Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 36


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


Tiga bulan telah berlalu, Caca menjalani kehamilannya dengan baik, ditambah lagi ia tidak rewel dalam makan ataupun melakukan aktivitas apapun, lebih menyenangkan lagi ia bisa membuat Bagas marah.


Selesai membereskan rumah, Caca kembali ke kamarnya.


Hari ini adalah hari libur, dimana Bagas akan berlibur bersamanya dan menikmati waktu bersama di dalam rumah.


Caca melihat perutnya di cermin, sesekali ia mencubit perutnya dengan gemas, kemudian mengelusnya.


Caca merangkak ke kasur, ia ingin bersantai di samping suaminya yang masih tertidur pulas, sesekali mengganggu Bagas yang sedang tidur nyenyak.


"Puasnya bisa gangguin kamu, Gas, hihihi.... " ejek Caca.


Caca menumpuk bantal ke dinding, ia bersandar di dinding dengan berbagai bantal yang sudah ia tumpuk, kemudian menyenderkan badannya seraya melihat perutnya.


"Apa ya jenis kelamin nya, hihihi... "


Bagas terbangun, ia melihat Caca yang duduk bersandar di bantal yang ditumpuk, Caca sedang mengelus perutnya yang sekarang sudah mulai membesar.


"Kamu kenapa, sayang? " tanya Bagas.


"Periksa kandungan, yuk, aku udah penasaran sama jenis kelamin anak kita, Gas. " ajak Caca.


Bagas bergumam, tidak salah juga saran dari Caca, mereka juga sudah menemukan 2 nama untuk nama anaknya, masing-masing berbeda jenis kelamin, 1 nama untuk nama laki-laki, dan 1 nama untuk nama perempuan.


Jika tidak periksa sama sekali dan mereka asal menerapkan nama, bisa saja nama tersebut salah.


"Yaudah, kita periksa ke dokter kalau begitu. "


"Ayo."


Saat Caca ingin bangkit, secara tiba-tiba Bagas menariknya hingga ia terbaring di kasur, Bagas mendekat ke arah Caca dengan tatapan yang mengerikan di mata Caca, tatapan cabul.


"Gas, jangan dulu! "


"Kebiasaan kamu suka lupa, kan setiap bangun tidur, aku harus cium perut kamu dulu, mau ngucapin selamat pagi sama anakku, Ca. " protes Bagas.


Caca baru ingat, ia memamerkan senyumnya dan menyuruh Bagas untuk berbaring, agar bisa mencium perutnya.


Selesai dengan bercandaan mereka berdua, sebelumnya sifat malas mereka bisa saja timbul, mereka akan memilih untuk makan terlebih dahulu, kemudian beristirahat, tak lama tak akan bangkit lagi dari kasur ataupun sofa.


Tetapi tidak untuk kali ini, karena hormon Caca yang sedang gembira, membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan tujuan awalnya, yaitu memeriksakan kandungan dan mengetahui jenis kelamin anaknya.


"Ayo dong, Gas, kamu cepetan dikit! " pekik Caca.


"Iya, sabar dulu. "


Bagas lebih lambat dalam bersiap siap, ia berhasil membuat Caca kesal dengan perlakuan dirinya yang sengaja memperulur waktu.


"Gas, mau makan ini kamu? "


Caca menunjukkan sendal tebal miliknya, Bagas meminta ampun dan segera meminta Caca untuk balik ke mode awal, yaitu menjadi wanita yang lemah lembut.


......................


Sesampainya di rumah sakit, Caca dan Bagas mengarah ke ruangan spesialis kandungan, mereka segera masuk ke dalam dan menemui dokter yang ada di dalam.


"Mau periksa kandungan ya? " tanya dokter.


"Iya dok, sekaligus mau tau jenis kelamin anak kami juga. " ucap Caca.


Dokter kemudian mempersilahkan Caca untuk naik ke atas kasur rumah sakit, kemudian perutnya diperiksa oleh dokter dan dilihat menggunakan USG.


"Wah, ini anaknya cowok ini, selamat ya buat bapak dan ibunya. " ucap dokter kandungan tersebut.


Selesai memeriksakan jenis kelamin kandungan, raut wajah Bagas berubah, ia menjadi sedih, karena ia awalnya berharap hasil USG menunjukkan bahwa anaknya adalah perempuan.

__ADS_1


"Yah, nggak bisa main barbie sama dia, sayang, yang ada mainannya mobil mobilan. "


Caca melihat ke arah suaminya, ia menggenggam tangan Bagas. "Nggak papa, Gas, ibu sama ayah pasti senang dapat cucu cowok. " ucap Caca.


Raut wajah Bagas bertambah masam, cemberut nya bertambah, menjadikan wajahnya jelek seketika.


......................


Di dalam mobil, kedua pasangan muda tersebut sibuk dengan urusan tersendiri, Bagas fokus menyetir, sedangkan Caca melihat pemandangan di luar.


Caca baru ingat, ia harus memberitahukan berita ini kepada kedua orangtuanya, karena Caca yakin, ibu dan ayahnya sangat bangga ketika mendengar kabar gembira ini.


"Gas, kita mampir ke rumah orangtua aku ya. " ajak Caca.


"Boleh, mau kasih kabar ini sama ibu dan ayah kamu, kan? " tanya Bagas.


Caca menganggukkan kepalanya, kemudian Bagas mengambil rute menuju ke tempat tinggal orangtua Caca.


Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu di pasar, rencana mereka ingin membawa buah tangan berupa buah buahan yang dibeli di pasar, sekalian membelikan buah untuk Caca makan di rumah sendiri.


Selesai berbelanja buah, Caca dan Bagas baru bergegas untuk datang ke rumah kedua orangtua Caca.


Di depan halaman, Bagas memarkirkan mobilnya, ia menyuruh Caca untuk duluan masuk ke dalam rumah.


Tak lama pintu rumah terbuka, Nanno membuka pintu rumah nya, ia kemudian menyambut kedatangan Caca dan Bagas, karena sebelumnya ia tidak tau kalau anak dan menantu nya mampir ke rumah.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, Caca. "


Nanno memeluk anaknya, ia kemudian mengelus perut anaknya dan tersenyum.


"Yaudah, ayo masuk. " ajak Nanno.


Di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu, Caca melihat ayahnya sedang bersantai memainkan HP, ia menegur Bimo dan Bimo merespon panggilan anaknya.


"Yah, ayah. " panggil Caca.


"Mau kasih kejutan aja, benar-benar kejutan nih. " ucap Caca.


Bimo dan Nanno penasaran, wajah penasaran itulah yang dinantikan oleh Caca, tepat sekali untuk memberitahukan bahwa ia mempunyai anak laki-laki.


"Seriusan?! Cucu kami cowok?! " tanya Bimo dan Nanno dengan heboh.


"Iya, kalian bakalan punya cucu cowok, ayah, ibu. " jawab Caca dengan bahagia.


Bimo dan Nanno melompat bahagia sambil bertepuk tangan, memiliki cucu laki-laki adalah impian mereka yang sebelumnya ingin memiliki anak laki-laki kemudian anak perempuan.


"Akhirnya, kita punya cucu laki-laki ya, bu? " tanya Bimo.


"Iya, impian kita dari dulu. " jawab Nanno.


Di tempat duduk lainnya, terlihat laki-laki yang wajahnya tertekan, Bimo kemudian bertanya dengan Bagas yang duduk termenung.


"Kamu kenapa melamun, Bagas? " tanya Bimo.


Bagas merespon pertanyaan ayah mertuanya, ia kemudian menghela nafasnya dan berusaha untuk tersenyum kembali.


"Dia sedih, calon anak kami bukan perempuan, tapi laki-laki. " jelas Caca.


Bimo dan Nanno ber oh ria bersama, mereka kemudian memberi kata sabar kepada Bagas, itu membuat Bagas tambah malu dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh istrinya.


"Udah ya, malu kalau nangis di depan orangtua. " bujuk Caca.


"Yaudah, kalian mau nggak buah buahan di belakang? Kalau mau, ambil aja. " tawar Nanno.


Mendengar buah buahan di belakang rumah, Bagas kembali bersemangat, ia siap untuk memanjati pohon jambu air yang diurus oleh istrinya.


Bagas dan Caca berjalan ke belakang rumah, mereka mendekati pohon jambu tersebut, tetapi sebelumnya Bagas izin kepada penunggu pohon jambu tersebut, bisa saja sampai sekarang penunggu pohon jambu air tersebut masih marah padanya karena sudah mengganggu pemiliknya alias Caca.

__ADS_1


"Izin ya, mbah atau ruh sekalian, maaf sudah mengganggu pemilik kalian sebelumnya, tetapi pemilik kalian disini sudah mengizinkan saya untuk naik di pohonmu ini. "


Setelah pamit, Bagas kemudian memanjat pohon tersebut, satu persatu buah ia petik, dan sesekali ia cicipi secara langsung, ia merasa senang ketika memakan jambu air yang manis dan menyegarkan itu.


Selesai memetik jambu air, Nanno memberikan buah hasil petikan di belakang rumahnya, kemudian memberikan sebagian untuk Caca dan Bagas.


"Kalau begitu, Bagas sama Caca pamit pulang ya. " pamit Caca.


"Iya, hati hati di jalan, nak. Jaga kandungan kamu ya, kami selalu menunggu. " ucap Nanno.


Bagas dan Caca menaiki mobil mereka, mobilnya mulai menjauh dari hadapan Bimo dan Nanno.


Tidak ada basa basi semenjak di perjalanan, Caca berdeham, kemudian ia direspon oleh Bagas.


"Ada apa, Ca? " tanya Bagas.


Caca memikirkan topik pembicaraan nya, ia kemudian teringat akan keinginannya beberapa bulan yang lalu.


"Gas, boleh nggak aku balik kerja lagi? "


Bagas menatap tidak senang, ia menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak setuju dengan keinginan Caca.


"Nggak, kamu di rumah aja, nggak boleh terlalu kecapean karena kerja. " ucap Bagas.


"Aghh! Aku bosan di rumah terus, Gas, mau sesekali bisa balik ke kantor buat kerja lagi, Gas! " rengek Caca.


Bagas tetap menggelengkan kepalanya, Caca berusaha mati matian untuk diizinkan bekerja kembali ke tempat kerjanya.


Caca akhirnya menangis, Bagas langsung panik, ia kemudian menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan membujuk Caca untuk tidak menangis lagi.


......................


Seharian Caca akhirnya tidak menegur Bagas sama sekali, sayang laki-laki itu tidak peka, ia sibuk bermain dengan gamenya, membuat Caca bertambah kesal hingga sering menghentak hentakan barang.


Hingga malam tiba, akhirnya makan malam yang sudah ditunggu oleh Bagas sudah dibuatkan, Bagas membuka tudung saji dan membuka isinya, di dalam tudung saji tersebut adalah tempe dan tahu, serta sambal dan kecap saja yang dimasak oleh Caca.


"Ca, ini... "


Caca menatap sinis ke arah Bagas, ia kemudian memilih untuk kembali ke kamar, ia benar-benar merajuk dengan Bagas sekarang.


Bagas akhirnya menyerah, ia akan membujuk Caca yang sedang merajuk itu, karena permohonan istrinya tadi pagi ia tolak dan membuat Caca sekarang akhirnya marah dengannya.


"Ca... " panggil Bagas.


Caca melihat ke arah Bagas, kemudian ia mengusir Bagas, tetapi Bagas tidak mendengarkannya dan memilih mendekati Caca.


"Ngapain masuk ke kamar aku? Mau protes kan kamu? " ketus Caca.


"Nggak Ca. "


"Kalau nggak penting, keluar aja, main sana gamenya sampai puas! " sindir Caca.


Bagas menggelengkan kepalanya, ia benar-benar menyerah, menyetujui keinginan istrinya adalah pilihan terakhir yang membuatnya akan dimaafkan oleh Caca.


"Yasudah, sekarang tidurlah, besok kita pergi kerja. Tapi, ada syaratnya. "


Caca berdecak, ia kemudian menyuruh Bagas untuk langsung mengatakannya tanpa basa basi.


"Yaudah, apa syaratnya? " tanya Caca.


"Setiap jam makan siang, kamu pulang buat istirahat di rumah, jangan full time kerja di kantor. Lagipula kantor bisa menerapkan WFH untuk kita, asalkan proyek jalan terus. " ucap Bagas.


Mendengar sudah mendapat izin dari suaminya, Caca berteriak senang, akhirnya keinginannya dituruti oleh Bagas, dan ia bisa bekerja kembali ke kantor.


"Yaudah, kalau begitu kita pesen makanan ya, buat tambahan lauk kita. "


"Nggak usah, kemarin udah beli cumi dan kerang kerang lainnya juga, nggak usah pesen makanan, biar aku bikin makanan lagi. " ucap Caca.


Bagas tersenyum, ia membantu Caca untuk berdiri, keduanya berjalan ke dapur secara bersamaan, walaupun harus dibumbui bumbu bumbu drama di awal.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2