
...Selamat membaca 🍊...
......................
Pagi hari telah tiba, Caca terbangun dengan suara alarm, ia mematikannya dan berusaha bangkit dari kasur.
Kejadian semalam membuat mereka menginap di rumah orangtua Caca, karena hari sudah malam, ditambah lagi mereka yang kelelahan setelah pulang bekerja harus mampir ke rumah orangtua Caca.
Caca membuka tirai jendela kamarnya, suara hujan terdengar dari luar, Caca menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Hari hujan, aduh mana ada proyek yang harus dikerjakan lagi di kantor, ini juga berkas belum dikasih. "
"Kenapa, Ca? "
Bagas terbangun dari tidurnya, suara khas baru bangun tidur bertanya langsung kepada Caca, Caca melihat Bagas yang matanya masih terlihat mengantuk. "Hujan. " ucap Caca.
Bagas menarik lengan Caca, memeluknya untuk kembali tidur.
"Tidur aja, Ca, aku peluk biar kamu tidur lagi... " ucap Bagas.
Dipelukan Bagas, Caca tersipu malu, ia tak pernah dipeluk seperti itu. Caca menarik lengan Bagas, mengelus nya ke wajahnya, tak lama setelahnya ia menggigit nya. "Aaa! Aauhh! " teriak Bagas.
Bagas meringis kesakitan dengan lengannya yang digigit oleh Caca secara tiba-tiba, sementara Caca bangun dengan mengelap bibirnya.
"Ca, belum sempat aku nguap sama ngambil nyawa dulu, kamu bikin nyawa aku spontan aja sama gigitan kamu, sakit Ca....! " ringis Bagas.
"Salah sendiri, siapa suruh pasang tangan di muka aku, enak kan gigitan aku? "
"Kejam banget, lihat, aku bilangin sama ibu kamu. " tunjuk Bagas.
"Coba aja, wlee! "
Bagas langsung bangkit dari kasur, sedangkan Caca berlari ke luar, mereka bermain kejar kejaran di dalam rumah menuju ke lantai bawah.
Di anak tangga ke 18, Caca terjatuh dan membuat suara jatuhnya terdengar hingga ke dapur.
"Caca! " teriak Bagas.
"Apa itu yang jatuh?! "
Bimo dan Nanno berlari ke arah tangga, mereka melihat anaknya yang terjatuh dari tangga, disusul oleh Bagas yang berjalan untuk menyelamatkan anaknya.
"Gas, kenapa Caca jatuh?! " tanya Bimo dengan panik.
"Kami bergelut, yah, jadinya Caca jatuh, hehe... " jawab Caca dengan tawanya.
Bimo dan Nanno menggelengkan kepalanya, dengan berdecak dan berkacak pinggang melihat kelakuan anak dan mantu mereka.
"Gas, kamu harus hati hati dong, jangan anggap sepele kalau Caca jatuh, nanti ada apa apa sama rahimnya. " ucap Bimo mengarah pada Bagas.
"Iya Gas, ibu takut kalau Caca sampe jatuh, soalnya kalau cewek rawan banget, apalagi kalau jatuh, bisa perutnya turun, atau rahimnya ada masalah, kalau hamil nanti bisa susah. " nasehat Nanno.
"Cuma jatuh aja kok, bu, nggak sampe separah itu juga kok, lagian juga Caca belum diperawanin sama Bagas, mana bisa berharap Caca bisa hamil. "
Bagas langsung menutup mulut Caca, Bimo dan Nanno menatap langsung ke arah kedua pasangan tersebut. "Apa? Apa maksudnya belum diperawanin? " tanya Bimo.
Caca terkejut, ia keceplosan hampir ingin memberitahukan yang sebenarnya, tetapi dengan bantuan Bagas akhirnya mereka tidak dicurigai.
"Mana ada, bu, buktinya aja awal awal leher Bagas merah, iya kan Ca? "
"Iya Gas, aku juga jalannya sampe ngangkang, kamu kan ganas ya, Gas, ya? "
Ucapan keduanya mampu membuat Bimo dan Nanno percaya, dan juga ilfil, karena terlalu blak-blakan untuk mengakui bahwa mereka sudah melakukannya, padahal saat itu mereka berbohong.
"Nanti bulan ke 5 pernikahan, kami rencana punya anak kok, ayah, ibu. " ucap Caca.
"Iya bu, nanti Bagas sama Caca—"
"Udah udah udah, itu terserah kalian. Euh, rahasia dapur malah dibocorkan ke publik, ihhh... "
Bimo dan Nanno berjalan kembali ke dapur, sementara Bagas dan Caca bernafas lega karena ucapan mereka berhasil membuat Bimo dan Nanno percaya.
'Kalian siap siap ya, nanti tinggal sarapan. ' ucap Nanno dari dapur.
"Siap, bu. " ucap Bagas dan Caca bersamaan.
Kedua pasangan itu tos bersama, mereka juga tertawa dan naik ke atas bersama sama.
Selesai mandi dan sebagainya, Caca dan Bagas menikmati sarapan buatan Nanno.
__ADS_1
"Enak banget masakannya, bu. " ucap Bagas.
"Iya, makasih ya, nak. "
"Loh, memang nya Caca nggak masak di rumah, Gas? "
Bimo bertanya kepada Bagas. "Kadang-kadang kok, yah, Caca kadang-kadang sering masak di rumah, kadang-kadang juga pesen makanan online, tergantung pengennya kami, nggak maksa juga Bagas buat nyuruh Caca masak terus. " jawab Bagas.
"Baguslah, tapi lebih baiknya sering-sering masak di rumah, biar hemat uang kalian. "
Bagas dan Caca tersenyum, akhirnya sekian lama menumpang di rumah orangtua mereka bisa dikomentari gaya hidupnya.
"Kami pergi ya, Ayah, ibu. "
"Iya anak anak, hati hati di jalan ya. "
Mobil Bagas perlahan menjauh dari halaman rumah orangtua Caca. Di depan teras, Nanno menyenggol bahu Bimo, Bimo terkejut dan bertanya tentang perihal Nanno yang menyenggol nya. "Kenapa sih, bu? "
"Ayah tuh bisa nggak kalau sekali aja nggak komentarin rumah tangga nya Caca sama Bagas? Mereka berdua kan udah dewasa, terserah mereka mau ngapain sama makannya. Kan sehabis ayah ngomong kayak gitu sama mereka, ibu jadi nggak enakan sama mereka berdua....! " jelas Nanno dengan nada kesal.
"Ya, itu kan demi kebaikan mereka, bu... " ucap Bimo dengan nada ngeles.
......................
Di dalam mobil, Caca memasang make up nya, tidak seperti biasa Bagas yang memulai percakapan, hanya hari itu suaminya diam.
"Gas? "
"Hmmm? " gumam Bagas.
"Kamu kok diam hari ini, Gas? " tanya Caca.
"Lagi mikir topik pembicaraan aku, Ca. " jawab Bagas.
Caca menganggukan kepalanya. "Gas, soal omongan ayah aku tadi jangan diambil hati ya, emang dia kayak gitu orang nya, makanya kalau terlalu dekat apalagi kalau ngobrol dia nggak saring dulu omongannya. " ucap Caca.
"Emang ayah kamu bilang apaan tadi? " tanya Bagas.
"Ya, masalah order makanan, aku takut kamu tersinggung aja sih sama omongannya... "
Bagas tersenyum, ia tertawa kecil, dengan fokus mendengarkan Caca menjelaskan obrolan kepadanya.
"Tapi, kamu sampai diam gini? "
"Kan udah dibilangin, aku lagi mikir topik pembicaraan, bukan berarti aku diam itu marah kok, Ca. " ucap Bagas.
Caca masih ragu, kemudian Bagas yang menatap ke arah Caca, tangan kirinya memegang kepala Caca dan mengelus rambut Caca.
"Masalah dikomentarin itu jadikan bahan hiburan aja, Ca. Emang udah kayak gitu kok kebiasaan orang orang, suka komentarin rumahtangga orang lain. Aku sih biasa aja, soalnya udah dapat wejangan sama abangku biar nggak selalu denger omongan orang. Tebalin aja telinga kita, yang penting kita nggak ribut atau nggak sampe nggak makan, yang penting kita masih bisa senang sama sama. "
Caca menatap Bagas, ia mengangguk paham.
"Iya Gas, aku sekarang bisa ngerti. " ucap Caca.
"Nah, sekarang kita fokus aja sama kerjaan dan proyek yang ada, jemput rezeki dulu sebelum liburan. " ucap Bagas.
"Eh, masih ingat ya sama rencana liburan? Kalau kita piknik di luar daerah, kamu mau nggak, Gas? "
"Boleh, maka dari itu, kita jemput rezeki kita hari ini, oke? "
Caca tersenyum, ia memberi tos kepada Bagas. "Siap, komando! " ucap Caca dengan semangat.
......................
Berjam-jam lamanya, Bagas dan Caca selesai bekerja, mereka bersama sama keluar dari kantor secara bersamaan. "Cuapek pol, duh, kadang bosen kerja gini terus. " keluh Bagas.
"Iya sih, capek banget, mana gajian masih 2 minggu lagi, pikniknya bakalan 2 minggu lagi... "
"Cari makan sore, yuk, lapar banget nih perut. "
"Boleh, ayo. " ucap Bagas.
Bagas merangkul bahu Caca, Caca merasa berat pada bahunya dan menepis lengan Bagas dari bahunya.
Di pinggir jalan, terlihat wanita lansia yang tengah mendorong gerobak, terlihat berat dan langkahnya sudah gemetaran.
"Gas, itu kayaknya nenek nenek jualan sate, kita beli yok. " ajak Caca.
"Duh Ca, kamu kan tau kalau aku kurang suka sate padang, kamu kok—"
__ADS_1
"Bantu neneknya, Gas, ayo... " bujuk Caca.
Bagas melihat ke arah gerobak tersebut, akhirnya dia menganggukan kepalanya dan berjalan bersama Caca ke arah gerobak tersebut.
"Nek, nenek....! " panggil Caca.
Wanita tua tersebut menatap ke arah Caca, ia menghentikan gerobaknya dan menanyakan Caca. "Mau beli sate saya, mbak? "
"Iya nek, saya pesan 2, dibungkus ya, nek. " ucap Caca.
"Ca... "
"Nanti aku yang abisin! " ucap Caca dengan semangat.
"Duduk dulu ya, mbak, mas, saya buatkan dulu satenya. "
Caca dan Bagas duduk, Caca menatap Bagas dan memainkan wajah Bagas, meminta Bagas untuk tersenyum.
"Nenek sudah berapa lama jualan? " tanya Caca.
"Sudah setahun lebih, semenjak suami saya meninggal, mbak. " jawab nenek tersebut.
"Alhamdulillah, setelah lama sama berkeliling hari ini, baru kali ini saya dapat uang, baru kali ini juga baru buka pelaris. " ucap nenek tersebut dengan tersenyum.
Bagas yang awalnya cuek menjadi tersorot dengan obrolan Caca dan nenek penjual sate tersebut.
"Mbak mau nyoba kuah sate buatan saya? Ini, saya kasih sepiring sama krupuknya. "
"Wah, ini gratis, nek? " tanya Caca.
"Iya, nanti lama bakal nunggu saya buatin satenya. " ucap nenek tersebut.
Caca dan Bagas mencicipi krupuk yang dibalur oleh kuah sate, mereka mencicipi nya dan melotot.
"Enak banget! " ucap Caca dan Bagas bersamaan.
"Syukurlah kalau mbak sama masnya suka, saya jadi senang. "
"Perlu dikasih tau nggak sama teman teman kita, Ca? " tanya Bagas dengan semangat.
"Perlu banget, eh iya nek, nenek sering nangkring di mana kalau jualan? " tanya Caca.
"Sering di taman, mbak. " ucap nenek tersebut.
Dengan semangat, Caca memberitahukan teman teman serta rekan kerjanya untuk bantu melariskan jualan nenek tersebut.
Setelah lama menunggu, akhirnya pesanan milik Caca dan Bagas sudah selesai, nenek tersebut memberikan kepada Caca dengan perlahan.
"Ini satenya... "
"Terimakasih ya nek, ini ada sedikit rezeki untuk nenek, diterima ya nek... "
Nenek tersebut melihat beberapa lembar uang, membuatnya terharu dan mengucapkan terimakasih terus menerus kepada Caca dan Bagas. "Alhamdulillah, makasih mbak, mas, alhamdulillah.... "
"Iya nek, sama sama. "
"Kelihatan mbak sama masnya pasangan baru ya? Semoga diberikan rezeki berupa rezeki sehari hari sama rezeki dikaruniai anak. "
"Amin, iya nek, makasih do'anya... " ucap Bagas dan Caca bersamaan.
Setelah selesai, dari kejauhan Caca dan Bagas melihat nenek tersebut mendorong gerobaknya kembali. "Kadang kalo ngeliat orang-orang yang kekurangan jadi inget sama diri sendiri ya, Gas? "
"Iya, mereka masih bisa bersemangat di saat roda kehidupan itu menantang dan kejam, masih bisa bersyukur karena bisa dapat rezeki yang tidak setara sama gaji kita. Kita yang udah diberi kelebihan sama kenikmatan duniawi masih aja merasa kurang. Betul kata orang tua jaman dulu, sesekali memandang ke bawah biar bisa bersyukur dengan hidup dan apa yang dimiliki. "
Caca menganggukkan kepalanya, ia juga kagum dengan ucapan Bagas yang terkesan bijak dan dewasa.
"Iya Gas, kalau gitu ayo kita pulang, udah mau magrib juga, satenya juga mau aku makan. " ucap Caca.
"Loh, terus pesan dua itu buat kamu sendiri, Ca? " tanya Bagas.
"Iya."
"Kejamnya." ucap Bagas.
"Nggak lah, mana sanggup aku makan sendirian, udah, nanti kita makan sama sama. " ucap Caca.
Mereka berdua berjalan bersama ke parkiran, karena ingin mengejar waktu pulang sebelum magrib tiba.
...****************...
__ADS_1