Sepupu Kok Nikah?

Sepupu Kok Nikah?
Eps 35


__ADS_3

...Selamat membaca 🍊...


......................


"Apa? Masih saat beberapa bulan kita nikah, Jenni masih ganjen juga sama kamu? "


Bagas menganggukkan kepalanya, sedangkan Caca menggeleng kepalanya.


"Keterlaluan, image baik sebagai wanita karier bisa hancur karena gila sama cinta. Kamu juga sih, ngapain kasih harapan sama cewek kayak gitu dulu, Gas? " tanya Caca.


"Maaf Ca, kemarin aku kasih dia harapan ya karena kamu yang suruh aku pindah hati, susah untuk bisa pindah hati sama wanita lain selain kamu, Ca. Ingin cari siapa lagi selain dia kemarin? " jelas Bagas.


Caca menganggukkan kepalanya, ia kemudian merenung, tak lama Bagas menjentikkan jarinya ke wajah Caca.


"Kenapa, Gas? " tanya Caca.


"Jangan ngelamun, kamu masih kepikiran sama Jenni, ya? " tanya Bagas.


"Gimana nggak kepikiran, lah dia gituin kamu, mana denger dari kamu kalau dia ganjen. Pengen tak hih rasanya dia itu! " geram Caca.


Bagas menggeleng kepalanya, ia berdiri dan mengelus kepala Caca.


"Udah, nggak usah dipikirin, lagipula males banget bahas dia lagi, lebih baik kita rencanakan nama anak kita siapa, Ca. " ucap Bagas.


Caca mulai tidak konsisten dengan pikirannya, ia baru tersambung, dan mulai menepuk tangannya.


"Ya, aku lupa, harusnya kita cari nama anak kita, Gas. "


Bagas mengambil buku nama nama anak, itu adalah buku lama yang diberikan oleh Ayu padanya, sebagai ide untuk memberikan nama untuk calon anak mereka nantinya.


Mustahil jika calon anak mereka sudah lahir, tetap saja memanggilnya dengan sebutan adik bayi, yang ada akan kasihan jika tidak memiliki nama.


"Nama depan anak kita seperti nama nabi terakhir kita saja ya, Ca, biar namanya berkah buat anak kita untuk kedepannya. " saran Bagas.


"Boleh, nama yang bagus itu, Gas. "


Kedua pasangan tersebut mulai mencari berbagai nama dan arti yang baik untuk calon anak mereka nanti, tampak menyenangkan ketika satu persatu nama dari buku tersebut disatukan oleh catatan, walaupun beberapa kali tidak merasa cocok dan berkali-kali mengganti nama dari kecocokan nama tersebut.


Sudah larut malam mereka tempuh, kemudian Caca dan Bagas menemukan nama yang bagus untuk calon anak mereka, kedua pasangan itu merasa senang dapat menemukan nama anak mereka untuk satu malam saja.


"Yap, nama yang bagus untuk calon anak kita, Gas! " ucap Caca antusias.


Bagas menguap, ia kemudian mengajak Caca untuk tidur, karena hari sudah malam dan tidak baik jika Caca terlalu lelah karena tidak beristirahat.


"Sudah, kita tidur ya, udah malam begini juga. " ajak Bagas.


Caca menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Bagas ke dalam kamar, menutup pintu dan naik ke atas kasur, mereka tidur dengan pulas.


......................


Keesokannya, Caca sudah bangun terlebih dahulu, karena terasa perutnya seperti ada yang menendang, Caca terkejut dan langsung memegang perutnya.


"Seriusan? Tadi nggak salah?! " heboh Caca.


"Gas, Bagas... "


Bagas bergumam, ia membalikkan badannya dan membuka matanya, Caca dengan wajah bahagia menatapnya.


"Ada apa, Ca? " tanya Bagas dengan suara serak nya.


"Gas, tadi perut aku kayak terasa di tendang dari dalam loh! "

__ADS_1


Bagas terkejut, ia merasa itu sebuah kejutan, karena calon anaknya sudah mulai bisa menendang dari dalam.


"Seriusan? Aku mau dengar. "


Bagas menempelkan telinganya di perut Caca, ia juga menggoda calon anaknya agar bisa bergerak, tetapi ia tetap saja tidak mendapat respon apapun.


"Yah, nggak ada responnya, Ca. " ujar Bagas kecewa.


Caca tersenyum dan tertawa kecil, ia mengelus wajah suaminya itu dan mencium kening Bagas, Bagas merasa terpana dan langsung memeluk Caca untuk kembali tidur.


"Gas! Jangan! "


"Pengen cium doang, pengen peluk aja... "


Bagas memeluk Caca dengan erat, Caca merasa sesak dan memohon ampun dengan Bagas, kemudian Bagas melepaskan pelukannya itu.


"Yaudah, kita subuh dulu, kebangun jam segini juga soalnya. " ucap Bagas.


Kedua pasangan tersebut memutuskan untuk subuh berjamaah.


Bagas dan Caca memiliki kesibukan masing-masing, termasuk Caca yang sedang menyiapkan sarapan, dan Bagas yang berkemas.


Saat mencuci piring, Caca memikirkan obrolan tadi malam, ia masih penasaran dengan Jenni, perlu ia berbicara langsung dan bertanya dengan wanita tersebut, apakah dia masih ingin mendekati Bagas kembali.


'Ca, aku pergi ke kantor ya. '


Caca teringat, ia harus memberikan kotak bekal pada Bagas, ia juga ingin izin pergi ke suatu tempat.


"Nih Gas, bekal kamu hampir ketinggalan. " ucap Caca.


"Makasih ya, Ca. " ucap Bagas.


"Ada apa, Ca? " tanya Bagas.


"Gas, boleh nggak kalau aku keluar rumah hari ini? " tanya Caca.


Bagas mengerutkan kening nya. "Mau kemana? "


"Pengen keluar rumah aja, Gas, pengen jalan jalan gitu, pengen mampir ke cafe, boleh ya? " bujuk Caca.


Bagas langsung menggeleng kepalanya, tetapi Caca tetap merengek untuk diizinkan pergi sendiri ke cafe.


"Mau ketemu sama siapa kamu? " tanya Bagas.


"Teman, kebetulan mau reunian, boleh ya? " bujuk Caca sekali lagi.


Bagas menyerah, tampaknya Caca benar-benar menginginkan jalan jalan ke luar rumah, ia juga merasa Caca butuh relaksasi setelah hampir 3 bulan ia tahan untuk tidak keluar rumah sama sekali.


"Iya, tapi naik taksi ya, jangan naik ojek. " ucap Bagas.


Caca langsung girang, ia melompat lompat, dan segera memeluk Bagas yang ingin pergi.


"Makasih, Bagas... "


Bagas mencium kening Caca, ia kemudian pamit untuk pergi bekerja.


......................


Setelah selesai, Caca bersiap siap untuk bertemu dengan Jenni, kebetulan juga Jenni mau mengikuti keinginannya untuk bertemu.


Sesampainya di cafe, dari dekat kaca, terlihat wajah yang familiar, itu adalah Jenni.

__ADS_1


Caca menghampiri Jenni yang tengah menikmati kopi americano, kopi yang terkenal pahit itu diminum secara nikmat oleh Jenni.


"Ada apa, Caca? " tanya Jenni.


Caca duduk berhadapan ke arah Jenni, minuman yang ia pesan akhirnya sampai, Caca ikut menikmati minumannya sebelum memulai obrolan pada Jenni.


"Jen, kamu masih ada rasa kepada suamiku? "


Jenni yang tengah meminum kopinya segera tersedak, ia terkejut dan menatap Caca dengan tatapan berwibawa.


"Aku nggak bisa bilang, Ca, ingat, kamu sedang hamil sekarang. " jawab Jenni.


"Tidak mungkin, kamu harus jelaskan semuanya, Jenni. Benar kan kamu masih ingin bersama Bagas? "


Banyak ditanya membuat Jenni marah, ia menghempaskan piring dan gelas yang ada di meja cafe, sekaligus ia menunjuk ke arah perut Caca.


"Karena dia, hubungan kami berakhir! "


Jenni membentuk bogem pada tangannya, ia terlalu kesal dengan Caca beserta kandungannya, bogem nya melayang untuk menuju ke perut Caca.


Bugh! Suara yang terkena tinjuan Jenni lumayan kuat, karena Jenni yang kebetulan petinju handal yang membuat tinjuan nya lebih kuat.


"Apa maksud kamu mau nyakitin calon anakku, Jen? "


Tinjuan itu melesat ke lengan Bagas, Bagas melindungi perut Caca yang ingin ditinju oleh Jenni.


Bagas langsung menghempaskan tangan Jenni, Jenni terkejut, ia berlari dengan membawa tasnya.


"Gas, gimana tangan kamu?! " tanya Caca dengan nada khawatir.


"Tidak apa apa, sayang, ini cuma sakit biasa, ya walaupun tinjuan nya lumayan kuat. Nggak kebayang kalau perut kamu ditinju sama dia, Ca. " ucap Bagas.


Caca menundukkan kepalanya, ternyata sedaritadi ia ingin pergi sudah dipantau oleh Bagas, Caca merasa bersalah.


"Siapa yang nyuruh kamu datang ke cafe buat ketemuan sama Jenni, Caca? "


Akhirnya setelah beberapa lama Bagas melembut, lagi lagi harus ke opsi awal, ia akan menginterogasi Caca kembali dan akan mengomeli istri nya itu.


"Maaf Gas, aku masih penasaran sama Jenni, aku takutnya dia masih pengen gangguin kamu, Gas. " jelas Caca.


Bagas menepuk kening nya, akhirnya Caca benar-benar membuatnya pusing, istrinya tambah lama tambah random tingkahnya, ingin ia marahi tetapi hati Caca sekarang mudah sensitif dengan suara tinggi atau omelan nya.


"Lainkali jangan ngelakuin hal yang bisa bahayain kamu dan calon anak kita, ngerti? "


"Ngerti, maaf Gas... " sendu Caca.


"Untung saja anak kita nggak kenapa kenapa, Ca. "


Caca merasa bersalah, Bagas menyadarinya, ia kemudian mendekati istrinya dan mencoba menghibur Caca.


"Jangan kayak gitu lagi ya, yakinkan aja kalau kita tuh dua benang merah yang susah buat diputuskan, optimis sama hubungan kita, jangan terpengaruh sama orang luar yang mau hancurin tali benang merah kita, Ca. " jelas Bagas.


"Iya, maaf ya, Gas. " ucap Caca.


Bagas mengelus rambut Caca dan menganggukan kepalanya.


"Iya, lainkali jangan diulangi. Sudah, ayo pesan makanan, aku yakin kamu pasti lapar, biar aku yang bayar. "


Caca merasa senang, akhirnya keduanya bisa menyelesaikan masalah dengan baik, dan pastinya masalah tersebut membuat perut Caca merasa lapar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2