya bermasalah di luar rumah, pemikiran jadul yang membuatnya terkadang dijauhi Caca saat Caca ingin berpergian atau ingin itu ini di luar urusan rumah.


"Ayah, Caca udah dewasa, Caca nggak ngeluyur kemana mana kok, ayah gitu banget sih sama Caca...?! " keluh Caca dengan perlakuan Bimo.


Saat melihat Caca yang mulai menangis, Bimo akhirnya mengalah, ia kemudian menyetujui keinginan anaknya, ia akhirnya mengizinkan Caca untuk pergi ke rumah Indah, padahal yang sebenarnya tidak seperti itu.


"Ya sudah, ayah izinin kamu pergi. Setelah sampai, kasih kabar sama ayah kalau kamu udah sampai, ayah nggak mau kamu sama sekali berbohong. Ingat, JANGAN BERBOHONG...! " tegas Bimo.


Caca akhirnya tersenyum, ia langsung memeluk Bimo dan berpamitan dengan ayah dan ibunya, Caca segera berjalan ke arah pos ronda yang bertepatan dengan depan gang rumahnya.

__ADS_1


Sebelum Bagas menghampiri nya, Caca memberitahukan bahwa ia akan menunggu di depan gang, agar ia tidak dicurigai oleh Bimo.


Tak lama berjalan, Bagas berpapasan dengan Caca di depan gang, Bagas langsung membukakan pintu mobilnya, ia menyuruh Caca untuk masuk dan duduk di jok samping di dekatnya.


Awalnya canggung, akhirnya Caca memberikan testpack yang menunjukkan hasilnya positif kepada Bagas, Bagas menatapnya dengan tatapan tak percaya, kemudian ia menepuk keningnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Gas, kenapa? " tanya Caca dengan nada khawatir.


"Ca, kita bakalan jadi orangtua, kan? " tanya Bagas.


Caca mengerutkan keningnya, tanpa dijawab saja sudah jelas pastinya mereka akan menjadi kedua orangtua baru.


Seketika raut wajah Caca menjadi sedih, emosinya tidak stabil untuk saat ini.


"Apa dengan kamu bertanya seperti itu buat kamu belum yakin, Gas? " tanya Caca dengan tangisannya.


"Ng—nggak kok, Ca. Aku sadar, aku sama kamu udah sama sama melakukannya, jadi jelas kalau aku sama kamu orangtuanya. Udah dong, jangan nangis... " bujuk Bagas.


"Yaudah, sekarang ke rumah sakit, aku juga belum yakin sama alat ini, Gas. " ucap Caca sesenggukan.


Bagas menghidupkan mobilnya, ia mulai menjalankannya menuju ke rumah sakit.


Di perjalanan, tangan dan kaki Caca terasa dingin, Bagas menyentuh tangan Caca, ia merasa bahwa Caca menggigil karena AC mobilnya.


Bagas langsung mematikan AC mobilnya, Caca melihat tindakan Bagas dan menatap langsung ke Bagas.


"Gas, kenapa dimatiin? " tanya Caca.


"Pakai jaket aku, kamu sedang kedinginan sekarang. " jawab Bagas sambil memberikan jaket miliknya.


Caca memakai jaket milik Bagas, cukup membuatnya merasa nyaman dan sedikit hangat dengan jaket yang ia kenakan.


......................


"Di sebelah kiri, nanti kakak dan mbaknya bakal ketemu sama ruangan spesialis kandungan. Sudah saya hubungi, dokternya ada di ruangan. "


"Baik, terimakasih, suster. " ucap Bagas.


Caca dan Bagas berjalan menuju ke ruang spesialis kandungan, di sepanjang lorong bisa mereka lihat semua orang yang berseliweran lewat, mereka akhirnya menemukan ruangan spesialis kandungan.


"Permisi."


Caca dan Bagas masuk ke ruangan, mereka disambut baik oleh dokter laki-laki yang berada di ruangan tersebut.


"Dengan Bagas Dwipangga dan Binoarca Julaekha Putri? " tanya dokter tersebut.


"Iya dokter, kami berdua. " jawab Bagas.


Dokter tersebut mempersilahkan Caca untuk naik ke atas kasur rumah sakit, sementara Bagas menemani Caca yang ingin diperiksa kandungannya.


"Sempat morning sickness, alias muntah muntah? " tanya dokter kepada Caca.


"Sudah tiga kali, dok. " jawab Caca.


"Saya permisi untuk buka sedikit bajunya, ya. "


Caca menganggukkan kepalanya, kemudian dokter menaruh gel untuk memeriksa kandungan Caca.


Saat bergeser di bawah perut, terlihat ada sesuatu di dekat rahim Caca, sebuah calon bayi yang masih mungil bersarang di dinding rahimnya.


Caca melihat di layar USG, seorang calon bayi mungil yang sekarang ada di perutnya, membuatnya terkesima dan menatap kagum dengan keberadaan calon bayi tersebut.


"Itu bayinya, terlihat kan? " tanya dokter.


"Iya, calon anak saya kan, dok? "


Caca beralih menatap ke arah Bagas, sebuah tatapan yang belum pernah Caca lihat di mata Bagas, Bagas menatap layar tersebut dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Prakiraan umur janinnya tiga minggu ya. "


"Loh, kok tiga minggu? " tanya Bagas penasaran.


"Dihitung dari tanggal haid pertama haid terakhir ibunya, ketentuan umur janin dihitung dari sana ya, pak. "


Bagas menghela nafas lega, hampir saja ia tidak mempercayai nya karena ketidaktahuan nya.


"Saat ini janinnya dalam keadaan baik, diharapkan ibunya jangan stress ya, kerja berat dikurangi, karena umur 1-2 bulan janin belum sepenuhnya kuat, ya. "

__ADS_1


"Baik dok, terimakasih. " ucap Caca.


"Untuk bapaknya, disarankan untuk berpuasa terlebih dahulu. "


"Baik dokter. " ucap Bagas.


Dokter memberikan vitamin dan berbagai suplemen kesehatan untuk Caca, Bagas dan Caca berterimakasih kepada dokter tersebut dan meninggalkan ruangannya.


Saat berjalan menuju ke luar, raut wajah Caca berubah.


"Ca, kenapa? " tanya Bagas.


"Gas, aku bakalan jaga ya anakku... " ucap Caca.


"Ya, nggak pakai izin aja kamu berhak ngurusinnya, Ca, kita jaga anak kita sama sama ya. " ucap Bagas.


"Nggak Gas, kita mau cerai, mau gimana coba? " tanya Caca.


Bagas ikutan bingung, mereka akhirnya sama sama berpikir, tidak ada dari salah satupun mereka mengeluarkan sepatah kata sedikit.


......................


Di sepanjang jalan, Caca merenung, ia tidak tahu kedepannya dengan dirinya dan calon anaknya.


"Ca, nggak usah dipikirin, aku jadi ikut kepikiran. " ucap Bagas.


"Gas, gimana cara jelasinnya sama ayah dan ibu aku? " tanya Caca.


"Masalah itu biar aku yang urus, Ca, aku minta, kamu jangan stress ya, kasihan calon anak kita kebawa. " jawab Bagas.


Sesampainya di gang, Caca menghela nafasnya, ia menatap ke arah Bagas.


"Makasih ya, Gas. " ucap Caca.


"Nggak usah repot repot, Ca, sama sama. " ucap Bagas.


Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu mobil Bagas di sebelah Caca terbuka, Caca ditarik dari samping, membuat Caca terkejut, karena Bimo yang menariknya keluar dari mobil.


"Dari mana aja kamu, Ca? Dari rumah Indah, Indahnya bisa berbohong ya? " tanya Bimo dengan menginterogasi Caca.


"Om, saya bisa jelaskan... "


Bagas keluar dari mobil, hal tersebut membuat Bimo bertambah marah. "Kalian, sekarang ikut ke rumah! " perintah Bimo.


Bimo membawa Caca pergi, sedangkan Bagas kembali ke mobil dan menyusul Bimo dan Caca yang berjalan menuju ke rumah orangtua Caca.


"Apa?! Hamil?! " tanya Bimo tidak percaya.


Walaupun dengan diberikan foto USG, Bimo tidak percaya bahwa Caca sedang hamil, karena sebelumnya Caca mengaku belum sama sekali melakukannya bersama dengan Bagas.


"Ayah nggak mungkin setega itu kan, yah? Ayah tega sama calon cucu ayah sendiri kalau nanti dia nggak punya bapak? " tanya Caca penuh harap.


"Masalahnya, kalian ini mau bohongin kami lagi atau nggak? Sudah sekali kami kalian kerjai, jangan sampai kedua kali ini kami dikerjai lagi karena otak pemikiran kalian itu sendiri! " tegas Bimo.


"Kalau begitu, Bagas siap jelasin semuanya. "


Satu persatu peristiwa diceritakan oleh Bagas, Bimo hanya bisa menepuk keningnya ketika mendengar penjelasan dari Bagas.


"Pulang... "


Bimo menunjuk ke arah pintu, Bagas terkejut dengan reaksi mertuanya.


"Tapi kenapa, om? " tanya Bagas.


"Pulang! Tidak ada waktu kalian untuk bersama, walaupun Caca sedang hamil! " tegas Bimo.


Suara yang terkesan membuat khawatir, Bagas kembali memohon dengan Bimo, ia berlutut dengan mertuanya.


"Om, jangan apa apain calon anak Bagas ya om, om nggak papa benci sama Bagas, tapi jangan apa apain dia di perutnya Caca ya, om... " mohon Bagas.


"Apaan kamu ini, Bagas? Kamu kira aku sekejam itu sama makhluk yang baru mau hidup? Sudah, pulang sana, minta bapak sama mamak kamu datang ke sini besok, kita diskusikan masalah ini sama sama. Sudah malam, jangan ganggu anak kami dulu. " perintah Bima.


"Tapi, kan Bagas—"


"Apa? Suaminya Caca? Besok kamu tentukan sama orangtua kamu, dan Jeri Jeri itu, jelasin juga sama pacarmu itu kalau Caca sedang hamil, jangan coba coba ngeraup dua wanita, ku potong asetmu itu kalau berani coba! " tegas Bimo.


Bagas menganggukan kepala nya, ia segera memilih untuk langsung pulang memberitahukan kedua orangtuanya bahwa akan ada diskusi kembali masing-masing.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2