Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 24


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


"Caca pergi... "


Bagas tak sadar ia mengeluarkan air matanya, baru pertama kalinya ia menangis karena perempuan, ia tidak rela ketika Caca meninggalkan nya.


Bagas bahkan mengutuk dirinya sendiri, karena ucapannya sendiri ia menghancurkan dirinya sendiri pula, Bagas menyesal telah membuat perjanjian bodoh itu, yang akhirnya membuat dirinya yang terkena senjatanya sendiri.


Bagas hancur, ia benar-benar hancur kali ini, baru saja ia ingin mengungkapkan isi hatinya, harus terpisah karena ucapannya sendiri.


Bagas bahkan tega menendang mesin gamenya sendiri, ia tidak peduli, karena ia banyak menyalahkan mesin gamenya itu sendiri, ia tidak peduli jika mesin gamenya yang asli itu rusak.


"Bagas, kau bodoh! Laki-laki b*jingan kau ini...! " teriak Bagas.


Bagas hanya menangis, menangis sendiri di rumahnya, ia sendiri tanpa ada yang menemani sama sekali dan hanya bisa melampiaskan nya lewat marah, kalau tidak bisa marah paling hanya bisa menangis dengan kuat saja.


"Ca, turun. "


Caca telah sampai di rumah kedua orangtuanya, Nanno berdiri dan menunggu anaknya dan suaminya pulang.


"Caca... "


Nanno memeluk Caca, Caca membalas pelukan ibunya dengan erat, ia membutuhkan sandaran ibunya saat ini dan mengobrol dari hati ke hati dengan orangtuanya.


"Masuklah, nak. "


Bimo membawa koper milik Caca, Caca dan Nanno mendahului Bimo dan duduk di ruang tamu bersama.


"Caca boleh ngobrol? " tanya Caca.


"Boleh nak, kamu kali ini membutuhkan kami berdua saat ini. " ucap Bimo dan Nanno bersamaan.


"Maaf, selama pernikahan kami, kami nggak sepenuhnya menjalankan rumahtangga kami seperti pasangan biasanya... "


......................


Bagas duduk merenung, sudah hampir sejam ia hanya merenung di kursi, ia hanya memikirkan Caca yang pergi meninggalkan nya tadi sore bersama Bimo, ayah mertuanya.


Pikiran Bagas sudah kemana-mana, bahkan kejadian tadi malam juga ikut terpikir di pikirannya, ia terpancing kembali dan menatap kamar Caca.


Bagas masuk ke dalam kamar Caca, seperti saat Caca pergi liburan, setiap sudut bantal maupun kasur Caca, dihirup nya dengan pekat, ia terpancing kembali ketika mengingat indahnya malam, hingga ia menyelesaikan nya sendiri dengan tisu yang ada di samping kasur Caca.

__ADS_1


"Kenapa kalian berpikiran seperti itu? Apa pernikahan kalian tidak bahagia? " tanya Bimo.


"Tidak, kami tidak menjalankan rumahtangga kami, tetapi kami hanya tinggal bersama saja. Alasan hamil, itu akal akalan Bagas saja, yah, karena kami tidak ingin kalian selalu memaksa kami untuk memiliki anak, sementara Bagas dan Caca tidak pernah sama sekali melakukan nya bersama. " jelas Caca.


Bimo menepuk keningnya, sedangkan Nanno menggelengkan kepala nya.


"Lebih baik seperti ini, aku sudah menyesal menikahkan Caca dengan dia, dia saja pandai berbohong dan mengatakan kata kata kasar kepada Caca, kemudian menceraikannya karena mesin gamenya. " ucap Nanno.


"Loh, kamu pikir kamu aja? Aku juga sama, aku nggak terima ya anakku di hina sama dia. " ucap Bimo tak terima.


Caca mengusap wajahnya, ia berjalan menuju ke kamar, karena tidak ingin mendengar obrolan seputar Bagas kembali.


Caca duduk merenung di pinggir ranjangnya, kemudian Nanno masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Caca.


"Ca, kenapa? " tanya Nanno.


"Caca ingin menenangkan diri sejenak aja, boleh? " mohon Caca.


Nanno menganggukkan kepalanya, ia kembali menutup pintu kamar anaknya dan pergi.


......................


Keesokan harinya, Bagas terbangun dari tidurnya, ia meringis, karena pinggangnya sakit, sebab ia menyelesaikan hanya sendiri, tidak bersama Caca.


Bagas sendiri di rumahnya, ia melihat kalender, lusa adalah hari terakhir nya untuk tinggal di kontrakan yang ia tempati selama setahun bersama Caca.


Banyak kenangan di rumah itu, dan sekarang Bagas menentukan pilihan nya, ingin pulang ke rumah atau tinggal luntang-lantung di mobilnya.


Gawai Bagas berdering, ia mengambil gawai nya yang ada di celananya, sebelumnya ia menutupi bawahannya dengan selimut milik Caca dan mengambil celana nya yang ada di bawah kasur.


"Halo, kenapa mak? " tanya Bagas.


'Pulang, sekarang kamu pulang ke rumah. Kontrakan kamu sebentar lagi sudah usai, bukan? ' tanya Ayu dari telepon.


Bagas terkejut, darimana Ayu bisa tahu kontrakannya akan selesai selama setahun, padahal tidak ada bocoran sama sekali ia akan mengambil waktu kontrakan secepat itu.


'Ngerti? Pulang sekarang, beresin barang barang kamu. ' ucap Ayu.


Bagas mematikan teleponnya, saatnya ia harus menuruti ucapan mamaknya dan membereskan barang barangnya, sedangkan barang barang lainnya akan ia angkut setelah waktu kontraknya habis.


Bagas mengunci pintu rumahnya, ia mengangkut kopernya, dalam pikirannya ia akan dimarahi habis habisan oleh Ayu, karena Bayu sama sekali tidak akan mau ikut campur, jika ikut campur saja paling akan memukulnya dengan rotan seperti saat dia kecil.


"Tanda tangani surat ini, nanti akan kami antar lagi ke rumah Bagas. " ucap Bimo.

__ADS_1


Caca menatap surat perceraian tersebut, secepat itu kah ia akan menjadi seorang janda karena perjanjian yang dibuat itu sekarang merugikan dirinya sendiri.


"Caca butuh tanda tangan Bagas terlebih dahulu, Caca butuh waktu memutuskan ini terlebih dahulu. " ucap Caca menjauhkan surat tersebut dari meja.


Bimo mengambil surat tersebut, ia memberikannya kepada pengacaranya dan menyuruh untuk diberikan terlebih dahulu kepada Bagas.


"Saya permisi dahulu. "


Caca mengusap wajahnya kembali, ia stress untuk dua hari ini, memikirkan dirinya kedepannya setelah bercerai, sementara ia pernah melakukan nya bersama dengan Bagas, apa akan beresiko untuk hidupnya kedepannya.


......................


"Bagas nggak tau, mak, maaf...! "


Bagas dipukuli dengan rotan andalan Bayu oleh Ayu, ia berlutut dan memegang lengannya yang habis dipukul dengan rotan.


"Bikin malu aja kamu! Kamu nggak mikir kalau harga diri kita di depan keluarga Caca itu bagaimana saat kamu marahi dan talak dia?! " tanya Ayu.


"Aku tidak tahu sama sekali kalau Caca melempar PsP palsu nya, kukira itu asli. "


Satu pecutan di lengan Bagas, Bagas meringis kembali karena lengannya dipukul lagi dengan Ayu.


"Makanya, otakmu itu jangan penuhi dengan game, jadinya pola pikir kamu nggak bekerja dengan lancar sama sekali! "


Ayu meninggalkan Bagas yang berlutut kesakitan, Bagas mengusap lengannya yang dipukuli dengan rotan, sebuah hukuman masa kecil yang terulang lagi padanya, wisata masa lalu.


Kakaknya beserta adiknya hanya menatap Bagas yang dipukuli oleh mamak mereka, mereka meninggalkan Bagas, hanya Bianca yang membantu Bagas untuk berdiri dan memberikan air minum.


"Minum dulu, Gas, kakak tau kamu sekarang pastinya gemeteran. " ucap Bianca.


Bagas mengambil air minum yang diberikan oleh kakak iparnya, beberapa tegukan dan tangannya yang gemetaran membuatnya meminum air itu berceceran.


"Sudah kak, terimakasih. " ucap Bagas.


Bianca kasihan dengan Bagas, ia mengelus rambut adik iparnya, kemudian Bagas langsung memeluk Bianca.


"Kak, Bagas bodoh ya? "


Bianca mengelus punggung Bagas dan menepuk-nepuk nya.


"Namanya manusia, Gas, pasti ada khilaf nya. " ucap Bianca.


Bagas menangis di pangkuan kakaknya, Bianca menenangkan Bagas dan menjadi teman cerita untuk adik iparnya malam itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2